Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Pengingat itu…

13087770_10201761390233751_8301799706776961012_n

Namanya Wafa. Dialah yang Allah anugerahkan untuk kami, buah cinta kami, pengingat bagi kami, cahaya mata dan hati kami.

Saat ini Wafa sudah hampir 18 bulan. Tak terasa. Wafa yang dulu hanya bisa kedip-kedip sekarang sudah bisa berlari, acting jatuh, makan sendiri, dan lain-lain. Terkadang saya tidak sabar mengajarinya, tapi itulah anak kecil. Sesungguhnya dia mengajari kami banyak hal. Dia mengajari kami sabar dengan kesalahan-kesalahan yang dilakukannya (karena dia belum mengerti, atau belum sempurna melakukan sesuatu). Dia mengajari kami berbahagia. Sedih, lelah, dan cemas seketika hilang saat melihat senyumnya yang tulus. Wafa juga mengajari kami bangun pagi dengan tangisannya.

Ah, Wafa. Rasanya tidak sanggup saya menuliskan semua tentangnya.Dia adalah anugerah. Dan, dia adalah amanah. Kelak kami harus bertanggungjawab bagaimana kami mendidiknya.Kelak dimasa dimana wafa tumbuh besar pasti dunia sudah jauh berubah.Teknologi informasi entah sudah sejauh apa, pergaulan entah sudah sebebas apa. Aqidah, itulah yang harus kami kuatkan sejak sekarang.

Mendidik anak-anak yang shalih bukanlah pekerjaan semealam jadi. Ia jauh dimulai dari bagaimana orangtuanya mendidik dirinya sendiri. Allah akan menjaga anak keturunan dari orang shalih.Anak adalah peniru ulung, bila contoh yang ada dalam rumahnya baik, maka InsyaAllah baik pula dirinya.

Wafa adalah pengingat bagi kami. Untuk senantiasa memberinya pendidikan terbaik, untuk senantiasa menjadikan kami orangtua yang baik.

Semoga Allah menjaga kami dan keturunan kami, menjadikannya pembela agama Islam, memahamkannya dalam agama, dan selamat akidahnya. Aamiin

Advertisements
Leave a comment »

Live Your Life

Lama sekali tidak menulis 🙂

Banyak hal yang terjadi selama kurang lebih 2 tahun ini. And I just wrote two writings on this blog. So sad.

Allah knows everything best for me.I do believe it.Sungguh luar biasa kehidupan yang Allah berikan. Dan kabar baiknya lagi kita hanya akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita punya, apa yang kita lakukan.

Banyak orang ingin pekerjaan A, sehingga ketika itu tidak diraihnya dia sibuk mendengki dan tidak mensyukuri apa yang dimilikinya kini. Katakanlah dia menjadi seorang ibu rumah tangga. Kelak dia akan bertanggungjawab atas perannya sebagai ibu rumah tangga, bukan kenapa tidak mampu menjadi A, atau kesalahan orang-orang yang berprofesi sebagai A. Indahnya, bila memang Allah memilihkan jalan sebagai ibu rumah tangga, maka itulah jalan ke surga yang Allah pilihkan. Indahnya, mendidik wanita adalah sama dengan mendidik generasi. Maka lahirlah generasi-generasi yang kuat dari tangan para ibu yang ikhlas menjalani perannya.

Bila suatu ketika Allah mengijinkan kita menjadi A, sesuai yang kita inginkan. Maka selain sebagai ibu, kita pun akan dimintai pertanggungjawaban sebagai A. Namun, ladang amal kitapun menjadi lebih luas. Sangat bisa jadi, seseorang yang berprofesi sebagai A sangat merindukan indahnya kebersamaan dengan anaknya sepanjang hari, mendampingi setiap perkembangannya, dan mendidiknya sendiri. Dia pun rindu menjadi istri yang selalu ada untuk suaminya, ketika berangkat atau pulang bekerja.

Aduhai, peran apapun yang kita punya sekarang, bisa jadi itulah yang Allah pilihkan sebagai ladang amal kita.Hidupilah peran apapun sebaik-baiknya.

Alhamdulillah..

