Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Saya Pun Tidak Suka Jadi Pelupa (Sebuah Pembelaan)

Apakah di dunia ini ada orang yang bangga dengan kekurangannya? Saya yakin tidak ada. Yang ada adalah mereka yang menemukan jawaban kenapa dia diberi kekurangan dan kemudian dia mensyukuri kekurangannya dengan cara yang baik, yang membelajarkan orang lain, tapi dia tidak bangga, hanya dia bisa bersyukur.

Penyakit lupa saya mungkin sudah sangat akut hingga terlalu banyak barang-barang yang hilang, kunci motor, hape, laptop, dan barang-barang kecil lainnya. Apakah saya melakukannya dengan sengaja? Tidak. Apa saya bangga melakukannya? Sama sekali tidak. Apakah ada anak yang bangga menghilangkan barang-barang yang dibelikan oleh orangtuanya dengan kerja keras. Lalu kenapa saya selalu bersikap biasa dan tida panic setiap ada yang hilang? Bukan karena saya tidak khawatir dan mengikhlaskan semua pada awalnya. Saya pasti berusaha mencari dan menghubungi siapapun, hanya saja saya tidak bisa panik dalam hal-hal seperti ini. Mungkin adalah kombinasi apa yang selalu diajarkan ayah saya agar tidak panic dalam kondisi apapun dan keyakinan akan rejeki Allah. Kalau ada masalah yang terjadi,misalnya kunci motor hilang, maka solusi terbaik bukan dengan menjadi panic, tapi dicari lagi, menghubungi teman-teman yang sekiranya tahu, dan kalau benar-benar tidak ditemukan, segera panggil tukan kunci, selesai. Satu lagi, mengambil pelajaran dan berusaha tidak mengulanginya. Saya tekankan kata berusaha, karena saya hanya bisa berusaha dengan sebaik-baiknya, kalau toh masih ada yang hilang lagi itu diluar kendali saya.

Rejeki manusia tidak akan tertukar. Kalau kita sudah berusaha semaksimal mungkin meraih rejeki dan ternyata tidak bisa maka itu bukan rejeki kita, sesederhana itu. Kata kuncinya adalah berusaha semaksimal mungkin . Tidak perlu menjadi frustasi. Kalau barang-barang yang hilang itu masih rejeki saya maka pasti akan kembali. Kalau bukan, berarti itu sudah bukan rejeki saya lagi, toh semua yang kita punya bukan milik kita.

Jadi, apakah saya sudah bisa menemukan sisi baik dari kekurangan saya ini? Entahlah, mungkin ini bisa jadi hikmah bagi yang lain –walau lebih sering merepotkan yang lain- atau saya menjadi lading amal bagi mereka yang membantu saya, menjadi penyebab datangnya pahala dengan membantu saya, hehe

Saya pun tidak suka menjadi pelupa, tapi saya lebih tidak suka menjadi panic dan frustasi.

Advertisements
2 Comments »

Dari Malang ke Jogja, sebuah keputusan berat yang harus diambil

Perjuangan mendapatkan beasiswa unggulan dikti memang tidak semudah membalik telapak tangan. Khususnya bagi saya. Rasanya banyak halangan yang menghadang (yang biasanya disebabkan kondisi saya yang sedang jauh dari takwa dan kurang sedekah, astagfirullah, tapi semoga kali ini bukan). Baiklah, untuk mengawali cerita ini, mari memulai dengan apa itu beasiswa unggulan dikti? Beasiswa unggulan dikti adalah beasisw yang diberikan kepada calon dosen dan tenaga kependidikan. Nantinya mereka akan dibiayai kuliah hingga lulus di universitas pilihan masing-masing (tapi hanya ada 12 univ yang ditunjuk tahun ini). Prosesnya setiap orang harus mempunyai surat rekomendasi dari prodi, jurusan, fakultas, dan rector atau pembantu rector 1. Selain itu juga harus mendaftar di univ tujuan dan tentunya mendaftar secara online ke kemdikbud. Dan tujuan saya adalah Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Malang yang kata Pak Gun, the best English education department in south east asia. Untuk kesini saya mendapatkan dukungan penuh dari dosen-dosen saya dan pak PD3 turut mendukung. Maka dari itu, saya sangat antusias.

