Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Selamat Datang Anak Nomer 4

Afiya Rasyida Amany. Seseorang yang sehat, pintar bijaksana, dan penuh harapan.

Cerita kelahiranmu sungguh diluar prediksi BMKG, Nak. Pagi itu umi diantar abi dan kakak-kakakmu ke kampus. Hari kamis, 14 Desember 2023. Umi memakai kostum ke kampus. Di tengah perjalanan umi merasa sakit kepala dan perut umi sakit (lagi). Oiya, dini harinya umi memang merasa sakit perut yang sangat nyeri sampai tidak bisa bangun dr tempat tidur. Namun, menjelang pagi rasa nyerinya berangsur reda dan hilang.

Beruntung abimu dokter, Nak, dia punya insting yang tinggi sekaligus concern ke kondisi kita. Abi langsung menuju klinik dan umi ditensi. Ternyata tensi umi tinggi 150. Abi langsung gercep ke IGD RS UNS. Ternyata umi didiagnosa impending eklamsi. Umi juga tidak tau itu apa, intinya kamu harus segera dilahirkan agar kita selamat.

Kamu tau, Nak, sebenarnya umi tidak mau lahiran di sana. Umi sudah merencanakan akan ke Kustati saja atau dr. Oen yang dekat rumah. Ternyata takdir berkata lain. Kata pepatah, gething nyanding, boleh jadi kita kurang menyukai atau menghindari sesuatu namun akhirnya kita terbantu, atau berhutang budi pada yang kita hindari itu. Kejadian seperti itu sering. Jadi hati-hatilah dengan hatimu ya.. Ikhlas dengan jalan yang Allah gariskan. Begitulah kiranya cerita umi dan RS UNS. Dihindari, namun ternyata disanalah kamu lahir, sama seperti almarhum kakakmu, mas Afnan. Umi seperti mengulang kejadian tiga tahun lalu. Alhamdulillah kita selamat, Nak. Mari berjuang bersama melewati hari-hari selanjutnya.

Jam 12.15 operasi dimulai, tepat 12.20 kamu diangkat dari dalam perut umi dan kamu menangis kencang… Umi bahagia sekali, Nak. Kamu langsung menangis seperti mbak Wafa dan mas Kamil dulu. Nak, kamu lahirnya BBLR, beratmu 2410gram karena kamu lahir diusia kandungan umi 37 minggu. Kalau menurut rencana kamu masih akan diperut umi satu atau dua minggu lagi. Tidak apa-apa ya, Nak. Tumbuh besarlah..

Oiya, berterima kasihlah pada dua kakakmu yang sudah sabar menunggu di dalam mobil di parkiran selama berjam-jam. Rencananya setelah mengantar umi, mereka akan jalan-jalan dengan abi. Ternyata, mereka malah terjebak kondisi emerjensi dan menunggu sampai ada yang datang menjemput.

Berterima kasih jugalah pada om dan tante residen teman abi yang sudah ikut heboh membantu ini dan itu.

Alhamdulillah begitulah ceritamu..

Leave a comment »

Merayakan Kelulusan: Sebuah Titik Akhir dan Awal

Hari itu kami ke Surabaya untuk merayakan kelulusan abi dari sekolah spesialis yang penuh cerita, 3.5 tahun menjadi residen. Sebuah sebutan yang cukup prestise namun juga subhanallah perjuangannya. Sekolah spesialis ini bukan sembarang kuliah, melainkan sekolah, bekerja, bersosialisasi, berkompetisi, menari, menyanyi, dan masih banyak lagi yang harus dikuasai. Alhamdulillah masa-masa penuh cerita itu telah sampai di titik akhirnya. Masa-masa jaga seminggu dua kali ditambah jaga back up 3 hari sekali, lalu jaga seminggu sekali, lalu jaga dua minggu sekali, sampai akhirnya bebas jaga sudah usai. Kini abi bersiap kembali mengajar, sekaligus menjalani profesi baru, seorang radiologist.

Semoga makin berkah usia dan ilmunya.

Titik ini selalu mengingatkan saya pada bayi kami nomor 3, Afnan Rasyid Muhammad, yang lahir saat abinya pin merah, saat hidup sebagai residen sedang genting-gentingnya. Dia adalah bagian penting dari perjuangan menjadi anak residen. Qodarullah, Afnan berpulang disuatu hari Senin saat abinya mau berangkat sekolah namun tak sampai hati meninggalkan kami di rumah. Kami ke rumah sakit, dan pagi itu ternyata kami mengantar Afnan ke titik akhirnya. Sampai jumpa lagi, Le Afnan. Abi sudah jadi spesialis sekarang.. Afnan semoga ilmu yang abi dapatkan mampu mengantar kami menyusulmu di surga Allah, ya, Le.

