Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Daster, sebuah kisah pilu… (dan judul yang lebay)

Bismillah..

Daster. Sebuah kata yang memberi kemerdekaan pada emak-emak, pakaian ternyaman untuk dipakai di rumah. Saking nyamannya, sampai sudah terkoyak-koyak pun masih dipakai, makin semriwing mungkin ya, hehe. Tapi sayang, bagi saya daster adalah sebuah kisah pilu (heuu)..

Alkisah, ketika itu saya sedang menyuapi Kamil di teras rumah. Ada mbak2 nawarin tv parabola.

Si mbak : Selamat pagi, ini mbak, mau nawarin tv parabola.. Ibunya ada?

Saya : Iya mbak..

Si mbak : Maaf mbak, bisa ketemu ibu (tuan rumahnya)?

Saya : Iya mbak, saya sendiri.. Maaf ya mbak, kami gak punya tv. Gak peu parabola.

(si mbak mulai kisinan, dan saya mulai sedih)..

Saya sedih deh, mbaknya spg parabola gak percaya kalau saya yang punya rumah. Mungkin dikiranya yang pakai daster (waktu itu saya pakai daster ala kadarnya) dan nyuapin anak kecil itu adalah ART atau yang momong.

Di sini, saya sangat sedih. Tapi bukan karena mbaknya ngira saya pembantu, bukan.

Jadi, itu bukan kali pertama saya dikira pembantu oleh tamu (huaaa). Mungkin karena penampilan saya yang biasa dan apa adanya ini.. Bagi kebanyakan orang mungkin cocoknya ibu masa kini itu ya yang kerja kantoran, yang stay at home dan momong biar pembantu. Atau, ibu masa kini itu ya selalu cantik mewangi sepanjang hari..

Sedih saya. Bukan karena dikira pembantu. Biarlah orang menilai apapun. Tapi, saya sedih ternyata tampilan saya kalau di rumah lebih mirip pembantu (huaa). Kasihan sama suami. Ini yang membuat saya sedih. Ternyata selama ini saya dholim dengan berpenampilan seadanya di rumah.. Dan penampilan itulah yang selalu dilihat oleh suami. Setidaknya, sebelum jam malam (wkwkwk). Ya kalau jam malam, anak-anak sudah tidur, insyaAllah jauh dari kesan pembantu (wkwkwk)

Subhanallah..

Sejak saat itu semua daster saya pensiunkan, kecuali daster yang kurang bahan, hihi. Daster ibu dan ibu mertua saya kembalikan. Gamis-gamis yang tidak terlalu baru saya turunkan derajatnya jadi baju rumahan. Demi apa?

Utamanya, demi penampilan yang lebih baik. Demi memanjakan mata suami. Kasihan, di luar suami banyak cobaan (ketemu teman kerja, pasien, mahasiswa yg klimis, wangi, dan cantik) dan dia berusaha bertahan. Jadi, di rumah ya harus dimanjakan oleh yang halal sebagai hadiah atas usahanya menahan dari yang tidak halal πŸ˜€ Pernah juga berniat akan sudah mandi, dandan, dan wangi sebelum suami berangkat bekerja, tapi itu semua kandas dengan makin hebohnya duo krucil.. Astagfirullah

Kedua, penampilan istri itu mencerminkan bagaimana suaminya. Bayangpun kalau saya dilihat tetangga, tamu, sehari-hari cuma pakai daster dan penampilan ala kadarnya. Bisa dikira suami gak ngasih uang buat beli baju atau make up. Duh, kasihan. Maka, dalam rangka menjaga nama baik suami, saya harus berpenampilan lebih baik πŸ˜€

Aduh, sungkan mau minta dibelikan baju, make up dll..

Mak, tak perlu sungkan. Kan minta sama suami sendiri dan itu memang tanggung jawab suami πŸ™‚ seringkali anggapan seperti itu hanya ada dalam pikiran istri yang malu untuk minta ke suami. Kalau untuk kebahagiaan istri, apalagi demi kemaslahatan suami juga insyaAllah akan dikasih kok, ya asal gak berlebihan dan tetap melihat kemampuan suami ya.. πŸ˜€

Sejak saat itu saya suka sedih kalau lihat emak-emak (muda) yang di rumah pakai daster bolong, rambut dikuncir ala kadarnya padahal suaminya ada di rumah..

