Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Mencintai Orangtua=Mencintai Allah…

Saya prihatin dengan bagaimana orangtua memperlakukan anaknya sekarang ini, khususnya yang terjadi pada saya dan teman saya. Teman saya sedang galau karena nganggur. Inisiatifnya untuk memulai wiraswasta tidak direstui oleh orangtuanya. Alasannya? Orangtuanya ingin dia jadi pegawai negeri atau pekerjaan lainnya yang ‘pasti’. Yang terjadi dengan saya? Segera selesaikan S1, ceri kerja, dan segera ambil S2 dan selesaikan. Niat hati pengen melakukan banyak hal. Pengen mengabdi pada negeri dengan cara yang lebih real. Tentunya akan membuat fokus kedua orangtua saya sedikit tergeser. Saya ingin mengambil pelajaran hidup sebanyak mungkin, saya ingin menjadi mandiri dan menantang hidup. Namun, ternyata kasih sayang orangtua saya selalu lebih besar. Saya tidak diijinkan melakukan itu semua saat ini sampai saya selesai S2.

Dan saya tidak bisa memilih, hanya di UNS (kecuali kalau dapat beasiswa ke luar kota atau luar negeri). Alasannya? Agar saya tidak perlu susah-susah menyesuaikan diri, dan agar saya bisa melakukan semuanya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dan melakukan dengan orang-orang yang sudah saya kenal tentunya (dosen-dosen S2 di UNS sama dengan S1nya, praktis saya akan bertemu dengan dosen-dosen saya lagi, baiklah…). Saya memang anak bungsu yang sampai sekarang masih dianggap anak kecil dan ‘dieman-eman’. Betapa saya harus bersyukur, tapi mengapa saya jadi sedih ya…

Baiklah, mungkin ini cuma egoisme saya saja. Toh, orangtua saya menginginkan yang terbaik untuk saya. ‘Mengorbankan ‘ waktu muda saya untuk menjadi dewasa. Baiklah,saya akan membuktikan bahwa saya ingin hidup mandiri dan mencari tantangan agar saya bisa membentuk diri saya, bismilah…saya semakin semangat mencari beasiswa, entah itu di dalam atau di luar negeri. Semoga ini bukan sekedar egoisme tanpa alasan, kalau iya, semoga Allah segera menyadarkan saya.

Saat ini pun saya sadar, seandainya saya menerima ini dengan senang hati, pasti Allah akan memudahkan jalan saya dan menentramkan hati saya. Tapi inilah hati… Sementara tidak ada lagi pembicaraan-pembicaraan tentang petualangan-petualangan dan impian-impian mengabdi, cuma ada segera lulus dan mendapat gelar S2. Setelah itu, baru ‘mungkin’ saya bisa mengejar mimpi-mimpi saya yang tertunda (kalau masih ada waktu dan kesempatan). Atau hidup saya akan menjadi lurus dan monoton seperti ini…

Astagfirullah, betapa ini tidak baik. Apakah saya meragukan cinta orangtua saya? Atau bisa jadi saya meragukan kebaikan dari Allah. Ampuni saya ya Allah yang memandang semua ini dengan egoisme dan sudut pandang manusiawi yang sangat terbatas. Saya sadar, tugas saya adalah berbuat baik, dan bukankah berbakti pada orang tua adalah yang utama setelah Allah dan RasulNya? Astagfirullah, kalau saya bersikap baik dan berbakti pada orangtua niscaya Allah tidak akan memberikan pada saya, selain KEBAIKAN adanya…

Ampuni hamba ya Allah, yang masih sering menggalaukan kebaikanMu, yang masih meragukan indahnya perintah dan janjiMu,
Semoga aku lebih mencintaiMu,

Kalau berbakti pada orangtua adalah jalan menuju Allah, apa yang membuat kita harus ragu untuk membahagiakan orang tua? Terlebih lagi tidak ada orangtua yang membiarkan anaknya berjalan menuju keburukan. Kalau mencitai orangtua adalah syarat mendapat cinta Allah, apa yang membuat kita ragu?

Ya Allah, ikhlaskan aku menjalani hidup ini…yang indah…
Karena pasti buah dari keikhlasan adalah kebaikan dariMu…

Leave a comment »

Mengapa Khoirunna Anfauhum Linnas?

