Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Kamilku yang Hebat

Terima kasih yaa Nak sudah lama bersabar dengan kami. Hari ini insyaAllah kita akan mulai perjalanan baru hingga 9 bulan ke depan.. mungkin akan sedikit melelahkan tapi umi tau kamu lebih kuat dari yang umi bayangkan. Mari kita lewati hari-hari mendatang bersama dengan penuh syukur atas setiap denyut dan hela nafas..

Sayangku, ini pun akan berlalu, sambil kita terus merantai mimpi menjadikanmu pemimpin bagi umat ini di masa yang akan datang 🙂

Mari berbahagia dengan semua ini, sayangku yang hebat..

Di luar sana, banyak yang tak seberuntung kita sayangku, jadi kita lewati bersama ya.. Sambil terus berdoa kepada Allah untuk hari-hari yang selalu lebih baik.. Umi ingin selalu memelukmu. Memberimu ketenangan dan melihatmu tumbuh dan berkembang.

Sayangku, ini pun akan berlalu.. Umi bersamamu.. Love sayangku yang hebat.

Advertisements
Leave a comment »

(Masih) Rindu

Aku rindu.
Aku masih menjalani kerinduan ini dengan berusaha melapangkan hati.
Esok atau lusa smg sudah reda, dan sudah aku temukan hikmahnya..

Bila rindu ini yg harus aku bayar untuk bisa mencintaimu seutuhnya, akan aku bayar sampai tak bersisa. Jika sakitnya rindu ini menjadi penggugur dosa, maka akan aku tunaikan hingga gugur semuanya. Dan kelak kita bertemu, kita telah menjadi jiwa yang baru. Jiwa yang lulus menahan nafsu, menahan perasaan yang belum halal untuk dirasa.

Bilakah kamu merasakan yang sama? Ataukah kamu terlalu sibuk dengan semua rutinitasmu yg menyenangkan? Ataukah itu semua hanya alasan untuk melupakan rindumu? Aku disini dan kamu disana tanpa saling tau sedang apa, tanpa saling peduli yang dirasa..

Tak apa, malam nanti kutemui kamu dalam doa, semoga kamu juga sedang terjaga dan melantunkan doa yang sama 🙂

Leave a comment »

Aku Bagimu

Akan aku terima, dimana kelak aku dihatimu
Mencintaimu seutuhnya telah aku tekadkan, dan akan aku tunaikan setuntasnya
Mendampingimu, melayani, menjaga, mencintai

Akan aku terima, dimana kelak aku di hatimu
Telah kita sepakati bahwa Allahlah yang mempertemukan kita, Allah adalah tujuan kita
Maka selamanya Dialah tertinggi di hati kita, harga mati yang tidak terganti.. bila ada Allah disana, maka RasulNya adalah cinta kita selanjutnya..

Akan aku terima, dimana kelak aku dihatimu
Aku seseorang yang baru setahun terakhir kamu sadari kehadirannya di bumi, tak akan pernah pantas menggantikan mulianya ibu dan bapakmu di hatimu
Aku akan memuliakan mereka sepertimu
Sebagai syukurku bahwa mereka telah mendidikmu sebaik ini dan mengijinkan seseorang yang baru dikenal ini mendampingimu, anaknya yang dijaga sejak bertahun lamanya

Akan aku terima, dimana kelak aku dihatimu
Dakwah, jalan yang kita tapaki, jalan yang mempertemukan kita. Hadirku harus menjadi katalis semakin hebatnya dakwahmu
Telah aku siapkan, terjaga hingga malam menunggumu pulang syuro atau halaqoh
Juga menjaga kehormatan dan hartamu selama berhari2 kamu mukhoyam
Menyediakan tempat dan suguhan ketika kamu menggelar taman2 surga di rumah kita
Dan tugas2 dakwah yang lain.. aku akan ada disana, menjadi benteng terakhirmu, yang membuatmu tenang dalam tugas dakwahmu

Leave a comment »

Rumah

Apa kabarmu hari ini?
Kamu bilang, tak boleh tampak lelah, meski sangat lelah. Maka biarkan aku melihat lelahmu.. lalu menjadi rumah yang nyaman untuk istirahatmu. Ijinkan aku mengurai gurat-gurat lelahmu, dengan sebisaku, agar esok matahariku kembali bersinar cerah di matamu..

