Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Akad

Hari itu 22 Desember 2013. Sedianya akad akan dilaksanakan pukul 8 pagi. Biasanya perias sudah standby bakda subuh. Tapi di hari pernikahan saya perias baru datang jam 7 pagi sodara-sodara.. Berasa dirias kilat banget. Impian tampil cantik maksimal di hari pernikahan tinggallah impian.. Beruntung saya ditunggi teman-teman kesayangan di hari akad. Tak ketinggalan mereka ikut heboh memasang ini itu agar si pengantin tampil maksimal.

Tamu-tamu sudah datang. Penghulu siap. Calon suami pun sudah ready di tempat akad. Sementara saya masih ribut sendiri masang bros yang susah banget di tengan kepanikan.

Saya pun dijemput. Saya ikhlaskan bagaimanapun penampilan saya saat itu. Bismillah niat ingsun nikah lillahi taala. Saya pandang calon suami, dia tertunduk. Semua siap. Akad pun diucapkan. Saya simak dengan seksama setiap kata. Lancar sekali, sistematis, tanpa cela seperti dulu ketika mengisi seminar di sekolah mawapres. Sah. Semua bahagia. Doa-doapun terucap. Alhamdulillah.

Tak seperti pengantin lain yang bisa menangis saat akad berlangsung. Saya ngeblank sama sekali. Saya tidak merasakan apapun. Saya hanya menjalani akad. Mencium tangan suami saya. Menerima mahar. Berfoto-foto.

Usai akad sama mulai sadar (yang tadinya ngeblank). Oh, ini seseorang yang membuat saya menangis bermalam-malam menahan rindu sekarang sudah ada di samping saya. Tangan saya melingkar di sikunya. Saya bisa melihat matanya. Mencium tangannya. Merinduinya. Mengucapkan cinta.

Sejak saat itu banyak hal berubah dalam hidup saya. Saya lihat bapak saya menangis. Entah apa yang dipikirkan olehnya. Putrinya yang dulu suka tidur di depan tivi, lalu diangkat ke kamar, kini telah menikah. Putrinya yang pernah pagi-pagi menangis minta dibuatkan patung dari tanah itu untuk tugas kesenian, kini sudah menjadi milik orang lain. Putrinya yang sering dia jemput dari sekolah sejauh 20 km, kini telah menjadi istri dari seseorang yang baru dikenalnya. Bapak, putrimu telah dinikahi seseorang yang tepat.

Sejak akad terucap, jujur, rasanya memang seperti dunia milik berdua 😀

*Ditulis menjelang 5 tahun pernikahan. Semoga cinta tetap bersemi seperti dulu saat pertama kamu ucapkan cinta padaku #tsaahh

Advertisements
Leave a comment »

Hari-hari yang Berat

Hari-hari menuju pernikahan adalah hari-hari yang berat. Meskipun saat itu saya tetap beraktivitas kuliah dan ekstrakurikuler seperti biasa. Namun ada kalanya saat sendiri, perasaan itu muncul. Satu-satunya yang bisa saya lakukan saat itu adalah menangis. Menumpahkan semua perasaan bersama air mata.

Saya bukan sedang menangis karena sedih akan melepas masa lajang. Juga bukan karena saya belum siap menikah. Saya menangis karena saya belum boleh mencintainya. Saat pasangan lain yang akan menikah sudah demikian mesra kemana-mana berdua dan berkomunimasi demikian instensnya. Bagi kami, semua serba terbatas.

Tiap ada pesan darinya (membahas tentang pernikahan) jantung saya saya seakan berhenti berdetak sekian detik. Perlu waktu untuk menata hati, membaca pesan, dan membalasnya.

Waktu itu saya sadar betul belum boleh jatuh cinta padanya karena akad belum terucap. Dia selalu berpesan, bahwa apa saja masih bisa terjadi menjelang pernikahan. Maka, doa-doa harus selalu kami panjatkan. Minggu dan hari pernikahan adalah perjuangan melawan rindu yang belum halal. Entah berapa malam yang saya lewati dalam linangan air mata #huks huks

Leave a comment »

