Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

PENYERGAPAN

Ini agak lebay sih sebenarnya judulnya, hehe… waktu itu saya sedang mengajar anak-anak di daerah mipitan belakang kampus. Seperti biasa anak-anak ‘belajar’ ramai sekali. Ada yang ingin belajar matematika, ada yang ingin IPA, IPS, juga bahasa Inggris. Wah, gurunya cuma satu ini, hehe…walaupun mumet apa boleh buat, ngasih soal disini, bahasa soal disana, nyuruh baca yang satunya. Ehm…lebih tepatnya menyenangkan.
Sebelum datang ibu itu. Siapa? Ada sesosok ibu yang mengintip kegiatan kami dari luar jendela. Wajahnya marah, dan anak-anak mulai melihatnya dengan agak panik. Saya yang tidak mengenal sama sekali daerah itu agak grogi juga. Dari luar jendela, ibu itu bertanya (bahasa Indonesianya) “Ini siapa yang ngadakan belajar-belajar kayak gini?!!” Wuuuaaa…saya coba tenang dan tersenyum, lalu saya persilahkan ibu itu masuk walau dalam hati saya sudah berprasangka yang bukan-bukan. Munginkah ini sebuah penyergapan karena warga tidak suka dengan kegiatan kami. Mungkinkah saya akaan dianiaya dan anak-anak akan menangis? *pikiran-pikiran ala-ala sinetron mulai berdatangan
Dengan maksud menyelamatkan diri dan sedikit egois saya agak berteriak memanggil mbak dian (yang punya rumah) untuk mencari perlindungan begitupun anak-anak. Entah dialog apa yang terjadi, tapi setelah beberapa saat salah satu murid bernama Ririn, diseret paksa untuk pulang sambil ibunya berkata, “Ririn jadi gak karuan semenjak ikut-ikutan disini”. Dia yang masih ingin belajar terpaksa mengemasi buku-bukunya dan pulang bersama ibunya. Waduh…apa yang salah ya…
Sejenak kami hening. Lalu ada anak yang berceloteh, “Ibunya Ririn kan gila mbak…”
Oohh… sekarang saya paham. Memang ada banyak yang harus diperbaiki. Pertama, walaupun kegiatan yang kami lakukan ini positif dan gratis pula tetap harus ada komunikasi dengan orang tua sehingga orangtua tidak menganggap anaknya sedang bermain-main. Hmmm….agak ribet juga ya mau berbuat baik, haha. Begitulah hidup bermasyarakat. Kedua, kejadian tadi sangat riskan untuk Ririn, karena teman-temannya jadi tau. Disini, sangat perlu untuk memberikan pengertian pada anak-anak tentang menghargai orang lain dan membesarkan hati orang lain. Nah, tapi bagaimana ya caranya? Sebagai guru kita harus bisa. Minimal diberitahu.
Mungkinkah murid saya kelas 3 akan berkurang 1 minggu depan? Wallahua’lam…

Advertisements
Leave a comment »

Mas Trim Menikah!

Agak kaget juga dapet sms mohon doa restu dari mas trim yang katanya mau nikah. Dulu-dulu sering sms kayak gitu tapi akhirnya pasti kurang kalih=kalih sinten. Tapi kali ini beneran, namanya Rina. Siapakah Mbak Rina itu? Kata mas Trim, ‘Kapan-kapan ketemuan wae’. Pas saya tanya kog cepet-cepet bikin syok yang baca smsnya, lalu dijawab sama mas trim, ‘haha, aku wae isih syok.’
Hidup semakin membuat saya kembali merenung. Manusia sendiri tidak ada yang tau apa yang terjadi esok, dengan siapa dia akan menikah, kapan, dan dimana. Tidak ada yang tau siapa yang akan menikah lebih dulu dan lain-lain. Hidup memang penuh misteri. Jangankan itu, apa yang terjadi sejam kedepan kita tidak pernah tau.
Belum tentu yang sudah lama kenal akan berjodoh, belum tentu yang jauh dimata tidak berjodoh, belum tentu yang cantik akan menikah dengan yang cakep, belum tentu yang kaya akan jatuh cinta pada yang kaya. Tapi yang pasti Allah menyiapkan jodoh sesuai dengan kualitas kita masing-masing. Allah adalah sebaik-baik pembuat skenario yang tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia.
Selamat ya…semoga jadi keluarga yang saling memberi, mencintai, dan menyayangi, amin…

