Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Masakan Pertama

Ingatan melayang pada hari pertama kami berdua menempati rumah kontrakan. Letaknya di desa yang (sebenernya) deket sama kota hehe..

Yak, pertama kali menempati rumah berdua, hanya berdua. Tanpa orangtua yang sebelumnya ‘memelihara’ kami. Kami memulai hidup sebagai keluarga kecil, suami saya sebagai kepala keluarga dan saya sebagai istri sekaligus anggota keluarga satu2nya (karena belum ada anak2).

Saya beruntung punya suami yang suka memaksa saya melakukan hal2 baik, hehe. Pagi itu suami meminta saya memasak padahal dirumah belum ada apa2. Magic com pun baru dikeluarkan dari kardusnya. Regulator kompor gas belum terpasang. Belum ada belanjaan. Dan akhirnya pagi2 itu saya berkelana ke warung dekat rumah. Tidak ada apa2 selain buncis, tempe, daun bawang dan telur. Saya belilah akhirnya.. oiya, bumbu2 dapur sudah dibawain sama ibu pas pindahan..

Masakan pertama saya adalah oseng2 buncis dan telur dadar :3 tampak unyu2 sekali waktu itu. Dan waktu masakan itu saya sajikan… suami tak berkomentar selain tersenyum…

“Gimana mas?”
“Dihabiskan dulu…” Jawabnya.

Singkat cerita kamipun berdialog soal makanan yang saya masak pagi itu. Enak tapi masih kurang ini itu… hehe. Beruntung saya punya suami yang paham kemampuan memasak yang saya miliki :3

Hari2 pun berlalu dan makin hari saya makin suka memasak. Bukan semata2 karena saya suka masak, tapi karena saya ingin selalu menyajikan masakan hasil karya saya sendiri untuk suami ter….cinta 🙂

Memasak itu soal kebiasaan, sekarang saya sudah terbiasa memasak tanpa harus mencicipi dahulu (untuk beberapa masakan sih :3)

Yah, memasaklah karena pahala sebagai istri itu pelayanan thd suami, termasuk memasak.. 🙂

Advertisements
Leave a comment »

Tingkat Kelangsungan

Pernah suatu kali membaca notes seorang sahabat berjudul ‘Komitmen PALE LO’. Tulisn itu menyoal hubungan komitmen ikhwan dan akhwat dengan bahasa yang aduhai sadis dan jleb2nya…

Bagi saya, tulisan itu menarik.. caranya menulis sangat jujur dan gila. Tapi lain ladang lain belalang kaan, tidak semua orang suka bicara atau dibicarai secara langsung. Bagi orang lain mungkin itu sadis dan tidak berperasaan, hehe.. baiklah.. silakan menilai masing2.. 🙂 ini dia linknya https://m.facebook.com/notes/uus-hasanah/komitmen-pale-lu/420437717994667

Nah, karena yang dibicarakan itu bukan saya dan saya juga tidak pernah melakukan hal2 demikian, biasa saja kalo sy berpendapat itu lucu. Nah kalo yg ngelakuin kan bisa galau setengah idup (pinjam kata2 mba uus hehe).. dan karena itu tidak menyebut merk yah bisa jadi biasa. Tapi beda soal lagi kalo saya pelakunya…

Terlepas dari itu, sy pernah membaca sebuah tulisan mengenai bagaimana orang2 shalih menyampaikan kritikan yaitu dengan sangat hati2 dan tetap menjaga nama baik dia yang dikritik. Dalam tulisan itu, hingga si ulama datang kerumah yang ingin dikritik itu dini hari buta dengan langkah berjingkat… lalu kritikan itu disampaikan dengan sangat pelan jangan sampai ada yang mengetahui…

Begitu…

Dan fokuslah pada hal yg dikritikkan tak perlu ditambah2i dan dibumbu2i untuk semakin membuat si terkritik menjadi makin tersalah…

Sudah ya 🙂

Leave a comment »

Siapa yang akan mati lebih dulu?

“Kita nanti, siapa yang akan mati lebih dulu ya?”

Jenis pertanyaan yang tidak pernah mau saya jawab. Saya memilih berganti topik pembicaraan..

“Kamu kog sepertinya ndak akan pernah siap, kita harus siap kapanpun.” Lanjutnya.

Berbicara mengenai kematian, entah kenapa saya masih takut. Barangkali karena dosa2 yang masih menggunung. Padahal dunia ini hanya senda gurau belaka, bukan? Maka orang2 shalih akan lebih menyukai kehidupan kubur dan akhirat (surga) yang abadi, disana hanya ada kebahagiaan yang sesungguhnya.