Bukanlah sesuatu yang mudah. Siapa sangka akan sesulit apa membangun kebermanfaatan itu. Apa yang hendak kita berikan? Bagaimana kita membangun kepercayaan? Apa yang kita tahu tentang kemanfaatan itu? Tenagamu, pikiranmu, waktumu, siapkah untuk dicurahkan? Maka mimpi untuk bermanfaat bagi banyak orang bukanlah sesuatu yang sepele, bukan hanya sekedar motto, tidak memerlukan kerja yang setengah-setengah. Kenapa orang yang bermanfaat menjadi sebaik-baik manusia karena dia mampu mengatur dirinya sendiri, mengatur mimpi dan obsesinya, mengatur kesyukurannya, dan mengatur hidupnya serta hidup banyak orang agar lebih baik. Mungkin selama ini aku salah mendefinisikan makna kebahagiaan dan kesuksesan.

Parahnya, aku berada diantara ornag-orang yang tidak kenal lelah memperjuangkan banyak orang lain. mereka mungkin tidka terlalu baik dalam studinya tapi jujur aku iri melihat mereka. Mereka begitu bahagia dalam wajah lelahnya. Mereka begitu tenang ditengah gurat kecemasan, dan aku selalu iri dengan senyum-senyum mereka. Semoga Allah memudahkan mereka dan memuliakannya.

Aku ingin menjadi pribadi yang bermanfaat, namun nyatanya itu baru menjadi sebuah impian yang tidak sungguh-sungguh diwujudkan. Bisa saja kau mengatakan “cukup memberikan kemanfaatan yang kecil asal kontinyu” maka itu bisa jadi kemalasanku untuk melakukan hal-hal besar dan berarti aku belum mensyukuri apa-apa yang sudah Allah karuniakan disetiap detik dan hembusan nafasku. Astagfirullah….

Leave a comment »

ADA YANG HILANG!

Aku, sekarang sudah 21 tahun usiaku. Sudah hampir lulus S1. Mungkin bagi banyak orang ini adalah sebuah prestasi. Mereka bilang aku hebat ditengah kesibukan bisa lulus cepat. Mereka yang mengatakan begitu mungkin tidak mengerti bahwa yang aku lakukan hanyalah kesibukan kecil yang masih membuatku bisa mengerjakan skripsi tepat waktu. Aku tak cukup lelah sehingga aku bisa mengolah data dan merangkai laporan skripsiku. Sekarang aku sudah diujung pintu hendak keluar dari keluarga mahasiswa S1. Sore ini aku bertemu dengan seorang kawan satu angkatan,

“Mau kemana?”
“Ke Pintu Community.”
“Itu apa?”
“………….*dijelaskanlah mengenai Pintu Community, sejenis komunitas pemuda yang bergerak dibidang sosial*……..”
“Wah, bagus ya….”

Saat itu hatiku hancur. Aku tidak punya komunitas atau apapun yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain, banyak orang. Kenapa aku yang sudah 21 tahun belum menginisiasi hal itu, membawa kemanfaatan bagi banyak orang seperti yang diisyaratkan Nabi sebagai sebaik-baik manusia. Lalu apa yang sudah aku lakukan? Pertanyaan ini membuatku remuk. Aku belum melakukan apapun di 21 tahun ku ini. Aku belum membuat jejak yang pantas diikuti, aku belum membuat sejarah yang pantas dikenang. Aku belum berbuat apa-apa…

Aku selama ini hanya sibuk memikirkan diriku sendiri, bahkan tidak memikirkan apapun. Kuliah bolos biasa, tidak belajar waktu akan ujian pun sudah jadi makanan sehari-hari. Astagfirullah, kalaupun aku punya mimpi, maka itu adalah semuanya obsesi pribadi dan mimpi-mimpi yang aku rajut untuk kemuliaanku sendiri. Kalaupun aku berdalih ingin menginspirasi orang lain, mungkin itu bohong. Aku tidak perlu menunggu mewujudkan mimpiku satu per satu untuk bisa menginspirasi banyak orang. Mungkin benar, IPK bagus, pernah lolos PKM dikti, membuat banyak kegiatan, karya tulis itu bisa dianggap keberhasilan, maka itu adalah keberhasilan yang egois dan tidak pantas dibanggakan. Bukannya aku tidak bersyukur, justru aku merasa belum bersyukur sama sekali. Banyak orang berusia 21 tahun yang sudah mengukir jejak indah dalam hidupnya, sementara aku masih bingung hendak membuat jejak seperti apa, ke arah mana. Aku sibuk mencari apa yang bisa membuat aku bangga dan bahagia, sementara disekitarku bertebaran sumber kebahagiaan dan kebanggaan.