Leave a comment »

Melamar Kerja ^^V

Akhirnya saya melamar kerja juga,hehe…sudah tua ternyata. Kemarin-kemarin pas mau masukkan lamaran bapak saya sempat agak menertawakan. Mungkin masih heran ternyata anak-anaknya sudah siap mandiri. Atau mungkin juga anaknya yang banyak luputnya ini mau ngajar, hehe
Al Abidin, salah satu sekolah yang ingin saya masuki, mengajar disana. Kualitas yang bagus, pengajar-pengajar muda dengan semangat tinggi, dan lingkungan yang kndusif (islami banget). Ada beberapa tahap yang harus dilalui,
1. Seleksi tertulis. Jauh dari banyangan. Saya pikir akan diberikan soal-soal bahasa inggris yang banyak dan sulit. Ternyata soalnya adalah AGAMA ISLAM. Dari mulai berpakaian, amal yaumiyah, sampai nulis ayat al-qur’an. Wow,,,
2. Lolos tahap 1. Tahap selanjutnya adalah bahasa Inggris dan baca qur’an. Interview bahasa Inggris with Mr. Zaenal. Ujian al-qur’an bersama Ustad….gak tau namanya, keren, saya salah makhroj 1 huruf bapaknya tau, salah panjang pendek juga tau, padahal itu juz tengah2. Kesimpulannya yang didepan saya adalah seorang Al Hafidz, hmm…baiklah…saya semakin suka tempat ini. Selanjutnya saya ditantang hafalan…tuing2…walau pernah hafal surat2 terakhir juz 30, tapi saya sudah laaaaaaaaaaaaaaammmmmmmmmmmmaaaaaaaaaaaaaaaaaa gak pernah murojaah, jadi ya….. An Naziat! Aha, kalau surat ini saya masih lumayan hafal, buat setoran liqo kemaren2, hehe… Alhamdulillah…
3. Lolos tahap 2. Selanjutnya Microteaching. Kegilaan kali ini saya datang ke SMP Al-Abidin. Pas ditanya, “Mbak daftarnya di SD atau SMP?” saya juga gak tau ini saya daftar buat SD atau SMP. Dan ternyata setelah diusut saya sedang melamar SMP. Padahal saya persiapan microteaching untuk SD. Hmmm…yasudah, nothing to loose, nekat ngajar SD dengan meminta teman-teman pelamar yang lain berakting layaknya anak kelas 1 SD. Mission complete…
4. Lolos tahap 3. Terakhir adalah interview. Nah, dari pagi saya sudah galau. Bagaimana tidak, saya seperti menjemput penolakan. Menyatakan akan siap berkhianat kepada sekolah, haha… *pelamar kerja yang aneh. Awalnya Mr.Pam-pam, kepala sekolah, sudah menyambut baik sebelum akhirnya saya mengatakan kalau saya siap berkhianat kalau diterima di UGM. Wajah kami berdua jadi mumet dan galau, haha
Akhirnya, manusia hanya bisa berusaha. Mengambil setiap kesempatan, namun pada akhirnya Allah tetap yang maha menentukan. Entah nanti di UGM atau tidak, bekerja di Al Abidin atau tidak, bahkan tidak dua-duanya, dunia belum berakhir. Allah sudah menentukan dan menjamin rejeki bagi tiap hambaNya, so.. keep believing, keep trying, dan keep praying ^^.

Leave a comment »

Dan Air Mata Pun Menetes, Anies Baswedan.