Taaruf

Sekolah di jogja rupaya menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi ibu saya. Dengan teman-teman yang berasal dari segala penjuru Indonesia, ibu saya khawatir saya akan dinikahi oleh salah satu dari mereka lalu dibawa jauh ke pulau seberang. Kekhawatiran itu ternyata berpotensi menjadi nyata. Saat itu setidaknya ada dua teman yang terang-teranga pedekate ke saya, entah yang diam-diam #uhuk #astagfirullah.. Sampai akhirnya ibu mengawali sebuah pembicaraan tentang jodoh. Ibu berharap jodoh saya tidak jauh-jauh. Cari teman UNS saja. Lalu ibu saya menanyakan apakah ada yang saya taksir diantara teman-teman di UNS. Saya bilang tidak ada. Ibu tidak percaya. Lalu ibu menanyakan lagi adakah teman laki-laki di UNS yang saya idolakan, saya jawab ada. Pikiran saya tertuju pada si mas mawapres. Memang idola-able banget waktu itu, berprestasi, good looking, dan calon dokter. Ibu saya masih nyeloteh lagi, siapa tau dia jodoh kamu. Saya hanya beristigfar.. Mana berani saya berharap setinggi itu. Saya hanya tersenyum dan bilang ke ibu saya, “tidak mungkin bu.. “.

Ternyata perkataan ibu saya didengar oleh Allah. Hari itu, saya memberi kabar bahwa ada seorang laki-laki yang bermaksud taaruf. Ibu saya langsung kepo. Lalu saya jawab laki-laki itu adalah orang yang saya idolakan, yang saya katakan tidak mungkin akan menjadi jodoh saya. Ibu saya hanya tersenyum. Tidak ada yang membuat bapak dan ibuk berat menerima waktu itu, selain berkali-kali meyakinkan saya bahwa saya siap menjadi istri dokter dengan segala konsekuensinya.

Hari taaruf tiba. Saya berangkat naik bis ke jogja. Saya siapkan banyak pertanyaan, begitupun (calon) suami saya. Kami saling bertanya dan meyakinkan. Apa aja yang ditanyakan? Banyak. Karakter pribadi, keluarga, rencana karir, sampai soal kesehatan (siklus mens, kondisi fisik, dll) sampai akhirnya si mas mawapres ini mantap mengatakan untuk melanjutkan proses ke tahap selanjutnya. Saat itu sebenarnya saya ingin sekali menunda menjawab untuk menata hati terlebih dulu. Tapi, keyakinannya membuat saya tidak bisa menolak. Dengan tersipu malu ((bahagia)) saya pun mengiyakan.

Tidak pernah saya menyangka bahwa hari itu akan tiba. Seseorang yang tidak berani saya minta bahkan dalam hati untuk menjadi jodoh saya, hari itu dengan mantap mengatakan ingin melanjutkn proses taaruf menuju pernikahan.

Hari-hari selanjutnya setelah taaruf adalah hari yang berat. Semakin berat menuju hari pernikahan.

Bersambung.

1 Comment »

Pertemuan

Entah saya sudah pernah menuliskan ini atau belum. Tapi, cerita tentangnya seakan tidak pernah bosan untuk saya tulis kembali. Seseorang yang bahkan tidak berani saya panjatkan dalam doa..

Jauh sebelum kami saling mengenal, sebenarnya kami sudah pernah bertemu. Tahun 2009 waktu lomba debat bahasa Inggris tingkat kampus. Saat itu kami beda kelas banget hehe. Dia adalah debater tim pemenang dengan hadiah 12juta. Sementara saya adalah suporter tim peringkat 4 dengan hadiah semangkok mi ayam ((yeay)) haha, ditraktir Erny waktu itu. Waktu itu, saya sebatas tahu namanya mas Muchtar. Yang terlintas adalah, kok namanya agak kuno ya buat ukuran mahasiswa jaman itu.. Tapi jujur namanya padu sekali, Muchtar Hanafi. Saat itu pesonanya kalah dengan teman setimnya, mas Aditya Darma Surya yang saya lihat profilnya di televisi sebagai mapres nasional juara 3 ((piss))

Pertemuan selanjutnya adalah waktu saya ikut sekolah mawapres. Waktu itu yang mengisi materi adalah ((calon)) suami saya wkwk, Muchtar Hanafi. Masih belum ada getaran apapun. Saya mulai terkesan dengan cara bicaranya, sistematis sekali sampai saya berpikir, dia susah berapa kali latihan yaa supaya bisa selancar itu.

Pertemuan berikutnya saat saya mengundangnya untuk jadi juri lomba pidato bahasa Inggris di fakultas saya. Oiya, fakultas kami bisa dibilang beda kasta. Kedokteran yang -you know bagaimana mahasiswanya-dan fkip yang mahasiswanya harus pakai seragam putih hitam :). Waktu itu saya tidak berani menelepon langsung, entah kenapa saya malu. Saya meminta presiden BEM kala itu yang menelepon dan dia bisa. Pun ketika memberikan amplop honor juri saya sungkan sekali, tidak berani. Saya meminta tolong Arip waktu itu.

