Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Little Gift for the Beloved One

Untuk bisa memberi seringkali kita harus meminta, bukan hanya pada Tuhan tentunya, tapi juga pada sesama kita. dalam malam-malammu mungkin tak ada yang tahu bagaimana rengek pintamu pada Tuhan, tapi ketika diri harus merendah meminta pada sesama manusia, sekelumit kebaikan, tidak selalu kita bersedia, berat dan malu.. Dan aku harus membuang rasa malu itu sejenak, menggantinya dengan keberanian dan kerelaan untuk diberi atau tidak. Memang hanya Tuhan yang bisa memberi, dan hanya pada Tuhan pula kita wajib meminta. Sayangnya Tuhan tidak menjatuhkan semua dari langit dan mengubah takdir seketika. Harus ada usaha pada penyalur-penyalur dikabulkannya doa dan permintaan kita, sesama manusia…

Ketika kita diminta? Maukah kita memberi?
Kita berusaha bisa mengerti besarnya harapan orang lain dan memahami besarnya kebahagiaan atas pemberian kecil yang bisa kita berikan. Kita berpikir seandaninya kita ada di posisi ‘peminta’ itu.

Karena dunia terbolak-balik, kita ingin mereka memberi saat kita meminta, maka kita harus memberi saat mereka meminta.

Advertisements
Leave a comment »

Romansa Pekan Ketiga

Mulai dari mana ya, setelah pekan kemarin saya berurusan dengan polisi karena urusan karmas hilang, pekan ini agaknya jodoh saya dengan polisi nyambung lagi. Ada apa? Bukan saya yang kehilangan sesuatu, tapi teman saya kehilangan dua suatu. Apa itu? Tahu Blackberry? Dan nexian touchscreen? Itulah…

Ceritanya saya dan dua orang teman adalah orang-orang yang meninggalkan kelas terakhir, dan dengan sengaja meninggalkan sebuah tas di dalam kelas. Alasannya bermacam-macam, saya karena memang tidak dititipi, teman saya karena aspek maskulinitas, jadi gak mau berurusan dengan barang-barang wanita. Kami tinggalkanlah tas itu sendirian di kelas yang kosong.

Waktupun berselang, kami kembali ke kelas,

RAMAI. Ada apa? Hapenya kak Lili (nama disamarkan) hilang. APA??? Sebagai penghuni kelas terakhir saya otomatis merasa tertuduh, dan menuduhkan diri. Bui I did nothing. Galau sepanjang kelas jam 13.00-14.40, dosen bercerita angan berlalu. Jadi jangan tanyakan apa yang saya dapat dari Pak Suhandano hari ini. Kelas pun mulai ribut membicarakan dan menduga-duga hingga digeledahlah itu tas semua orang dikelas, semua ikut panic, sedih, berempati, bingung, apalah namanya yang jelas kelas ikut larut dalam suasana ini. Tidak ada titik temu. Hingga tiga orang digiring di meja kesaksian di lantai dua, disaksikan korban, suami korban, dan rekan korban. Anehnya, ketiga saksi menyampaikan fakta yang tidak sama persis, audience pun mulai bimbang, meski mereka sudah bisa meraba siapa pelakunya.

Buntu, kantor polisi pun jadi tujuan. Kami digiring ke kantor polisi sebagai saksi. Karena saya tidak tahu apa-apa baiklah ayo ke kantor polisi (tempat yang tidak asing sejak hidup di solo, hehe). Selalu begini, kantor polisi urusannya akan jadi lama, laporan dan penyidikan, semua bersaksi. Satu per satu. Hingga panggilan sholat magrib datang, kami menghadap Tuhan dan memohon petunjuk atas cobaan ini. Cling…petunjuk itu langsung datang. Salah satu diantara kami mengaku telah mengambil kedua barang tersebut. Wuaaaaaaaaa…..plak!!! Akhirnya pecah juga telur kekesalan, prasangka, dan kelelahan kami. Tapi disinilah cerita yang sebenarnya dimulai.