Leave a comment »

Sakitnya Luar Biasa, Nikmatnya Tak Terkira

“Nek lahiran mbur koyo wong ameh pup, jenenge ora surga di telapak kaki ibu”1,kata teman karib saya ketika saya bercerita tentang pengalaman melahirkan. Kebetulan teman saya ini sedang menghitung hari menuju HPL.
“Pokoknya siap-siap aja Mbak..persiapkan diri untuk merasakan sakit yang luar biasa. Orang-orang bilang sakitnya kayak orang mau pup, ternyata itu bohong… iya awal-awalnya rasanya mules kayak mau pup, lama-lama… luar biasaaaaaahh. Tapi setelah itu.. MasyaAllah..plooooong.. cuma bisa bersyukur dan bersyukur…” cerita saya kepadanya.
***
Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan dalam proses melahirkan anak pertama saya, Wafa. Bayi perempuan menik-menik2 yang beratnya waktu itu 2.4 kg saja.Tapi tangisannya luar biasaaa.Karena tampak sehat wafa tidak diinkubator, soalnya gak ada inkubator juga.Saya melahirkan di Rumah Bersalin milik seorang bidan senior.Dulunya ibu mertua juga melahirkan anak ketiganya di sini.Sekarang adik ipar saya itu sudah kelas 2 SMA. Kebayang kan betapa seniornya bu bidan ini.
Saat itu kami mengungsi ke rumah mertua untuk persiapan lahiran karena jaraknya dekat dengan rumah bersalin.Semua perlengkapan sudah disiapkan, tinggal berangkat kalau sudah mules.Karena bapak dan ibu mertua saya sedang melaksanakan ibadah haji waktu itu, tinggallah kami berdua pasangan muda unyu-unyu, adik ipar laki-laki, dan budhe yang sudah sepuh yang sehari-hari menemani adik ipar selama bapak dan ibu mertua berhaji.
5 Oktober 2015, sehari sebelum HPL, saya sudah menanti-nanti datangnya tanda-tanda, namun yang dinanti tak kunjung datang.Ibu saya selalu menanyakan sudah ada tanda-tanda mau lahiran atau belum.Cerita ibu saya, beliau sudah menyiapkan perlengkapan untuk menemani saya kalau sewaktu-waktu mendapat kabar mau melahirkan.MasyaAllah, ibu itu seseorang banget yah.Di banyak kesempatan setelah saya menikah, saya semakin mencintai ibu saya.Beliau rela pulang pergi sejauh 40 km untuk menginap di rumah saya sekedar menemani kalau suami jaga malam. Sering beliau mengendarai sepeda motor sendiri melewati jalan Solo-Sragen yang ramai dan padat, padahal usianya tak lagi muda dan tak terlalu lincah mengendarai sepeda motor. Begitulah seorang ibu, apapun dilakukan demi anaknya. Barangkali dan pasti hal-hal seperti itu yang kelak akan saya lakukan untuk anak-anak saya. Dan proses melahirkan ini adalah salah satunya.
Sementara itu, ibu mertua juga tak kalah sering menanyakan kabar.Dari tanah suci, ibu berpesan kepada saya supaya sabar. Saya pun bertanya-tanya, kenapa pesannya itu ya? Saya mengira ibu akan memberikan banyak wejangan ini itu. Ternyata hanya satu kata, sabar.“Bapak karo ibuk ning kene dongakne terus, mugo-mugo diparingi gampang.”3
***
6 Oktober 2014.Inilah hari yang saya tunggu-tunggu untuk menjalankan tugas mulai sebagai ibu, HPL.Saya memulai hari dengan penuh semangat.Setelah shalat, saya dan budhe jalan-jalan.Sesekali budhe bercerita mengenai pengalamannya melahirkan 6 anaknya tanpa dibantu bidan, hanya dibantu dukun beranak.Budhe bercerita dengan santainya seakan-akan melahirkan adalah hal yang biasa, dan barangkali memang demikian halnya.Jadilah saya makin yakin bahwa melahirkan itu tidak sulit.Namun ada kekhawatiran karena sebelum-sebelumnya posisi Wafa belum ‘mapan’. Wafa baru mapan di lintasan luncur (kepala di bawah) waktu usia 37 minggu, sebelumnya sejak usia 28 minggu posisinya melintang-sungsang-oblique. Jadilah saya rajin bersujud setiap waktu dan alhamdulillah berhasil me’mapan’kan Wafa pada tempatnya.