Leave a comment »

Shalawat yang Menenangkan

Malam itu di rumah sakit PKU, kami bersepakat bahwa Afnan harus segera dipasang NGT untuk menyelamatkan pertumbuhannya. Sebelumnya Afnan makin sulit menyusu, tidurnya tidak pernah nyenyak, demikian juga saya. Tiap suami jaga, saya harus ditemani ibu mertua untuk gantian menggendong Afnan. Saat-saat itu rasanya berat membayangkan bagaimana saya akan melewati sehari penuh atau semalam penuh dengan Afnan yang terus rewel. Saat itu, selagi Afnan masih mau menyusu saya menyingkat target hidup dari satu sesi menyusu ke sesi setelahnya. Lalu, menidurkan Afnan.

Saat-saat itu rasanya tidur tidak pernah cukup. Saya akan tidur di meja kantor atau parkiran di dalam mobil. Kalau diingat lagi ternyata masa-masa itu bisa dijalani. Laa haula wala quwwata illa billah..

Di depan ruang tindakan, saya sendirian. Hati rasanya rasanya hancur mendengar tangisan Afnan dari dalam ruangan. Mungkin sakit sekali dipasang NGT, tapi itulah keputusan terbaik kami sebagai bentuk tanggung jawab kami sebagai orangtua. Saya lantunkan shalawat dan saya merasakan hati saya seketika tenang, saya harus ikhlas demi kebaikan Afnan. Terus saya lantunkan shalawat hingga Afnan kembali dalam dekapan saya. Lantunan shalawat satu-satunya yang bisa menenangkan Afnan ditengah rewel dan gelisahnya. Apa kamu rindu rasulullah, sayang? Kami sematkam namanya di namamu. Semoga kamu dekat dengan beliau di surga ya, Nak.

Kami berpikir cukup seminggu atau dua minggu Afnan memakai alat bantu itu, namun ternyata hingga 4 bulan sampai Afnan menghembuskam nafas terakhirnya dia masih harus menggunakannya.

Afnan dan lantunan shalawat yang menenangkan.

Leave a comment »

Jadi Istri Residen, Apa Iya Seberat Itu?

Kata orang-orang jadi istri residen itu beraaat. Harus mau dan bisa jadi prioritas kesekian kalau suami sudah masuk PPDS. Secara keuangan harus bisa cari tambahan atau malah jadi tulang punggung sementara keluarga karena suami tidak lagi bekerja selama menjadi PPDS dan pengeluaran PPDS itu tidak sedikit. Terlebih bagi suami yang menjadi dokter jalur tanpa privilege. Intinya harus berusaha sendiri, modalnya bismillah, doa orangtua, dan support dari istri serta anak-anak. Ambil kuliahnya radiologi UNS karena kami mampunya itu secara finansial dan secara hubungan (kami gak bisa LDR hehe). Biaya paling ringan, gak perlu jauh dari keluarga, gak perlu biaya kos, dan sekolahnya paling cepet 3.5 tahun. Bagi kaum-kaum sekolah mandiri tanpa beasiswa tentu aspek ini penting sekali.

Apa iya, jadi istri residen seberat itu? Bagi saya yang berat adalah menjaga kondisi diri sendiri tetap stabil (kalau bahasa gaulnya tetap waras). Saat kita sebagai istri seringkali (meski gak selalu juga sih) menjadi prioritas kesekian setelah urusan rumah sakit dan pendidikannya. Saat urusan sekolah harus direspon dalam hitungan detik atau bahkan sepersekian detik. Saat waktu weekend diisi kegiatan persekolahan, webinar, workshop, apalah-apalah yang lainnya juga. Istri dan anak-anak? setia menunggu di rumah. Mau kemana-mana gak bisa karena waktu itu pandemi. Harus latihan nari dan nyanyi juga. Ini memang sekolah paling all out dari segi tenaga, waktu, dan pikiran, paling harus serba bisa, lebih dari anak pramuka.

Lalu, sebagai istri, urusan rumah, antar jemput anak sekolah, mengantar anak periksa karena sakit, mengantar anak terapi rutin karena kondisi khususnya, menemani anak bermain semuanya harus bisa dilakukan sendiri. Dimana suami? Beliau ada, tetap memantau tapi tanpa bisa meninggalkan tugasnya. Pasti berat juga buatnya.