Semua syarat pengajuan dikti sudah di tangan tapi syarat ke universitas tujuan belum lengkap. Apa itu? Ijasah. Maklum saja saya baru lulus maret kemarin dan ijasah baru akan diberikan bulan juni saat wisuda nanti. Sebenarnya bisa percepatan tapi pak dekan, pak rector tidak bisa dipercepat tandangannya. Berkali-kali saya mengecek ke pendidikan pusat sampai pekewuh. Inilah perjuangan, tidak perlu sungkan. Tapi takdir berkata lain

Selasa, 8 Mei 2012 antara menjadi idealis dan realistis. Tetap di malang dengan pertaruhan gagal mendaftar dan harus mencoba tahun depan (it means menunda kuliah setahun) atau pindah ke universitas lain yang membolehkan SKL dan transkrip sementara. Sebuah keputusan yang sebenarnya tidak saya pikirkan dengan matang, tapi hati saya mengatakan itu. Ke UGM. Kenapa UGM? Sebenarnya lebih linier ke UNY tapi ujiannya tanggal 20 Mei, nikahan mbak hening (mengingat kegagalan ke Vietnam karena ini, saya tidak mau memupus harapan untuk kedua kali). Apa yang diambil di UGM? Bismilah, Ilmu Linguistik. Apa itu? Saya sendiri tidak begitu paham  Tapi saya adalah mahasiswa yang tekun, serius, dan pembelajar yang cepat (kata dosen saya, hehe), jadi….man jadda wajada. Sebenarnya dosen saya agak kecewa dengan pilihan saya, tapi apa boleh buat, saya hanya bisa berdoa semoga ini yang terbaik.

UGM menutup pendaftaran 10 Mei, sedangkan saya belum punya rekomendasi kesana. Alhasil seharian saya mengurus rekomendasi kesana kemari. Singkat cerita, pak iwan yang baik sangat kooperatif, pak PR1 juga sangat baik dan berkas saya dijanjikan selesai besok, 9 Mei, sehari sebelum penutupan.

Tantangan belum usai. Syarifah, teman seperjuangan saya, mengatakan bahwa SKL formatnya beda dengan SK yudisium jadi harus ngurus lagi. Apa??? Padahal pak PD 1 sedang keluar kota. Entah kapan kembalinya, dan 10 Mei semua harus sudah sampai di jogja.

9 Mei 2012
Ya Allah, telah aku genapkan usaha terbaikku, hari ini adalah bagianmu.

06.00 berangkat ke kampus dari rumah
07.00 bertemu kaprodi untuk minta rekomendasi
08.00 ke bank BNI membayar pendaftaran S2 UGM
08.30 mengambil rekomendasi ke PD 1
09.00 mendatfar online didampingi Dinda dan Ridwan
09.30 mengantar SKL ke fakultas, minta rekomendasi
10.00 mengambil SK rector
11.00 ngeprint ubarampe ketempat reni
12.00 mengurus syarat2 yang lain
12.30 ngisi AAI dengan tanpa persiapan
————-menyadari ada yang hilang, HANDPHONE——————–tapi tidak ada waktu memikirkan itu, entah kenapa saya sangat mengesampingkan hilangnya HP yang sekarang amat saya sesali——————————–
13.00 ngambil SKL dan janjian dengan dosen yang akan memberi rekomendasi dan ternyata dosen saya sudah pulang 
14.00 berangkat ke jogja
15.00 sampai di joga, muter-muter UGM yang luasnya minta ampun
16.30 kembali ke solo dengan perasaan lega dan galau karena HP ilang
17.30 sampai di solo
18.30 menggalau bersama reni
19.30 buka fb di warnet, ngabari hilangnya hape saya ke teman2 yang sekiranya terdholimi karena hape saya ilang
20.00 ngurus kartu hilang
——————————menenggelamkan diri dalam kelelahan perjuangan 2 hari———————————

Sungguh Allah member banyak kemudahan hari ini, walau lagi-lagi saya harus introspeksi. Itulah gunanya hidup.

Leave a comment »

CELAH KEBAHAGIAAN

Dalam keadaan sesulit apapun selalu akan ada celah-celah yang begitu banyak untuk membuat keadaan yang sulit menjadi indah dan penuh kesyukuran. Salah satu contoh yang sering dikatakan adalah sakit. Sakit adalah keadaan yang sangat tidak menyenangkan, tapi lihatlah bagaimana agama yang mulia ini memberikan ketentraman bagi mereka yang sakit: dosa-dosa berguguran. Inilah celah kesyukuran yang begitu besar. Dan lagi, sakit yang kita derita pastinya lebih ringan dari yang diderita orang lain diluar sana yang tak mampu bernafas sendiri atau bahkan antara hidup dan mati. Lalu, dalam kesakitan Allah masih memberikan nikmatnya melalui pelayanan dan perawatan dari keluarga, teman-teman sekitar, dan banyak lagi, udara, aliran sarah, degup jantung, hingga rahmat terbesarnya, beriman padaNya.

Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan hambaNya untuk berjuang sendiri. Dalam satu ujian Allah membersamainya dengan dua bahkan lebih kemudahan. Tergantung bagaimana kemudian pikiran-pikiran kita mampu menangkap dan melihat kemudahan-kemudahan itu. Seringkali manusia terkubur dalam penderitaannya dan tidak menyadari bagaimana kehidupan begitu indah dan baik padanya. Selalulah melihat dengan cakrawala yang lebih luas.

Setiap kesulitan, ujian, kegagalan adalah sarana yang diberikan Allah agar kita belajar. Mana yang baik dan buruk, yang lebih efektif dan sia-sia, yang lebih sulit atau mudah, siapa yang bisa dan tidak bisa dipercaya, dan banyak lagi. Hidup ini ibarat sekolah. Pada awalnya kita tidak mengerti tentang penjumlahan, lalu kita mendapat teori tentangnya.

Tak cukup dengan teori kita harus mengerjakan soal-soal yang mudah hingga sulit untuk bisa lulus dari materi penjumlahan. Begitupun kita sering mendapata teori tentang kesabaran, berpikir positif, dan ikhlas tapi kita tidak akan benar-benar tahu hingga kita mengalami dan mengaplikasinnya.

Maka setiap kesulitan itu adalah jalan menuju diri kita yang baru, bertambah kedewasaan, kematangan berpikir, kepercayaan pada Tuhan dan diri sendiri adalah nikmat yang harus disyukuri.

Jangan lagi kita melihat rintangan dan masalah sebagai penghambat diri kita berkembang melainkan itu semua adalah sarana kita untuk benar-benar berkembang.
Allah tidak pernah meninggalkan hambaNya sendiri.

Leave a comment »

5 MENIT SAJA

Janjian dengan keluarga BEM Berkarya adalah suatu saat yang dinanti. Tidak ada yang special, hanya bertemu, makan dan bercerita kesana kemari. Tapi kali ini ada yang berbeda. Untuk pertama kalinya saya dimarahi oleh teman-teman karena telat 5 menit. Subhanallah hari itu mereka semua (angkatan 2008) datang sebelum waktu yang disepakati, aneh bin ajaib. Alhamdulillah, akhirnya mereka semua membayar waktu-waktu saya menunggu mereka selama setahun bersama, hahaha… andaikan kejadian tepat waktu ini berjalan sejak lama pasti saya akan sangat bahagia dan bangga! (5 menit mungkin bukan perkara besar bagi sebagian orang, tapi bisa menjadi sangat berarti bagi orang lain. Maka mari menjadi orang yang menghargai waktu. Hal sesepele 5 menit bisa saja menjadi pengurang amal kebaikan kita kelak di akhirat)

Sementara 2008 sudah bersiap, ternyata 2007 masih dengan kebiasaannya. Makanan hampir habis dan mereka baru satu per satu menunjukkan batang hidungnya. Huznudzannya mereka sedang melakukan hal-hal yang lebih penting daripada janjian siang itu, misalnya seperti yang diungkapkan mas wicak: tidur siang.

Baiklah, entah kenapa saya ingin membingkai kebersamaan yang jarang-jarang ini dengan foto bersama. Dan ternyata ide saya disetujui yang lain.

Foto-foto kali ini akan menjadi kenangan indah dan masterpiece bukti kebersamaan dan kekeluargaan kami, hehe… Jadilah gerbang UNS dan rektorat pilihan utama tempat berpose ria…

Meski diawali dengan muka cemberut teman2 karena keterlambatan saya 5 menit tadi, acara kumpul2 ditutup dengan bahagia oleh mbak asti, mas wicak, dan mas wachid dengan kata-kata bijaknya yang menyejukkan. Terima kasih, aku bangga pernah bersama kalian semua…

Leave a comment »