Jum’at, 25 Mei 2012. Sebuah kado kelulusan yang indah. Apa itu? Pak Anies Baswedan. Lho, apa hubungannya? Saya ngefans abis sama pak Anies. Berkali-kali melihat namanya sebagai calon pembicara seminar di kampus. Tapi pasti ada tanda bintangnya (*). Artinya: dalam konfirmasi. Artinya lagi: kemungkinan buesar sekali gak datang. Tapi kali ini beda karena yang mengundang adalah Solo Mengajar. Jauh-jauh hari saya mendengar slentingan bahwa Pak Anies pasti datang. Saya pun makin bersemangat tidak pulang. sejam sebelum mulai saya sudah standby di garda terdepan bersama beberapa kawan. Lama juga acaranya molor, hehe
Dan yang ditunggu pun akhirnya datang, Pak Anies Baswedan memasuki ruangan bersama pak dekan, pembantu dekan, dan beberapa kru indionesia mengajar. Entah kenapa ketika melihat pak Anies dari dekat hanya beberapa meter saja, saya menitikkan air mata. Eh, bukan ding lebih tepatnya menangis, karena airmatanya gak berhenti-berhenti, hehe…. Saya pun tidak menyangka akan selebay ini. Mungkin fans suju itu pas melihat idolanya merasakan apa yang juga saya rasakan. Tapi kan saya tidak lebay sampai teriak-teriak dan sebagainya, hahaha…
Kenapa saya mengidolakan pak Anies. Lebih tepatnya bukan karena cakep dan gelar Ph.D nya. Tapi saya kagum dengan ide-idenya, dalam hal ini Indoensia mengajar. Yang ada dalam pikiran saya adalah… “Kalau pahalanya pak Anies itu dihitung-hitung waaahhh….dia menjadi pemrakarsa Indonesia mengajar dan itu menginspirasi banyak orang dan entah sudah berapa anak-anak yang menemukan cita dan cinta dari para pengajar muda dan kelak anak-anak di pelosok itu sukses pak anies yang tidak turun kebawah pun akan dapat jatah kiriman pahala. Itu yang membuat saya suka, dan lebih tepatnya iri, iri dengan ide briliannya dan gerakan yang diprakarsainya. Saya ingin seperti beliau juga, menjadi pemrakarsa dan dapat kiriman pahala yang banyak….hehe. karena saya sudah mendapat lampu merah dari kedua orang tua saya untuk ikut program ini, maka saya membesarkan hati dengan “hanya Allah yang lebih tau bagaimana menilai sebuah perjuangan.” Entah itu di pedalaman atau kota besar, pengabdian tetaplah pengabdian, bahkan ketika pengabdian itu tidak kasat mata, Allah tau.
Dari kuliah umum yang sempat dibawakan saya mencatat beberapa hal (Cuma sedikit karena sisanya saya terpesona dengan pak anies haha):
1. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan
2. Jangan hanya mengenalkan mimpi-mimpi, tapi juga ajarkan bagaimana meraihnya
3. Indonesia mengajar bukanlah sebuah program, ini adalah sebuah gerakan
4. Para pengajar muda harus bisa menjadi visualisasi mimpi murid-muridnya
5. Indonesia mengajar tidak menawarkan paket, program, dan kebanggan, tapi mengobati saudara kita yang sedang sakit, sakit kebodohan
Dalam kesempatan yang sangat langka ini pula saya paksakan diri untuk bertanya, walau pertanyaanya jauh dari bermutu, hehe…ada juga tandatangan dan pesan dari pak Anies,
Atin,
Jaga Stamina MORAL, INTELEKTUAL, dan FISIK, jalan masih panjang.
25/05/12
Anies Baswedan.
Oiya, satu lagi, ternyata keluarga Anies Baswedan memang dari dulu sudah terkenal dalam arti orang-orang berpengaruh, hehe… saya jadi dapat inspirasi. Untuk mendapatkan cucu yang berkualitas kita harus mencari pasangan hidup yang berkualitas pula, hehe… nah, ukuran kualitas ini yang jangan sampai di salah artikan. Bukan gelar tinggi, kekayaan, dan jabatan tapi kualitas secara syumul.