Obrolan-obrolan di rumah tidak lagi selepas dulu karena bisa tiba-tiba ada tugas. Waktu jalan-jalan tidak lagi selega dulu karena bisa sewaktu-waktu dipanggil. Melihat dia selalu dibanding dengan istrinya tentu ada rasa cemburu. Tapi, ya semua kembali pada komitmen kami sejak awal memulai PPDS.

Ya begitulah, setidaknya di tahun pertama dan kedua. Namun, tahun ketiga ini sudah longgar rasanya… Kami punya lebih banyak waktu bersama. Jadwal jaga sudah jauh lebih longgar, dari awalnya seminggu dua kali menjadi dua minggu sekali. Jadi, beratnya istri residen itu hanya di awal-awal masa studi. Setelah sekian semester kondisi akan berbeda.

Benar adanya, badai pasti berlalu. Yang penting kuat-kuatkan diri saat badai itu datang. Termasuk ketika mendampingi pasangan sekolah PPDS. Jaga komitmen dan tetap jaga iman serta imun.

Leave a comment »

Kamil Masuk SD

Anak keduaku Kamil sebentar lagi sudah mau masuk SD. MasyaAllah sungguh besar nikmat yang Allah beri. Kami diizinkan utk mengasuh dan mendidik Kamil hingga hari ini. Semoga kami tetap amanah hingga batas waktu yang Allah tentukan.

Ya, Kamil adalah titipan dan demikianlah adanya. Ia dititipkan pada kami lengkap dengan rizkinya untuk kami didik dengan baik hingga suatu saat akan Allah mintai pertanggungjawaban. Semoga kami bisa mendidiknya hingga kembali kepada Allah dengan selamat.

Kalau kakung masih hidup saat ini, beliau akan bahagia melihat hari ini. Melihat cucu yang dulu setiap hari dikhawatirkannya, didoakannya tumbuh sehat, aktif, dan cerdas atas izin Allah. Alhamdulillah..

Merawat Kamil ini berbeda. Dia menjalani okupasi terapi usia 10 bulan karena perkembangan motoriknya tidak urut, jadi harus diurutkan supaya optimal. Lanjut, selesai OT kami mengambil terapi wicara karena diusia 16 bulan belum juga menunjukkan tanda-tanda bicara. Dulu kakaknya, usia 13 bulan sudah produktif linguistiknya. Alhamdulillah tepat diusia 2 tahun (24 bulan) kamil secara definitif bisa mengucapkan kata bermakna, yaitu “sepatu” waktu kami mau pergi dan dia sedang pakai sepatu. Alhamdulillah…

Setelah dik Afnan diambil kembali oleh Allah, kami merenungi mengapa dan bagaimana. Kami dapati satu hal, bahwa kami mungkin belum sekuat itu untuk diamanahi tiga anak. Setiap manusia akan diuji sesuai kadar kekuatannya. Bisa jadi memang kami belum semampu itu, sehingga Allah ambil kembali Afnan dalam keadaan terbaiknya, saat belum baligh, dibagian mana kami harus bersedih atas kepergiannya. Yang ada, kami harus memikirkan diri kami, terus introspeksi agar dua anak yang masih bersama kamil lebih optimal kami jaga dan didik. Berusaha agar kami semua selamat dan kembali dalam keadaan terbaik sebagaimana Afnan.

Salah satu hikmahnya kami harus lebih perhatian ke Wafa dan Kamil. Akhirnya kami melanjutkan terapi okupasi kamil yang terhenti sejak usianya 2 tahun. Diusia 4 tahun, kamil belum bisa menulis rapi, belum bisa membuat sudut, belum bisa mengucapkan huruf velar (k dan g), gerakannya masih terburu-buru. Alhamdulillah menjelang usia 6 tahun kamil dinyatakan lulus okupasi terapi, sungguh bahagia rasanya atas segala nikmat dari Allah.

Mungkin tumbuh kembang Kamil tidak secepat anak-anak lain pada usianya. Namun, sungguh kami bersyukur cepat belajar bila sudah ketemu timingnya. Ingat sekali dia lebih cepat selesai toilet training meski mulainya lebih lambat (seingat sy satu atau dua minggu). Dia lebih cepat hafal warna meski bicaranya bisa dikatakan terlambat. Dia lebih cepat bisa berhitung meski tulisan tangannya dan aktivitas mewarnai masih menyedihkan. Dan dia tiba-tiba bisa membaca. Saya pun kaget. Rasanya jarang saya mengajarinya. Di sekolahpun progresnya biasa saja. Mungkin, ini salah satu hikmah sering membacakan buku sejak bayi. Alhamdulillah..