Sore harinya, kami memutuskan ke dokter.Hasil pemeriksaan menunjukkan kehamilan saya masih oke-oke saja dan bisa ditunggu sampai seminggu kemudian.Kata dokter, kalau H+7 belum lahir akan dilakukan tindakan, entah induksi atau operasi. No no no, menurut cerita induksi itu lebih sakit daripada kontraksi alami dan saya takut kalau harus dioperasi (efek nonton video operasi sesar di youtube T.T ). Alhamdulillah tidak ada penghalang untuk melahirkan normal, tinggal menunggu waktu saja dan kehendak Allah.Hari, tanggal, dan jam kelahiran anak kita sudah ditetapkan, kita hanya perlu pasrah dan khuznudzan.
Setiap pagi berangkat kuliah, suami saya selalu berpesan kepada Wafa yang masih di dalam perut, “Dek, lahirnya pas abi di rumah yaa…”.Suami saya seorang dokter yang sedang mengambil S2 di Yogyakarta.Setiap hari berangkat subuh dan pulang magrib kadang isyak.Sabtu pagi-Ahad malam suami bekerja di sebuah klinik di Wonogiri.Hanya bisa berharap semoga mules-mules dan lahirannya pas suami ada di rumah. Saya membayangkan Wafa manggut-manggut di dalam perut saya,
8 Oktober 2014.Seharian itu saya memeras keringat untuk mencuci manual, menjemur, ngepel ala inem seluruh ruang, dan jalan-jalan di treadmill.Berharap si Wafa segera keluar.Rabu petang, masih di hari yang sama. Saya dan suami memutuskan ke bidan.Disana saya diminta untuk ke sebuah ruangan untuk pemeriksaan dalam.Apa itu? Suami saya belum pernah cerita istilah pemeriksaan dalam (atau mungkin saya yang lupa hehe).Ternyata pemeriksaan dalam itu sakit, saya meringis dan malu.Bu bidan cuma bilang, “Santai wae Mbak, nek santai ndak sakit.”4. Belum bukaan tapi sudah tipis”, lanjutnya. Entah apa yang sudah tipis, tapi suami saya manggut-manggut, saya ikut manggut-manggut saja. Kunjungan kami di bidan diakhiri dengan komentar bu bidan, “Paling engko bengi”5.Baiklah, lampu kuning. Saya bahagia sekaligus was-was.
Rabu malam bakda isyak.Kebetulan saat itu di rumah sedang ada halaqoh suami saya.Saya masih wara-wiri menyiapkan suguhan.Menjelang pukul 9 malam saya merasakan mulas.Masih biasa.Saya belum merasa kalau itu tanda lahiran.Saya masih terus beraktivitas.Sampai pukul 11 rasanya makin mulas.Saya mulai tidak tenang mondar-mandir kesana kemari, duduk, berdiri, jalan, tiduran, miring, pokoknya mencari posisi yang nyaman. Saya mulai mual dan memuntahkan apa saja yang saya makan. Adik ipar saya cengar-cengir melihat tingkat saya waktu itu, “Lha meh lahir kuwi Mbak.”6
Sementara itu suami saya berkali-kali mengajak untuk ke bidan.Saya bilang kalau saya masih kuat.Pukul 01.30 saya sudah makin kesakitan.Suami saya langsung membawa saya ke bidan.Sementara itu, adik dan budhe masih terlelap.Sampai di rumah bersalin, dicek bukaan, kata bu bidan bukaan 1.Saya dan suami diminta menginap di klinik saja.Rasa mulas itu makin sakit.Suami saya berkali-kali menenangkan, meminta saya tidur menghemat tenaga.Tidak bisa, kecuali tertidur setiap rasa mulas itu reda beberapa saat.Saya sudah tidak bisa makan dan minum apa-apa, semua dimuntahkan lagi.