Leave a comment »

Anak Orang Kaya

Kalau sekarang kita punya banyak hal, punya banyak fasilitas itu adalah karena ada orang tua yang memberikannya. Mungkin juga masa depan seseorang aka lebih terjamin dengan gelarnya sebagai anak orang kaya. Pedidikannya terjamin, kesehatan, dan kebutuhan hidup terpenuhi. Tapi itu bukan satu-satunya penentu kehidupan seseorang di masa yang akan datang. Penentu kehidupan seseorang adalah diri mereka sendiri. Bagaimana dia memanfaatkan kekayaan orang tuanya untuk menjamin hidupnya sendiri di masa depan. Banyak anak-anak orang kaya yang tidak cukup kompeten karena mengira kekayaan orang tuanya akan menjamin kehidupan hari tuanya. Hidup itu bagai roda yang berjalan, kekayaan itu hanya titipan. Maka tidak ada pilihan lain baik itu anak orang kaya atau kurang kaya untuk bisa berdikari, mandiri dan mampu menanggung hidupnya sendiri. Setiap orang bertanggungjawab terhadap kehidupannya sendiri.
Mereka yang berasal dari keluarga biasa juga sama sekali tidak mempunyai alasan untuk merasa tidak akan sukses. Selama esok masih ada, maka esok masih menjadi misteri. Allah memberikan kebebasan berusaha bagi setiap orang untuk mengubah nasibnya. Masa depan itu suci, dan kita berhak menuliskan apapun untuk masa depan kita. Kalaupun orang tua tidak cukup kaya, tapi Allah maha kaya. Kalaupun tidak ada biaya dan fasilitas, selama kita masih punya kaki, bisa bicara, dan mau berusaha, maka harapan itu selalu ada.
Anak orang kaya itu hanya gelar sekarang, sedangkan masa depan itu tergantung usaha dan kualitas masing-masing. Jangan sombong dan jangan berkecil hati. Tidak perlu mencemaskan masa depan kalau kita menjalani kehidupan yang baik dan sungguh-sungguh dari sekarang.

Leave a comment »

Koruptor di POM BENSIN

Ini didasarkan pada pengalaman pribadi berkali-kali mampir di pom bensin untuk mengisi bahan bakar dan kena tipu sama petugasnya. Belinya 10ribu. Baru 9800 sudah diangkat corongnya dan di nol kan lagi. dikira gak lihat apa?dan itu terjadi berkali-kali, hmmm…
Bukan masalah 100 atau 200 nya tapi serupiah pun adalah korupsi dan tetap pembohongan namanya. Masalah 100 atau 200 itu masalah kecil, tapi kalau itu terjadi di semua pelanggan maka akan jadi banyak. Dan yang lebih berbahaya lagi akan jadi budaya da tidak dianggap sebagai kecurangan.
Sayanganya, saya baru bisa menggerutu dalam hati. Untuk menegur langsung saya masih sungkan. Memang saya siapa? Bagaimana kalau petugasnya marah-marah, tersinggung, dan memukuli saya dan seterusnya…Haduh, kacau juga nih pemikiran seperti ini. Ketakutan yang aneh, bahkan dari hal kecil saja kita (saya) masih takut mengingatkan. Ya Allah, gimana dong? Sempet mau nulis nomor costumer care pom bensinnya, tapi petugasnya sudah memelototi saya. Haduh… seharusnya ini adalah masalah yang simpel, tapi bisa complicated juga dalam hubungannya dengan orang lain. rasa tidak adil, tersinggung, takut, prasangka, dan lain-lain… jadi yang terbaik adalah, mari saling menjaga kejujuran agar tidak ada yang tersakiti, semua hidup tenteram dan nyaman tanpa saling menyimpan marah dan prasangka.
Tapi bagaimanapun juga, model-model korupsi seperti ini juga harus dibasmi, apalagi yang korupsinya milyaran…inget akhirat….

Leave a comment »

Untitled.