Dan hari ini Kamil sudah 6 tahun 2 bulan, dan siap menjadi siswa SD. MasyaAllah terharu dan bangga rasanya. Barakallah cah bagus, semoga selalu dalam lindungan Allah.

Leave a comment »

PNS JALUR DOA ORANGTUA

Sebuah plot twist perjalanan hidup, yang meyakinkan bahwa rejeki sudah tertakar dan tidak tertukar.

Pagi itu hari terakhir verifikasi SKB, saya hampir tidak berangkat karena tidak ingin. Entah kenapa disaat terakhir sy berangkat setelah ditelpun panitia.

Hari H wawancara, pagi-pagi saya menghubungi panitia bahwa saya mengundurkan diri. Hingga telepon pukul 7 lebih sekian itu mengubah jalan hidup. “Pokoknya datang saja, Mbak. Gak niat juga gak apa-apa, yang penting hadir. Daripada menyesal,” suara seorang wanita dr seberang. Dengan niat menggugurkan kewajiban, saya rampungkan menyuapi anak-anak. Pakai baju seadanya (kemeja suami yg cuma cukup sampai kancing kedua, rok hitam ibu yg kebetulan ketinggalan di rumah, dan kerudung warna navy krn gak punya kerudung hitam). Wawancara paling nothing to loose selama hidup, tau ya dijawab, gak tau ya bilang gak tau. Ndelalah materi wawancaranya soal mengajar, sy sekedar menjawab berdasar pengalaman mengajar di SMP. Wawancara lainnya seputar keagamaan, saya jawab apa adanya.

Hari ujian selanjutnya, saya bertekad untuk tidak lulus. Saya keluar pertama dengan sisa waktu satu jam. Soal matematika tidak saya kerjakan, langsung klik-klik saja.

Saya pulang dengan bahagia. Akhirnya menggugurkan kewajiban agar tidak merepotkan panitia karena ada peserta yang mangkir. Beberapa waktu ke depan saya akan disibukkan dengan kelahiran dan mengurus baby newborn. MasyaAllah… Lagipula dari daftar nama yang lulus SKD sudah ada dua nama dosen internal. Genaplah kebahagiaan saya karena biasanya pasti orang dalam yang diutamakan.

Saya lupa setiap tanggal-tanggalnya, tapi sore itu sebuah WA dari teman membuat hidup saya ruwet. “Dik selamat ya lulus CPNS UIN”, tulisnya. Saya hanya bisa beristigfar dan menangis kenapa jadinya begini. Bagaimana dengan rencana menikmati masa-masa merawat bayi? Bagaimana kalau bapak tau kalau saya diterima, betapa bahagianya bapak dan mungkin bapak akan kecewa kalau saya mundur. Bagaimana dengan Al Abidin? Bagaimana dan bagaimana yang lainnya… Hari itu menjadi berat.

Malam-malam selanjutnya diisi dengan diskusi dan memikirkan banyak hal. Suami yang sejak awal tidak ingin saya jd PNS di UIN akhirnya luluh, mengingat betapa ini adalah kebahagiaan yang besar bagi orangtua kami. Mungkin dengan cara inilah kami bisa membuat bapak dan ibu bangga. Apalagi ditengah kondisi bapak yang sudah sakit beberapa tahun terakhir, semoga hal ini bisa menjadikan kebahagiaan. Bapak (rahimahullah), mungkin adalah satu-satunya alasan bagi saya dan suami untuk meneruskan langkah jadi PNS ini.

Benar saja, betapa bapak saya terharu dan bersyukur dengan hal ini. Bapak bilang, “Bapak hidupe wis komplit, kabeh kepinginan wis dikabulke Gusti Allah. Pengin duwe anak salah sijine dadi PNS wis diparingi. Bapak wis marem uripe,” ucap bapak.

Tentu bapak paham kondisi kami, kelahiran anak ketiga juga beratnya jadi residen di tahun pertama, tapi bapak berpesan, “Gusti Allah kuwi nek wis nakdirke mesti diwehi kekuatan kanggo menjalani.”

Begitulah kisah perjalanan saya jadi PNS yang tidak penuh perjuangan dan tidak seinspiratif mestinya. Usaha saya sangat tidak seberapa, tapi tanpa saya tau bisa jadi doa-doa bapak lah yang menjadikan jalannya begitu mudah tanpa rintangan. Saya menyadari diatas doa-doa yang seorang anak panjatkan, ada doa orangtua yang tidak tertolak.