Pukul 02.30 saya merasakan ada letupan di dalam perut ‘plukk’, lalu syuuuuur… ada cairan yang keluar dari jalan lahir tanpa biasa dikendalikan. Suami mengecek, “Ketuban, Dik.”Ternyata begini rasanya pecah ketuban. Bu Bidan, bukaan 2. Sejak itu saya pindah ke ruang bersalin dengan kostum bersalin lengkap.Saya menyadari bahwa sebentar lagi saya akan melewati perjalanan itu, sebuah perjalanan yang sebanding dengan jihad. Ada rasa khawatir dan takut, tapi saya berusaha menguatkan diri.Ya Allah, hamba ikhlas.Saya merasa perlu menghubungi ibu.Saya ingin ditemani dan didoakan oleh ibu.Ya, ibu.Saya meminta suami untuk menghubungi kedua ibu kami, meminta doa. Ibu saya langsung bersiap menuju Solo.Sementara itu, bapak dan ibu mertua langsung menuju masjid untuk mendoakan kemudahan bagi saya.
***
Pukul 03.00.Allahu akbar. Rasa mulas itu makin menjadi.Saya makin gelisah. Saya bertanya ke bidan jaga,
“Mbak, ini lahirnya masih lama?”
“Baru bukaan 3 Mbak.”
“Tiap bukaan jaraknya berapa?”
“Kalau anak pertama sekitar 1-2 jam Mbak”
Allahu akbar, saya berhitung saat itu baru pukul 3 dan artinya kalau sesuai teori saya baru akan lahiran sekitar setengah hari lagi. Masa-masa seperti ini rawan stress sekali, beruntung suami selalu memberi semnagat.
“Ada anti nyeri gak sih Mbak, biar sakitnya berkurang?” pertanyaan ‘aneh’ yang saya lontarkan sambil meringis kesakitan.
“Gak ada Mbak, makin sakit makin bagus, tandanya makin dekat ke lahiran”
Saya pasrah.Waktu terus berjalan dan rasa sakit itu makin dahsyat.Rasanya saya pengen bilang ‘PAUSE!’ waktu kontraksi datang, biar saya bila mengatur nafas dan rasa sakit.Saya meremas tangan suami, menarik rambut, dan entah apa lagi. Berkali-kali suami mengingatkan untuk berdzikir.
Adzan subuh berkumandang.Suami saya pamit ke masjid.Awalnya saya mencegah, saya takut sendirian di ruang bersalin itu.Lalu suami saya menguatkan, “Ndak lama Dik.”Tak lama, ibu saya datang.Ibu masuk ke ruangan lalu memeluk saya, saya merasa damai.Ibu mengecup lalu mendoakan saya.Ibu menemani saya selagi suami shalat subuh.
Usai shalat subuh saya merasakan sakit yang amat sangat.Saya sampai berteriak kesakitan tiap kontraksi, seperti ada yang menekan dan memaksa keluar. Saya mulai berteriak mengejan…
“Dik jangan ngeden dulu!”Kata suami saya setengah panik.
“Nggak bisa ditahaaaann!!!”
Barangkali itulah rasa sakit paling sakit yang pernah saya rasakan.Dalam hati saya ingin menyerah, mengangkat bendera putih dan bilang, “Mas, ayo kita operasi saja.”Astagfirullah barangkali saat itu saya sedang digoda setan.Di saat-saat melahirkan memang harus banyak-banyak berdzikir supaya kita tetap ikhlas dan yakin.
“Kalau belum nangis berarti masih kuat, belum sakit-sakit banget.”Kata bu bidan.
Benar, saya tidak menangis.Tandanya saya masih kuat.
Saya mengejan tanpa bisa ditahan, banyak cairan yang keluar dari jalan lahir entah darah atau apa. Lalu episode terakhir itupun dimulai.Saya diminta telentang dan menekuk kaki.Ternyata tak butuh selama itu sampai bukaan lengkap.