Ini juga berlaku sebaliknya. Sebagaimana penampilan suami, maka begitulah perlakuan istri padanya. Kalau setelah menikah, penampilan suami makin baik, ya bisa ditebak bagaimana istrinya memperhatikannya. Tapi, kalau sudah punya istri, celana panjang suami sampai berkerut-kerut belakangnya, sobek bawahnya, atau rambutnya gondrong, maka mungkin istrinya punya banyak pekerjaan yang lebih penting dari sekedar memperhatikan penampilan suaminya.

Disclaimer.

Ya semua tergantung keluarga dan tipe pasangan sih. Mungkin ada yang santai aja atau malah senang dengan penampilan istri yang dasteran dan bau dapur πŸ˜€ πŸ˜€

Advertisements
Leave a comment »

Memenuhi Janji

Bagi anak sulung, kadangkala tidak mudah menerima kehadiran adiknya sepenuhnya. Dulu, semuanya untuk dia, seluruh perhatian adalah miliknya. Tapi, sejak si adik datang. Seringkali dia harus menerima kenyataan untuk sering menunggu dan selalu mengerjakan semuanya sendiri. Pengin minta dikelonin, nunggu si adik bobok dulu. Minta ditemani baca Al Husna (iqra versi sekolahnya wafa), nunggu adiknya pules dulu. Pengin disuapi, diminta makan sendiri karena umi baru nyuapi adik. Pengin dimandiin umi, diminta mandi sendiri karena adik lagi rewel. Entah bagaimana perasaan si kakak 😦

Seiring dengan berkembangnha kognitif, si kakak suka cari-cari alasan untuk memenangkan lagi perhatian dari uminya. Berbagai cara dia lalukan, mulai gak mau makan kalau gak disuapi umi, gak mau sekolah kalau gak diantar umi, gak mau mandi kalau gak dimandiin umi, dan gak mau main kalau gak ditemani umi.

Termasuk yang satu ini. Wafa sekarang mulai ingin lebih banyak di rumah supaya bisa main sama umi 😦 dia minta dijemput setelah makan. Jadi, ada tiga opsi untuk menjemput wafa. Pertama, setelah makan jam 12 siang. Kedua, setelah tidur jam 2 siang. Ketiga, setelah mandi jam 3 sore. Hari itu wafa berkali-kali bilang maunya dijemput setelah makan. Dia janji akan tidur siang di rumah. Diulang-ulang terus sampai menjelang berangkat bahwa dia ingin dijemput setelah makan siang. Saya iyakan supaya dia segera berangkat dengan bahagia karena sudah ditunggu abinya.

Dalam hati saya pikir betapa panasnya jemput wafa jam 12 siang, bersama kamil pula. Kasihan kamil kepanasan. Lalu saya terpikir, ah dijemput setelah bobok juga tidak masalah. Kan sama saja, dijemput setelahh bobok pada hakikatnya juga tetap habis makan kan.

Menjelang jam 12 siang, saya mulai galau. Kamil masih tidur. Apakah saya akan melancarkan opsi kedua menjemput setelah bobok. Tapi saya takut Wafa kecewa. Saya takut membohongi Wafa. Walaupun dijemput setelah bobok pun saya tidak berbohong sebenarnya. Tapi, dalam benak Wafa, dijemput setelah makan adalah jam 12, dimana dia akan bisa bermain dulu dengan umi dan adik, lalu tidur siang di rumah. Saya mulai galau. Saya takut membohongi Wafa. Saya takut memupuskan harapan Wafa untuk bisa pulang awal dan bermain bersama umi. Saya harus menjemputnya saat itu juga.

Kamil pun bangun. Dengan mata masih liyat-liyut, saya pakaikan jaket dan helm. Kamipun meluncur ke sekolah Wafa di bawah terik matahari yang subhanallah.. Sampai di sekolah Wafa, dia menyambut kami dengan senyum bahagianya. Umi juga bahagia Nak, bisa menepati janji padamu.