Aku 21 tahun, dan aku merasa ada yang hilang, seharusnya aku sudah mempunyai karya, membuat jejak, dan mengukir sejarah. Sekarang aku paham kenapa kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika menjadi sumber kebahagiaan orang lain.

Leave a comment »

Kenapa Kita Dipisahkan?

Tidak terasa saya sebentar lagi akan melangkah meninggalkan masa S1 yang penuh hip hip hore. Bukan hip hip horenya yang mau saya bahas disini, tapi saya akan berpisah dengan teman-teman yang selama 4 tahun terakhir mengisi hari-hari dan berjuang bersama menghadapi dosen dan tugas-tugas kuliah. Ya, empat tahun yang lalu kami dipertemukan dan sebentar lagi akan dipisahkan. Saya akan bertahan di Solo, lalu yang lain ada yang akan kembali ke kampong halamannya, ada yang merantau entah kemana, bahkan mungkin ada yang akan menjelajah dunia. Itu berarti kami akan berpisah dan entah kapan lagi akan bertemu lagi. sebenarnya tulisan ini diilhami obrolan ringan saya dengan Reni,

“Habis lulus mau kemana Ren?”
“Kayak’e mau ke Jakarta deh, kan ibukku mau diboyong kesana. Ibukku kan bertahan disini cuma nunggu aku lulus.”
“Yah, ntar kalo aku nikah kamu gak bisa datang dong…”
“Halah…nek omahmu isih sragen yo tak parani to…”

Dari situ saya menyadari ternyata visa saya bersama-sama dengan Reni hanya 4 tahun dan itu selalu terjadi sejak dulu. Visa saya berteman dengan teman-teman SD Cuma 6 tahun, SMP 3 tahun, dan SMA 3 tahun. Setelah itu, kami dipisahkan dan masing-masing menjalani takdir dan hidupnya. Ditempat dan takdir yang baru itulah kami dipertemukan dengan orang-orang baru, belajar hal-hal baru, dan mengambil pelajaran hidup yang baru?

Jadi, kenapa kita dipisahkan?
Untuk saling mengenal, saling belajar, dan memperluas kemanfaatan. Allah menciptakan kita berbangsa-bangsa dan bersuku untuk saling mengenal . jadi perpisahan adalah gerbang untuk memasuki dunia yang baru, disana kita akan mengenal banyak orang lain dan belajar banyak hal.

Bayangkan kalau kita hanya mengenal teman sekelas untuk selamanya, pasti hidup ini akan sangat monoton, padahal dunia ini luas banget, manusia dia bumi ini banyaaaaaaaaaaaaak banget… Begitu pula ketika kita ada ditempat yang baru, tentunya aka nada semakin banyak orang yang kita temui, bila kita melakukan kebaikan disana maka akan semakin banyak manusia yang merasakan kemanfaatan dari kebaikan yang kita punya. Akan ada lebih banyak cerita, teman-teman kita yang dulu akan punya cerita yang bebeda-beda. Jika kita dipertemukan kembali, kita kan tambah ilmu pula… Dengan berpisah, kita akan memberikan hak saudara kita dan diri kita sendiri untuk berkembang…

Tapi, jangan lantas melupakan apa-apa yang sudah berakhir dan ditinggalkan. Teman-teman yang telah kita kenal adalah saudara yang harus kita jaga (silaturahimnya). Kan Allah menyukai orang-orang yang menyambung tali silaturahim… Menyambung tali silaturahim akan membuat kita semakin bersyukur, semakin meyakini cinta Allah (yang masih menjaga hubungan baik kita dengan teman-teman lama). Dan tentunya, bisa jadi tiket kita ke syurga.. (dengan niat dan aktivitas yang benar).

Jadi, mari menyambut perpisahan sebaik kita menyambut pertemuan.

Leave a comment »

Renungan Jumat Malam*

Seringkali kita menginginkan banyak hal, kita menghabiskan banyak waktu untuk mengejar mimpi-mimpi dan mewujudkan ambisi-ambisi pribadi. Ya, kita sibuk dengan urusan bagaimana kita mewujudkan semua yang kita inginkan, yang kita butuhkan. Hingga, shalat adalah aktivitas yang terkadang mengganggu proses usaha kita bahkan shalat adalah aktivitas yang dilakukan disela-sela kesibukan kita…hingga doa-doa yang kita ucapkan hanyalah hafalan yang sudah diluar kepala, disampaikan dengan tergesa-gesa dan pikiran yang kemana-mana. Lalu, pantaskah Allah melancarkan urusan kita dan memberikan kemudahan pada kita dalam setiap usaha kalau kita saja sejatinya tidak pernah mendekat dan meminta padaNya. Padahal, Dialah yang mengabulkan doa, Dialah yang memperlancar semua urusan.