Bila saya yang lebih dulu meninggalkannya, semoga saya sudah siap menghadap Allah dengan catatan amal terbaik saya (T.T). Ya Allah terbayang shalat2 yg tak khusyuk tertunaikan, harta sedikit yang belum disedekahkan, wajah muram ketika bertemu saudara, janji2 yang belum tertepati, canda yang menyelipkan dusta… Allah… T.T

Bila dia yang kelak meninggalkan saya lebih dulu, semoga saya pun siap menjalani hari2 dengan separuh jiwa.. bahwa bukan kebersamaan abadi di dunia yang kami cari. Kelak saya pun akan menyusulnya.. semoga kami dikumpulkan ditempat yang sama. Tempat yang selalu kami sebut dalm doa2.. Allah… T.T

Leave a comment »

Bulan kedua

Banyak pasangan yang menginginkan keabadian cintanya hingga ke surga, kita pun demikian. Tapi tidak semuanya benar2 menjalani apa yang menjadi kunci2 surga. Apakah sudah berlomba dalam kebaikan semata? Apakah sudah menjadi istri sholehah sebaik2 perhiasan dunia? Apakah sudah menjadi muslim terbaik dan memuliakan keluarganya?
Surga itu mahal. Ia mensyaratkan keikhlasan dari hati, kepenuhan ibadah sepenuh2 jiwa dan raga, kecintaan tertinggi..
Surga tak bisa dibayar dengan ketaatan jasadiyah semata. Ia adalah keseluruhan ruhiyah, maknawiyah..

Aku mulai takut, jikalau kebersamaan kita tak juga mendekatkan kita ke surgaNya, tapi perlahan melalaikan kita. Secara halus perlahan, melalui pintu2 cinta dan kasih sayang. Jangan sampai!!

Dua bulan ini, sayang..
Kita diingatkan kembali tentang waktu. Bagaimana telah kita lewati dua bulan bersama.. apakah itu terisi kebaikan semata, ataukah benih kelalaian mulai tumbuh.

Semoga kasih sayang kita hakiki.

image

Leave a comment »

Bila Kau Cinta..

Wahai istri, bila kau cinta.. maka akan kau ringankan tanggungjawab suami atas dirimu.. akan kau jaga dirimu dari maksiat, akan kau patuhi suamimu, senantiasa bermuka ceria, dan selalu ada untuknya..

Suamimu, pemimpin rumah tanggamu, besar tanggungjawabnya di hadapan Allah, maka jangan memperberatnya dengan dosa-dosa yang seringkali kau anggap kecil, jadilah cahaya baginya..

Suamimu, memilihmu karena iman, karena akhlakmu.. maka hiasilah.. perbaikilah..

Wahai istri, bila kau cinta, jagalah dirimu sebaik suamimu merelakan diri mengambil tanggungjawab atasmu..

Wahai istri, bila kau cinta.. maka janji itu akan terus mengilhamimu, membimbingmu, mengendalikanmu, menjagamu.. sebuah janji awal bersatunya dua manusia, bahagia sampai ke surga..

Wahai sholeha, bila kau cinta, taatlah.. jagalah.. kasihilah..

image

Leave a comment »

Inilah Jihadmu, Dik!

Pagi ini ketika saya mengeluh ingin memuntahkan makanan yang sudah saya makan, suami saya berkata,
“Inlah jihadmu, Dik!”
MasyaAllah… seketika hati saya luluh, saya terharu, terpesona dengan jawaban suami atas keluhan saya. Allahu akbar.

Seorang wanita tidak diwajibkan pergi berperang, tidak diwajibkan mencari nafkah untuk keluarga.. lalu bagaimana jihadnya? Dengan melahirkan anak-anak yang akan memberatkan bumi dengan kalimat laailaahaillallah. Seorang wanita yang meninggal karena melahirkan anaknya, maka ia mendapatkan pahala syahid. Proses melahirkan adalah jihad. Maka proses menuju kesanapun adalah bagian dari jihad.

Layaknya orang2 yang berjihad di jalan Allah, mereka menyambut seruan dengan sukacita, mereka berangkat dengan ringan menjemput pahala yang dijanjikan..

Mulai hari ini aku tidak akan mengeluh lagi, akan kulewati 7 bulan kedepan dengan bahagia, sebahagia mereka yang pergi berjihad.

Anakku, mari berjuang bersama, semoga Allah kuatkan kita hingga saatnya tiba.. semoga Allah kuatkan umimu untuk melahirkanmu dan adik2mu nanti, mendidikan kalian menjadi pembela agamaNya. Aamiin…

Leave a comment »

Mendampingi dokter :)

image

Pertama kali saya bilang ke orangtua bahwa saya akan berproses dengan seorang dokter, salah satu pertanyaan yang ditanyakan adalah: ‘kamu siap jadi istri dokter?’
Kalau saya itu saya bercerita ke teman saya, mungkin komentarnya akan ‘wowww…’ yah, profesi dokter masih menjadi salah satu profesi terhormat di masyarakat (dan tentunya di hati saya dari dulu, terlebih sekarang…hehe). Menjadi istri dokter adalah sesuatu yg patut dibanggakan. Tapi, bagi orangtua saya, bukan soal profesinya… tapi soal kehidupan setelah menikah nantinya. Lanjut orangtua saya,
‘Kamu siap ditinggal2? Kan dokter kalo jaga gak kenal hari libur. Jadi dokter itu tanggungjawabnya besar, mungkin sekali waktu kamu jadi nomer dua setelah pasien. Mungkin juga ditinggal lama… belum kalau nanti suami kamu studi lanjut, ngurus anak2 sendiri…’
Entah kenapa saat itu saya begitu mantap menjawab, saya siap.