Aku ingin menjadi rumahmu yang nyaman, rumahmu yang aman, rumah dimana kita menemukan cinta setiap saat, yang menguatkan kembali genggaman tangan yang mengendur karena aktivitas kita di luar. Menjadi rumah.. yang kita hadirkan surga di dalamnya..

Leave a comment »

Terabai

Aku tidak pernah lupa, tidak pernah mengabaikanmu, tidak pernah meninggalkanmu. Hanya, aku tidak perlu mengumumkannya supaya sering aku lakukan, tapi aku 2 pernah lupa dimana menaruhmu. Aku juga tidak pernah mengabaikanmu.. apalagi meninggalkanmu.. kita selalu bersama, apa yg aku rasa juga kamu rasa.. karena kamu disini, di hatiku 🙂

Leave a comment »

Alasan

Leave a comment »

Ada Rejeki Lain yang Lebih Berkah

Ceritanya beberapa waktu yang lalu English Solution dihubungi oleh salah satu bakal calon customer, anak SMA. Kirain mau les, ternyata dia minta tolong dikerjakan tugas bahasa Inggrisnya… %@+#-#-+@

Tugasnya apa? Membuat surat lamaran kerja dalam bahasa Inggris. ya Allah di google ada contohnya tak terhingga. Tarifnya berapa? Saya samakan dgn abstrak, 30rb. Dia mau.

Tapiii… hati saya sudah teriak2 sedari awal buat nolak itu. Walopun itu mudah sekali gak sampai 10 menit kayaknya sudah jadi sekalian ngirim ke emailnya. Tapi mau ditaruh dimana muka ini? Guru kok ngajari murid tidak bertanggung jawab.

Jadi, saya bilang (dgn bahasa serupa tapi tak sama)… Dik, saya bisa mengerjakan itu tapi saya tidak mau. Itu tugas kamu, kerjakanlah sendiri. Kalau perlu saya bantu. Buka google lah usaha dulu.. Dia setuju.

Malamnya dia kirim versi dia via wasap, sy edit dan sy lengkapi. Selesai.

Alhamdulillah saya tidak tergoda dengan 30ribu yang sangat sedikit sekali jumlahnya dibanding mengambil kesempatan si adik buat belajar.

Apa intinya? Jangan mengambil hal orang lain untuk belajar. Dengan tugas itu, kalau si adik mengerjakan sendiri dia akan belajar. Tapi kalau english solution yang mengerjakan dia akan kehilangan kesempatan belajarnya walopun nilainya bagus tapi isinya nol. Jangan mengandalkan jalan pintas tapi menyesatkan. Namanya belajar itu emang susah, tapi akan lebih menderita kalau kita tidak tau apa-apa.

Sekian.

Leave a comment »

Pengingat itu…

13087770_10201761390233751_8301799706776961012_n

Namanya Wafa. Dialah yang Allah anugerahkan untuk kami, buah cinta kami, pengingat bagi kami, cahaya mata dan hati kami.

Saat ini Wafa sudah hampir 18 bulan. Tak terasa. Wafa yang dulu hanya bisa kedip-kedip sekarang sudah bisa berlari, acting jatuh, makan sendiri, dan lain-lain. Terkadang saya tidak sabar mengajarinya, tapi itulah anak kecil. Sesungguhnya dia mengajari kami banyak hal. Dia mengajari kami sabar dengan kesalahan-kesalahan yang dilakukannya (karena dia belum mengerti, atau belum sempurna melakukan sesuatu). Dia mengajari kami berbahagia. Sedih, lelah, dan cemas seketika hilang saat melihat senyumnya yang tulus. Wafa juga mengajari kami bangun pagi dengan tangisannya.