Astagfirullah, betapa kita menghabiskan banyak waktu untuk bekerja mewujudkan obsesi namun lupa untuk meminta pada Dia yang maha mewujudkan obsesi itu. Setiap hari Allah datang, di waktu dhuha dan sepertiga malam terakhir…bahkan setiap detik Dia lebih dekat dengan urat leher ini. Masih pantaskah kita merasa sendiri dan meratapi kesedihan dan kesulitan. Pada waktu dhuha kita sedang semangat-semangatnya bekerja dan sepertiga malam hilang bersama letih dan lelahnya bekerja. Lalu, waktu-waktu istimewa itu berlalu dan kita merasa tidak punya kesempatan, padahal kita selalu melewatkannya secara sadar.

Mari kembalikan semuanya pada yang maha memiliki hidup dan mengatur segala yang terbaik untuk kita. Bekerjanya kita adalah sarana untuk mewujudkan tujuan kita, namun yang membuatnya terwujud adalah ridho Allah (atas terkabulnya) dengan ‘tiket’ usaha yang sungguh-sungguh.

Demikian juga bukan semangat dan impian yang tinggi yang akan membuat kita berhasil, namun terkabulnya doa-doa kita tentang keberhasilan itu. Bila kita meminta pada Allah, Dia berjanji akan mewujudkannya, tahukah? Allah tidak pernah mengingkari janjiNya… masalah sudahkah kita benar-benar meminta dan memanjatkan doa?
Mari mewujudkan hidup yang indah dan berkah dengan ibadah terbaik, kerja terbaik, do’a terbaik, dan sedekah terbaik…

Leave a comment »

DORAEMON

Ini adalah film kartun asal jepang yang menjadi favorit saya sejak kecil. Entah sejak kelas berapa SD. Sampai sekarang pun saya masih sangat mengidolakan film kartun ini, hehe. Setiap minggu pagi menu sarapannya adalah DORAEMON.

Kenapa saya suka dengan kartun ini? Alasannya karena kartun ini selalu fresh dan kreatif (pasti yang menciptakan kartun ini sangat kreatif dan mungkin saja gila karena saking kreatifnya, hehe). Bayangkan saja setiap minggu selalu ada alat baru yang diciptakan untuk membantu nobita.

Kalau dihitung-hitung entah sudah berapa macam alat yang diciptakan sejak puluhan tahun yang lalu. Sangat kreatif. Apa saja bisa menjadi inspirasi, ya memang dunia ini semuanya inspirasi.

Doraemon juga sarat makna. Seberat apapun cobaan yang dialami nobita pasti bisa diselesaikan oleh doraemon. Ini berarti selalu ada jalan dari setiap permasalahan yang kita hadapi. Masalah apapun itu pasti bisa diselesaikan dengan sedikit kreatifitas tidak harus memikirkan satu jalan keluar, karena bisa jadi ada banyak jalan yang lebih mudah dan lebih praktis. Nilai yang lain adalah persahabatan. Ada doraemon, nobita, suneo, sizuka, dan giant. Mungkin suneo dan giant selalu mengganggu nobita dan membuat masalah, tapi sebenarnya mereka adalah sahabat.
Selalu menolong dan peduli satu sama lain. Makanya yang namanya sahabat boleh juga kadang marahan atau saling iri, tapi jangan sampai merusak persahabatan itu sendiri. Nobita juga bisa mengajarkan kita sesuatu: jangan malas! Tapi kalau nobita gak males, ntar doraemon gak ada kerjaan ding ya…. Yasudahlah berarti semuanya saling melengkapi, hehe

Kadang juga doraemon membuat saya malas. Kalau lagi malas cuci piring, terbayangkan menciptakan “alat pencuci piring….” atau kalau lagi males nyapu jadi kebanyang pengen buat “penyapu otomatis…”. Kalau pusing mau ujian, andaikan ada “alat penghafal materi kuliah…”. Bahkan kalau lagi males turun buat wudhu, sempat terlintas “mesin pewudhu….”. Hmm. Pasti hidup ini akan indah. Eh, ralat. Waduuuuhh……itu sih namanya manja,kalau semuanya dikerjakan oleh robot maka manusia akan mati. Ya, karena dia tidak memelukan apa-apa, hanya tinggal diam dan semuanya tersedia, terlaksana maka disitulah manusia akan mati.