Rasanya baru kemarin aku bermain-main di sawah, berpura-pura menjadi tokoh-tokoh televise kala itu. Bermain sepanjang hari dan pulang bila lapar datang atau diteriaki ibu. Saling menyebut “kamu yang nakal” dengan sinta sampai salah satu diantara kami ada yang menangis lalu dihampiri ibu kami. Sinta dulu sering dihajar ibunya, sekarang masih begitu tidak ya? Yang jelas dia sekarang sudah besar juga, sangat cantik parasnya…dia dan keluarganya pindah ke Kalimantan untuk penghidupan yang lebih layak dan yang sekarang sudah mereka dapatkan, Alhamdulillah….
Baru saja kemarin aku masih malas-malasan sholat dan harus diingatkan ketika waktu sholat tiba. Bacaan sholat pun belum sempurna. Dulu seringkali pas bapak menjadi imam dan membaca alfatihah atau surat pendek aku bernyanyi nyanyi dalam hati, menanti rukuk, sujud, dan salam. Berdoa sebentar dan kabur
Waktu itu aku akan sangat bahagia dan berlari-lari kerumah kalau mendapat rengking 1, dan menangis seharian kalau tidak menjadi juara kelas, mengurung diri di kamar, menanti dihibur banyak orang. Memalukan sekali rasanya…
Aku teringat ibuku yang selalu membawa belajar di dekat mesin jahitnya. Hingga, sampai SMA aku tak bisa lepas dari sampingnya dan mesin jahitnya, sempat kos satu bulan lalu kabur pulang kerumah. Ibuku mengantarku dengan sepeda waktu aku masih malas ke pondok untuk ikut mengaji, diantar lalu dijemputnya. Kadang aku jalan kaki, sendirian lewat pematang, melepas kerudung di tengah jalan karena gerah. Ada juga sebuah keluarga yang memanggilku dik nia, mereka siapapun diantara mereka akan mengantar aku pulang kalau melihatku jalan kaki
Dulu bapak cuma punya satu motor buluk, saya lupa namanya, berwarna hitam dan suaranya kasar. Rumah kami hanya sepetak, belum ada keramik dan tembok, atapnya pun sering bocor, hehe… aku dan kakak tidur sekamar, lebih tepatnya hanya ada satu kamar dengan dua tempat tidur untuk kami sekeluarga dan di tengahnya tempat sholat. Di bagian belakang ada ‘rumah mbah buyut’. Memang tidak bisa disebut rumah, hanya ruangan kecil yang disitu mbah buyut melakukan semuanya. Mbah buyut suka blondo (ampas minyak kelapa) dan aku dulu sering duduk di depannya lama untuk mendapatkan uang jajan…Oiya, mbah buyut punya keris pusaka yang sering diberi sesaji. Setelah mbah buyut meninggal kerisnya sekarang ada di kamar bapak. Dulu sering bergerak gerak berisik di dalam lemari, mungkin karena tidak ada yang member sesaji. Tapi sekarang kerisnya sudah tidak macam-macam, sepertinya sudah benar-benar menjadi benda mati, insyaallah.
Beranjak besar aku mulai serius mengaji walau gak mudeng-mudeng juga. Sekarang berangkat bersama kakak satu-satunya. Tempat kami mengaji adalah pondok NU yang tak jauh dari rumah. Sebuah pendidikan yang terselenggara dengan sederhana tapi taman ilmu selalu Nampak indah dan nyaman dihati. Kami bukan hanya belajar ilmu agama, aku pernah berangkat mengaji dan setibanya di pondok kami semua digiring ke sawah untuk mencabuti rumput (jawa:matun) atau menanam jagung atau kacang (jawa: ulur), dari pondok lah saya tau rasanya turun ke sawah…
Sekarang aku sudah besar, entah kenapa aku ingin menulis masa kecilku yang nakal dan tak tau apa-apa…

Leave a comment »