Bagaimana bisa? Sebagai sesama mahasiswa, kami tahu konsekuensi dari menjadi tersangka dan terdakwa, yaitu dikeluarkan dari UGM. Drop out secara tidak terhormat. Dalam titik itu kami semua jadi bingung, berkas perkara sudah masuk ke penyidik, dan pelakunya sudah mengaku. Apakah bisa dicabut langsung laporannya? Enak saja. Lalu, haruskah kami memberi kesaksian palsu untuk teman kami? Jangan, saya bisa kena pasal dan masuk penjara nantinya. Lalu? Biarkan semua berjalan, berkata sejujur-jujurnya, dan biarkan bagaimana kebaikan waktu akan menolong kita atau memberi kita pelajaran nantinya. Lama kami berdiskusi untuk mencari jalan terbaik, tapi tidak ada juga jalan terbaik itu yang terlihat, selain berkata apa adanya dan berharap teman kami mendapat hidayah saat diinterogasi.

Bagaimanapun yang kami hadapi adalah penyidik yang sudah berpengalaman, pasti dengan sangat mudah bisa tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Kami pasrah.

Hingga, karena tidak ada pengakuan terlontar, perkarapun digantung dan kami larut dalam diskusi panjang hingga larut di masjid polsek bulaksumur.

Mau kita apakan pelakunya? Kita sadarkan? Ah, kita bukan tuhan, kami hanya meminta sebagai sesama manusia untuk tidak mengulangi perbuatan itu, standar. Tapi tetap, kami tidak semudah itu percaya dengan tangisan dan pengakuan bersalah dari pelaku, sebagai teman kami tetap akan merangkul, tapi sebagai teman pula kami akan tetap waspada.

Yang kami lakukan bukan karena kami kasihan pelaku akan di DO dari UGM atau sanksi lainnya, yang kami lakukan semata karena kami mengingat orangtua pelaku yang pasti akan sangat sakit mendengar anaknya melakukan perbuatan memalukan. Sampai sekarang saya masih berpikir, apakah yang kami lakukan ini benar dan membawa banyak manfaat di masa depan? Wallahu a’lam.

#tapi saya senang, setidaknya saya jadi mengenal beberapa orang baru karena kasus ini, begitu pula saya bahagia melihat kelas saya mulai saling memperhatikan dan satu rasa. Alhamdulillah, Allah selalu tidak lupa menyelipkan kebahagiaan dalam setiap ujian.

Leave a comment »

Surat Kecil Untuk Sahabatku

Entah kenapa tiba-tiba ingin menulis ini, pukul 11.02 saat seharusnya aku beranjak tidur. Sudah kumatikan laptop dan lampu, tapi rasanya ada yang ingin aku ceritakan bersamamu. Kupaksa laptop kembali menyala setelah berjam-jam bekerja dan mata terbuka lebar oleh sinar lampu kamar yang terpantul sempurna oleh tembok bersih (baru aja dicat sama ibu kos). Aku ingin merenungi apa yang telah kita jalani…

Aku ingin mengawalinya dengan…entah harus mulai darimana. Aku berpikir tentang kamu sekarang yang ada dibelahan bumi yang lain, yang jauh dari tempat-tempat kita biasa bercerita dan berangan-angan, menggosipkan orang-orang dan membuat rencana-rencana yang akan kita jalankan kapan-kapan. Yah, kapan-kapan, biar takdir, waktu dan usaha kita yang menentukan kapan rencana-rencana itu akan terwujud.

Aku tidak menyangka bahwa apa yang lukis dalam cerita-cerita kita dulu kini menjadi nyata, sebuah keinginan kecil untuk menginjakkan kaki di tanah yang bukan bernama Indonesia, tahun ini, 2012. Betapa Allah mendengar ocehan-ocehan kita dan rengek harapan yang kita panjatkan dengan ragu bahkan usaha yang coba-coba dan spekulatif. Ya, Allah telah menjawabnya, Alhamdulillah. Meski kita tak mewujudkannya bersama tapi kita telah bersama-sama mewujudkannya.