Tapi semua ide gila itu bisa jadi terwujud suatu saat nanti. Kan semua penemuan dulu juga diawali oleh ide-ide gila penemunya, lalu mereka mewujudkannya.

Pengen punya pintu kemana saja dan baling-baling bambu. Tapi… itu benar-benar mimpi, hehe… tapi esensi dari alat itu bisa kita wujudkan dengan cara yang lain. Bagaimana caranya? Dengan menjadi cendekiawan, dengan menjadi pengusaha, dengan menjadi pejabat, dengan menjadi atlet, dengan menjadi orang kaya, dan yang penting dengan menjadi pemimpi, hehe…

Leave a comment »

Tentang Ustadzah Yoyoh Yusroh

Siapakah beliau? Saya sendiri tidak mengenalnya, sebelum dapat sms bahwa beliau telah berpulang ke rahmatullah. Ya cuma itu. Entah kenapa banyak yang sedih dan kehilangan hingga saking penasarannya saya membeli buku “Yoyoh Yusroh, mutiara yang telah tiada.” Ternyata beliau adalah kader yang luar biasa, anggota DPR RI yang sederhana namun i.n.d.a.h. semoga Allah memeluknya dalam kubur dan mengasihinya di surga kelak, amin..
Berikut beberapa hal yang membuat saya speechless dari bukunya,
*suatu ketika ada kelurga non muslim yang memutuskan untuk pindah dari lingkungan ummi (panggilan Yoyoh Yusroh). Katanya, “Kalau begini terus lama-lama gue bisa pindah agama ini.”
*ummi tidak pernah memarahi khadimat dan anak-anaknya, beliau selalu mengutamakan dialog. Bahkan untuk urusan perselisihan yang Islam membolehkannya selama maksimal 3 hari, bisa selesai dalam 5 menit saja.
*ummi menginfakkan harta paling berharga dari pernikahannya, mahar 50 gram emas, untuk membantu orang yang membutuhkan
*suatu ketika salah satu anak ummi mengatakan kalau sudah besar pengen jadi anggota DPR. Kenapa? Biar bisa sering tilawah kayak ummi
*pernah ummi menjenguk akhwat yang baru melahirkan. Lalu beliau meminta ijin ke kamar mandi sebelum pulang. namun, lama sekali ummi di kamar mandi dan abi sudah hamper bosan menunggu. Setelah keluar dari kamar mandi dan ditanya abi, ummi menjawab, “tadi apa tumpukan popok yang belm dicuci, ummi cucikan dulu tadi.”
*tilawah ummi MINIMAL 3 juz perhari
*pernah ummi wudhu lama sekali di kamar mandi, tahu apa yang dilakukan ummi? Menyikat kamar mandi yang kala itu kotor sekali
*ummi diberikan anugerah sebagai warga negara kehormatan palestina dan diberikan hak untuk membeli tanah palestina berikut mendirikan rumah dan bangunan disana
*sebelum kepergiaanya, inilah sms yang dikirimkan ummi pada seorang akhwat:
“aku sedang memikirkan posisiku kelak di akhirat. Mungkinkah aku berdampingan Khadijah ummul mukminin? Atau aisyah yang hafal 3500 hadist atau ummu sulaim yang sabar atau Asma’ yang pandai menyiapkan kendaraan perang suami dan mneyiapkan putranya untuk berjihad.. ya Rabb tolong beri kekuata untuk bisa brbincang dengan mereka kelak di taman firdaus.”

Leave a comment »

