Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Tiga Bulan

image

Tak terasa baru tiga bulan kami bersama, rasanya kami sudah melewati begitu banyak hari… melalui banyak cerita… mengucapkan sekian banyak kata cinta #uhuks (kalo udah nikah kata2 cinta itu berpahala lhoo). Tapi tetap saja, sampai saat ini di usia kami yang tiga bulan ini tentulah kami belum sangat mengenal… yah, masih ada banyak waktu untuk dilalui di depan sana insyaAllah… seperti yang telah dilalui orangtua kami, merangkai cerita selama dua puluh sekian tahun…

Di bulan ketiga ini saya ingin bercerita tentang bagaimana kami menghadapi konflik. Eh, kata2nya terlalu alay nih… hm… apa yaa… bagaimana kami mengatasi ketidakcocokan sesaat, hehe… #maksa

Kalo dalam beberapa buku pasti diajarkan bagaimana menghadapi ketidakcocokan tersebut. Kali ini saya ingin berbicara versi kami..

Pertama, ketika ada yang dirasa tidak cocok… diamlah. Ya diam, sambil berpikir apakah iya rasa tidak cocok itu sedemikian tidak cocoknya? Dalam proses diam itu, saya menemukan banyak alasan untuk mengusir ketidakcocokan tersebut hingga akhirnya saya merasa tenang. Bagaimana bisa? Pertama berpikir positif, ini penting banget. Pasangan kita melalukan X pasti punya alasan, hanya saja kadang kita belum tau, atau pikiran kita belum sampai kesitu (yah, maklum wanita kebanyakan berpikir pakai hati, uhuks).

Kedua, ungkapkanlah. Jadi walopun dalam hati sudah lega, ada baiknya kita tetap mengungkapkan apa yang tadi kita rasakan, tapi dalam suasana santai lhoo ya, pun dengan bahasa yang lembut dan tidak terkesan menyalahkan, posisikan diri sebagai orang yang ingin tau.. biasanya perbincangan akan berkembang pada penyampaian alasan atau bahkan lebih berkembang lagi yang intinya membuat kita makin saling mengenal karakter masing2..

Ketiga, perhatikan bahasa yang digunakan. Sebagai istri, gunakanlah bahasa yang menenangkan dan meninggikan suami. Ingatlah cinta kita padanya, ingatlah mimpi2 yang ditulis bersama..

Keempat, kalo lagi sebel, ingatlah kebaikan2 pasangan… pasti lebih banyak deh…

Kelima, sering2lah minta maaf. Ini penting, yah namanya manusia kadang tak sengaja berbuat salah…apalagi kalo salahnya itu kepada pasangan, belahan jiwa, harus segera minta maaf…

Keenam, tutuplah ketidakcocokan sesaat itu dengan romantis… tunjukkan bahwa ketidakcocokan sesaat itu tak ada apa2nya dibanding besarnya cinta kita… #uhuks

Sekian dulu ya… alhamdulillah kalau ada manfaat yang bisa diambil.. 🙂

Advertisements
1 Comment »

Jodoh

Bahagia. Waktu mendapat sms rahasia yang dulu pernah saya kirimkan ke teman2 dekat saya menjelang saya menikah. Dan beberapa waktu yang lalu saya mendapatkannya… dari sahabat saya Erny. Isinya yaa kurang lebih sama, buking tanggal biar disempatin dateng :p dan… himbauan untuk bersabar karena nama si calon masih dirahasiakan…

Untung dulu pas saya mau menikah, belum ada grup yang isinya teman2 se-geng haha.. tapi sekarang sudah ada… jadi yaa… susah banget kalo gak digosipin bareng2 di grup :p

Tebak2an berlangsung a lot mengenai siapakan pemuda beruntung itu yang akan dibersamai erny di sisa hidupnya… tapi kami menyerah karena clue sangat minim..

Hingga akhirnya… si calon mempelai mulai gerah karena diomongin rame2, akhirnya tercetuslah sebuah nama yang benar2 diluar dugaan kami.. BACHTIAR AMINUDDIN.

Allahuakbar! Sekali lagi saya takjub dengan takdirnya. Dialah yang menggerakkan setiap jiwa, memampukan, membukakan jalannya… Dialah yang maha berkehendak, yang mencondongkan hati, mengabulkan doa, menguatkan azzam dalam jiwa…

Meski saya pribadi tidak mengenal Bachtiar, tapi saya yakin Erny dengan kesalihahannya telah menerima seseorang yang dia yakini tepat sebagai belahan jiwanya…

image

Selamat berbahagia, sahabatku…
Semoga terangkum indah dalam ikatan suci dan cita2 tertinggi…

Leave a comment »

Mengenalmu

Pernikahan adalah sebuah proses saling mengenal yang berlangsung seumur hidup, terlebih lagi menikah tanpa pacaran. Itulah yang saya dan suami alami. Berbekal (sangat) sedikit tahu tentang pribadi masing-masing, kami sepakat untuk melangkah bersama. Di awal tentunya sempat muncul kekhawatiran, namun kemudian saya katakan,

“Benar kita belum saling mengenal saat ini, tapi kita masih punya waktu disepanjang sisa hidup kita untuk saling mengenal.”