Geli, kenapa hal sekecil ini bisa membuat aku begitu bangga dan bahagia, luar negeri yang kita jejaki kan hanya tetangga samping rumah kita. Banyak orang yang mungkin mencibir kebahagiaan kita yang kekanak-anakan, terlalu bahagia dengan keberhasilan kecil saat yang lain sudah terbang jauh.

Biarlah, memang baru ini yang bisa kita wujudkan dan memang baru pencapaian ini yang bisa kita banggakan. Dengan perjuangan berdarah-darah, muka rata, dan pengorbanan celengan besar-besaran. Tapi tetap saja itu semua tidak cukup menyakitkan untuk manisnya ‘keberhasilan kecil’ yang kita rasakan.

Apakah kita masih akan meminta untuk diberi yang lebih? Menjelajah dunia, seperti yang dikatakan coretan-coretan dia peta yang menempel di kamarku… Aku malu, betapa Allah benar-benar memperhatikan kita dan semua orang yang punya keinginan sama. Tiba-tiba kau takut tak bisa mempertanggungjawabkan nikmat ini dengan sejujur-jujurnya. Maka, malam ini aku putuskan untuk mengubah redaksional doaku, “Bila terwujudnya mimpiku bisa membuat aku lebih bertaqwa dan bermanfaat, maka kabulkanlah, namun bila mimpi-mimpi itu membuat aku lalai dan berbuat banyak salah, cukuplah bagiku merangkai kebahagiaan sederhana bersama sahabat-sahabatku yang luar biasa. Namun, tetap kobarkan semangatku dan berkahi langkahku untuk berusaha mewujudkannya.”

Dalam setiap keberhasilan yang kita dapatkan, ada bagian orang lain di dalamnya, semoga kita tidak lupa memberikan hak-hak yang lain, agar keberhasilan kita layaknya bibit yang sedang ditanam di dunia dan akan kita panen kelak kehidupan berganti.

Leave a comment »

Oleh-oleh dari orang-orang keren di Indonesia, apa yang mereka katakan?

200 ribu (uang yang sekarang terngiang-ngiang, bisa lebih berguna untuk yang lain, huhu), sebuah harga yang harus saya bayar untuk bisa masuk forum ini, pokoknya harus dapat banyak ilmu.

a. Sehubungan dengan tri dharma perguruan tinggi (mengajar, meneliti, pengabdian masyarakat), jadi kalo cuma mau dan bisa mengajar saja gak usah jadi dosen, jadi guru saja!
b. Tujuan Negara: Mencerdaskan kehidupan bangsa… Bahwa sejatinya tugas kita bukan hanya membuat orang-orang pintar dan cerdas secara keilmuan, tapi mencerdaskan kehidupan. Begitu banyak contoh orang-orang pintar yang tidak cerdas kehidupannya (tidak usah dikasih contoh ya…hehe).
c. Guyon ala pak dirjen dikti:
Pertanyaan : “Kenapa alumni ITB mampu menghasilkan insinyur-insinyur yang hebat, di sector apapun bekerja tetap melakukan pekerjaan sesuai disiplin ilmunya. Bagaimana bapak mengajar?
Pak dirjen :”Ya, saya melakukan apa yang saya ajarkan. Saya mengajar teknik yang saya benar-benar melakukannya, berinovasi di bidang teknik”
Pertanyaan :”Lalu, kenapa banyak lulusan pertanian (kebetulan yang jadi contoh dari pertanian) banyak yang jadi teller di bank, bekerja tidak sesuai dengan bidangnya?”
Pak dirjen :”Mungkin karena dosennya tidak bertani.” (sebuah perenungan untuk mereka yang pengen jadi dosen)
d. Masa depan Indonesia ada di tangan pendidikan, dan dosen-dosen yang berkualitas adalah harga mati, maka jangan takut untuk menggembleng diri ssampai gepeng, njebur sambil berenang sekalian, agar bisa membuat masa depan Indonesia lebih cerah. Maka, tidak ada alas an untuk para dosen untuk tidak ‘mati-matian dalam menuntut ilmu’. Apalagi yag biaya kuliahnya ditanggung pemerintah, ada amanah segenap rakyat Indonesia di dalamnya