Merangkai Kisah yang Terserak

# Ayah Muhammad Al Fatih, seorang raja yang tengah galau karena negerinay dirundung masalah yang tidak kunjung usai. Sang raja memutuskan untuk menyendiri ke tempat yang jauh dan memberikan tampuk kekuasaan kepada putranya yang masih belia, Muhammad Al Fatih. Lalu apa yang dikatakan Al Fatih pad ayahnya?
“Ayah, sebenarnya siapakah yang menjadi raja di negeri ini, bila ayah rajanya maka tidak sepantasnya seorang raja meninggalkan rakyatnya dalam keadaan susah, maka kembalilah. Bila aku rajanya maka aku perintahkan ayah untuk pulang sekarang.”
#Pada saat penaklukan konstatinopel oleh pasukan yang dipimpin oleh Muhammad Al faith, waktu itu jalan menuju Konstantinopel telah ditutup dan untuk mampu menembus benteng Konstantinopel beliau mempunyai strategi untuk melewati jalur bukit. Ya…. Dengan pasukan angkatan laut namun harus melewati perbukit. Apa yang dilakukan? Mengangkat semua kapal melewati bukit dengan kayu-kayu yang diberi minyak. Menyeberangkan ratusan perahu hanya dalam semalam. Memang konon katanya pasukan Muhammad al faith adalah sebaik-baik pasukan yang dipimpin oleh sebaik-baik pemimpin. Waktu itu semuanya ragu dengan strategi ini, namun karena kepatuhan pada pemimpin, para pasukan sami’na waatho’na. Dan benar, strategi itu mampu mengantarkan pasukan Islam menaklukkan benteng konstantinopel, apa kata Muhammad Al Fatih waktu itu?
“Seandainya jenggotku ini tahu strategi ini, maka akan aku potong.”
#Pada sebuah forum, ustad membukanya dengan
“Sesungguhnya bukan kekuatan materi yang membawa kita pada kemenangan, tapi kekuatan iman dan azzam kita.”
Lalu, sang ustad menyuruh semua ikhwah yang ada di forum itu untuk mengeluarkan dompetnya, dan…. ternyata keuangan ikhwah sebenarnya bisa dibilang mengenaskan, tapi tetap saja saya melihat ini tidak pernah menjadi penghalang, semangat!
#Hari ini dijendela kaca Prodi Bahasa Inggris tertulis,
“English Education Students are Students with HIGH MORALITY that will not do IMMORAL and EMBARRASING act such as PEEKING.”
Jleb, jleb, jleb. Sabar mom…. Siapapun yang membuat tulisan tersebut saya mohon maaf, semoga kami bisa menemukan cara yang lebih bermoral dan tidak memalukan, dan semoga ada fasilitasnya, hehe…. Memang membuat perubahan itu tidak mudah, tapi tidak bisa juga terlalu dipaksakan. Tetap I LOVE MY LECTURERS.
#Firasat saya akhir-akhir ini kuat,
Pertama, pagi hari saya punya firasat aka nada orang tau ayah saya yang meninggal, dan ternyata benar sorenya kabar itu datang dari Rembang,
Kedua, saya merasa ada indikasi rapat hari ini akan dibatalkan atau setidaknya tidak sukses, dan ternyata benar dengan berbagai alasan saya harus menelan kekecewaan
Ketiga, saya merasa yakin skripsi saya akan diterima, dan ternyata benar, kata-kata itu akhirnya terdengar, “Ya, kamu sudah siap ujian skripsi.”
Keempat, saya ada firasat, mawapres tahun ini bukan dari prodi saya lagi, tapi dari pendidikan fisika, dna ternyata benar…. Kalis harus mengakui keunggulan Siti meski hanya sedikit sekali selisihnya.
Ada apa dengan firasat? Adakah ini sebuah pola komunikasi Allah pada hambaNya atau apa… saya tidak tahu, yang jelas… untuk setiap firasat baik akan selalu saya jaga, untuk firasat buruk… berlindung pada Allah adalah jalan terbaik, insyaAllah..
#obrolan tentang Uprix dan Revalina…
Bj: servis si uprix habis 270 padahal cuma bawa duit 150. Terpaksa bobol ATM dan ninggal barang jaminan
Atin: dasar si uprix ngabisin uang mulu. Kayak revalina dong gak pernah nganeh-nganeh.
Bj: yo iyolah, kan sing mikir bapakmu, kw mah cuma ngerti ngrusakke
&&%%###%^
#”tertohok melihat acara face2face di metro, Kalmuller seorang ekspatriat yang berusaha membangun kembali dan menjaga budaya di Papua. Dia akhir wawancara dia mengatakan, ketika orang indo punya uang mereka akan berlibur ke BALI. Its okay masih di Indo. Lebih banyak lagi uang yang dimiliki mereka akan ke Singapore, Eropa, atau USA. Toraja dan Papua tidak pernah terlihat padahal banyak perbedaan yang bisa diperlajari. Kenali negerimu dulu jika kau ingin membangunnya. Jangan anak tirikan mereka jika masih ingin mereka jadi bagian Indonesia. Mereka belajar tentang Indonesia (Sumatea, Jawa, Kalimantan) tapi apakah indo people sudah benar2 belajar dan mengerti tentang mereka?