Janji pada anak kecil itu menguji kesungguhan kita sebagai orangtua. Karena anak kecil itu mudah lupa, istilahnya mudah dislimur. Tapi, bukan itu yang kita inginkan dalam mendidik anak. Bukan berarti dengan anak mudah dislimur semua selesai. Apa-apa yang kita janjikan ketika nylimur itu tetaplah janji yang harus ditepati.. Agak dalam benak anak tertanam kepercayaan pada orangtua. Otomatis merekapun belajar untuk menepati janji di masa yang akan datang, sebagaimana selalu dicontohkan ketika mereka kecil.

Leave a comment »

Rejeki itu pasti Allah cukupkan…

Ngomong-ngomong soal CPNS ya gaes, kenapa sih orang tua kita suka banget dan bangga kalau anaknya jadi PNS? Ya salah satunya karena “kepastian” gaji yang akan diterima sampai tua, sampai ke keluarga-keluarga yang ditinggalkan. Itu soal gaji ya, yang diterimakan setiap bulan. Tanpa bermaksud mengecilkan harapan orangtua kita (yang sebenarnya hanya ingin anaknya sejahtera), sebenarnya hidup terjamin itu tidak sebatas jadi PNS.

Karena seluruh kehidupan kita ada dalam jaminan Allah, Sang pemberi kehidupan, Sang pemberi rejeki. Tidak akan kita meninggal sebelum Allan berikan semua jatah rejeki kita. Yang PNS, yang bukan PNS semua dapat rejeki, bahkan bisa jadi jauh lebih banyak dari yang PNS. Karena rejeki itu Allah yang kasih, bukan pemerintah.

Tugas manusia hanya berusaha, berdoa, dan mengelola rejeki yang Allah amanahkan. Dulu waktu masih berdua dan bertiga, Allah cukupkan gaji suami 2.4jt untuk semua kebutuhan: bulanan, menabung, infaq, bayar kuliah 9jtan persemester, dan transportasi jogja-solo tiap hari. Waktu itu hampir pesimis karena suami daftar beasiswa LPDP 2x tidak lolos. Alhamdulillah Allah mampukan menyelesaikan kuliah.

Waktu itu ketika harap-harap cemas soal dana riset yang besar, Allah mudahkan suami dapat hibah dari kampusnya dan beasiswa tesis LPDP. Allah cukupkan sesuai kadar kebutuhan kami..

Setiap anakpun membawa jatah rejekinya masing-masing. Kamil misalnya, menjelang kelahirannya Allah beri rejeki untuk ganti kulkas 2 pintu untuk persiapan ASIP. Juga saat kamil sakit dan membutuhkan uang susu sekitar 3 juta sebulan. Kalau hanya dibayangkan sepertinya berat sekali. Alhamdulillh tiap saatnya beli susu pasti ada saja uangnya. Ya walau pernah satu waktu uang suami benar-benar habis dan terpaksa ambil uang tabungan wafa untuk beli susu kamil. Tetap Allah cukupkan.. πŸ™‚

Jangan takut soal rejeki, jadi PNS atau tidak, rejeki akan sampai pada kita sepenuhnya asalkan kita berikhtiar. Jangan khawatir kekurangan, sejatinya Allah cukupkan rejeki untuk kebutuhan kita. Ya, kebutuhan. Soalnya kalau nuruti keinginan berapapun akan terasa kurang.

Agaknya kita perlu bertaubat kalau niatnua jadi PNS untuk mencari kepastian rejeki tiap bulan. Duh, sayang.. Nanti Allah cemburu..

Leave a comment »

Butuh atau Pengin aja?

Sejak saya menikah, suami selalu mengajarkan saya untuk menahan diri, dalam hal apapun. Salah satunya ya dalam hal belanja hehe. Dulu sebelum menikah saya suka kulineran, pengin apa ya beli kalau pas ada uang. Pengin baju ya beli, pengin sepatu, buku ya kalau ada uang beli aja. Tapi, semenjak menikah semua serba harus dikendalikan. Apalagi di awal pernikahan saat suami masih berjuang. Saat uang belum banyak, saya ingat sekali sampai tabungan saya habis buat nambahin uang bulanan (pengin nangis). Ya walau waktu itu sebenarnya juga tidak kekurangan sekali, hanya kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan -eh kepenginan- saya kala itu.