Hah, kok cuma sedikit yang saya catat? *200ribu 😦

Leave a comment »

Oleh-oleh dari Masjid Kampus UGM

Masjid itu berdiri megah, sejuk dan indah. Arsitekturnya sederhana tapi romantis dan membuat setiap yang datang ingin berlama. Bangunan disebuah pojok kampus besar seolah mengingatkan bahwa yang mereka semua gadang-gadangkan, ilmu pengetahuan, tidak lain dan tidak bukan bersumber dan akan bermuara pada satu Dzat yang telah menciptakan dengan begitu serasi sempurna. Tapi bukan soal masjid kampus yang akan saya tuliskan (bisa langsung datang ke TKP).

Pada suatu sore ketika saya sedang tidak ada kerjaan (parah!), saya beranikan diri datang ke sebuah majelis di maskam UGM. Kajian mendatangkan ustad ibukota. Asiknya untuk mengadakan event di sore hari yang berdurasi kurang dari 2 jam ini, panitianya dihandle oleh Event Organizer yang didukung banyak sponsor pula. Hmmm, jadi kepikiran untuk membandingkan nuansa disini dan di kampus sebelumnya 🙂
Ini beberapa rangkuman yang saya tulis secara acak dari ceramah yang disampaikan oleh ustad abi makki, semoga bermanfaat:

1. Setiap mahasiswa atau siswa yang sedang belajar atau mendalami ilmu apapun, sejatinya dia sedang menjalankan kewajiban umat, fardhu kifayah, bahwa harus ada sebagian muslim yang menguasai disiplin-disiplin ilmu yang bermanfaat bagi umat. Jadi, mari kita hayati proses belajar kita kewajiban yang mendatangkan banyak pahala dan ridha Allah, insyallah.
2. Setiap rosul diberikan kekuatan atau mukjizat sesuai dengan kondisi umatnya dan musuh dakwah yang dihadapi. Misalnya pada jaman Nabi Musa as, umatnya sedang tergila-gila dengan sihir, maka diberilah mukjizat tongkat yang bisa mengalahkan para peyihir. Pada masa Nabi Isa, orang-orang sedang tergila-gila dengan tabib, maka diberilah mukjizat untuk bisa menyembuhkan orang sakit. Nah, umatnya Nabi Muhammad as akan menjadi umat yang menguasai ilmu pengetahuan dan musuh-musuh dakwah adalah orang-orang berilmu, maka diturunkalah mukjizat itu berupa Al-qur’an yang merupakan sumber ilmu pengetahuan sekaligus seruan bagi umat untuk membaca (Iqra) yang dapat diartikan pula belajar, melihat, mengamati, menghayati.
3. Kenapa kita perlu berilmu? Yang utama adalah untuk menyelamatkan diri kita sendiri di dunia dan di akhirat, dan juga menyelamatkan umat (membawa manfaat sebesar-besarnya untuk umat)
4. Tahukah kita? Syariat yang kita jalankan selama ini adalah dalam rangka mendukung kita manusia dalam menguasai ilmu pengetahuan. Misalnya, dengan membaca alqur’an akan bisa meningkatkan daya ingat kita, demikian juga sholat, puasa dan lain-lain (tapi yang lain-lain saya lupa penjelasannya).
5. Bahwa Alqur’an adalah sumber ilmu pengetahuan sudah tidak dapat dibantah. Banyak ilmu-ilmu yang baru diketahui oleh para ‘ahli’ yang sudah jauh-jauh abad diungkapkan oleh Allah dalam Al-qur’an. Salah satunya adalah QS Al Ankabut, sarang laba-laba betina (dikemudian hari, ilmuwan baru menemukan bahwa hanya laba-laba betina yang bisa membuat sarang). Banyak sekali ilmu-ilmu dalam alqur’an yang sangat perlu kita pelajari dan buktikan kebenarannya untuk kita tunjukkan pada mereka-mereka yang ngeyel

Semoga kelak Islam akan kembali menyinari seluruh dunia dengan ilmu pengetahuan, dan kita adalah bagian dari cita-cita besar itu.