PURA-PURA

Sampai kapan aku harus berpura-pura dengan keceriaan dan penerimaan ini?
Memaksakan senyum dan pikiran-pikiran gila sekedar untuk bisa mengajakmu bicara
Katamu kita sudah cukup dewasa, tapi rasanya kata dewasa terlalu tabu untuk dibicarakan denganmu
Aku tidak peka dengan kamu yang lembut hati dan perasa
Saat kamu tampil biasa maka bagiku tak ada yang perlu dianggap luar biasa,
Nyatanya selalu ada sesuatu luar biasa menyeruap dibalik sikapmu yang biasa
Terlalu sensitive.
Aku ingin membingkai ini dengan jujur, dengan pemahaman yang setara
Selalu kamu akan menjadi lebih paham dan aku tak tahu apa-apa
Setiap tingkahku yang tak biasa menurutmu
Lantas menjadi masalah besar diluar sana, dan mereka berspekulasi tentang aku.
Kenapa bukan antara kita saja?
Bagaimana bisa menjernihkan kolam dirumahmu dengan hanya mengatakannya pada orang banyak
Aku ingin mengatakan ini tidak adil,
Tapi kamu selalu lebih dulu menempatkan diri sebagai yang tersakiti,
Lalu, akulah yang selalu jahat dan membuat sensasi.
Bukan aku berusaha membencimu, aku hanya ingin kita sama paham harus bagaimana menjadi dewasa itu karena entah aku atau kamu yang sebenarnya tidak pernah jadi dewasa.

Leave a comment »

SECUIL KISAH INDAH , BEM BERKARYA

Tahun 2010 adalah tahun yang amat berkesan bagi saya, salah satunya keterlibatan saya di BEM FKIP UNS sebagai kepala divisi informasi dan komunikasi. Jabatan yang biasa saja tapi menjadi berat ketika saya ditinggal pergi selama-lamanya oleh menteri saya, menghadap Rabbnya dalam keabadian.

Bukan itu yang ingin saya ceritakan, tapi keluarga saya disana yang mengajari saya banyak hal tentang hidup dan sesuatu bernama politik hingga indah (dan beratnya) kata dakwah.

Memang, kami tak selalu harmonis. Presiden kami kala itu, mas wachid yahya yang juga menjabat sebagai sekjend imakipsi (kumpulan mahasiswa FKIP se Indonesia gitu lah), beliau sering sekali jalan-jalan, tugas dinas katanya. Hal itu membuat kami yang bertahan di solo sering dilanda kegalauan.

Selain presiden yang agak aneh, saya juga mempunyai kakak-kakak yang baik. Ada mbak asti (yang lebay dalam ketegansannya), mbak riris (diam tapi cekatan), mbak woro (slow but sure orangnya, gaul punya), mas wicak (didepannya saya pernah nangis2 gara-gara stress mikir buletin). Ada juga teman2 saya yang lucu dan imut. Ada arip, galih, umam, ardi, cipto, anwary, aziz, pak sur, TM, sari, afifah, hencil, muti, ela, nise, dan dian yang tergabung dalam beberapa geng, contohnya geng geblek dang eng umplek2. Bersama mereka saya belajar banyak hal. Tentunya bukan hanya hal-hal indah yang tercipta. Berkali-kali saya dibuat kecewa dan putus asa (mungkin itu juga yang saya lakukan pada mereka, hehe).

Satu tahun memang bukan waktu yang cukup lama untuk bisa saling mengenal. Saya mungkin belum mengenal mereka dengan baik, tapi saya mencintai mereka dengan baik. Sekarang kami sudah berbeda-beda amanah,namun selalu ada kerinduan untuk mengenang masa lalu dan sekedar bercerita tentang keadaan sekarang. Biasanya sambil makan-makan dan ngumpul dimana. Dan selalu saya yang jadi PJ menghubungi, menentukan tempat, hingga sering kali membayari. Untuk yang terakhir ini bukan berarti saya paling kaya, lebih tepatnya saya yang dikorbankan. Sering teman2 bilang mau mensubsidi atau bahkan mentraktir. Buktinya? Omong kosong, dan akhirnya saya harus merelakan atm bobol atau gaji ngelesi musnah seketika. Rasanya ingin marah, tapi melihat kebersamaan yanag tercipta dan indahnya kebersamaan saya selalu menemukan alas an untuk tidak marah, semoga begitu adanya…

Sekarang saya menyadari, kini teman2 saya sudah menjadi orang2 hebat. Mereka menjadi seseorang dan melakukan hal-hal besar sesuai kapasitasnya. Meski mungkin saya tidak berkontribusi dalam proses perkembangan mereka, tapi saya bangga pernah bersama mereka, belajara tentang hidup bersama mereka.

Raga kita mungkin tak lagi bersama. Pikiran tentang keluarga kecil bem berkarya boleh saja tertimbun dengan urusan-urusan lainnya, tapi akan saya pastikan selalu ada alasan untuk kembali saling menyapa dan berbagi cerita. Kalau Allah adalah muaranya, maka ukhuwah ini akan senantiasa terjaga…

Leave a comment »