Ah, Wafa. Rasanya tidak sanggup saya menuliskan semua tentangnya.Dia adalah anugerah. Dan, dia adalah amanah. Kelak kami harus bertanggungjawab bagaimana kami mendidiknya.Kelak dimasa dimana wafa tumbuh besar pasti dunia sudah jauh berubah.Teknologi informasi entah sudah sejauh apa, pergaulan entah sudah sebebas apa. Aqidah, itulah yang harus kami kuatkan sejak sekarang.

Mendidik anak-anak yang shalih bukanlah pekerjaan semealam jadi. Ia jauh dimulai dari bagaimana orangtuanya mendidik dirinya sendiri. Allah akan menjaga anak keturunan dari orang shalih.Anak adalah peniru ulung, bila contoh yang ada dalam rumahnya baik, maka InsyaAllah baik pula dirinya.

Wafa adalah pengingat bagi kami. Untuk senantiasa memberinya pendidikan terbaik, untuk senantiasa menjadikan kami orangtua yang baik.

Semoga Allah menjaga kami dan keturunan kami, menjadikannya pembela agama Islam, memahamkannya dalam agama, dan selamat akidahnya. Aamiin

Leave a comment »

Live Your Life

Lama sekali tidak menulis 🙂

Banyak hal yang terjadi selama kurang lebih 2 tahun ini. And I just wrote two writings on this blog. So sad.

Allah knows everything best for me.I do believe it.Sungguh luar biasa kehidupan yang Allah berikan. Dan kabar baiknya lagi kita hanya akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita punya, apa yang kita lakukan.

Banyak orang ingin pekerjaan A, sehingga ketika itu tidak diraihnya dia sibuk mendengki dan tidak mensyukuri apa yang dimilikinya kini. Katakanlah dia menjadi seorang ibu rumah tangga. Kelak dia akan bertanggungjawab atas perannya sebagai ibu rumah tangga, bukan kenapa tidak mampu menjadi A, atau kesalahan orang-orang yang berprofesi sebagai A. Indahnya, bila memang Allah memilihkan jalan sebagai ibu rumah tangga, maka itulah jalan ke surga yang Allah pilihkan. Indahnya, mendidik wanita adalah sama dengan mendidik generasi. Maka lahirlah generasi-generasi yang kuat dari tangan para ibu yang ikhlas menjalani perannya.

Bila suatu ketika Allah mengijinkan kita menjadi A, sesuai yang kita inginkan. Maka selain sebagai ibu, kita pun akan dimintai pertanggungjawaban sebagai A. Namun, ladang amal kitapun menjadi lebih luas. Sangat bisa jadi, seseorang yang berprofesi sebagai A sangat merindukan indahnya kebersamaan dengan anaknya sepanjang hari, mendampingi setiap perkembangannya, dan mendidiknya sendiri. Dia pun rindu menjadi istri yang selalu ada untuk suaminya, ketika berangkat atau pulang bekerja.

Aduhai, peran apapun yang kita punya sekarang, bisa jadi itulah yang Allah pilihkan sebagai ladang amal kita.Hidupilah peran apapun sebaik-baiknya.

Alhamdulillah..

Leave a comment »