Karena suami jarang di rumah (sampai sekarang juga masih jarang di rumah T. T), saya suka males masak dan mlipir beli apa yang dipengin, yah waktu itu lagi hamil juga. Karena uang bulanan saat itu terbatas, akhirnya ya harus ambil tabungan hehe.. Karena menurut saya, uang bulanan adalah untuk keperluan keluarga, kalau buat kepenginan saya maka tidak etis pakai uang bulanan. Gak berani juga minta ke suami saat itu.. Padahal kalau bilang ya pasti akan dikasih, atau setidaknya akan bilang.. “sabar dulu ya sayang.. ” hihi..

Suami saya prinsipnya kalau itu kebutuhan maka berapapun akan diusahakan, tapi kalau sekedar keinginan ya besok-besok juga masih bisa. Kalau saya minta sesuatu yang sekiranya hanya kepenginan maka beliau tidak akan segan-segan menolak..

Semakin ke sini, saya makin terbiasa dan akhirnya suka bertanya pada diri sendiri sebelum bertindak. Misal saya pengin banget beli baju, saya jadi banyak menimbang. Butuh banget gak ya? Uangnya buat beli baju atau yg lain aja ya (yg lbh manfaat)? Duh, belum siap mensiunin baju lama..

Ada lagi, saya suka makan mi instan dan seblak. Tapi akhir-akhir ini suami makin galak soal menu makan. He said, aku aja rela kerja keras buat menjaga kesehatanmu. Masak kamu malah gak menjaga kesehatan (hukss). Akhirnya, tiap saya mau makan makanan itu, saya berusaha buat menahan diri.. Makan gak ya? Nanti abi marah.. Duh, kasihan ginjal.. Duh, masih ad menu lain sih.. Dan akhirnya batal makan mi insatn wkwk

Biasanya keinginan itu malah membuat kita berlaku boros, mubadzir, dan tidak sehat (makanan), karena sejatinya hal-hal yang kita butuhkan itu tidak banyak dan sudah pasti Allah cukupkan.. πŸ™‚ rethinking what you want. Is it good? Is it beneficial?

Leave a comment »

This too will pass

Apapun kondisi kita, entah berat atau ringan, senang atau sedih selalu ada masa berlakunya. Maka, seyogyanya bila kita bahagia maka tidak perlu terlalu bahagia dan sebaliknya.

Beberapa waktu lalu, saat kamil sakit, sering waktu tidurnya tidak nyenyak jadi sayapun hampir tidak punya waktu istirahat yang cukup.

Alhamdulillah, Allah memberi kemudahan melewatinya..

Saat ini, kondisi kamil sudah lebih baik. Tidurnya sudah kembali nyenyak. Sayapun punya waktu istirahat yang cukup serta melakukan hobi di luar menemani kamil bermain..

Jadi, yang kita perlukan hanya bersabar. Menjalani setiap menit dengan sabar dan baik sangka. Bahwa dalam setiap kondisi Allah selalu melihat kita, memberikan pahala atas kesabaran kita. Sabar, this too will pass. Dan nanti saat kisah berganti, kamu akan tersenyum karena telah melewatinya dengan anggun..

Leave a comment »

Bersambung…

Alhamdulillah beberapa hari ini kamil sehat segar bugar ceria dan semoga selalu begitu yaa.. Aamiin.. πŸ™‚

Awal bulan lalu, kamil kami larikan ke rumah sakit karena diare dan muntah. Sebenarnya belum emergency banget, tapi saya dan suami sudah tidak tega melihat kamil menderita. Lebih tepatnya lagi kami tidak ingin mengulur waktu sehingha berefek ke BB kamil.

Malam itu pukul 11 kami bawa ke RS UNS. Alhamdulillah langsung ditangani. Ini adalah pengalaman pertama saya dan suami mengantar anak untuk dirawat di RS. Semoga pula jadi yang terakhir, aamiin.. Tidak perlu nginep2 di RS lagi, kecuali anak-anak jadi dokter (aamiin) jaga malam buat nolong orang sakit..

Setelah kamil sakit, kami belum membawa kamil ke dokter manapun. Kami masih menunggu hasil pemeriksan dokter patologi anatomi untuk memastikan diagnosa penyakit kamil.