Ya, dan itu kami alami sampai saat ini. Banyak hal2 baru yang akhirnya saling kami ketahui.. tentunya ada yang menyenangkan, kadang menyebalkan, kadang mengherankan, kadang mengejutkan.. dan semuanya terangkum dalam sebuah kata, bahagia. Ya, saya bahagia setiap hari karena saya perlahan mulai mengenalnya dengan semua sifat2nya, dan itu semua semakin meyakinkan saya bahwa insyaAllah kami memang diciptakan untuk bersama #uhuks

Kesabaran dan positive thinking adalah hal lain yang harus selalu dipegang teguh, setiap ada hal-hal yang tidak cocok, tidak sesuai.. jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Sering, saya hampir merasa kesal karena suatu hal, namun kemudian ketika tau alasan suami melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu, saya pun jadi malu.. lagi2 saya akan semakin mencintainya..

Perlahan, saya pun mulai paham, apa yang disukai dan tidak disukai suami saya.. bagaimana saya harus memperlakukannya, bagaimana saya harus mengurus rumah, bagaimana saya harus menyiapkan makanannya, termasuk bagaimana bila saya ingin menyampaikan sesuatu padanya..

Mengenal adalah sebuah proses panjang, berumah tangga adalah sebuah perjalanan panjang.. ingatlah selalu janji awal ikatan pernikahan itu diikrarkan, ingatlah selalu cita-cita mulia yang didamba bersama, ingatlah selalu bahwa suami (atau istri) kita adalah pilihan Allah untuk kita -sebuah rahmat dan amanah yang harus dijaga sebaik2nya.

image

Leave a comment »

Masakan Pertama

Ingatan melayang pada hari pertama kami berdua menempati rumah kontrakan. Letaknya di desa yang (sebenernya) deket sama kota hehe..

Yak, pertama kali menempati rumah berdua, hanya berdua. Tanpa orangtua yang sebelumnya ‘memelihara’ kami. Kami memulai hidup sebagai keluarga kecil, suami saya sebagai kepala keluarga dan saya sebagai istri sekaligus anggota keluarga satu2nya (karena belum ada anak2).

Saya beruntung punya suami yang suka memaksa saya melakukan hal2 baik, hehe. Pagi itu suami meminta saya memasak padahal dirumah belum ada apa2. Magic com pun baru dikeluarkan dari kardusnya. Regulator kompor gas belum terpasang. Belum ada belanjaan. Dan akhirnya pagi2 itu saya berkelana ke warung dekat rumah. Tidak ada apa2 selain buncis, tempe, daun bawang dan telur. Saya belilah akhirnya.. oiya, bumbu2 dapur sudah dibawain sama ibu pas pindahan..

Masakan pertama saya adalah oseng2 buncis dan telur dadar :3 tampak unyu2 sekali waktu itu. Dan waktu masakan itu saya sajikan… suami tak berkomentar selain tersenyum…

“Gimana mas?”
“Dihabiskan dulu…” Jawabnya.

Singkat cerita kamipun berdialog soal makanan yang saya masak pagi itu. Enak tapi masih kurang ini itu… hehe. Beruntung saya punya suami yang paham kemampuan memasak yang saya miliki :3

Hari2 pun berlalu dan makin hari saya makin suka memasak. Bukan semata2 karena saya suka masak, tapi karena saya ingin selalu menyajikan masakan hasil karya saya sendiri untuk suami ter….cinta 🙂

Memasak itu soal kebiasaan, sekarang saya sudah terbiasa memasak tanpa harus mencicipi dahulu (untuk beberapa masakan sih :3)

Yah, memasaklah karena pahala sebagai istri itu pelayanan thd suami, termasuk memasak.. 🙂

Leave a comment »

Tingkat Kelangsungan

Pernah suatu kali membaca notes seorang sahabat berjudul ‘Komitmen PALE LO’. Tulisn itu menyoal hubungan komitmen ikhwan dan akhwat dengan bahasa yang aduhai sadis dan jleb2nya…

Bagi saya, tulisan itu menarik.. caranya menulis sangat jujur dan gila. Tapi lain ladang lain belalang kaan, tidak semua orang suka bicara atau dibicarai secara langsung. Bagi orang lain mungkin itu sadis dan tidak berperasaan, hehe.. baiklah.. silakan menilai masing2.. 🙂 ini dia linknya https://m.facebook.com/notes/uus-hasanah/komitmen-pale-lu/420437717994667

Nah, karena yang dibicarakan itu bukan saya dan saya juga tidak pernah melakukan hal2 demikian, biasa saja kalo sy berpendapat itu lucu. Nah kalo yg ngelakuin kan bisa galau setengah idup (pinjam kata2 mba uus hehe).. dan karena itu tidak menyebut merk yah bisa jadi biasa. Tapi beda soal lagi kalo saya pelakunya…

Terlepas dari itu, sy pernah membaca sebuah tulisan mengenai bagaimana orang2 shalih menyampaikan kritikan yaitu dengan sangat hati2 dan tetap menjaga nama baik dia yang dikritik. Dalam tulisan itu, hingga si ulama datang kerumah yang ingin dikritik itu dini hari buta dengan langkah berjingkat… lalu kritikan itu disampaikan dengan sangat pelan jangan sampai ada yang mengetahui…

Begitu…

Dan fokuslah pada hal yg dikritikkan tak perlu ditambah2i dan dibumbu2i untuk semakin membuat si terkritik menjadi makin tersalah…

Sudah ya 🙂

Leave a comment »