Leave a comment »

Penyusup Diantara Orang-orang keren (episode akhir)

Akhirnya hari itu datang juga… Presentasi kelompok pertama Bahasa Inggris Akademik. Kelompok beranggotakan orang-orang keren dan 1 penyusup akan segera beraksi. Menjelaskan tenses. tema yang sangat mudah, tapi bagi kami kenapa jadi susah ya?

-30 menit menjelang kelas masuk-
Sepertinya mas Andri butuh bantuan (dan memang perlu) sehingga kami ke ruang dosen bahasa korea. Wah, saya senang bisa masuk ke ruang dosen bahasa korea (*informasi tidak penting).
Mas Andri dan Mbak Ani membahas makalah yang akan dikumpulkan. Sebenarnya kami sudah diskusi tapi rasanya belum mantap. Iseng-iseng saya pinjam silabus punya Mas Andri yang berisi petunjuk tugas kelompok.
Jengjeng!!!!!!!!!!!!!!
Rasanya saya (mungkin kami semua) ingin jungkir balik…

*Setiap tugas kelompok………. dan bebas dari kesalahan Grammar, Spelling, dan Format.

(Ya ampun…makalah kita bahasanya gado2… tuing2, wajah mas Andri langsung mumet)

**Presentasi bergerak dari empiri k teori disusul dengan impulan. Jadi, urutannya pengantar, kajian empiris, kajian teoritis, dan simpulan serta referensi
(dan makalah kami berawal dari kajian teoritis baru ke empiris, sekarang giliran wajah Mbak ani jadi mumet, apa kabar dengan wajah saya? entahlah sudah seperti apa)

Jadi intinya, paper kami salah BESAR!
Lalu?
“Kita gak akan bisa memperbaiki ini dalam setengah jam, yasudahlah kita maju seadanya saja, jujur kalau kita miskonsep, atau kita ngumpulin papernya nyusul aja, yang penting presentasi.”

(no choice)” SEPAKAT!”

-memasuki waktu presentasi-
Jam menunjukkan pukul 11, laptop sudah disiapkan dan kami berempat sudah duduk di barisan depan. Tegang.
Rasanya ada angin segar…sudah 10 menit dan dosen kami belum datang, pikiran-pikiran ‘positif’ mulai berdatangan, yeyeye… walau dalam hati kami masih tegang.

Kami coba melemaskan otot-otot dengan bercerita kesana-kemari, tertawa-tawa untuk menghibur hati kami yang stress berat karena baru menyadari kesalahan di detik-detik terakhir dan ini adalah presentasi pertama, dan konsep kami rasanya jadi amburadul.

Bincang-bincang kesana kemari pun berlanjut hingga menit berganti. pemandangan yang unik, kami terlibat dalam obrolan yang menyenangkan dalam suasana hati kalut dan pandangan yang sedikit-sedikit melihat ke pintu. berubah tegang setiap ada sosok yang lewat, berharap itu bukan dosen kami. Benar-benar saya merasa jadi orang aneh waktu itu 😦 haha

Angin semakin segar berhembus ketika 30 menit sudah dosen belum datang, “Mungkin akan minggu depan”, hatii kami mengamini.

Hingga, sosok dengan langkah santai nan gemulai itu memasuki pintu dan menyapa kami,
“mas, itu dosennya?” tanya saya ke mas Andri (entah kenapa saya jadi lupa wajah dosen bahasa Inggrisnya).

waktu itu wajah kami semua DATAR. tidak ada ekspresi selain melihat kearah pak dosen, “Yes, this is the time”

mengalirlah sebuah presentasi yang agak lucu dan ‘membingungkan’, kami menghadapi ini dengan sabar dan ikhlas, apapun yang akan terjadi terjadilah…Mas Andri yang membuka presentasi pun mengawali dengan mengakui kesalahan-kesalahan kami 😦

-Singkat cerita-
dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah kami berhasil menyelesaikan presentasi dan pak dosen bersedia memberi kami kelonggaran untuk mengumpulkan makalah.