Dugaan sementara adalah Histiositosis X. Apalagi ini? Ini adalah pertama kali saya mendengar nama penyakit itu. Sejenis penyakit langka yang menyerang 1:200.000 kelahiran. Sebabnya tidak diketahui dan pengobatannya sangat tergantung tingkat keparahan penyakitnya. Dari hasil googling, ada satu hal yang membuat saya agak lega dan berharap kalaupun benar kamil menderita penyakit itu, “pada beberapa kasus, penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya”.

Saat ini kamil sama sekali tidak terlihat sakit, kecuali benjolan di ujung alis kanan yang makin lama tampaknya makin besar. Dokter belum meminta untuk biopsi, menunggu dulu hasil pemeriksaan biopsi kelenjar yang kemarin.

Harapan kami, semoga kamil sehat dan tidak menderita penyakit apapun. Kalaupun benar kamil sakit, semoga Allah mudahkan kesembuhan baginya. Aamiin

Leave a comment »

Kamil Sakit Apa?

Entahlah.. Kamipun masih terus mencari.. Beberapa dokter sudah kami libatkan sejauh ini..

Dokter Spesialis Anak

dr. Annang

dr. Tantri

dr. Hari

dr. Ismiranti

Dokter Spesialis Radiologi

dr. Resta

Dokter Patologi Anatomi

dr. Novan

Hari ini kami melibatkan dokter patologi anatomi satu lagi sebagai second opinion.

Awalnya kamil didiagnosa tb kelenjar, waktu itu kami sudah lakukan pengobatan genap 11 hari, tapi kondisi kamil terus menurun.. Ternyata obat-obatannya selama ini meracuni hatinya, hepatotoxic. Lalu, kamil berhenti dulu dan kondisinya terus membaik, berat badannya mulai naik.

Kami berencana untuk memulai kembali menelusuri penyakit kamil dan bermaksud memulai kembali terapinya. Tapi, malah kondisi kamil menurun lagi. Saya jadi berpikir, mungkin kamil ini tidak sakit apa-apa dan tidak perlu pengobatan apapun. Juga tidak perlu fisioterapi..

Kenapa? Kondisi Kamil justru lebih baik waktu semua ide pemeriksaan dan terapi ini dimulai.

Lalu, kamil sakit apa? Hanya Allah yang tau, dan saya berharap bahwa kamil tidak sakit apa-apa.

Leave a comment »

Gendong

Kalau anak sakit itu pasti penginnya digendong terus. Ibunya capek, pasti ya.. πŸ™‚

Alhamdulillah, saya berusaha menikmatinya.. Di tengah kondisi kamil yang masih naik turun, pundak dan boyok ini harus tetap kuat. Hari-hari dilalui dengan optimisme sekaligus kekhawatiran akan kondisi kamil. Menyuapi 4x sehari, mandi, ngajak main, dan menggendong. Sebuah proses yang saya sendiri tidak tau akan sampai kapan, yang jelas saya tau ini ada masanya dan suatu saat akan berakhir. This too shall pass πŸ™‚

Yang bisa saya lakukan hanya memainkan peran, sedikit demi sedikit, sesuap demi sesuap, berharap menjadi tenaga dan otot untuk menguatkn tubuh kamil, sampai nanti dia mampu berjalan dan berlari, bercerita, dan sebagainya..

Lelah dan penatnya menjadi ibu suatu saat pasti akan berlalu.. Ketika anak-anak beranjak besar dan punya dunianya sendiri. Setidaknya, saya tidak melewatkan masa-masa dimana mereka hanya butuh saya. Butuh saya untuk memandikan, menyuapi, menggendong..

Nikmatilah lelah ini, karena dia hanya butuh dirimu, ibu..

Sehat kuat Kamilku sayang.. πŸ™‚

Leave a comment »

Permata Hatiku

Kamil dan Wafa bukan hanya anugerah dari Allah untuk saya. Tawa canda mereka yang begitu lepas khas makhluk-makhluk tanpa dosa selalu menyadarkan saya betapa indahnya memiliki mereka berdua πŸ™‚

Mereka adalah sebenar-benarnya ladang pahala bagi saya di dunia ini. Setiap apa yang saya lakukan pad dan untuk mereka akan jadi kebaikan bagi diri saya sendiri dan mereka tentunya..