“Kenali negerimu dulu jika kau ingin membangunnya”
Rasanya saya lebih terkagum-kagum dengan negara-negara di Eropa dan Amerika, astagfirullah, saya punya yang lebih indah… dan itu bernama INDONESIA.
#Saya ingin pergi ke Oxford, Cambridge, Yale, Jerman, Jepang, Thailand, Australia…. Lalu ada kawan yang bertanya…
“Lha, Mekahnya mana?”
Lalu saya melihat lagi gambar-gambar dikamar saya dan proposal hidup saya. Astagfirullah, ke baitullah bukanlah impian utama saya, bahkan dikamar saya tidak ada gambar baitullahnya. Semua tentang Asia Timur, Eropa, Australia, dan Amerika (bahkan tidak ada Indonesianya). Efek kuliah di jurusan Bahasa Inggris ni, semua yang dibahas budaya, bahasa, dan cara berpikir ala Eropa, Australia, dan Amerika. Astagfirullah, mungkin inilah sumber kegagalan demi kegagalan saya karena saya tidak berangkat dari kecintaan pada Allah ditempat pertama. Astagfirullah….
#Setahun lamanya kami saling curiga dan mengganggap diri paling benar dan yang lain salah. Lepas dari itu semua saya bangga punya teman seperti dia. Tidak terbayang setiap hari dia naik sepeda dari rumahnya di Boyolali, menuju kampusnya di pabelan, dan ngantor di Kentingan. Tidak jarang dia pulang malam dan jalanan kerumahnya banjir, ketemu ular di jalan, dan sebagainya. Dia adalah pekerja keras, meski bagi kami sulit memahami dia, memahami cara berpikirnya yang jauh kedepan dan menganilisis setiap kemungkinan dengan jeli. Diluar semua kejengkelan ini saya kagum dengan kerelaannya ada diantara kami yang banyak kekurangan, kerja kerasnya mengalahkan kemalasan dan rasa lelah, kesabarannya ditolak oleh kami, ketajaman analisisnya, dan ketabahannya menjalani hidup.
Dia menyukai lagu Mocca yang bercerita mengenai kerinduan anak pada orang tuanya. Liriknya diakhiri dengan,
“Apabila ini hanya sebuah mimpi, ku selalu berharap takkan pernah terbangun…”
Lagu yang indah, tapi menjadi menyayat kalau kami mendengarkannya bersama dia…. Salah satu update statusnya di facebook..
“Bahkan sudah sedekat inipun, aku belum bisa menemuimu (ibu)”
#Kemarin dapat sms,
.navita socio: Aq ini sdg GR di audit lho….
.atin eng: Jangan katakana itu! Menyakitkan…
Lalu, bertemu dengan .ardi ind, “ Asem… navita sesuk wisuda!”
Ya, satu dari pasukan PPL SMANSA SOLO akan segera meninggalkan kampus ini dengan kebanggan. Wuaaaa….kenapa bukan saya ya? Jawabannya singkat, karena saya tidak berusaha maksimal saat navita mengerahkan semua kemampuannya jadi ya adil lah kalau navita lulus duluan. Bagaimanapun…SELAMAT ya NAVITA sayaaaaaang…. 
Hari ini dapat sms,
.navita socio :Kawan-kawan tersayangku, mengharap kedatangan kalian sebagai bingkai senyumku dalam agenda bersejarah Selebrasi Wisuda yang akan dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 2012 pukul 11.30 @auditorium UNS. Hantarkanku untuk menuju gerbang UNS, karna aku harus keluar dengan mengantongi senyum dan harap kalian sebagai bekal mengemban amanah pertiwi sebagai pendidik. Yang berbahagia, Navita Hani R.
.atin eng: Aq datangnya sebelum prosesi ya jeng…SELAMAT ya NAVITA sayaaaaaang…
Saya tidak boleh bersedih, besok akan saya akan datang sengan senyum terindah, mengantar sahabat saya menuju kehidupan yang baru dengan title S.Pd. Ini bukan sembarang title, dipundaknya tersemat harapan Indonesia. Semoga saya segera menyusul, amin….
Dulunya navita dapet pamong yang GALAK banget, sampai sudah jadi hal biasa kalau navita nangis2 setelah ngadep guru pamongnya. Namun, navita memang luar biasa, kekecewaan dan sakit hatinya dilampiaskan dengan mengerjakan skripsi. Apa motivasinya?
“Biar aku segera ngajar disini (SMA 1 Solo) sama BU MARTANTI.”
Navita, perempuan yang CANTIK luar dalam, semuanya suka padanya, dia sederhana namun luar biasa. Terima kasih ya Allah memberiku kesempatan mengenal, melewati hari-hari indah dan menyedihkan juga menjalin persahabtan dengannya, meski sebentar…aku banyak belajar dari dia. Semoga dia menjadi guru yang hebat kelak, aku juga. Amin….