Sakitnya Luar Biasa, Nikmatnya Tak Terkira

“Nek lahiran mbur koyo wong ameh pup, jenenge ora surga di telapak kaki ibu”1,kata teman karib saya ketika saya bercerita tentang pengalaman melahirkan. Kebetulan teman saya ini sedang menghitung hari menuju HPL.
“Pokoknya siap-siap aja Mbak..persiapkan diri untuk merasakan sakit yang luar biasa. Orang-orang bilang sakitnya kayak orang mau pup, ternyata itu bohong… iya awal-awalnya rasanya mules kayak mau pup, lama-lama… luar biasaaaaaahh. Tapi setelah itu.. MasyaAllah..plooooong.. cuma bisa bersyukur dan bersyukur…” cerita saya kepadanya.
***
Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan dalam proses melahirkan anak pertama saya, Wafa. Bayi perempuan menik-menik2 yang beratnya waktu itu 2.4 kg saja.Tapi tangisannya luar biasaaa.Karena tampak sehat wafa tidak diinkubator, soalnya gak ada inkubator juga.Saya melahirkan di Rumah Bersalin milik seorang bidan senior.Dulunya ibu mertua juga melahirkan anak ketiganya di sini.Sekarang adik ipar saya itu sudah kelas 2 SMA. Kebayang kan betapa seniornya bu bidan ini.
Saat itu kami mengungsi ke rumah mertua untuk persiapan lahiran karena jaraknya dekat dengan rumah bersalin.Semua perlengkapan sudah disiapkan, tinggal berangkat kalau sudah mules.Karena bapak dan ibu mertua saya sedang melaksanakan ibadah haji waktu itu, tinggallah kami berdua pasangan muda unyu-unyu, adik ipar laki-laki, dan budhe yang sudah sepuh yang sehari-hari menemani adik ipar selama bapak dan ibu mertua berhaji.
5 Oktober 2015, sehari sebelum HPL, saya sudah menanti-nanti datangnya tanda-tanda, namun yang dinanti tak kunjung datang.Ibu saya selalu menanyakan sudah ada tanda-tanda mau lahiran atau belum.Cerita ibu saya, beliau sudah menyiapkan perlengkapan untuk menemani saya kalau sewaktu-waktu mendapat kabar mau melahirkan.MasyaAllah, ibu itu seseorang banget yah.Di banyak kesempatan setelah saya menikah, saya semakin mencintai ibu saya.Beliau rela pulang pergi sejauh 40 km untuk menginap di rumah saya sekedar menemani kalau suami jaga malam. Sering beliau mengendarai sepeda motor sendiri melewati jalan Solo-Sragen yang ramai dan padat, padahal usianya tak lagi muda dan tak terlalu lincah mengendarai sepeda motor. Begitulah seorang ibu, apapun dilakukan demi anaknya. Barangkali dan pasti hal-hal seperti itu yang kelak akan saya lakukan untuk anak-anak saya. Dan proses melahirkan ini adalah salah satunya.
Sementara itu, ibu mertua juga tak kalah sering menanyakan kabar.Dari tanah suci, ibu berpesan kepada saya supaya sabar. Saya pun bertanya-tanya, kenapa pesannya itu ya? Saya mengira ibu akan memberikan banyak wejangan ini itu. Ternyata hanya satu kata, sabar.“Bapak karo ibuk ning kene dongakne terus, mugo-mugo diparingi gampang.”3
***
6 Oktober 2014.Inilah hari yang saya tunggu-tunggu untuk menjalankan tugas mulai sebagai ibu, HPL.Saya memulai hari dengan penuh semangat.Setelah shalat, saya dan budhe jalan-jalan.Sesekali budhe bercerita mengenai pengalamannya melahirkan 6 anaknya tanpa dibantu bidan, hanya dibantu dukun beranak.Budhe bercerita dengan santainya seakan-akan melahirkan adalah hal yang biasa, dan barangkali memang demikian halnya.Jadilah saya makin yakin bahwa melahirkan itu tidak sulit.Namun ada kekhawatiran karena sebelum-sebelumnya posisi Wafa belum ‘mapan’. Wafa baru mapan di lintasan luncur (kepala di bawah) waktu usia 37 minggu, sebelumnya sejak usia 28 minggu posisinya melintang-sungsang-oblique. Jadilah saya rajin bersujud setiap waktu dan alhamdulillah berhasil me’mapan’kan Wafa pada tempatnya.
