Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Ayah Nomor 1

Setiap orang terlahir dari seorang ayah dan seorang ibu (kecuali nabi adam, nabi Isa, dan Hawa). Menjadi seorang ayah adalah tugas berat yang dibebankan oleh Allah kepada kaum yang disebut laki-laki. Menjadi  ayah adalah amanah yang berat karena seorang ayah tidak hanya wajib menjaga dirinya sendiri namun juga keluarganya (anak dan istrinya) dari api neraka. setiap orang berhak menilai ayahnya sebagai ayah nomor 1 karena memang dia cuma punya satu ayah…hehe,

Tapi inilah yang saya lihat,

ayah saya alhamdulillah punya pekerjaan tetap yang menurut saya tidak terlalu berat (PNS) setipa hari berangkat ke kantor pukul 7 dan pulang pukul 14.00, di kantor menempati meja kerjanya dan hanya tandatangan dan rapat sana sini. Tapi bukan berarti saya mengecilkan usaha ayah saya untuk memberikan nafkah terbaik. Ayah saya mungkin tidak bekerja dibawah terik matahari, tapi ayah saya punya tanggungjawab yang besar untuk pendidikan di suatu tempat.

Namun, saya sangat terkesan dengan ayah-ayah nomor satu yang lain. pernah suatu ketika acara pengambilan raport di sekolah waktu saya SMP. dulu saya masih berpikir semua teman2 saya punya kehidupan yang sama, ayahnya punya pekerjaan yang sama, dan kehidupan kami pasti juga hampir sama. Namun, saat itu ayah saya datag dengan pakaian rapi dan naik sepeda motor, lalu saya melihat ayah-ayah teman saya ada yang datang dengan becaknya dan ada yang datang dengan tongkatnya. saya melihat mereka begitu bersemangat untuk melihat hasil belajar anak-anaknya (yang selama ini diperjuangkan dengan airmata dan keringat). Waktu itu saya sadar, betapa saya harus bersyukur dengan apa yang saya punya, dengan apa yang ayah saya punya. apapun pekerjaan ayah kita, itu adalah jihadnya. dan semua anak punya kewajiban yang sama, membahagiakan orang tuanya. semua orang tua bekerja untuk anaknya apapun pekerjaannya, dan anak-anak yang diperjuangkan sudah sewajarnya pulang dengan membawa kebahagiaan yang akan menghapus segala lelah ayah kita.

Ada lagi, baru-baru ini saya melihat seorang ayah menjemput dua anaknya pulang sekolah dengan menaiki sepeda ontel, sangat romantis dan menyentuh. bagaimana ikhlas dan ringannay sanag ayah membonceng kedua anaknya di tengah terik matahari. Sedangkan saya saat itu menaiki sepeda motor, betapa saya tidak sebanding dengan ayah tadi.

Subhanallah, Allah tidak menilai dengan cara manusia.Apa yang ayah-ayah kita lakukan untuk kita adalah jihad dan Allah yang akan menilainya. Apapun pekerjaan ayah kita, itu semua terhormat sepanjang halal, manusia tidak berhak menilai pekerjaan mana yang lebih tinggi derajatnya atau apa karena nilai dari pekerjaan itu hanya  Allah yang berhak menilai. Bisa saja pejabat itu dianggap lebih baik, namun belum tentu dia lebih baik dibanding tukang becak…

banggalah, Bagaimanapun Ayah kita, dia adalah ayah nomor 1 di dunia!!!