Pertemuan selanjutnya masih berkaitan dengan bahasa Inggris. Saya mengundangnya untuk sesi latihan wawancara sekolah mawapres yang saya adakan. Lagi-lagi saya tidak berani sekedar menemuinya, selalu teman saya yang menyambut, menunjukkan ini itu sampai menyerahkan kenang-kenangan.

Dari sekian perjumpaan itu, sebenarnya hanya saya saja yang menyadari kehadirannya. Sementara itu, sampai detik itu dia belum sama sekali menyadari keberadaan seseorang bernama Atin Kurniawati di dunia ini ((yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya #eaa)) 😀

Waktu pun berlalu tanpa ada pertemuan dan acara-acara berbau bahasa Inggris. Tapi kami ((saya aja sih yang menyadari)) masih bertemu di beberapa forum kampus. Oiya, waktu itu ada pendampingan beasiswa ke Jepang oleh MITI KM. Dari UNS yang lolos adalah Atin Kurniawati dan Muchtar Hanafi. Eh, siapa sangka ternyata sinyal jodoh itu sudah mulai muncul sejak tahun 2010an wkwk. Tapi kami sama-sama tidak melanjutkan karena satu dan lain hal. Kalo saya sih karena telat mengumpulkan tugas mingguan haha..

Sayapun lulus dan pamit dari hingar bingar UNS. Pindah ke Jogja. Saya kuliah S2 di UGM. Waktu itu sebenarnya saya sudah diterima bekerja sebagai guru di Solo dan bapak bersedia membiayai sekolah S2 di Solo. Tapi waktu itu saya ngeyel dan pilih ambil beasiswa di Jogja dengan segala konsekuensinya..

Dari sinilah kisah kami dimulai, berawal dari sebuah grup yang diinisiasi mas Hasan bernama Komunitas Pasca Kampus (KPK). Mas hasan mengajak saya dan ((calon suami saya)) mas Mufi ((nama bekennya)) bergabung. Kami pun diajak bertemu untuk bertukar ide kira-kira apa yang bisa kami bantu untuk adik-adik junior kami. Pada akhirnya KPK tidak lagi berjalan, tapi justru kami yang sampai ke pelaminan. #uhuk

Ada satu hal menarik waktu pertemuan KPK perdana itu. Ketika mas Mufi datang, jujur saya deg-degan. Sungkan, seperti yang saya rasakan duluuuu waktu saya masih jadi mahasiswa S1 yang unyu. Tapi waktu di KPK itu saya sudah jadi mahasiwa S2 dengan sentuhan Jogja, secara penampilan dan percaya diri juga sudah ada peningkatan. Mas Mufi juga sudah menjadi dokter dan sedang internship di Boyolali. Satu hal yang saya notice waktu itu. Cara mas mufi melihat saya. Selama diskusi saya hampir tidak berani menatap matanya secara langsung saat berbicara, tapi sekilas-kilas saya melirik, matanya tak lepas dari memperhatikan saya bicara. Saat itu jujur saya deg-degan. Tidak menyangka seorang mawapres mau memperhatikan apa yang saya katakan, ide-ide saya ((tapi sepertinya sih memperhatikan orangnya wkwk)), seseorang yang baru dia kenal hari itu. Saya tersanjung #eaa.. Tapi sejujurnya saya juga khawatir, jangan-jangan dia memperhatikan saya karena saya aneh, terlalu banyak bicara, dsb. Entahlah..

Beberapa kali dalam sesi becanda saat ini sebagai suami istri, saya bertanya kenapa dulu pas di danau pertanian itu dia melihat saya terus? Katanya, dia “terpesona” ((entah apa maksudnya tapi menurut saya bukan terpesona karena jatuh cinta pada pandangan pertama)), kok baru tau ada akhwat UNS yang “enerjik” begini. Dulu selama kuliah di kampus belum pernah ketemu akhwat begini, katanya. Jadi, ternyata saat itulah pertama kali bapak muchtar hanafi menyadari adanya saya di dunia ini. 3 tahun setelah acara debat dimana saya mengenalnya kali pertama.

Bersambung.

Foto di bawah adalah first date kami, waktu ulang tahun saya yang ke 23. Sudah sebagai suami istri ya, alhamdulillah..