1 Comment »

MENDUKUNG MAWAPRES

Masa-masa perebutan gelar bergengsi ‘Mahasiswa Berprestasi’ telah dimulai. Gendering perang pun ditabuh antar jurusan. Di fakultas saya ada 6 jurusan, P.IPS, P.MIPA, P.TK, P.IP, dan P.BS (yang terakhir ini jurusan saya tercinta, tempat berdiamnya Prodi penghuni kasta tertinggi di FKIP, Pendidikan Bahasa Inggris (karena gedungnya paling tinggi se-FKIP, hehe). Tahun ini adalah masanya 2009, ya adik-adik tingkat berlaga.
Lalu, apa hubungannya dengan saya? Saya kan 2008, sudah bukan masanya lagi, hehe… Bagi saya perebutan gelar mawapres selalu menarik perhatian. Memang saya sudah tidak menjadi peserta kompetisi ini tapi saya tetap ikut ‘bermain’. Bagaimana caranya? Menyiapkan para calon mawapres. Saya ‘kompor-kompori’ adik-adik saya di lembaga untuk bertanding (soalnya udah gak ada kuliah jadi ya mencari kesibukan, hehe). Tapi lebih dari itu, mungkin masih ada sisa-sisa kekecewaan terhadap kegagalan saya tahun kemarin (curhat), bukan kecewa karena kalahnya, tapi karena saya tidak mempunyai kesempatan untuk menunjukkan apa yang saya punya dan saya bisa. Hanya jadi penonton. Maka saya bertekad adik-adik saya harus mendapatkan pengalaman yang tidak saya dapatkan. Maka jadilah saya mengompor-ngompori mereka untuk ikut. Menang atau kalah yang penting mereka pernah merasakan atmosfer kompetisi mahasiswa berprestasi, hanya 6 orang diantara 8000an mahasiswa FKIP.
Mulailah saya merayu dik hendrik untuk ikut. Dia adalah ketua HMJ POK, dan ternyata dia bersemangat. Langsung saya follow up-i terus dengan mengikuti perkembangan persiapannya, mulai dari cv, karya tulis, sampai latihan bahasa inggris bareng sehari menjelang hari H. Lalu mengompori dik siti, dik deni untuk semangat berjuang. Sampai suatu ketika ternyata mawapres PTK tidak jatuh ke tangan Deni, kecewa. Tapi tidak berarti kami menyerah, kami selidiki juara 1 nya dan ternyata ada beberaoa hal yang memberatkan dia untuk lanjut ke babak selanjutnya, lalu entah bagaimana deni yang menjadi mawapres PTK, lega. Lalu bagaimana dengan P.IP? Saya dan Dimas sudah menggadnag-gadang 1 nama, Jumiatmoko, tapi…. ternyata takdir berkata lain, baiklah. Kebetulan 3 dari 6 finalis adalah adik-adik saya di BEM maupun di LSP, dan jauh-jauh hari saya sudah menanyakan,
“Dik, butuh bantuan apa?”
“Dik, sertifikat kegiatan apa yang belum dikasih?”
“Apa yang kurang?”
Mungkin agak aneh, gak ada urusan apa-apa tapi semangat banget menawarkan bantuan. Mungkin ini terlalu baik atau bahkan terlalu bodoh karena saya punya banyak hal lain untuk dilakukan. Entahlah, waktu itu saya hanya berpikir bagaimana bisa membantu mereka untuk bisa mempersembahkan yang terbaik, itu saja. Jadi, intinya saya tidak memihak pada satu orang, saya ingin melayani semua, melayani orang-orang yang sedang mewujudkan mimpinya, dan ternyata ini menyenangkan, sangat menyenangkan!
Akhirnya terpilihlah mahasiswa-mahasiswa terbaik FKIP angkatan 2008:
1. Siti Nurrohmah /P. Fisika
2. Kalis Mardi Asih /P. B. Inggris
3. Faqih Fauzan /P. Geografi
4. Deni Andriyansyah /P. Teknik Mesin
5. Hendrik Priyo U. /Penkepor
6. Rani Dewi P. /P. Luar Biasa
Yah, dengan begini Siti akan melancong ke Malaysia dan Thailand, tapi saya tidak iri sama sekali (berbeda dengan tahun kemarin, hehe), entah kenapa…
*Setiap orang berhak mencoba dan mengaktualisasikan dirinya dan tugas seorang guru adalah memfasilitasi proses aktualisasi ini*

Leave a comment »