Leave a comment »

Notes From Qatar… dan Dahsyatnya sedekah

Muhammad Assad, saya tidak mengenalnya hanya sempat beberapa kali mnelihatnya di TV sedang membicarakan bukunya berjudul Notes From Qatar. Sejak pertama tahu buku itu saya langsung punya feeling, ni buku pasti bagus, based on true story. Dan ternyata dugaan saya benar. Dengan kemasan yang ringan, Assad mampu ‘mengajarkan’ banyak hal tanpa menggurui kita. Salah satu tulisannya mengenai dahsyatnya sedekah, ceritanya sedikit tidak masuk akal tapi tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah dalam membalas ibadah hambaNya (ceritanya gimana? Ayo segera beli bukunya…insyaallah gak akan nyesel).
Nah, saya ingin berbagi mengenai dahsyatnya sedekah yang saya rasakan. Tidak perlu jauh2, pagi hari dimana saya membeli buku Notes From Qatar, sorenya saya mendapat kejutan dari teman saya, sebuah buku yang sudah saya incar, “Ranah 3 Warna” lanjutannya “Negeri 5 Menara”. Saya merasa sangat senang, setelah paginya mewujudkan impian membeli buku NFQ, sorenya kejatuhan buku bagus lagi. Entah ada hubungannya atau tidak yang jelas saya ingat betul sebelum hari itu saya sengaja menyisihkan uang untuk bersedekah dan saya berpikir bahwa inilah ganti dari Allah untuk uang yang saya sedekahkan. Kalau dihitung-hitung hampir 10 kali lipat harganya dengan uang yang saya sedekahkan (lalu saya berpikir, kalau saya sedekahnya lebih banyak pasti Allah juga akan menggantinya lebih banyak, hehe).
Kisah lain tentang dahsyatnya sedekah juga saya alami 2 tahun lalu. Kala itu saya dihubungi seorang teman dari Purbalingga, dulu kenalan waktu masih sama2 nyari tempat kuliah di Jogja. Ceritanya sekarang dia kuliah di salah satu universitas negeri di purwokerto, tapi dia tidak betah dan berniat pindah kuliah, UNS pun menjadi tujuannya. Di hari terakhir pendaftaran swadana, dia berangkat dari rumahnya pukul 6 pagi dan perkiraan pukul 12 siang sudah sampai di Solo. Namun, semua tidak seuai rencana, pukul 14.30 saya disms bahwa dia baru masuk wilayah Jogja padahal dia belum daftar online dan membayar registrasi ke bank. Saat itu dia menghubungi saya dan minta tolong untuk diurus semua keperluan karena paling lambat untuk daftar online dan registrasi ke bank pukul 15.00. waktu itu saya sedang ada di sebuah forum penting. Saya agak dongkol dengan permintaan dia tapi mau bagaimana lagi,,,akhirnya saya ijin dari forum dan meluncur mengurus semuanya. Diawali dengan pergi ke kost dan minta-minta uang ke mbak-mbak kost untuk mbayar ke bank, lalu ke warnet untuk registrasi. Waduh, formnya banyak banget…saya sempat stress. Tapi kemudian teman saya pengertian dan menelepon saya untuk memandu pengisian semua form. Saya hanya mengeluarkan uang 2000 untuk ngeprint dan bayar parkir. Selesai! Pukul 18.00 dia tiba di gerbang UNS. Saya terenyuh sekali ternyata dia jauh2 menempuh perjalanan 12 jam dalam keadaan sakit, tepatnya dia baru saja mengalami kecelakaan dan kakinya terluka agak parah. Saya jadi menyesal tadi menolong dengan sedikit dongkol. Sayang sekali kami sudah terlambat. Tempat pendaftaran sudah tutup. Saya memutat otak dan akhirnya, dengan memelas kami mohon kepada petugasnya agar mau menerima berkas2 pendaftaran teman saya. Berhasil, bapak petugas akhirnya luluh dan menerima berkas kami.
Singkat cerita saya akhirnya dia diterima di salah satu jurusan di FKIP UNS sesuai yang diinginkan. Saat itu saya sangat senang dan tidak memikirkan apa-apa lagi, ternyata disinilah Allah menunjukkan kekuasaannya, teman saya itu memberi saya uang 200.000 sebagai ucapan terima kasih. Awalnya saya tidak mau menerima karena memang saya tidak membantu apa-apa, hanya membayar ke bank dan mendaftar online itupun dengan dongkol, masalah dia diterima itu karena memang dia pintar. Tapi akhirnya saya tidak kuasa menolak (hehe…). Kalau dihitung2 saya hanya mengeluarkan uang 2000 kala itu dan kini diganti oleh Allah 200.000, subhanallah 100 kali lipat. Saya sangat bersyukur… (kalau saja saya lebih ikhlas, pasti Allah akan memberi lebih banyak, hehe). Itu tadi baru menolong orang lain entah bisa dikatakan sedekah atau tidak. Tapi yang jelas Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hambaNya dan selalu membalas pengorbanan hambaNya dengan jauh lebih baik… sejatinya apa-apa yang kita korbankan di jalan Allah itu tidak pernah berkurang bahkan terus bertambah..