Leave a comment »

Another Point of View Tentang CPNS

Saya ingin mengawali tulisan ini dari sebuah percakapan seorang pakde dengan ponakan laki-lakinya.

Pakde : Jare bar melu cpns?

Ponakan : Nggih pakde. Dereng rejeki

Pakde : Buka usaha wae, ra kudu dadi pns

Ponakan : Kulo mboten bakat pakde

Pakde : Terus piye bar iki?

Ponakan : Nggih nengga mengke menawi enten bukaan melih

Pakde : Yen ra ono piye?

Ponakan : InsyaAllah enten pakde

Pakde : Yowis, tapi nek menurutku kowe iso sukses luwih cepet yen gelem usaha. Konco2mu SMP sing do usaha kae wis do dadi uwong. Sugih. Duwe karyawan sisan

Ponakan : Nggih pakde. Tapi kulo pengine dados dosen

Pakde : Yo iki mbur rasan-rasan. Istilahe yen wong lulusan sarjana kae do rebutan dadi pns, kudune kowe sing lulusan S2 malah iso buka lapangan kerja kanggo sarjana2 kae

Ponakan : ((hehe))

Pakde : Opo meneh kowe iki kuliah wis entuk beasiswa terus, mosok kerjo isih jagake digaji pemerintah. Kudune genti ngewangi pemerintah, gawe lapangan kerja.

Ponakan : ((speechless))

Pakde : Cen yen usaha ki yo bathine ra mesti, ora koyo pns sing gajine mben sasi mesti. Tapi nek wis temu dalane walah hasile adoooh karo gaji pns.

Ponakan : Nggih pakde. Nyuwun pangestunipun mawon.

*dan saya pun ikut tertohok (((hak dess))

Entah kenapa ingat percakapan itu jadi pengin nulis. Ya anggaplah melihat dari sudut pandang yang lain. Terlepas dari pro dan kontra, kata-kata pakde di atas benar juga. Saat ini menjadi PNS memang masih mempunyai tempat istimewa. Ya faktor-faktornya silakan dipikirkan sendiri. Tapi, sesungguhnya negeri ini juga butuh orang-orang yang menggarap sektor lain. Salah satunya dengan menjadi pengusaha.

Jadi pengusaha memang tidak butuh syarat harus sarjana atau S2. Bahkan teman saya lulusan SD skrg sudah punya mobil, rumah, tanah dimana-mana dengan jadi penjual ayam potong. Atau teman saya yang lain lulusan SMA skrg punya konter besar dengan beberapa karyawan. Ada juga teman kuliah S1 dengan bisnis online yang juga sudah mempunyai beberapa karyawan. Soal penghasilan, jangan tanya. Mereka saja bisa menggaji 5 karyawan. Katakanlah 5 juta untuk gaji karyawan, pengahasilannya mestilah setidaknya 10 juta. Gaji PNS mana yang segitu? Yang di kementeria mungkin ya.

Itu baru soal gaji. Dengan jadi pengusaha itu mereka juga bisa memberi solusi nyata untuk masyarakat. Membuka lapangan kerja, menghidupkan perekonomian umat, juga mengentaskan kemiskinan. Selain itu, mereka punta wakti yang lebih fleksibel dalam sehari sehingga masih bebas ikut kegiatan ini itu yang tentunya juga bermanfaat. Kalau yang lulusan SD dan SMA saja bisa, apalagi lulusan S2. ((Di sini saya merasa tertohok)).

Tentunya jadi pengusaha sukses jalannya panjang. Tidak seperti PNS yang gajinya pasti. Kenaikan gaji juga pasti, khususnya musim pemilu. Jadi pengusaha itu mensyaratkan 1 hal. Tekad. Untung rugi harus dijalani. Faktor inilah yang kurang sedikit banyak menghantui para kawula intelektul yang terbiasa dengan zona aman. Mereka yang sukses jadi pengusaha melewati perjalann bertahun-tahun sampai akhirnya bisa berhasil. Siapkah para intelektual menjalaninya? Belum soal anggapan masyarakat yang masih menomorduakan pengusaha. Sekaya apapun ya tetaplah pedagang, beda kelas dengan pegawai negeri.