Cerita Bapak dan Ibu: Penyala Semangat

Setiap kali aku mengeluh, bapak dan ibu selalu punya cerita indah yang membuatku sadar, menangis, dan malu. Bapak punya cerita tentang masa kecilnya. Dua bersaudara dan ditinggal ayah sejak masih kecil. Bapak adalah anak yang tertua dan punya kewajiban menjaga adik satu-satunya. Simbah putri adalah pekerja keras, beliau adalah pedagang yang menggendong dagannya setiap hari menepuh jarak sekitar 20 km. Bapak juga sering diajak memikul dagangan. Berangkat jam 2 pagi. Kalau simbah tidak pulang beberapa hari maka tidak ada yang memasak, tetangga yang akhirnya memberi makan dengan lauk satu tempe untuk berdua. Bapak dulu sekolahnya agak jauh sekitar 5 km dan berjalan kaki setiap hari, waktu SMA bapak kos dengan om di satu tempat, satu dipan berdua dan banyak hewannya. Bapak lebih beruntung karena pendidikannya ditanggung simbah buyut yang lebih dermawan daripada simbah, hehe… masuk UNS dengan nyontek jawaban peserta di depannya ketika SPMB. Kehidupan bapak di solo pastinya tidak seindah aku sekarang. Berbohong ke kondektur bisa dan penipuan yang lain sering dilakukan bapak untuk bertahan hidup, lebih tepatnya bertahan sekolah… Oiya, ternyata sebelum kuliah bapak sempat jadi pengangguran dan menjual jamu, ternyata simbah kakung saya dari ibu dulu adalah pelanggan bapak. Bapak sempat diragukan saat melamar ibu karena dulunya tukang jamu, yang berevolusi menjadi cpns… bapak adalah orang yang lembut, sabar, pendiam, tapi visioner. Bapak tidak pernah memarahi saya kecuali sekali waktu saya main ke sragen kota bersama teman2 tanpa minta ijin, memarahinya pun sambil menangis… sekalipun saya jatuh dari motor bekali-kali, menghilangkan laptop, handphone, bapak tidak pernah marah
Ibu adalah anak pertama dari 5 bersaudara. Simbah putrid dulu pedagang dan simbah kakung pegawai malaria. Walau hidup pas-pasan, simbah kakung sangat memperhatikan pendidikan. Ibu sendiri lulus SMA. Bagian yang menarik dari kehidupan ibuk adalah keberaniannya. Ibuk terbiasa kemana-mana sendiri dengan modal peta dan uang. Resiko anak tertua yang harus menjadi mandiri sebelum yang lain. Ibu punya cita-cita tinggi tapi selalu gagal.hampir menjadi polwan berkali-kali tapi selalu gagal. Ingin jadi mahasiswa pun tidak lolos snmptn. Sampai sekarang ibu masih sering meratapi nasibnya, hehe… justru itulah motivasi bagi saya untuk membuat ibu saya bangga. Saya harus menjagdi lebih baik supaya ibuk bangga menjadi ibu rumah tangga yang mendidik anaknya dengan tangannya sendiri… Ibu saya punya banyak keterampilang dari salon hingga menjahit. Dulu ibuk punya salon juga, tapi kemudian tutup karena bosan, sekarang juga ibuk berkali-kali mengutarakan keinginannya untuk berhenti menjahit dan berpindah ke kegiatan berkebun. Satu hal yang sangat saya ingat, waktu saya kecil saya bertanya pada ibu perihal tanggannya yang ada kapalnya (benjolan yang keras di kulit), “Ibuk kog tangane enten koyo ngene ne..” lalu dijawabnya, “lha kanggo numbaske mie ayam adik nok…”. Dulu saya masih bingung, tapi sekarang saya sudah paham maksudnya. Ibu saya adalah orang yang perfeksionis ayng diturunkan ke saya sekarang dan bersumber dari simbah kakung, hehe…
Seberapa sukses orang tua mendidik kita? Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Sekalipun kita menganggap orang tua gagal, nyatanya kita bisa tumbuh sebesar ini atas tetes keringat dan lelah pikirnya yang tidak ternilai…

Leave a comment »

Adikku…

Dia datang dengan wajah sayu, badannya besar dan subur tapi tidak dengan wajahnya yang selalu murung dan putus asa. Hanya sesekali dia tertawa dan itu terasa indah, sangat indah dan menentramkan, sebuah pertanda bahwa dia baik-baik saja. Dia enggan berkata dan memilih larut dalam di depan laptopnya. Hanya dengan adiknya, dia terlihat lebih baik, bagaimanapun dia adalah kakak yang harus melindungi adiknya… entah bagaimana kehidupan mereka berlangsung disana. Apakah setiap hari berlalu dengan keheningan seperti ini. Mereka masih terlalu kecil. Dunia mereka saat ini harusnya penuh tawa, tapi ternyata Tuhan punya rencana lain…entah apa yang mereka rasakan setiap kali melihat kami yang menikmati sesuatu yang lebih adil menurut ukuran kami,
Dia hanya diam, tenggelam dan putus asa. Tuhan berbicara padanya tentang keadilan dengan cara yang berbeda dari kami semua. Cara yang masih sulit mereka terima sebagai keadilan. Dia berusaha tegar dan menegarkan adiknya yang belum tahu apa-apa. Entah apa yang dia pikirkan dibalik wajahnya yang sayu,
Malam ini aku ingat lekat-lekat wajahmu, adikku… wajahmu yang tidak berwarna dan langkah pasrahmu… semoga Tuhan kelak memuliakanmu dengan kasih sayangNya, mencukupimu dengan rejeki yang banyak, menetramkan hatimu dengan cintaNya dan mewarnai wajahmu dengan binar kebahagiaan. Aku susah mengajakmu bicara karena hatiku lebih dulu remuk setiap melihatmu, maafkan aku… semoga kamu sudah paham bahasa keadilan Tuhan untukmu, mengganti yang hilang dengan sesuatu yang lebih baik, lebih memuliakanmu, semoga Tuhan membayar sedih gelisahmu dengan surga… disana kau bisa memeluk ibumu lamaaaa sekali, tinggal bersamanya lagi, bercerita banyak hal, dan kamu bisa bermanja-manja sepuasnya.. adikku, tempat itu adalah surgaaa…