Leave a comment »

Toko Buku.. :)

Beberapa waktu lalu saya menghabiskan waktu di toko buku (sekalian ngadem dan baca buku gratis, hehe). Pandangan saya langsung tertuju pada buku Kick Andy (judulnya saya lupa). Saya buka dan say abaca, tibalah saya di kisah para laskar pelangi. Cerita ini memang tidak bisa dipisahkan dengan sosok guru sejati “Bu Muslimah”. Saya langsung teringat murid-murid saya (walo bukan murid resmi). Apakah saya bisa menjadi sosok Bu Mus bagi mereka? Tidak terasa saya meneteskan air mata (seperti orang gila nangis sendirian di toko buku). Satu kata yang membuat saya terhipnotis kala itu pada kalimat yang kurang lebih seperti ini, “ Sosok yang mengantarkannya (Andrea hirata) sampai bisa meneruskna studinya ke Sorbone, Perancis”. Lalu saya berpikir, suatu saat bisakah saya mengantarkan anak-anak saya meraih cita-cita dan masa depan yang gemilang?? Sebuah tanda Tanya besar yang harus saya jawab mulai dari sekarang. Menjadi sosok Bu Mus yang bersahaja namun bermakna bagi banyak orang, semoga saya bisa, amin…
Namun, saya tergoda juga dengan buku berjudul Mestakung (semesta mendukung) karya Yohanes Surya. Saya tau buku ibi dari teman saya anak fisika. Dia berkata, Yohanes Surya itu kalo dia mau udah sukses dari dulu di luar negeri, tapi dia pilih balik ke Indonesia karena ingin memajukan Indonesia. Dia (Yohanes Surya) berkata, “suatu saat saya akan membawa Indonesia meraih emas di olimpiade fisika internasional.” Kala itu dia hanya ditertawakan tapi dia tida menyerah. Dan benar, tahun 2006 untuk pertama kalinya Indonesia mendapat emas di olimpiade fisika internasional dan terus berlanjut sampai sekarang. Subhanallah, ketika kita yakin dan berusaha keras, maka semesta alam akan memberikan energy positifnya bagi kita. Dalam hadist disebutkan, seluruh makhluk Allah senantiasa mendoakan mereka yang menuntut ilmu, mungkin ada korelasinya dengan hal ini. Saat kita ingin melakukan sesuatu sesungguhnya seluruh alam itu selalu mendukung kita walau kita tidak pernah tahu bagaimana bentuk dukungan itu…maka mari menjadi orang yang optimis! Karena seluruh alam senantiasa mendukung kita..