Kembali ke percakapan pakde dan ponakannya di atas. Ada satu lagi hal menarik. Tentang passion. Walaupun jadi pengusaha itu banyak enaknya tapi jika passion seseorang bukan jadi pengusaha ya susah untuk dipaksa. Sama halnya dengan jadi PNS. Walaupun orangtua dan keluarga mendorong dan mendoakan jadi PNS, tapi anaknya penginnya jadi pengusaha ya gak ketemu juga. Ada juga kubu yang qonaaah dengan menjadi ibu rumah tangga. Tidak bekerja, tidak juga jadi pengusaha. Apakah mereka menderita? Tidak juga, karena itulah passion mereka. Apakah mereka kaya? Bisa jadi 😀

Untuk mengakhiri tulisan yang nglor ngidul ini, mari segera kita simpulkan saja.

Mana yang lebih memberi solusi? Jadi pengusaha atau PNS? Dua-duanya. Karena PNS dan pengusaha adalah dua sektor yang harus sama-sama diisi agar negara ini tetap hidup. Mana yang lebih baik, jadi PNS atau pengusaha? Yang membuat hatimu lebih tenang dan senang. Itu saja.

Hidup itu tentang pilihn yang kita pilih sendiri. Setiap pilihan harus kita pahami konsekuensinya dan harus siap kita terima. Kalau jadi PNS ya jangan protes kalau berangkat pagi pulang sore, gaji tidak seberapa, dituntut begini begitu. Yang jadi pengusaha ya jangan patah semangat kalau rugi, banyak hambatan, dan tentunya jangan kaget kalau untung berlipat-lipat. Jangan sampai, kita memilih suatu jalan, lalu kita menyalahkan orang lain atas keadaan yang menimpa kita. Misal seseorang yang memilih jadi honorer, lalu menyalahkan pemerintah karena tidk digaji layak dan tidak diangkat PNS. Atau pengangguran yang menyalahkan pemerintah padahal mereka hari-hari nongrong-nongkrong saja (cuma misal yaa ini, insyaAllah gak ada yang model begini).

Yang gagal cpnsan, pilihlah jalanmu. Mau tetap jadi honorer, pindah ke swasta, atau jadi pengusaha?

*ditulis sambil nungguin anak tidur, oleh ibu rumah tangga, bukan pns dan bukan (tapi pengin jadi) pengusaha (semoga, aamiin).

Leave a comment »

Daster, sebuah kisah pilu… (dan judul yang lebay)

Bismillah..

Daster. Sebuah kata yang memberi kemerdekaan pada emak-emak, pakaian ternyaman untuk dipakai di rumah. Saking nyamannya, sampai sudah terkoyak-koyak pun masih dipakai, makin semriwing mungkin ya, hehe. Tapi sayang, bagi saya daster adalah sebuah kisah pilu (heuu)..

Alkisah, ketika itu saya sedang menyuapi Kamil di teras rumah. Ada mbak2 nawarin tv parabola.

Si mbak : Selamat pagi, ini mbak, mau nawarin tv parabola.. Ibunya ada?

Saya : Iya mbak..

Si mbak : Maaf mbak, bisa ketemu ibu (tuan rumahnya)?

Saya : Iya mbak, saya sendiri.. Maaf ya mbak, kami gak punya tv. Gak peu parabola.

(si mbak mulai kisinan, dan saya mulai sedih)..

Saya sedih deh, mbaknya spg parabola gak percaya kalau saya yang punya rumah. Mungkin dikiranya yang pakai daster (waktu itu saya pakai daster ala kadarnya) dan nyuapin anak kecil itu adalah ART atau yang momong.

Di sini, saya sangat sedih. Tapi bukan karena mbaknya ngira saya pembantu, bukan.

Jadi, itu bukan kali pertama saya dikira pembantu oleh tamu (huaaa). Mungkin karena penampilan saya yang biasa dan apa adanya ini.. Bagi kebanyakan orang mungkin cocoknya ibu masa kini itu ya yang kerja kantoran, yang stay at home dan momong biar pembantu. Atau, ibu masa kini itu ya selalu cantik mewangi sepanjang hari..

Sedih saya. Bukan karena dikira pembantu. Biarlah orang menilai apapun. Tapi, saya sedih ternyata tampilan saya kalau di rumah lebih mirip pembantu (huaa). Kasihan sama suami. Ini yang membuat saya sedih. Ternyata selama ini saya dholim dengan berpenampilan seadanya di rumah.. Dan penampilan itulah yang selalu dilihat oleh suami. Setidaknya, sebelum jam malam (wkwkwk). Ya kalau jam malam, anak-anak sudah tidur, insyaAllah jauh dari kesan pembantu (wkwkwk)

Subhanallah..