Dan gerbang pernikahan telah dilewati. Ya, benar… menjadi dokter adalah tanggungjawab besar, tidak kenal hari libur, bahkan kadang tidak kenal istirahat. Dalam tidurnya pun, suami saya sering mengigau ttg pasien hehe. Belum lagi kalau ada konsul dr klinik, maka hape ‘pink’nya selalu dibawa, ke kamar mandi sekalipun.. sampai disini saya makin salut dengan profesi ini 🙂

Sedih karena sering ditinggal2? Iya, tentu, tapi bahagia. Inilah nikmat Allah yang diberikan pada kami. Ketika ada orang2 yang terpisah dr pasangannya sebulan dua bulan, kami hanya semalam dua malam. Ketika para suami lain bekerja hingga keluar pulau, suami saya cukup muter2 di Solo raya bersama si birunya. Kami mencoba selalu bersyukur… ya, mensyukuri apapun yang kami miliki, waktu sesedikit apapun, menjadikan setiap moment kebersamaan berkualitas.

Menjadi dokter adalah pilihan hidup suami saya, dan menjadi istri dokter adalah jalan hidup yang sudah saya pilih. Maka, kami harus siap dengan segala konsekuensinya. Kebahagiaan itu tidak selalu dalam kedekatan fisik, saat jauh hati kamipun selalu terasa dekat.. 🙂

Menjadi dokter adalah ibadahnya, dan mendampingi dokter dengan baik telah menjadi pilihan ibadah saya… insyaAllah.

Semoga Allah menguatkan ikatannya, meluruskan jalannya, hingga terwujud cita-cita tertinggi kami, bersama menemuiNya… aamiin…

Leave a comment »

Allah Yang Pilihkan

“Engkau wanita yg Alloh pilihkan utk berjuang bersamaku menggapai surga-Nya..
Engkau wanita yg Alloh pilihkan utk menjadi ibu terbaik bagi putra-putri kita…”

Menjadi terbaik tidak lahir begitu saja. Menjadi terbaik adalah buah usaha. Ada perjuangan yang harus dibayarkan untuk menjadi terbaik itu. Ada kesabaran, ada juga kebahagiaa.
Menjadi terbaik adalah sebuah perjalanan. Dan perjalananku menjadi terbaik kini lebih bermakna, bersamamu…

Kita adalah orang2 yang sama2 berusaha menjadi baik, yang masih jauh dari baik apalagi terbaik. Lalu Allah mengumpulkan kita, mengikat hati kita dalam perjanjian yang kukuh agar kita saling menopang untuk menjadi baik.

Menjadi terbaik itu bukan anugerah, ia adalah buah dari usaha..

Leave a comment »

Pendewasaan

Saya mengamini bahwa sebuah pendewasaan memerlukan ‘penggemblengan’. Bagaimana bentuk penggemblengannya? Itu tergantung pada apa yang akan didewasakan olehNya. Ketika Dia ingin mendewasakan diri kita, maka prosesnya pun mengenai diri kita,  mimpi2, semangat, kemalasan dll. Ketika Dia ingin mendewasakan hubungan kita dengan orangtua, maka Dia beri kita soal2 yang berhubungan dengan orangtua dan keluarga. Saat Dia menghendaki persahabatan menjadi dewasa, Dia beri pula masalah antara sesama teman.. ya, selalu begitu. Pendewasaan itu (harusnya) selalu mengarah kepada sesuatu yang lebih baik. Maka, hasil akhir dari semua masalah yang menempa diri sendiri, keluarga, persahabatan adalah sesuatu yang bisa membawa pada keadaan yang lebih baik. Jika kita bisa melewatinya dengan selamat sentosa.

Leave a comment »

Bulan

image

Sebulan menjalaninya bersamamu. Ada banyak sekali syukur yang bahkan tak sanggup terucap.. semoga syukur itu menjelma dalam ibadah2 yang kita tunaikan bersama..
Sebulan kita saling mengenal, dan telah kita niatkan untuk terus saling mengenal dalam sisa nafas kita..
Selalu terngiang olehku, doa yang engkau panjatkan kala itu.. “Allah semoga engkau karuniakan kepada kami cinta yang tidak melalaikan. Karuniakanlah kami cinta yang menguatkan hingga mengantar kami ke surgaMu..”
Kebersamaan kita bukan akhir dari perjalanan menggenapkan separuh agama.. dia adalah awal untuk menggenapkan seluruhnya. Dan bersamamu, aku menjalaninya dengan penuh syukur dan cinta..

Leave a comment »