Leave a comment »

Reinkarnasi Semangat Mengejar Mimpi (Penyesalan akan Langkah yang Sempat Terhenti)

Aku berbicara pada jiwaku yang lama diam tak lagi bermimpi

Apalagi melangkah dan menguatkan azzam untuk mewujudkannya

Duhai jiwaku yang selalu tinggi bermimpi

Maafkan aku yang larut dalam lelahnya berjuang mewujudkan mimpi-mimpi yang kita rangkai bersana

Terlalu banyak kegagalan yang telah aku alami

Aku ingin berhenti dan bersikap lebih realistis terhadap apa yang aku punya

Oh, Tuhanku yang memeluk mimpi-mimpiku

Maafkan aku yang tak lagi ramah dengan doa-doa di setiap malamku

Sungguhpun aku yakin pintu harapan itu tidak pernah tertutup untukku

Jiwaku yang sepi,

Aku sudah kembali dengan mimpi-mimpi yang dulu kita janjikan bersama

Aku siap kembali berjuang, sudah cukup banyak waktu yang aku buang

Saat yang lain tengah bertarung mati-matian melawan nasib…

Aku hanya termangu dan menghitung kesempatan

Kini sudah cukup aku mendholimi diri kita…

Langkah ini makin kumantapkan

Aku kini lebih mengerti kenapa kita dulu bermimpi

Ternyata Allah lah yang  memerintahkannya…

Jiwaku yang telah lama menunggu, keberhasilan itu makin dekat…

Aku akan berjuang untuknya, untuk menegakkan prinsip hidup kita

Untuk membuka mata dunia dunia dan membuka mata kita terhadap dunia

Jiwaku yang tenang, bersiaplah

Aku sudah kembali dengan semangat dan harapan baru…

Sebuah kata yang tak mungkin aku lupakan,

Bukan sebuah memoar keberhasilan yang patut dibanggakan memang, tapi kelak aku mewujudkan mimpi2 kita mereka adalah orang-orang pertama yang akan aku banggakan…

UntukMu ya Rabb…yang selalu membimbing aku saat aku mulai acuh dan meragukanMu, untuk kesehatan dan kesempatan yang aku lewatkan, ampuni aku ya Rabb…

Ayah dan ibuku, motivasi terbesarku yang hingga saat ini tidak pernah lelah mendoakan aku dan menanti aku pulang dengan sejuta kebahagiaan.

Untuk sahabat-sahabatku…

Reni, yang senantiasa sabar dalam menghadapi aku yang banyak salah dan lupa. Malam ini aku membuka sebuah buku pemberiannya, aku melihat tulisan “untuk sahabatku yang tak pernah lelah mengejar mimpi-mimpinya”… sungguh kata-kata itu membakar jiwaku malam ini. Aku mencintaimu sahabatku….

Kelurga besar… ambon, erny, ari, tm, ifa, dik nia kawan2ku yang hebat dengan segala kepribadiaannya. Kalian membuat aku selalu bahagia dan lengkap. Semoga kita disatukan pula dalam surgaNya

Pak kris… foto2nya di Amerika membuat aku terus berjanji untuk kesana dan melakukan hal yang sama, bahkan lebih… Beliau mengajarkan aku untuk percaya pada diriku, optimis, dan membuka kebanggaan pada diriku sendiri. Terima kasih Bapak…

Dik kalis…yang sore ini menyentak dengan perkataannya, “piye mbak, tek during progress, wis meh deadline lho…, ayo mbak berjuang…” Adikku, aku mencintaiMu karena Allah…

Keluargaku di LSP, mesti sering bertengkar kita tidak akan pernah bercerai…

Andi dan saudariku Puji,,, yang selalu mengingatkan aku untuk mendedikasikan hidup ini untuk Allah, terima kasih…

Rekan-rekan yang teguh berjuang di jalan dakwah, kalian luar biasa! Aku bangga menjadi bagian dari kalian meski tak banyak yang aku berikan…

Murobbi-murobbi ku dan rekan2 dalam lingkaran halaqoh yang aku cintai, yang mengiringi setiap perjalanan dan keputusan2 penting dalam hidup…