Episode menjadi PNS adalah cara Allah menggenapkan harapan Bapak dalam hidupnya. Dan ternyata, itu adalah hal terakhir yang bisa saya persembahkan untuk bapak. Masa-masa setelahnya pandemi makin menjadi. Bapak dua kali masuk rumah sakit, salah satunya di ruang isolasi. Setelahnya, kondisi Afnan ternyata tidak sebagaimana bayi-bayi seusianya sehingga membuat bapak sedih melihat cucunya harus menggunakan alat bantuk untuk sekedar minum susu.

Sebulan lebih bapak memanjatkan doa untuk kesembuhan Afnan hingga akhirnya Allah menggenapkan usia bapak di suatu hari Jumat.

Bapak, sungguh indah takdir Allah. Dua bulan setelah bapak berpulang, Afnan juga dipanggil oleh Allah. Mungkin bapak sudah bertemu dan memeluk Afnan di sana. Bapak sangat lembut hatinya, sungguh tidak bisa membayangkan bila bapak menyaksikan Afnan berpulang. Pasti lebih sakit… Sungguh waktu Allah tidak pernah salah. Afnan berpulang dihari Senin, hari kelahiran bapak.

Kami melanjutkan hidup, Pak. Saya sudah jadi PNS. Mas Hanafi sebentar lagi lulus PPDS. Wafa akan naik kelas 4. Kamil mau masuk SD, tumbuh sehat dan sudah pintar membaca dan menulis. Bapak semoga bahagia di sana. Tunggu kami ya, Pak.

Leave a comment »

Adil Sejak Dalam Pikiran #3

Anak Dokter kok Meninggal?

Yah, terdengar menyesakkan memang dan mungkin banyak spekulasi demikian di luar sana. Kok bisa anak dokter meninggal karena diare? Apa gak segera ditangani? Apa gak tau tanda-tanda bahaya? Kok bisa telat bawa ke rumah sakit? dan kemungkinan-kemungkinan yang lain.

Tahukah, itulah yang dulu saya pikirkan saat anak bungsu seorang dokter (senior suami) berusia 4 tahun meninggal karena demam berdarah. Waktu itu dalam pikiran saya terbersit, “Kok bisa ya? Apa telat dibawa ke rumah sakit? Masak bapak ibunya (yang dokter dan bidan) gak tau anaknya kritis,” dan mungkin pikiran-pikiran lainnya. Sungguh jahat sekali saya waktu itu dan bodoh sekali pemikiran saya. Lalu, saya diingatkan langsung oleh Allah saat saya membawa anak saya sendiri ke IGD dalam kondisi lemas, dalam kebingungan kenapa matanya tidak bercahaya, dalam kekhawatiran dia mulai kejang di tengah perjalanan.

Apakah kami diam saja dan membiarkannya sekarat? Tidak. Semalaman saya sedikit tidur menjaganya yang rewel luar biasa, meniadakan kemungkinan dia dehidrasi karena tenaganya besar sekali dan tidak lemas. Setiap dia diare kami tambahn asupan cairan yang cukup (menurut perhitungan kami), saat badannya panas kami beri obat penurun panas. Kami upayakan segala yang ada dan kami bisa semalaman itu. Kami bergantian menjaga. Kondisinya mulai membaik menjelang pagi dan barulah dia lemas sekali. Itu adalah pertama kalinya Afnan selemas itu. Selama dia sakit tidak pernah saya melihatnya selemas itu. Kamipun bergegas ke rumah sakit.

Sejumlah dokter dan perawat berusaha membantu, namun tubuhnya menolak. Pembuluh darahnya selalu pecah ketika mau dipasang infus. Taukah teman, rizkinya sudah dicukupkan oleh Allah pagi itu. Alat apapun tidak akan mampu memanjangkan usianya sedetikpun. Ajal Afnan telah tiba pagi itu. Semalam saat dia gelisah dan tidak kunjung tenang, bukan karena dia kelebihan tenaga tapi mungkin dia gelisah karena malaikat maut sudah menungguinya, atau karena dia hanya ingin berkata ingin dipeluk lebih lama atau yang lainnya.