TARAAAAAAAA
Ada yang membuat kami bahagia setengah mati dari presentasi aneh kami hari itu, bagaimana bisa kelompok kami mendapat pujian karena kami dianggap sudah berusaha keras dan akan diberi nilai HAMPIR SEMPURNA (harusnya gak ada hampirnya, hehe), dan lagi….. “nanti kelompok lain harus meniru kelompok ini” kata pak dosen.

Kami tersenyum lega… dan akhirnya ketakutan kami hari itupun berakhir dengan indah, memang ketakutan itu hanya perlu dihadapi dengan jujur dan ikhlas 🙂
_______

beberapa waktu kemudian,
“Kalian yakin tadi Bapaknya memuji kita?”
“Iya ya….??”
“Jangan-jangan itu sindiran atas keanehan kelompok kita”
U^^$!#$!^*&!(&#&

Leave a comment »

Sisipan Kabahagiaan

Hari ini adalah hari olahraga, tidak ada kuliah atau jadwal apapun, selain mengambil kartu mahasiswa. Jadi, lebih baik ke kampus jalan kaki saja yah.

Baiklah, berangkatlah ke kampus dengan riang gembira menyambut matahari pagi yang cerah, hingga ingatan itu datang, “Karmas sementara dimana ya?” tidak bisa ambil KTM tanpa itu. Berhenti di pinggir jalan dan menggeledah tas. HILANG! Padahal kemarin sudah dimasukkan, lalu dimanaa ya?

Oh, Tuhan….belum genap 2 minggu dan sudah menghilangkan sesuatu yang penting, astagfirullah…

Sebenarnya saya tahu kalau harus ke kantor polisi meminta surat kehilangan, tapi saya piker aka nada kelonggaran hingga saya langkahkan kaki ke kampus dengan harapan bisa diganti dengan bukti yang lain untuk mengambil karmas. Nananana….

“Oh, harus ke kantor polisi dulu mbak, sana ke polsek bulaksumur, nanti diganti sama petugas di loket satu”
“Harus ya Pak?” (mencoba mencari celah)
“Iya mbak, kalo nggak begitu ya ndak bisa.”
“Terima kasih Pak” (miris)

Jalan kaki 30 menit ini berakhir jawaban menyakitkan.

Dari DAA ke Polsek Bulaksumur. Supaya berkah, baiklah saya niati saja untuk olahraga, itung2 pemanasan buat muncak 2 bulan lagi (semoga kali ini berhasil).

Dengan kelapangan hati saya tempuh perjalanan jalan kaki 30 menit ke Polsek Bulaksumur
Dan….disinilah Allah menyisipkan kebahagiaan itu. Apakah itu?

“Lho….Ian kamu disini?”
“eh, Atin…”

Mahabesar Allah yang sudah menciptakan takdir indah ini (indah?), membahagiakan. Bagaimana bisa? Ian (Brilian) adalah teman SMA yang lumayan jarang ketemu, mungkin sudah setahunan tidak bertemu (mungkin kurang dari itu). Dan, kami bertemu di KANTOR POLISI. Pertemuan yang aneh, tapi bagi saya indah. Dimananya? Karena saya bisa bertemu sahabat lama, di waktu dan tempat yang aneh dan samasekali tidak pernah terlintas. Memang kalau sudah rejeki, akan menemukan jalannya (kata citra), alhasil peluh dan kesal pagi ini terbayar lunas. Begitulah, saya belajar untuk sebisa mungkin menunda perasaan mengeluh untuk bersiap dengan sisipan kebahagiaan di tengah kesulitan.