2 Comments »

Amanah itu Penjaga

Aku melihat mereka yang tak lagi beramanah menjadi futur. Dulu mereka adalah singa-singa yang kukuh berjuang, kini mereka seakan tenggelam dan larut dalam kehidupan yang samasekali baru. Ada banyak orang yang kini mengungkapkan ingin berhenti dari amanah dan menjalani kehidupan yang baru. Aku katakana, tidak! Dulu aku pernah ingin melakukannya, namun aku diingatkan bahwa amanah itu tidak akan pernah pergi dariku. Kemanapun aku pergi dan melangAku melihat mereka yang tak lagi beramanah menjadi futur. Dulu mereka adalah singa-singa yang kukuh berjuang, kini mereka seakan tenggelam dan larut dalam kehidupan yang samasekali baru. Ada banyak orang yang kini mengungkapkan ingin berhenti dari amanah dan menjalani kehidupan yang baru. Aku katakana, tidak! Dulu aku pernah ingin melakukannya, namun aku diingatkan bahwa amanah itu tidak akan pernah pergi dariku. Kemanapun aku pergi dan melangkah akan senantiasa ada amanah bagiku. Dan amanah itu tidak pernah lebih mudah, sebaliknya amanah senantiasa bertambah karena Allah menginginkan kita menjadi lebih baik. Kalaupun aku tak lagi disini, pasti di suatu tempat akan senantiasa ada amanah yang menanti. Amanah itu tidak bisa ditolak atau diterima, namun amanah bisa dijalankan atau tidak dijalankan. Sama seperti hidup. Kita tidak bisa menerima atau menolak untuk hidup, namun kita bisa memilih hendak menjadi hamba yang patuh atau membangkang.
Selayaknya amanah adalah kehormatan yang diberikan oleh Allah kepada manusia darimanapun perantaranya. Dari orang tua, dari qiyadah, dari guru dan lain-lain. Dengan amanah waktu kita akan menjadi lebih efektif karena ia senantiasa terjaga. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Setelah selesai dari satu urusan maka dia akan bersegera dengan urusan yang lain. Itulah yang dilakukan oleh orang-orang yang memegang amanah.
Amanah juga membuat kita lebih dekat dengan Allah. Apalah artinya kekuatan manusia untuk mengemban amanah apalagi yang berhubungan dengan orang banyak. Segala kekuatan, kesabaran, ketenangan hanyalah berasal dari Allah swt. Maka tidaklah heran apabila mereka yang mengemban amanah menghabiskan malam-malamnya dengan berkhalwat dengan Allah swt memohon untuk diberika pundak yang kuat untuk mengemban amanahnya.
Ketika kita tidak lagi beramanah maka kita mungkin akan merasa bebas, terbebas dari segala tanggungjawab lalu akhirya waktu kita tidak lagi terjaga dan waktu kita bermanja dengan Allah akan semakin berkurang. Maka aku menghargai amanah apapun yang diberikan kepadaku selama aku mampu. Sejatinya amanah itu datang dari Allah. Kalau kita diberi kesehatan, waktu, dan kesempatan oleh Allah maka kenapa kita merasa berat bekerja untuk Allah.
kah akan senantiasa ada amanah bagiku. Dan amanah itu tidak pernah lebih mudah, sebaliknya amanah senantiasa bertambah karena Allah menginginkan kita menjadi lebih baik. Kalaupun aku tak lagi disini, pasti di suatu tempat akan senantiasa ada amanah yang menanti. Amanah itu tidak bisa ditolak atau diterima, namun amanah bisa dijalankan atau tidak dijalankan. Sama seperti hidup. Kita tidak bisa menerima atau menolak untuk hidup, namun kita bisa memilih hendak menjadi hamba yang patuh atau membangkang.
Selayaknya amanah adalah kehormatan yang diberikan oleh Allah kepada manusia darimanapun perantaranya. Dari orang tua, dari qiyadah, dari guru dan lain-lain. Dengan amanah waktu kita akan menjadi lebih efektif karena ia senantiasa terjaga. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Setelah selesai dari satu urusan maka dia akan bersegera dengan urusan yang lain. Itulah yang dilakukan oleh orang-orang yang memegang amanah.
Amanah juga membuat kita lebih dekat dengan Allah. Apalah artinya kekuatan manusia untuk mengemban amanah apalagi yang berhubungan dengan orang banyak. Segala kekuatan, kesabaran, ketenangan hanyalah berasal dari Allah swt. Maka tidaklah heran apabila mereka yang mengemban amanah menghabiskan malam-malamnya dengan berkhalwat dengan Allah swt memohon untuk diberika pundak yang kuat untuk mengemban amanahnya.
Ketika kita tidak lagi beramanah maka kita mungkin akan merasa bebas, terbebas dari segala tanggungjawab lalu akhirya waktu kita tidak lagi terjaga dan waktu kita bermanja dengan Allah akan semakin berkurang. Maka aku menghargai amanah apapun yang diberikan kepadaku selama aku mampu. Sejatinya amanah itu datang dari Allah. Kalau kita diberi kesehatan, waktu, dan kesempatan oleh Allah maka kenapa kita merasa berat bekerja untuk Allah.