Sejak saat itu semua daster saya pensiunkan, kecuali daster yang kurang bahan, hihi. Daster ibu dan ibu mertua saya kembalikan. Gamis-gamis yang tidak terlalu baru saya turunkan derajatnya jadi baju rumahan. Demi apa?

Utamanya, demi penampilan yang lebih baik. Demi memanjakan mata suami. Kasihan, di luar suami banyak cobaan (ketemu teman kerja, pasien, mahasiswa yg klimis, wangi, dan cantik) dan dia berusaha bertahan. Jadi, di rumah ya harus dimanjakan oleh yang halal sebagai hadiah atas usahanya menahan dari yang tidak halal 😀 Pernah juga berniat akan sudah mandi, dandan, dan wangi sebelum suami berangkat bekerja, tapi itu semua kandas dengan makin hebohnya duo krucil.. Astagfirullah

Kedua, penampilan istri itu mencerminkan bagaimana suaminya. Bayangpun kalau saya dilihat tetangga, tamu, sehari-hari cuma pakai daster dan penampilan ala kadarnya. Bisa dikira suami gak ngasih uang buat beli baju atau make up. Duh, kasihan. Maka, dalam rangka menjaga nama baik suami, saya harus berpenampilan lebih baik 😀

Aduh, sungkan mau minta dibelikan baju, make up dll..

Mak, tak perlu sungkan. Kan minta sama suami sendiri dan itu memang tanggung jawab suami 🙂 seringkali anggapan seperti itu hanya ada dalam pikiran istri yang malu untuk minta ke suami. Kalau untuk kebahagiaan istri, apalagi demi kemaslahatan suami juga insyaAllah akan dikasih kok, ya asal gak berlebihan dan tetap melihat kemampuan suami ya.. 😀

Sejak saat itu saya suka sedih kalau lihat emak-emak (muda) yang di rumah pakai daster bolong, rambut dikuncir ala kadarnya padahal suaminya ada di rumah..

Ini juga berlaku sebaliknya. Sebagaimana penampilan suami, maka begitulah perlakuan istri padanya. Kalau setelah menikah, penampilan suami makin baik, ya bisa ditebak bagaimana istrinya memperhatikannya. Tapi, kalau sudah punya istri, celana panjang suami sampai berkerut-kerut belakangnya, sobek bawahnya, atau rambutnya gondrong, maka mungkin istrinya punya banyak pekerjaan yang lebih penting dari sekedar memperhatikan penampilan suaminya.

Disclaimer.

Ya semua tergantung keluarga dan tipe pasangan sih. Mungkin ada yang santai aja atau malah senang dengan penampilan istri yang dasteran dan bau dapur 😀 😀

Leave a comment »

Memenuhi Janji

Bagi anak sulung, kadangkala tidak mudah menerima kehadiran adiknya sepenuhnya. Dulu, semuanya untuk dia, seluruh perhatian adalah miliknya. Tapi, sejak si adik datang. Seringkali dia harus menerima kenyataan untuk sering menunggu dan selalu mengerjakan semuanya sendiri. Pengin minta dikelonin, nunggu si adik bobok dulu. Minta ditemani baca Al Husna (iqra versi sekolahnya wafa), nunggu adiknya pules dulu. Pengin disuapi, diminta makan sendiri karena umi baru nyuapi adik. Pengin dimandiin umi, diminta mandi sendiri karena adik lagi rewel. Entah bagaimana perasaan si kakak 😦

Seiring dengan berkembangnha kognitif, si kakak suka cari-cari alasan untuk memenangkan lagi perhatian dari uminya. Berbagai cara dia lalukan, mulai gak mau makan kalau gak disuapi umi, gak mau sekolah kalau gak diantar umi, gak mau mandi kalau gak dimandiin umi, dan gak mau main kalau gak ditemani umi.

Termasuk yang satu ini. Wafa sekarang mulai ingin lebih banyak di rumah supaya bisa main sama umi 😦 dia minta dijemput setelah makan. Jadi, ada tiga opsi untuk menjemput wafa. Pertama, setelah makan jam 12 siang. Kedua, setelah tidur jam 2 siang. Ketiga, setelah mandi jam 3 sore. Hari itu wafa berkali-kali bilang maunya dijemput setelah makan. Dia janji akan tidur siang di rumah. Diulang-ulang terus sampai menjelang berangkat bahwa dia ingin dijemput setelah makan siang. Saya iyakan supaya dia segera berangkat dengan bahagia karena sudah ditunggu abinya.