Yang jelas, kematian tidak terikat apakah ayahnya atau ibunya seorang dokter. Sekeras apapun usaha yang dilakukan, bila ajal sudah tiba maka gelar dokter bukanlah apa-apa. Secepat apapun dibawa ke rumah sakit, bila sudah usai jatah rizkinya makan selesai sudah semuanya. Lalu, apakah kita menyerah saja? Tentu tidak kawan, urusan kita sebagai manusia adalah ikhtiarnya. Kita yang masih hidup ini akan terus punya catatan amal. Usaha kita membawa ke rumah sakit, usaha dokter dan perawat menolongnya, usaha sekecil apapun tidak ada yang luput dan itulah yang menentukan apakah kita termasuk orang yang lalai atau sudah berikhtiar yang kita bisa.

Terima kasih Allah atas segala takdir terbaik untuk Afnan

Akhirnya, mari menjaga diri dari pikiran negatif atas kehidupan orang lain karena bila kita menjalaninya sendiri belum tentu kita bisa lebih baik. Bila hidupmu baik-baik saja banyak banyak banyak bersyukur dan berbagilah. Bila hidupmu dalam kesulitan, mari bersabar karena Allah sayang kita banyak banyak. Sebuah nasihat, tentunya untuk diri sendiri terlebih dulu.

Selesai.

Leave a comment »

Adil Sejak Dalam Pikiran #2

Bekerja dan Mengurus Anak (Yang Butuh Perhatian Khusus)

Wanita bekerja dan ibu rumah tangga agaknya terlalu sering diperdebatkan dan menurut saya itu tidak penting. Seorang wanita bekerja tetaplah seorang ibu rumah tangga. Namun, ketika kita punya anak berkebutuhan khusus, kecenderungannya adalah mengutamakan mengurus anak di rumah. Suatu ketika ada seorang dosen saya yang sedang mencari asisten untuk mengurus anaknya yang berkebutuhan khusus, dalam hati saya sempat berpikir, ” Kok tega ya ninggalin anaknya di rumah, dan tetap bekerja.” Lain waktu teman sekantor juga memilih tetap bekerja, sedangkan anaknya yang berkebutuhan khusus di rumah bersama neneknya. Lagi-lagi saya sempat terbersit pikiran yang sama.

Kawan-kawan, Allah itu menciptakan manusia dalam kondisi yang terbaik. Soal “sempurna” dan “tidak sempurna” dalam pikiran manusia itu tidak bisa disejajarkan dengan apa yang sudah Allah tetapkan. Yang kita lihat berkebutuhan khusus atau difable atau tidak sempurna bisa jadi mendatangkan kebaikan yang lebih baik dan memberi hikmah yang lebih besar.

Afnan 4 bulan, I miss you cah bagus 😦

Qodarullah, putra ketiga kami diuji dengan kondisi yang tidak sama dengan anak-anak pada umumnya dan saat itu saya tetap ke kantor seminggu 3x. Saya tidak menyangka bahwa diri saya menjalani apa yang dulu sempat saya “rasani” ke orang lain. Saya, dengan anak yang butuh perhatian ekstra di rumah, namun tetap memilih bekerja. Tentu tidak serta merta saya meninggalkannya. Di rumah, Afnan bersama pengasuh yang saya percayai amanah. Seluruh waktu saya selain ke kantor adalah bersama Afnan. Sebuah kondisi dimana saya baru saja menjadi CPNS yang dengannya bapak saya demikian lega, membuat saya tidak mudah mengambil keputusan untuk mundur begitu saja. Bila dijalani kembali mungkin saya akan berani mengambil keputusan yang berbeda. Namun, masa itu sudah lewat dan saya tidak boleh berandai-andai. Semua sudah digariskan menjadi rangkaian hidup yang membawa saya sampai disini. Dan saya dulu menjalaninya dengan sadar dan penuh pertimbangan. Bila saat ini ada penyesalah, cukuplah menjadi penyesalan yang dengannya saya belajar dan memohon ampun atas kekurangan serta kesalahan…

Teman-teman ternyata tidak semudah itu menilai kehidupan orang lain bila kita menjalaninya sendiri. Yang saya rasakan, pergi bekerja dan bertemu teman-teman ada healing terbaik yang saya punya saat itu. Waktu saya bisa istirahat dengan nyaman adalah dengan tidur meletakkan kepala di atas meja kerja atau di dalam mobil di parkiran. Kadang tertidur di lampu merah. Karena saat saya sampai rumah, maka seluruh waktu dan perhatian saya adalah pada anak saya. Mengurus anak yang butuh perhatian khusus tidak seperti mengurus bayi-bayi umumnya. Cukup sulit bagi saya waktu itu membayangkan bagaimana menjalani semalam penuh bersama bayi saya. Hingga saya menyederhanakan hidup saya, dari sesi menyusui satu ke sesi meyusui selanjutnya. Hidup saya adalah puzzle jam demi jam yang saya rangkai satu-satu untuk bisa menyusuinya. Jam tidur saya tidak pernah pasti, ditambah suami yang baru saja menjadi residen membuat saya harus lebih mandiri. Hidup saya selama di rumah berkutat seputar merawat Afnan, menstimulasi sesuai arahan terapis, mengajak bermain, juga mencari celah untuk bisa menyusuinya sesering mungkin. Mengantar Afnan periksa, terapi seminggu 3x semua saya jalani sebagai ikhtiar terbaik yang kami bisa.