“Kalau kerasa kenceng ngeden ya Mbak.”Kata bu bidan.
Inilah episode yang sering diajarkan oleh suami saya.Jangan ada suara waktu mengejan, pusatkan tenaga di jalan lahir, atur nafas, jangan angkat bokong.Kepala bayi sudah terlihat, dan saya mengejan setiap kontraksi.Tak langsung berhasil.Saya merasa setiap mengejan jalan lahir melar semelar-melarnya.Saya mengejan sekuat dan selama yang saya bisa.Lalu, broooolll…..tepat pukul 06.00, 9 Oktober 2014 Wafa lahir.Alhamdulillah.Alhamdulillah.Alhamdulillah.Sebuah nikmat yang tak terkira.Tangisannya kencang sekali dan saya ikut menangis bahagia.Suami saya memeluk dan berkali-kali mengecup kening saya.Alhamdulillah perjalanan itu telah terlewati. Saya sudah tidak tau apa yang dilakukan para bidan, saya mendekap Wafa di dada, melihatnya, membelainya, MasyaAllah… inilah Wafa yang 9 bulan kami bayang-bayangkan. Allahu akbar.
Kami dirawat di satu kamar, setiap saat saya bisa melihatnya, putri kecil kami.Setelah melahirkan bukan berarti urusan selesai.Saya masih harus belajar banyak hal.Bukan sekedar menyusui, karena ternyata duduk, buang air, dan berjalan pascamelahirkan itu juga butuh usaha ekstra.Saya ingat waktu itu saya takut buang air karena takut jahitannya kenapa-kenapa.Saya sempat buang air kecil sambil berdiri dan buang air besar dengan penuh perjuangan.
Pelajaran selanjutnya adalah menyusui.Ini cukup menggalaukan karena puting saya datar, harus ditarik pakai spet dulu setiap mau menyusui.Akhirnya bu bidan menyarankan untuk membeli sejenis nipple yang ditempelkan ke putting, barangkali bisa membantu.
Menjelang pukul 9 malam suami saya mencari alat yang dimaksud. Cukup jauh menuju toko yang lengkap dan sesampainya di sana ternyata uang yang dibawa suami kurang. Bagusnya lagi ATM ketinggalan. Suami saya memohon kepada pemilik toko untuk tidak tutup dulu. Sementara itu suami saya mencari pinjaman uang ke temannya yang rumahnya tidak jauh dari toko.Ternyata temannya tidak ada.Dengan mengumpulkan segenap keberanian, dia meminjam uang kepada ayah temannya itu.Akhirnya dapatlah alat itu seharga 70 ribuan.
Sesampainya di klinik, suami bercerita tentang kejadian yang dialaminya.Saya tersenyum haru, bangga, dan makin mencintainya.
“Gak papa abi malu sedikit, yang penting Wafa bisa mimik.”Katanya.
Wahai para ayah, kalian luar biasa.Bahwasanya melahirkan itu bukan perjuangan ibu seorang diri, ada juga ayah yang tak kalah banyak berkorban.Setelah dicoba-coba, ternyata alatnya tidak terlalu membantu, jadi kami harus sabar perlahan dan terus mencoba menyusui.
Hamil dan melahirkan cuma secuil perjuangan sebagai orangtua.Masih ada PR besar untuk mengantarkan anak-anak kita hingga dewasa menjadi insan-insan yang tangguh aqidahnya, akhlaknya, pikirannya, fisiknya.Semoga Allah kuatkan dan mudahkan jalan kami. Semoga kelak anak-anak kami menjadi pemberat timbangan kebaikan kami di akhirat, aamiin..
Usai melahirkan, bapak saya berpesan, “Duwe anak ki engko repot, tapi sak repot-repote duwe anak tetep luwih seneng katimbang ora duwe anak.Kudu bersyukur.”7
Kalau menjadi ibu itu mudah, maka bukanlah surga di telapak kakinya.Wahai ibu, lelahmu mendidik anak adalah jihadmu, dan Allah siapkan pahala tak terkira di dalamnya.