Dalam hati saya pikir betapa panasnya jemput wafa jam 12 siang, bersama kamil pula. Kasihan kamil kepanasan. Lalu saya terpikir, ah dijemput setelah bobok juga tidak masalah. Kan sama saja, dijemput setelahh bobok pada hakikatnya juga tetap habis makan kan.

Menjelang jam 12 siang, saya mulai galau. Kamil masih tidur. Apakah saya akan melancarkan opsi kedua menjemput setelah bobok. Tapi saya takut Wafa kecewa. Saya takut membohongi Wafa. Walaupun dijemput setelah bobok pun saya tidak berbohong sebenarnya. Tapi, dalam benak Wafa, dijemput setelah makan adalah jam 12, dimana dia akan bisa bermain dulu dengan umi dan adik, lalu tidur siang di rumah. Saya mulai galau. Saya takut membohongi Wafa. Saya takut memupuskan harapan Wafa untuk bisa pulang awal dan bermain bersama umi. Saya harus menjemputnya saat itu juga.

Kamil pun bangun. Dengan mata masih liyat-liyut, saya pakaikan jaket dan helm. Kamipun meluncur ke sekolah Wafa di bawah terik matahari yang subhanallah.. Sampai di sekolah Wafa, dia menyambut kami dengan senyum bahagianya. Umi juga bahagia Nak, bisa menepati janji padamu.

Janji pada anak kecil itu menguji kesungguhan kita sebagai orangtua. Karena anak kecil itu mudah lupa, istilahnya mudah dislimur. Tapi, bukan itu yang kita inginkan dalam mendidik anak. Bukan berarti dengan anak mudah dislimur semua selesai. Apa-apa yang kita janjikan ketika nylimur itu tetaplah janji yang harus ditepati.. Agak dalam benak anak tertanam kepercayaan pada orangtua. Otomatis merekapun belajar untuk menepati janji di masa yang akan datang, sebagaimana selalu dicontohkan ketika mereka kecil.

Leave a comment »

Rejeki itu pasti Allah cukupkan…

Ngomong-ngomong soal CPNS ya gaes, kenapa sih orang tua kita suka banget dan bangga kalau anaknya jadi PNS? Ya salah satunya karena “kepastian” gaji yang akan diterima sampai tua, sampai ke keluarga-keluarga yang ditinggalkan. Itu soal gaji ya, yang diterimakan setiap bulan. Tanpa bermaksud mengecilkan harapan orangtua kita (yang sebenarnya hanya ingin anaknya sejahtera), sebenarnya hidup terjamin itu tidak sebatas jadi PNS.

Karena seluruh kehidupan kita ada dalam jaminan Allah, Sang pemberi kehidupan, Sang pemberi rejeki. Tidak akan kita meninggal sebelum Allan berikan semua jatah rejeki kita. Yang PNS, yang bukan PNS semua dapat rejeki, bahkan bisa jadi jauh lebih banyak dari yang PNS. Karena rejeki itu Allah yang kasih, bukan pemerintah.

Tugas manusia hanya berusaha, berdoa, dan mengelola rejeki yang Allah amanahkan. Dulu waktu masih berdua dan bertiga, Allah cukupkan gaji suami 2.4jt untuk semua kebutuhan: bulanan, menabung, infaq, bayar kuliah 9jtan persemester, dan transportasi jogja-solo tiap hari. Waktu itu hampir pesimis karena suami daftar beasiswa LPDP 2x tidak lolos. Alhamdulillah Allah mampukan menyelesaikan kuliah.

Waktu itu ketika harap-harap cemas soal dana riset yang besar, Allah mudahkan suami dapat hibah dari kampusnya dan beasiswa tesis LPDP. Allah cukupkan sesuai kadar kebutuhan kami..

Setiap anakpun membawa jatah rejekinya masing-masing. Kamil misalnya, menjelang kelahirannya Allah beri rejeki untuk ganti kulkas 2 pintu untuk persiapan ASIP. Juga saat kamil sakit dan membutuhkan uang susu sekitar 3 juta sebulan. Kalau hanya dibayangkan sepertinya berat sekali. Alhamdulillh tiap saatnya beli susu pasti ada saja uangnya. Ya walau pernah satu waktu uang suami benar-benar habis dan terpaksa ambil uang tabungan wafa untuk beli susu kamil. Tetap Allah cukupkan.. 🙂

Jangan takut soal rejeki, jadi PNS atau tidak, rejeki akan sampai pada kita sepenuhnya asalkan kita berikhtiar. Jangan khawatir kekurangan, sejatinya Allah cukupkan rejeki untuk kebutuhan kita. Ya, kebutuhan. Soalnya kalau nuruti keinginan berapapun akan terasa kurang.