Tahukah teman, di dunia ini juga ada bayi yang ditakdirkan tidak bisa menyusu dengan baik karena refeks hisapnya tidak berkembangkan seprti bayi kebanyakan. Di dunia ini ada kondisi lidah hipersensitif dan gerak refleks yang tidak muncul atau bahkan tidak kunjung hilang. Bila bayi-bayi yang lain menyusu dengan mudahnya, ada bayi-bayi yang diuji dengan tidak mampu menghisap dengan baik, otot-ototnya lemah, dan gerakannya tidak terkoordinasi dengan baik.

Saya bersyukur menjalani masa-masa itu dengan dukungan keluarga dan teman-teman, juga dengan dukungan ekonomi yang memungkinkan kami menjalani berbagai terapi. Bagaimana rasanya bila itu dijalani oleh orang yang lebih berat hidupnya dari kami, atau dukungan yang minim dari orang-orang sekitar. Belum lagi menghadapi cibiran dari orang lain tentang anaknya atau tentang pilihan hidupnya.

Kawan-kawan, bila kita diberikan hidup yang baik, anak yang “sempurna (dlm pandangan manusia)” fokus saja perbanyak syukur dan perbanyak membantu orang lain sebagai wujud syukur. Tidak ada urusan kita menilai negatif kehidupan orang lain, menganggap orang lain bodoh, mungkin jahat, kena karma, dan tuduhan-tuduhan lainnya. Kita tidak tau kesulitannya dan kita tidak tau sekeras apa usahanya. Dan, tidak perlu Allah menguji kita dengan ujian serupa untuk sekedar membuat kita sadar, karena belum tentu kita mampu. Bersyukur dan perbanyak syukur.

Bersambung.

Leave a comment »

Adil Sejak Dalam Pikiran #1

Ada beberapa episode dalam hidup yang rasanya saya diingatkan atau mungkin disentil langsung oleh Allah atas pikiran-pikiran dan perasaan yang pernah saya rasakan. Utama saat saya merasa lebih baik dari orang lain atau saat saya merasa orang lain bersalah atas pilihan hidupnya. Hal-hal ini yang kini membuat saya lebih menahan diri agar tidak mudah menilai apalagi menghakimi pilihan hidup orang lain, atau merasa lebih baik dari orang lain. Padahal, sebenarnya kita tidak punya kuasa apapun atas segala kemudahan dan kebaikan yang kita miliki. Semua milik Allah dan atas kehendak Allah. Manusia, hanya berusaha. Bila sesuai keinginan maka bersyukur, bila tidak maka bersabar. Tidak ada perintah untuk menilai hidup dan pilihan hidup orang lain, atau merasa diri lebih baik. Pikiran manusia itu terbatas dan tidak akan sanggup mengungkap semua hikmah.

Anak pertama kami, Aliya Wafa Kamila

Operasi Sesar

Dari semua saudara, sepupu, dan ipar perempuan hanya saya yang, atas izin Allah, pernah merasakan persalinan normal pervaginam. Selainnya, semua melalui operasi sesar. Pernah suatu ketika saya menyelutuk, “wah cuma aku ya yang pernah merasakan lahiran normal”, tanpa maksud apapun. Namun, barangkali ada kesombongan di dalamnya. Maka, saat kehamilan ketiga kami harus memutuskan persalinan melalui operasi sesar karena sangat berisiko bila dilahirkan secara normal, setidaknya begitu menurut pertimbangan beberapa dokter dan kemampuan pikiran kami. Lengkap sudah merasakan persalinan sesar. Dari sini saya belajar, kemudahan melahirkan normal yang pernah saya rasakan bukannya karena “saya” melainkan karena kemudahan dari Allah dan Allah menghendakinya. Tidak ada daya dan upaya, sedangkan tenaga yang saya punya, kekuatan bayi yang saya kandung, semuanya di bawah kekuasaan Allah. Pada akhirnya, persalinan normal maupun sesar semua baik dan semua sakit, yang penting ibu dan anaknya selamat.