***
Melahirkan itu sakit.Iya, betul.Tapi saya merindukan saat-saat itu.Tahukah, saat itulah saya merasakan indahnya pasrah kepada Allah, indahnya ikhtiar hingga batas kemampuan sampai saat yang ditentukan Allah untuk berbahagia.Saya merindukannya.Semoga Allah mengijinkan saya merasakannya lagi serta memberi kekuatan untuk mendidik putra-putri saya kelak hingga menjadi generasi yang tangguh.Teruntuk suamiku, setiap jengkal perjuangan itu menjadi semakin indah bersamamu.

***
Catatan:
1. Kalau melahirkan rasanya cuma seperti mau buang air, namanya bukan surga di telapak kaki ibu
2. Kecil mungil
3. Bapak dan ibuk di sini mendoakan terus supaya diberi kemudahan.
4. Santai saja mbak, kalau santai tidak sakit
5. Sepertinya nanti malam
6. Hampir lahir itu Mbak.
7. Punya anak nanti repot. Tapi serepot-repotnya punya anak lebih bahagia daripada tidak punya anak. Harus banyak bersyukur.

Leave a comment »

Ujian Tesis

4 Maret 2014

Baiklah, mari kita bercerita tentang ujian tesis.. hihi. Sengaja dicepetin karena dosen pembimbingnya sudah ngoyak2 segera ujian. Selain itu, kondisi tubuh yang makin sering teler menjadikan keinginan untuk segera lulus makin menggebu2 hehe.

Di UGM, ujian tesis serasa dimanjakan. Bagaimana bisa? Jadi kita tinggal daftar saja dan menyerahkan berkas ujian. Selanjutnya, admin dan jurusan yang akan menentukan siapa pengujinya, kapan jadwal ujiannya, dan dimana ruangannya. Soal snack penguji? Tenang.. sudah disediakan oleh kampus. Kita tinggal datang membawa diri dan hasil belajar 🙂 selain itu, pihak admin juga bisa dihubungi via sms 🙂 terima kasih admin pascasarjana UGM..

image

Dan hari yang dinanti pun datang. Kebetulan sang pendamping hidup belum datang dan baru akan menyusul.. tapi saya tetap bersemangat. Saking semangatnya, saya pasang sendiri semua perkap sebelum petugas datang…hehe.

Penguji saya terdiri dari dosen2 keren nan oke punya, uhukss..
1.  Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U, M.A
2. Prof. Dr. Soepomo Poedjosoedarmo
3. Dr. Suhandano, M.A
4. Dr. Aris Munandar, M.Hum

Nah, oleh keempat dosen inilah saya diuji hampir dua jam lamanya.. alhamdulillah dengan semakin menyadari betapa masih banyak kekurangan (dan masih harus banyak belajar) akhirnya saya diluluskan dengan predikat sangat memuaskan… walau tidak bisa memenuhi harapan bapak untuk kemelud (eh, cumlaude), saya bersyukur akhirnya bisa lulus juga… 🙂

Lewat ujian tersebut, saya makin menyadari bahwa dosen2 yang saya hadapi memang benar2 pintar-pintar (ya iyalah) dan saya sebagai juniooooooooooorrr masih sangat harus belajar 🙂

Semangaaaat!! Langkah selanjutnya adalah: belajar lagi!

1 Comment »

Menikah dan Tesis :)

Dulu sebelum menikah saya bercita-cita ingin memberikan persembahan cinta berupa tesis S2. Saya pun memaksa diri untuk bisa secepatnya mengerjakan tesis. Nalarnya semakin termotivasi untuk bisa segera selesai kan untuk ‘mahar’ balik ke suami..

Tapi ternyata sampai saya sah menjadi istri, tesis saya masih menggantung hehe. Anehnya, sejak saya menikah saya lebih fokus mengerjakan tesis dan taaaraaa tesis saya lebih progress dibanding sebelum menikah..

Mungkin, inilah cerita saya, betapa menikah memberi kita jalan dan menambah rejeki (dalam hal ini selesainya tesis). Ternyata menikah tidak menjadi penghalang bagi kita meraih cita-cita, melanjutkan sekolah, bahkan mengejar mimpi 🙂 jadi, yang beralasan menikah bisa membuat gak fokus dan molor2in studi, think again! 🙂

2 Comments »

Gendut, Biru, dan Gendis

Ah, ini postingan tidak penting sebenarnya hehe… tapi tak apa karena mereka adalah partner setia kami dalam mengarungi kehidupan *ecieee. Siapakah mereka? Mereka adalah motor2 yang menemani kami. Gendut adalah motor honda spacy yang bodinya lebar karena helm-in. Dulu sejak awal pernikahan, gendut setia menjadi teman saya kemana2, sampai akhirnya posisinya harus tergantikan ketika gendis pulang. Gendis itu motor supra 125 yang baru diambil dari jogja, jadilah skrg gendut pulang kampung ke sragen.. dan gendis dipake abi ke medan tugas. Lalu, siapa biru? Itu motornya abi yamaha vega baru yang skrg menjadi ‘milik’ saya, karena lebih ramah kepada wanita hehe…