Agaknya kita perlu bertaubat kalau niatnua jadi PNS untuk mencari kepastian rejeki tiap bulan. Duh, sayang.. Nanti Allah cemburu..

Leave a comment »

Butuh atau Pengin aja?

Sejak saya menikah, suami selalu mengajarkan saya untuk menahan diri, dalam hal apapun. Salah satunya ya dalam hal belanja hehe. Dulu sebelum menikah saya suka kulineran, pengin apa ya beli kalau pas ada uang. Pengin baju ya beli, pengin sepatu, buku ya kalau ada uang beli aja. Tapi, semenjak menikah semua serba harus dikendalikan. Apalagi di awal pernikahan saat suami masih berjuang. Saat uang belum banyak, saya ingat sekali sampai tabungan saya habis buat nambahin uang bulanan (pengin nangis). Ya walau waktu itu sebenarnya juga tidak kekurangan sekali, hanya kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan -eh kepenginan- saya kala itu.

Karena suami jarang di rumah (sampai sekarang juga masih jarang di rumah T. T), saya suka males masak dan mlipir beli apa yang dipengin, yah waktu itu lagi hamil juga. Karena uang bulanan saat itu terbatas, akhirnya ya harus ambil tabungan hehe.. Karena menurut saya, uang bulanan adalah untuk keperluan keluarga, kalau buat kepenginan saya maka tidak etis pakai uang bulanan. Gak berani juga minta ke suami saat itu.. Padahal kalau bilang ya pasti akan dikasih, atau setidaknya akan bilang.. “sabar dulu ya sayang.. ” hihi..

Suami saya prinsipnya kalau itu kebutuhan maka berapapun akan diusahakan, tapi kalau sekedar keinginan ya besok-besok juga masih bisa. Kalau saya minta sesuatu yang sekiranya hanya kepenginan maka beliau tidak akan segan-segan menolak..

Semakin ke sini, saya makin terbiasa dan akhirnya suka bertanya pada diri sendiri sebelum bertindak. Misal saya pengin banget beli baju, saya jadi banyak menimbang. Butuh banget gak ya? Uangnya buat beli baju atau yg lain aja ya (yg lbh manfaat)? Duh, belum siap mensiunin baju lama..

Ada lagi, saya suka makan mi instan dan seblak. Tapi akhir-akhir ini suami makin galak soal menu makan. He said, aku aja rela kerja keras buat menjaga kesehatanmu. Masak kamu malah gak menjaga kesehatan (hukss). Akhirnya, tiap saya mau makan makanan itu, saya berusaha buat menahan diri.. Makan gak ya? Nanti abi marah.. Duh, kasihan ginjal.. Duh, masih ad menu lain sih.. Dan akhirnya batal makan mi insatn wkwk

Biasanya keinginan itu malah membuat kita berlaku boros, mubadzir, dan tidak sehat (makanan), karena sejatinya hal-hal yang kita butuhkan itu tidak banyak dan sudah pasti Allah cukupkan.. 🙂 rethinking what you want. Is it good? Is it beneficial?

Leave a comment »

This too will pass

Apapun kondisi kita, entah berat atau ringan, senang atau sedih selalu ada masa berlakunya. Maka, seyogyanya bila kita bahagia maka tidak perlu terlalu bahagia dan sebaliknya.

Beberapa waktu lalu, saat kamil sakit, sering waktu tidurnya tidak nyenyak jadi sayapun hampir tidak punya waktu istirahat yang cukup.

Alhamdulillah, Allah memberi kemudahan melewatinya..

Saat ini, kondisi kamil sudah lebih baik. Tidurnya sudah kembali nyenyak. Sayapun punya waktu istirahat yang cukup serta melakukan hobi di luar menemani kamil bermain..

Jadi, yang kita perlukan hanya bersabar. Menjalani setiap menit dengan sabar dan baik sangka. Bahwa dalam setiap kondisi Allah selalu melihat kita, memberikan pahala atas kesabaran kita. Sabar, this too will pass. Dan nanti saat kisah berganti, kamu akan tersenyum karena telah melewatinya dengan anggun..

Leave a comment »