-30 Menit lagi menuju kos karena sang penjemput sedang sibuk dan tidak bisa diganggu-

Leave a comment »

Cinta

Waktu itu bulan puasa, pagi-pagi saya berdebat kecil dengan Ibu tentang menu buka puasa. Saya ingin makan kolak ‘waluh’ (bahasa Indonesianya apa ya?). Lalu ibu menyuruh saya membeli tape,

“Ibu, saya tidak suka tape.”
“Memang yang makan cuma kamu. Jadi orang kok mikirin diri sendiri”

Saya lalu diam dan tidak berkata apa-apa lagi juga tidak berangkat pergi membeli tape.
Sejenak kami hening, hanya suara mesin jahit yang sesekali mendengung. Seharusnya dalam keadaan seperti ini saya segera minta maaf, bagaimana hal sekecil ini bisa membuat saya marah kala itu.

Tau apa yang dilakukan Ibu saya?

“Ya sudah, nanti kolak ‘waluh’ saja, nanti Ibuk buatkan yang banyak.”
saya diam.
Ibu saya masih mencoba memancing saya bicara dengan banyak pertanyaan.
saya tetap diam
Tidak menyerah, dia mecoba melucu, walau tidak lucu
dan saya hanya diam, hingga akhirnya berlalu.

Sore hari.
Kami memasak bersama di dapur, tapi tidak ada obrolan. Hanya ibu saya yang terus berbicara dan saya tetap diam, mungkin sesekali menjawab dengan jawaban yang sangat singkat. Masih dongkol dengan kejadian tadi pagi.

menjelang berbuka, saya mulai mau bicara dan ibu saya senangnya bukan main, padahal kalau dipikir-pikir saya yang salah dengan mudahnya tersinggung dengan perkataan ibu saya yang memang benar adanya. Hingga saya menyakiti ibu saya dengan membuatnya merasa bersalah sepanjang hari…dan Ibu saya yang kebingungan bagaimana membuat saya mau bicara dengan mengajak bicara sampai melucu, perjuangan yang hebat yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Padalah seharusnya saya yang minta maaf…
________

Seringkali kita dimainkan perasaan, tersinggung dengan hal-hal kecil dan remeh hingga tanggapan kita berlebihan, reaktif yang keterlaluan. terlebih lagi, sikap kita sangat mempengaruhi hubungan dengan orang lain, perubahan sikap kita akan dirasakan dengan mudah oleh lingkungan, bisa jadi kita membatalkan kebahagiaan-kebahagiaan yang seharusnya tercipta, hanya karena kita begitu mudahnya tersinggung. Bahkan, lebih parah bila sikap kita itu mengenai orang-orang yang kita sayang,

______

Ibu, betapa tidak bisa melihat anaknya sedih dan marah. Semua usaha akan dijalankannya untuk membuat anaknya kembali ceria. Sampai mungkin menempatkan diri ‘dibawah’ anaknya. Sementara si Anak belum tentu mau berbuat demikian,
Itulah cinta, dia hanya tau memberi tanpa berharap kembali. Ia adalah kebahagiaan meski harus ditempuh dengan pengorbanan…

______

Ibu, aku tahu pintu maafmu selalu terbuka tanpa aku harus mengetuknya 🙂
Tapi itu bukan alasan untukku selalu membuat kesalahan dan kegelisahan, semoga selanjutnya aku hanya memberikan kebahagiaan, amin…

Leave a comment »

Android dan BB

Haha, ini sebenarnya amat sangat tidak penting. Apakah itu?

Di jaman sekarang ini kepemilikan BB dan andorid sudah menjadi hal biasa sekali. Dimana-mana dari berbagai usia semua pegang BB atau android dan asik dengan dunianya.

Pengen? tentunya. Sayangnya sepertinya saya tidak akan memilikinya dalam waktu dekat, bagaimana bisa? Konvensi di rumah bahwa dik atin gak boleh punya barang-barang bagus dan mahal. why? Saya sudah menghilangkan laptop dan hape dan barang-barang kecil lainnya…masih mau menghilangkan BB atau android?