Itulah, suami mengajarkan agar kami memperlakukan barang2 di rumah dengan baik… salah satunya dengan memberi nama, hehe. Oiya, di rumah itu ada lampu yang manja, maunya nyala kalo kita mencetnya agak lembut sambil bilang, ‘lampu nyala nggih..!’ Entah itu beneran ato karena kebiasaan kami saja, tapi beneran kalo nyalainnya itu kasar, lampunya gak mau nyala… 😀

Leave a comment »

Welcome back :)

Lama sekali tak posting di blog *gak ada yang nunggu2 juga sih :D.
Well, baiklah hidup kita ini -walau sudah kita rencanakan- tapi tetap saja ada banyaaaak sekali kejutan2nya. ‘Ala kulli hal, semoga semakin meneguhkan keimanan dan keistiqomahan kita, bukankah sudah begitu banyak nikmatNya yang kita terima? 🙂

Dulu, saya membayangkan kehidupan saya saat ini masih mbolang kemana2, nyatanya sekarang saya lebih banyak berdiam diri di rumah menunggu suami pulang.. tapi itu lebih nikmat dibanding mbolang *ecieee

Dulu, saya membayangkan setelah menikah, saya akan menghabiskan waktu2 bersama suami, pergi2 berdua, menemani suami belajar dll, ternyata Allah menakdirkan yang lain, ketika suami sibuk berjaga siang-malam, saya pun sibuk menjaga amanah yang diberikan kepada kami, yang terjaga kokoh di dalam rahim inshaaAllah… 🙂

Indah, walau yang saya bayangkan belum terwujud, tapi apa yang saya punya sekarang adalah jauuuuhh lebih baik inshaaAllah… 🙂

Leave a comment »

Tiga Bulan

image

Tak terasa baru tiga bulan kami bersama, rasanya kami sudah melewati begitu banyak hari… melalui banyak cerita… mengucapkan sekian banyak kata cinta #uhuks (kalo udah nikah kata2 cinta itu berpahala lhoo). Tapi tetap saja, sampai saat ini di usia kami yang tiga bulan ini tentulah kami belum sangat mengenal… yah, masih ada banyak waktu untuk dilalui di depan sana insyaAllah… seperti yang telah dilalui orangtua kami, merangkai cerita selama dua puluh sekian tahun…

Di bulan ketiga ini saya ingin bercerita tentang bagaimana kami menghadapi konflik. Eh, kata2nya terlalu alay nih… hm… apa yaa… bagaimana kami mengatasi ketidakcocokan sesaat, hehe… #maksa

Kalo dalam beberapa buku pasti diajarkan bagaimana menghadapi ketidakcocokan tersebut. Kali ini saya ingin berbicara versi kami..

Pertama, ketika ada yang dirasa tidak cocok… diamlah. Ya diam, sambil berpikir apakah iya rasa tidak cocok itu sedemikian tidak cocoknya? Dalam proses diam itu, saya menemukan banyak alasan untuk mengusir ketidakcocokan tersebut hingga akhirnya saya merasa tenang. Bagaimana bisa? Pertama berpikir positif, ini penting banget. Pasangan kita melalukan X pasti punya alasan, hanya saja kadang kita belum tau, atau pikiran kita belum sampai kesitu (yah, maklum wanita kebanyakan berpikir pakai hati, uhuks).

Kedua, ungkapkanlah. Jadi walopun dalam hati sudah lega, ada baiknya kita tetap mengungkapkan apa yang tadi kita rasakan, tapi dalam suasana santai lhoo ya, pun dengan bahasa yang lembut dan tidak terkesan menyalahkan, posisikan diri sebagai orang yang ingin tau.. biasanya perbincangan akan berkembang pada penyampaian alasan atau bahkan lebih berkembang lagi yang intinya membuat kita makin saling mengenal karakter masing2..

Ketiga, perhatikan bahasa yang digunakan. Sebagai istri, gunakanlah bahasa yang menenangkan dan meninggikan suami. Ingatlah cinta kita padanya, ingatlah mimpi2 yang ditulis bersama..