Leave a comment »

Berbicara pada diri

Hatiku tengah berbicara. Saudariku, apa yang membuatmu demikian risau dan tersalah. Ukhuwah yang terjalin kian lama itu kini berubah menjadi diam. Apa yang tengah terjadi. Saudariku, aku merasakan hatimu yang gelisah dan jauh. Boleh kamu merasa benar, tapi ingatlah kamu tidak bisa menjadi yang paling benar. Bilakah kamu melihatnya tersalah, ucapkanlah perkataan yang baik dan mendekatlah. Sudahkah hatimu yang dulu tegar menjadi kian rapuh. Sejak kapankah kekecewaan mampu membuatmu demikian lumpuh. Ingatkah kamu pada janji disebuah magrib yang penuh berkah, bahwa kamu takkan lagi pernah kalah dengan kekecewaan. Saat itu kamu telah berjanji untuk berdamai dengannya, menjadikannya kawan dalam membangun jiwa dan hatimu. Saudariku, sungguh aku mampu merasakan keinginanmu untuk kembali seperti dulu. Begitupun yang aku inginkan. Maka setiap aku bersikeras untuk melangkah, aku terhenti oleh sikapmu yang acuh dan lemah. Karena kamu tak mampu lagi menjaga benteng-benteng kekuatan hatimu.

Kamu tahu apa yang mesti dilakukan bukan? Lakukanlah saudariku. Sungguh aku menyayangkan senyum manismu itu menghilang bersama hilangnya pahala dan berkah yang Allah janjikan. Aku menyayangkan do’a-do’a yang tak terlantun ikhlas. Bila kamu benar saudariku, buatlah kamu semakin benar dengan sikap dan teladan dalam menghadapi resah gelisahmu. Benarlah dalam memberi do’a dan sapaanmu. Benarlah dalam menjadi sebaik-baik perhiasan dunia, yang baik agamanya dan indah akhlaknya.

Aku merindukan senyum manis dan do’a keselamatan itu melantun dengan penuh keikhlasan. Maka kuatkanlah hatimu untuk menjadi lebih sabar dan mengalah. Lepas dari benar salahnya dirimu, menyelamatkan sebuah persaudaraan lebih benar adanya. Saudariku, jangan mau dipermainkan nafsu, sungguh fitrah Allah telah tergambar jelas dalam hatimu. Kalahkanlah semua keraguan untuk mengalah dan membuka hati. Meski kau merasa tak adil dan tersakiti, itulah bagian yang akan memuliakanmu di hadapannya.

Ingatlah mimbar-mimbar cahaya yang dijanjikanNya bagimu bila kau mencintainya karena Allah. Begitupun Allah menciptakannya dengan kelebihan dan kekurangan, maka cintailah Allah dengan mencintai makhlukNya…

Untuk Saudariku yang aku cintai karena Allah,

hatimu ini tengah berbicara…

Leave a comment »