Sore harinya, kami memutuskan ke dokter.Hasil pemeriksaan menunjukkan kehamilan saya masih oke-oke saja dan bisa ditunggu sampai seminggu kemudian.Kata dokter, kalau H+7 belum lahir akan dilakukan tindakan, entah induksi atau operasi. No no no, menurut cerita induksi itu lebih sakit daripada kontraksi alami dan saya takut kalau harus dioperasi (efek nonton video operasi sesar di youtube T.T ). Alhamdulillah tidak ada penghalang untuk melahirkan normal, tinggal menunggu waktu saja dan kehendak Allah.Hari, tanggal, dan jam kelahiran anak kita sudah ditetapkan, kita hanya perlu pasrah dan khuznudzan.
Setiap pagi berangkat kuliah, suami saya selalu berpesan kepada Wafa yang masih di dalam perut, “Dek, lahirnya pas abi di rumah yaa…”.Suami saya seorang dokter yang sedang mengambil S2 di Yogyakarta.Setiap hari berangkat subuh dan pulang magrib kadang isyak.Sabtu pagi-Ahad malam suami bekerja di sebuah klinik di Wonogiri.Hanya bisa berharap semoga mules-mules dan lahirannya pas suami ada di rumah. Saya membayangkan Wafa manggut-manggut di dalam perut saya,
8 Oktober 2014.Seharian itu saya memeras keringat untuk mencuci manual, menjemur, ngepel ala inem seluruh ruang, dan jalan-jalan di treadmill.Berharap si Wafa segera keluar.Rabu petang, masih di hari yang sama. Saya dan suami memutuskan ke bidan.Disana saya diminta untuk ke sebuah ruangan untuk pemeriksaan dalam.Apa itu? Suami saya belum pernah cerita istilah pemeriksaan dalam (atau mungkin saya yang lupa hehe).Ternyata pemeriksaan dalam itu sakit, saya meringis dan malu.Bu bidan cuma bilang, “Santai wae Mbak, nek santai ndak sakit.”4. Belum bukaan tapi sudah tipis”, lanjutnya. Entah apa yang sudah tipis, tapi suami saya manggut-manggut, saya ikut manggut-manggut saja. Kunjungan kami di bidan diakhiri dengan komentar bu bidan, “Paling engko bengi”5.Baiklah, lampu kuning. Saya bahagia sekaligus was-was.
Rabu malam bakda isyak.Kebetulan saat itu di rumah sedang ada halaqoh suami saya.Saya masih wara-wiri menyiapkan suguhan.Menjelang pukul 9 malam saya merasakan mulas.Masih biasa.Saya belum merasa kalau itu tanda lahiran.Saya masih terus beraktivitas.Sampai pukul 11 rasanya makin mulas.Saya mulai tidak tenang mondar-mandir kesana kemari, duduk, berdiri, jalan, tiduran, miring, pokoknya mencari posisi yang nyaman. Saya mulai mual dan memuntahkan apa saja yang saya makan. Adik ipar saya cengar-cengir melihat tingkat saya waktu itu, “Lha meh lahir kuwi Mbak.”6
Sementara itu suami saya berkali-kali mengajak untuk ke bidan.Saya bilang kalau saya masih kuat.Pukul 01.30 saya sudah makin kesakitan.Suami saya langsung membawa saya ke bidan.Sementara itu, adik dan budhe masih terlelap.Sampai di rumah bersalin, dicek bukaan, kata bu bidan bukaan 1.Saya dan suami diminta menginap di klinik saja.Rasa mulas itu makin sakit.Suami saya berkali-kali menenangkan, meminta saya tidur menghemat tenaga.Tidak bisa, kecuali tertidur setiap rasa mulas itu reda beberapa saat.Saya sudah tidak bisa makan dan minum apa-apa, semua dimuntahkan lagi.