Keempat, kalo lagi sebel, ingatlah kebaikan2 pasangan… pasti lebih banyak deh…

Kelima, sering2lah minta maaf. Ini penting, yah namanya manusia kadang tak sengaja berbuat salah…apalagi kalo salahnya itu kepada pasangan, belahan jiwa, harus segera minta maaf…

Keenam, tutuplah ketidakcocokan sesaat itu dengan romantis… tunjukkan bahwa ketidakcocokan sesaat itu tak ada apa2nya dibanding besarnya cinta kita… #uhuks

Sekian dulu ya… alhamdulillah kalau ada manfaat yang bisa diambil.. 🙂

1 Comment »

Jodoh

Bahagia. Waktu mendapat sms rahasia yang dulu pernah saya kirimkan ke teman2 dekat saya menjelang saya menikah. Dan beberapa waktu yang lalu saya mendapatkannya… dari sahabat saya Erny. Isinya yaa kurang lebih sama, buking tanggal biar disempatin dateng :p dan… himbauan untuk bersabar karena nama si calon masih dirahasiakan…

Untung dulu pas saya mau menikah, belum ada grup yang isinya teman2 se-geng haha.. tapi sekarang sudah ada… jadi yaa… susah banget kalo gak digosipin bareng2 di grup :p

Tebak2an berlangsung a lot mengenai siapakan pemuda beruntung itu yang akan dibersamai erny di sisa hidupnya… tapi kami menyerah karena clue sangat minim..

Hingga akhirnya… si calon mempelai mulai gerah karena diomongin rame2, akhirnya tercetuslah sebuah nama yang benar2 diluar dugaan kami.. BACHTIAR AMINUDDIN.

Allahuakbar! Sekali lagi saya takjub dengan takdirnya. Dialah yang menggerakkan setiap jiwa, memampukan, membukakan jalannya… Dialah yang maha berkehendak, yang mencondongkan hati, mengabulkan doa, menguatkan azzam dalam jiwa…

Meski saya pribadi tidak mengenal Bachtiar, tapi saya yakin Erny dengan kesalihahannya telah menerima seseorang yang dia yakini tepat sebagai belahan jiwanya…

image

Selamat berbahagia, sahabatku…
Semoga terangkum indah dalam ikatan suci dan cita2 tertinggi…

Leave a comment »

Mengenalmu

Pernikahan adalah sebuah proses saling mengenal yang berlangsung seumur hidup, terlebih lagi menikah tanpa pacaran. Itulah yang saya dan suami alami. Berbekal (sangat) sedikit tahu tentang pribadi masing-masing, kami sepakat untuk melangkah bersama. Di awal tentunya sempat muncul kekhawatiran, namun kemudian saya katakan,

“Benar kita belum saling mengenal saat ini, tapi kita masih punya waktu disepanjang sisa hidup kita untuk saling mengenal.”

Ya, dan itu kami alami sampai saat ini. Banyak hal2 baru yang akhirnya saling kami ketahui.. tentunya ada yang menyenangkan, kadang menyebalkan, kadang mengherankan, kadang mengejutkan.. dan semuanya terangkum dalam sebuah kata, bahagia. Ya, saya bahagia setiap hari karena saya perlahan mulai mengenalnya dengan semua sifat2nya, dan itu semua semakin meyakinkan saya bahwa insyaAllah kami memang diciptakan untuk bersama #uhuks

Kesabaran dan positive thinking adalah hal lain yang harus selalu dipegang teguh, setiap ada hal-hal yang tidak cocok, tidak sesuai.. jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Sering, saya hampir merasa kesal karena suatu hal, namun kemudian ketika tau alasan suami melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu, saya pun jadi malu.. lagi2 saya akan semakin mencintainya..

Perlahan, saya pun mulai paham, apa yang disukai dan tidak disukai suami saya.. bagaimana saya harus memperlakukannya, bagaimana saya harus mengurus rumah, bagaimana saya harus menyiapkan makanannya, termasuk bagaimana bila saya ingin menyampaikan sesuatu padanya..

Mengenal adalah sebuah proses panjang, berumah tangga adalah sebuah perjalanan panjang.. ingatlah selalu janji awal ikatan pernikahan itu diikrarkan, ingatlah selalu cita-cita mulia yang didamba bersama, ingatlah selalu bahwa suami (atau istri) kita adalah pilihan Allah untuk kita -sebuah rahmat dan amanah yang harus dijaga sebaik2nya.

image

Leave a comment »