Susu Formula

Cerita lainnya adalah susu formula. Tentu semua setuju bahwa ASI adalah makanan terbaik. Itu pula yang saya yakini. Saya juga tidak pernah secara sengaja menyindir atau menyoal ibu-ibu yang “dalam pikiran saya” mampu memberi ASI, namun anaknya malah diberi sufor. Lagi-lagi mungkin ada sebuah pelajaran hidup yang harus saya ambil saat putra kedua saya harus minum susu formula dosis tinggi untuk mengejar tumbuh kembangnya. Secara idealis, saya sudah memberi ASI dan makanan bergizi dalam jumlah banyak, namun tumbuh kembangnya tetap tertinggal. Apakah saya akan bertahan dengan egoisme saya? Tentu tidak. Setelah 2 minggu mengonsumsi susu formula dosis tinggi itu anak saya naik 600 gram BBnya. Sebuah prestasi yang saya rindukan berbulan-bulan lamanya. Sejak saat itu saya makin berdamai dengan pilihan ASI maupun sufor, yang penting anakmu sehat.

Cerita lebih membuat saya bersedih waktu itu saat putra ketiga kami (Allahuyarham) ternyata alergi ASI karena saya makan makanan yang dia ternyata alergi. Sebuah perjalanan panjang mencari yang terbaik untuk Afnan hingga kami memberi susu soya yang katanya kurang gizi itu. Ketahuilah, di dunia ini ada bayi yang ditakdirkan alergi dengan protein susu sapi (bahkan secara tidak langsung dengan susu ibunya sendiri). Itulah hal terbaik yang kami lakukan untuk meneruskan kehidupan putra kami agar bisa berkembang sebagaimana anak-anak yang lainnya.

Ala kulli hal, semua sudah ditakdirkan oleh Allah yang terbaik. Kondisi putra kami dulu adalah sebaik-baiknya takdir Allah yang mengajarkan kami banyak hal, meneguhkan keimanan kami terhadap takdir Allah, mempelajari makna syukur dan ikhtiar, sekaligus mengakui ketidakmampuan kami tanpaNya.

Bersambung….

Leave a comment »

Surat untuk Afnan #3

Dear Afnanku,

Saat ini umi sudah jauh lebih baik. Berusaha memahami dan menerima segala yang sudah Allah takdirkan untuk kita. Afnan adalah bagian dari takdir Allah yang menjadi ujian bagi umi, abi, dan keluarga.

“(Dialah) yang menciptakan hidup dan mati untuk menguji siapa diantara kamu yang paling baik amalnya, Dialah yang maha perkasa, maha pengampun” (Al Mulk :2)

Ayat ini Nak, mengingatkan umi bahwa hidup dan mati adalah sebuah ujian. Apa yang Allah inginkan? yakni bertambahnya amal dan keimanan sebab ujian itu. Telah kami tuntaskan amanah dari Allah untuk mengasuhmu dengan segala kekurangan kami sebagai manusia. Selanjutnya, kini Allah telah mengambilmu kembali, maka tugas umi dan abi adalah untuk terus memperbaiki diri dan memperbaiki amalan. Itulah yang dicintai oleh Allah.

Nak, umi yakin saat ini kamu ada di tempat yang baik, entah sedang tidur terlelap, entah bermain-main, atau mungkin sedang memperhatikan kami yang ada di dunia. Allah berkata segala yang ghaib itu Allah yang maha mengetahui dan manusia hanya diberi pengetahuan sedikiiiit saja. Dimanapun kamu saat ini, insyaAllah kasih saya Allah jauh lebih besar untuk Afnan.

Perpisahan ini hanya sementara, umi dan abi akan memeluk Afnan lagi kelak, insyaAllah atas izin Allah. Semoga Allah anugerahkan istiqomah dan khusnul khotimah, esok kita berkumpul lagi di surgaNya ya Nak. Memandang wajahNya yang agung.

Tiap umi rindu, umi bacakan alfatihah unutkmu, umi senandungkan shalawat kesukaanmu. Dalam doa setelah shalat umi tak lupa menyebut namamu. Semoga Allah mengijabah semua doa umi.

Malam ini, umi sedang mengerjakan artikel untuk chapter buku. Umi harus segera move on dan berkarya kembali.

Umi kembali teringat kamu, Nak.

Assalamualaikum, sayangku.

Leave a comment »

Design a site like this with WordPress.com
Get started