Jadi..dalam hati saya agak kesal dengan kernyatan ini (lebay), tapi nyatanya saya harus gemar menabung dan menitipkan uang saya pada yang berwenang, hehe..saya hanya akan diberi seperlunya agar uang saya “aman” hingga saatnya nanti saya diberi hak untuk menggunakannya.

Baiklah., untuk saat ini saya hanya ingin balas dendam dengan kenyataan ini (yang sebenarnya tidak penting, haha), kata pak mario teguh, jalan terbaik untuk balas dendam adalah dengan menjadi lebih sukses!

Baiklah, hai para pengguna BB dan Android, walau saya cuma punya samsung termurah di dunia, tapi mari bersaing untuk bisa menjadi lebih suskes!

*ini adalah postingan paling nggak mutu selama ini, semoga diampuni 😀
*Jujur pun saya sebenarnya tidak terlalu malu dengan hape ini karena saya sudah diajari asas kebutuhan dan kebermanfaatan sejak kecil. Apalagi para profesor banyak yang hapenya ‘kuno’, hehe… Punya BB ataupun Android adalah sebuah keinginan, nyatanya bukan kebutuhan. Semoga akan ada sesuatu yang lebih indah dari 2 benda itu. 2 benda yang tidak memberikan jaminan apa-apa untuk menjadi lebih baik dan lebih sukses 🙂

*syukuri apapun yang kita punya, karena harga dari diri kita bukan dilihat dari fasilitas apa yang kita punya, tapi dari isi hati dan otak kita.

Leave a comment »

Warna-warni Nurul Ashri :)

Ini adalah nama sebuah masjid di dekat kampus UGM. disini ta’limnya rutin, dan saya bilang bagus. Bagaimana bisa dibilang bagus?

Yang pertama, dari segi pengelolaannya. kajiannya ontime dan jadwalnya sudah sangat terplaning. fasilitasnya bagus dan ustadnya berkualitas

Kedua, saya kagum dengan jamaah yang datang. kalau di kampus UNS kajian kampus yang datang adalah notabene akhi dan ukhty, tapi disini ada dari berbagai golongan, mulai dari akhi dan ukhti, yang mereka sebut sebagai “ikhwit” dan “ikhtong” pun ada, anak-anak kecil, ibu rumah tangga, ibu-ibu paruh baya, dan simbah-simbah. yang terakhir ini yang selalu membuat saya damai, rasanya indah sekali, di masa tua masih bisa menghadiri majelis-majelis ilmu. Semoga kelak saya pun bisa seperti itu, amin… usia panjang dan berkah…

Ketiga, diitegrasikan dengan rumah tahfid. Adalah tempat anak-anak menghafal Al-Quran. Saya kurang tau jumlah santrinya secara jelas, tapi kelihatannya cukup banyak. Poinnya adalah: saya hanya bisa iri setiap kajian mau dimulai akan ada tasmi’ dari adik-adik penghafal Qur;an. Saya pikir paling An-Naba atau An- Naziat (inipun saya masih banyak lupanya), tapi ternyata si adik adi (usianya sekitar 6 tahun) sudah hafal Al-Waqiah, Jleb!

Keempat, tanpa membawa bendera apapun, nyatanya masjid ini bisa ‘makmur’ bukan hanya jamaahnya tapi juga dana untuk pengembangan tentunya.

Disini juga saya banyak berkaca, selain dari simbah-simbah yang super (oiya, simbahnya juga masih mencatat kajian lho), saya juga becermin pada saudara sesama muslim. saya melihat ukhty-ukhty yang anggun, sopan, dan kalem. Lalu, saya melihat diri saya… Jleb 1. Saya melihat adik2 yang sudah menghafal banyak surat, dan saya… ?? Jleb selanjutnya… Ibu-ibu yang rapi dan bersemangat mengaji dengan mengajak anak-anaknya, padahal saya yang belum berkeluarga banyak malasnya, Jleb lagi.. 😦

Setiap tempat dan manusia (muslim) yang kita temui adalah cermin, adalah guru.

Leave a comment »