Pukul 02.30 saya merasakan ada letupan di dalam perut ‘plukk’, lalu syuuuuur… ada cairan yang keluar dari jalan lahir tanpa biasa dikendalikan. Suami mengecek, “Ketuban, Dik.”Ternyata begini rasanya pecah ketuban. Bu Bidan, bukaan 2. Sejak itu saya pindah ke ruang bersalin dengan kostum bersalin lengkap.Saya menyadari bahwa sebentar lagi saya akan melewati perjalanan itu, sebuah perjalanan yang sebanding dengan jihad. Ada rasa khawatir dan takut, tapi saya berusaha menguatkan diri.Ya Allah, hamba ikhlas.Saya merasa perlu menghubungi ibu.Saya ingin ditemani dan didoakan oleh ibu.Ya, ibu.Saya meminta suami untuk menghubungi kedua ibu kami, meminta doa. Ibu saya langsung bersiap menuju Solo.Sementara itu, bapak dan ibu mertua langsung menuju masjid untuk mendoakan kemudahan bagi saya.
***
Pukul 03.00.Allahu akbar. Rasa mulas itu makin menjadi.Saya makin gelisah. Saya bertanya ke bidan jaga,
“Mbak, ini lahirnya masih lama?”
“Baru bukaan 3 Mbak.”
“Tiap bukaan jaraknya berapa?”
“Kalau anak pertama sekitar 1-2 jam Mbak”
Allahu akbar, saya berhitung saat itu baru pukul 3 dan artinya kalau sesuai teori saya baru akan lahiran sekitar setengah hari lagi. Masa-masa seperti ini rawan stress sekali, beruntung suami selalu memberi semnagat.
“Ada anti nyeri gak sih Mbak, biar sakitnya berkurang?” pertanyaan ‘aneh’ yang saya lontarkan sambil meringis kesakitan.
“Gak ada Mbak, makin sakit makin bagus, tandanya makin dekat ke lahiran”
Saya pasrah.Waktu terus berjalan dan rasa sakit itu makin dahsyat.Rasanya saya pengen bilang ‘PAUSE!’ waktu kontraksi datang, biar saya bila mengatur nafas dan rasa sakit.Saya meremas tangan suami, menarik rambut, dan entah apa lagi. Berkali-kali suami mengingatkan untuk berdzikir.
Adzan subuh berkumandang.Suami saya pamit ke masjid.Awalnya saya mencegah, saya takut sendirian di ruang bersalin itu.Lalu suami saya menguatkan, “Ndak lama Dik.”Tak lama, ibu saya datang.Ibu masuk ke ruangan lalu memeluk saya, saya merasa damai.Ibu mengecup lalu mendoakan saya.Ibu menemani saya selagi suami shalat subuh.
Usai shalat subuh saya merasakan sakit yang amat sangat.Saya sampai berteriak kesakitan tiap kontraksi, seperti ada yang menekan dan memaksa keluar. Saya mulai berteriak mengejan…
“Dik jangan ngeden dulu!”Kata suami saya setengah panik.
“Nggak bisa ditahaaaann!!!”
Barangkali itulah rasa sakit paling sakit yang pernah saya rasakan.Dalam hati saya ingin menyerah, mengangkat bendera putih dan bilang, “Mas, ayo kita operasi saja.”Astagfirullah barangkali saat itu saya sedang digoda setan.Di saat-saat melahirkan memang harus banyak-banyak berdzikir supaya kita tetap ikhlas dan yakin.
“Kalau belum nangis berarti masih kuat, belum sakit-sakit banget.”Kata bu bidan.
Benar, saya tidak menangis.Tandanya saya masih kuat.
Saya mengejan tanpa bisa ditahan, banyak cairan yang keluar dari jalan lahir entah darah atau apa. Lalu episode terakhir itupun dimulai.Saya diminta telentang dan menekuk kaki.Ternyata tak butuh selama itu sampai bukaan lengkap.
“Kalau kerasa kenceng ngeden ya Mbak.”Kata bu bidan.
Inilah episode yang sering diajarkan oleh suami saya.Jangan ada suara waktu mengejan, pusatkan tenaga di jalan lahir, atur nafas, jangan angkat bokong.Kepala bayi sudah terlihat, dan saya mengejan setiap kontraksi.Tak langsung berhasil.Saya merasa setiap mengejan jalan lahir melar semelar-melarnya.Saya mengejan sekuat dan selama yang saya bisa.Lalu, broooolll…..tepat pukul 06.00, 9 Oktober 2014 Wafa lahir.Alhamdulillah.Alhamdulillah.Alhamdulillah.Sebuah nikmat yang tak terkira.Tangisannya kencang sekali dan saya ikut menangis bahagia.Suami saya memeluk dan berkali-kali mengecup kening saya.Alhamdulillah perjalanan itu telah terlewati. Saya sudah tidak tau apa yang dilakukan para bidan, saya mendekap Wafa di dada, melihatnya, membelainya, MasyaAllah… inilah Wafa yang 9 bulan kami bayang-bayangkan. Allahu akbar.