Ketika saya mengajarkan kebaikan, maka seterusnya pahala akan mengalir bagi saya sampai kapanpn selagi mereka melakukan kebaikan tersebut..

Mereka juga adalah pahala setiap kali saya bersabar dengan polah tingkah mereka juga saat mereka rewel dan tidak seperti yang saya inginkan.

Maka, apalah yang lebih indah bagi saya saat ini selain menjalani peran sebaik-baiknya sebagai ibu bagi mereka. Berbahagia atas hal-hal indah yang mereka lakukan, mengajarkan mereka kebaikan-kebaikan setiap hari, juga bersabar dengan hal-hal tidak menyenangkan yang mereka lakukan.. πŸ™‚

Alhamdulillah..

Leave a comment »

Albi

Di sini saya belajar banyak hal. Tentang jodoh, berbaik sangka, kerja keras, etos kerja yang tinggi, visi yang mulia, profesional, berikut menghadapi orang-orang dengan tipe berbeda.

1. Jodoh

Jadi ceritanya dulu sebelum kuliah S2 saya sudah mendafta untuk bekerja di yayasan ini, buat unit SMP juga. Tapi akhirnya saya tetep kerja disini bahkan setelah sy lulus S2. Itulah jodoh ya.. Gak akan kemana πŸ™‚

2. Berbaik Sangka

Awal saya bekerja di sini saya merasa beberapa orang tidak menyukai saya baik dari cara memandang, bicara, maupun body languagenya. Saya terus mensugesti bahwa everything is okay, nothing’s wrong. Daaan.. Ya emang karakternya pada begitu sih ya πŸ™‚ lama-lama juga sudah biasa dan menemukan pola interaksi yang paling baik.

3. Kerja keras

Berapa sih gaji guru? Ahaa… Well, yang tanya dan bilang begitu mungkin melihatnya guru-guru di daerah sana-sana. Di sini alhamdulillah gajinya cukup, apalagu kalau rajin. Yang saya salut, guru-guru di sini adalah tipe pekerja keras. Banyak yang punya usaha sampingan namun tidak meninggalkan tugasnya sebagai guru. Di unit saya ada juga kantin yang dikelola mandiri oleh sekolah, oleh karenanya guru-gurunya bisa makin kreatif dengan menjadi suppliernya. Berangkat pagi pulang petang bukan lagi hal yang aneh, semuanya mengalir dengan semangat. Ada yang suka nyinyir jugakah? Yaa ada dong, dimana-mana pasti ada dan biasanya tidak bertahan lama hehe

4. Etos kerja

Bekerja di yayasan ini benar-benar mengajarkan disiplin dan etos kerja yang tinggi. Makin kita rajin, makin tinggi penghasilan. Makanya kalo ada yang tanya beraa gaji di sini, akan sy jawab: sesuai amal perbuatan. Ketua yayasan di sini juga keren sekali, selalu bisa membuat pegawai2nya kepanasan dan akhirnya terus bergerak…ke arah yang lebih baik.

5. Visi yang mulia

Ya, yayasan ini punya program yg visinya mulia sekali, menciptakan agen-agen muslim dengan kompetensi global (kalo bahasa saya sih begitu). Dengan program ICPnya dan dengan kenekatan yang patut diacungi jempol, saya turut mendoakan semoga yayasan ini makin sukses dan berkembang.

6. Profesional

Kalau ini saya ingin merujuk pada sesosok wanita berinisial “AY” πŸ™‚ Dia orangnya luruuuus sekali (kalau bahasa saya sih) dan selalu profesional menjalankan tugas sesuai dengan protapnya. Jempol.

7. Berinteraksi dengan banyak karakter

Ini pasti ya, kalau kita ada di lingkungan baru tentulah kita akan berinteraksi dengan orang-orang baru. Darinya saya belajar tarik ulur bagaimana bersikap yang baik, wajar, dan dapat diterima dengan baik.

Sekarang semua tinggal kenangan. Saya telah memilih untuk menemani putra kesayangan melewati masa-masa sulitnya sekarang πŸ™‚

Kenangan yang terus hidup dan berkembang, ada atau tidaknya saya di sana. Bila masih jodoh, mungkin pun kelak saya akan kembali lagi haha..

Leave a comment »