Leave a comment »

Lebih Menegangkan dari El Classico

Apa yang lebih menegangkan dari el classico? Tentunya bukan ujian pendadaran, itu adalah akad nikah. Setidaknya itulah yang dikatakan kakak saya tercinta yang hari ini 18 Mei 2012 resmi menjadi istri dari kakak ipar saya, mas didik karyadi..barakallahufikum

Berhari-hari sebelum hingga mendekati hari H kakak saya bersikap biasa dan katanya sama sekali tidak gugup. Lalu…pada saat hari H keadaan berubah drastic. Kata kakak saya, “ Aku deg-degan banget, rasane meh meledak.” Aha, ternyata kakak saya bisa deg-degan juga.
Kalau saya pribadi, ehem (apa hubungannya ya?) saya sih merasa deg-degan juga? Kenapa? Karena Bapak saya pelupa. Lho? Iya, saya takut bapak saya lupa apa yang harus dikatakan pas ijab nanti. Alhasil malam hari sebelumnya saya buatkan khusus untuk bapak saya lafal ijab dari bismillah hingga tunai. Dan…….BERHASIL. dengan sekali percobaan disambut dengan jawaban dari mas didik dan diakhiri dengan perkataan SAH dari para saksi. HOREEE… akhirnya kakak saya bisa tersenyum juga. Sebelumnya digenggamnya tangan saya hingga ijab qobul selesai. Hmmm…Alhamdulillah…
Pernikahan memang sepantasnya disambut dengan deg-degan karena ini adalah peristiwa penting. Sebuah ucapan yang mungkin hanya beberapa detik tapi merupakan sebuah sumpah suci atas nama Allah swt. Ya… janji suci atas nama Allah swt. Pernikahan membuat sumber dosa menjadi lading pahala, menentramkan hati, memelihara pandangan, dan memperbanyak rejeki. Dan yang jelas, mengikuti sunnah nabi. Pernikahan juga sumber amal jariyah. Melalui pernikahan akan lahir anak-anak sholeh dan sholekhah, tapi itu tentunya kembali pada kedua mempelai , bagaimana menjalani bahtera rumah tangga.
H
mm…jadi pengen cepet nyusul. Eitss… nanti dulu ya, tahun depan deh, amin… dengan siapa?
Wallahu’alam, semoga dia seperti reni yang begitu sabar dan memahami saya, seperti erny yang begitu menginspirasi dan menentramkan, seperti mbak asti yang totalitas dan amanah, seperti dindun yang lurus, seperti ifa yang pekerja keras, seperti sari dan TM yang humoris, seperti ari yang begitu dewasa, dan seperti bu endang yang genius. *aduh, ini sih nuntut namanya, hehe…

Yang jelas, hidup ini kedepan akan berisi masa-masa yang lebih mendebarkan dari el classico, pernikahan hanyalah salah satunya. Lebih dari sekedar mendebarkan,masa-masa itu adalah masa penuh pertanggungjawaban, bukan hanya di hadapan manusia tapi juga dihadapan Allah swt, ini yang terpenting.

Selamat datang anggota keluarga baru kami, mas didik karyadi, semoga bisa menjalani kehidupan yang samara dengan kakak saya, amin…

Leave a comment »