Kami dirawat di satu kamar, setiap saat saya bisa melihatnya, putri kecil kami.Setelah melahirkan bukan berarti urusan selesai.Saya masih harus belajar banyak hal.Bukan sekedar menyusui, karena ternyata duduk, buang air, dan berjalan pascamelahirkan itu juga butuh usaha ekstra.Saya ingat waktu itu saya takut buang air karena takut jahitannya kenapa-kenapa.Saya sempat buang air kecil sambil berdiri dan buang air besar dengan penuh perjuangan.
Pelajaran selanjutnya adalah menyusui.Ini cukup menggalaukan karena puting saya datar, harus ditarik pakai spet dulu setiap mau menyusui.Akhirnya bu bidan menyarankan untuk membeli sejenis nipple yang ditempelkan ke putting, barangkali bisa membantu.
Menjelang pukul 9 malam suami saya mencari alat yang dimaksud. Cukup jauh menuju toko yang lengkap dan sesampainya di sana ternyata uang yang dibawa suami kurang. Bagusnya lagi ATM ketinggalan. Suami saya memohon kepada pemilik toko untuk tidak tutup dulu. Sementara itu suami saya mencari pinjaman uang ke temannya yang rumahnya tidak jauh dari toko.Ternyata temannya tidak ada.Dengan mengumpulkan segenap keberanian, dia meminjam uang kepada ayah temannya itu.Akhirnya dapatlah alat itu seharga 70 ribuan.
Sesampainya di klinik, suami bercerita tentang kejadian yang dialaminya.Saya tersenyum haru, bangga, dan makin mencintainya.
“Gak papa abi malu sedikit, yang penting Wafa bisa mimik.”Katanya.
Wahai para ayah, kalian luar biasa.Bahwasanya melahirkan itu bukan perjuangan ibu seorang diri, ada juga ayah yang tak kalah banyak berkorban.Setelah dicoba-coba, ternyata alatnya tidak terlalu membantu, jadi kami harus sabar perlahan dan terus mencoba menyusui.
Hamil dan melahirkan cuma secuil perjuangan sebagai orangtua.Masih ada PR besar untuk mengantarkan anak-anak kita hingga dewasa menjadi insan-insan yang tangguh aqidahnya, akhlaknya, pikirannya, fisiknya.Semoga Allah kuatkan dan mudahkan jalan kami. Semoga kelak anak-anak kami menjadi pemberat timbangan kebaikan kami di akhirat, aamiin..
Usai melahirkan, bapak saya berpesan, “Duwe anak ki engko repot, tapi sak repot-repote duwe anak tetep luwih seneng katimbang ora duwe anak.Kudu bersyukur.”7
Kalau menjadi ibu itu mudah, maka bukanlah surga di telapak kakinya.Wahai ibu, lelahmu mendidik anak adalah jihadmu, dan Allah siapkan pahala tak terkira di dalamnya.

***
Melahirkan itu sakit.Iya, betul.Tapi saya merindukan saat-saat itu.Tahukah, saat itulah saya merasakan indahnya pasrah kepada Allah, indahnya ikhtiar hingga batas kemampuan sampai saat yang ditentukan Allah untuk berbahagia.Saya merindukannya.Semoga Allah mengijinkan saya merasakannya lagi serta memberi kekuatan untuk mendidik putra-putri saya kelak hingga menjadi generasi yang tangguh.Teruntuk suamiku, setiap jengkal perjuangan itu menjadi semakin indah bersamamu.

***
Catatan:
1. Kalau melahirkan rasanya cuma seperti mau buang air, namanya bukan surga di telapak kaki ibu
2. Kecil mungil
3. Bapak dan ibuk di sini mendoakan terus supaya diberi kemudahan.
4. Santai saja mbak, kalau santai tidak sakit
5. Sepertinya nanti malam
6. Hampir lahir itu Mbak.
7. Punya anak nanti repot. Tapi serepot-repotnya punya anak lebih bahagia daripada tidak punya anak. Harus banyak bersyukur.

1 Comment »