Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Sengatan

Tersengat sore itu melihatmu sudah berada di belahan dunia yang lain, dan aku masih ada dititik yang sama. Kamu berbicara dengan bahasa lain pula, dan aku masih berbicara dengan bahasa ibu kita. Aku tersengat, tidak terima. Lalu, aku mulai mengumpulkan banyak alasan untuk berbahagia. Menyadari bahwa aku tidak akan pernah kehabisan alasan untuk itu. Semoga kau belajar banyak disana dan aku belajar banyak disini. Kau tau aku bertemu orang-orang hebat disini, pasti disana kau pun demikian. Mari sama-sama belajar. Terima kasih telah menyengatku sore itu dengan mimpi yang sering terkubur hal-hal tidak penting…semoga aku segera menyusul kesana, tidak harus ditempat yang sama, hanya ingin menginjakkan kaki di belahan dunia yang lain, dimana aku harus mengerti budaya lain dan berbahasa dengan bahasa yang lain. Teruslah bersinar!

* Hai, disini pula aku mengakui betapa hal-hal tidak penting itu telah menyita hidupku dan pada akhirnya aku harus mengakui pula hal-hal tidak penting itu baik dan penting.

Advertisements
Leave a comment »

Sabar

Pernah melakukan ini tidak ya, sedang baca buku lalu membuka-buka halaman selanjutnya untuk menemukan AKHIR BAB atau kata CONCLUSION atau kata SUMMARY? Haha, ini yang sangat sering saya lakukan, maunya cepat selesai dan ilmunya masuk semua. Jadi membayangkan ada alat doraemon yang namanya “MESIN BELAJAR” jadi kita masukin buku ke dalam mesin itu lalu ada semacam kabel yang kita hubungkan ke kepala, lalu criiiing semua ilmu dan informasi dalam buku itu pindah ke otak kita! Hahaha, ya ampun untung doraemon gak ada beneran, kalau ada bisa gawatlah seluruh umat manusia.
Kenyataannya belajar itu sangat membutuhkan kesabaran. Untuk sampai di bagian AKHIR BAB atau CONCLUSION atau SUMMARY kita harus melewati banyak kata, paragraph, dan halaman. Bisa sih langsung ke halaman akhir tapi justru ilmu itu ada dalam perjalanan menuju halaman akhir itu. Seperti kata Andrea Hirata, kenikmatan terbesar dari bermimpi adalah menemukan keajaiban-keajaiban dalam proses kita mewujudkannya. Ilmu itu ada dalam barisan kalimat-kalimat yang membuat kita bosan dan sering kita hindari itu. Sabar adalah kuncinya. Mencerna setiap kata, kalimat, paragraph, bab dan seterusnya.
Bahkan, ada yang membaca itu perlu minimal 2 kali untuk bisa benar-benar memahami apa yang dia baca. Wah, jadi lama banget ya belajarnya kalau begitu, itulah makanya yang belajar aja susah paham apalagi yang gak belajar!
Sebagai tambahan motivasi, ibarat sedang berjalan ke masjid, anggap saja setiap kata atau kalimat yang kit abaca bernilai kebaikan, kalau kita membaca 100 kata misalnya berarti kita sedang berinvestasi 100 kebaikan pula, ini cuma sebagai motivasi lho ya…urusan kebaikan, pahala, dosa itu cuma Allah yang tahu, kita hanya menjalankan saja. Kalau kita banyak ilmu juga, akan terancam diangkat derajatnya oleh Allah.
Jadi, sabar adalah kunci keberhasilan dalam belajar…

Leave a comment »

Belajar

Seseorang itu mengajari saya akan betapa nikmatnya belajar itu. Belajar adalah syarat kesuksesan, katanya. Ya, saya amini. Tapi terbiasa dengan lingkungan aktivis (ehem…) kata belajar dalam hal ini belajar pelajaran agaknya kurang mendapat perhatian dari teman-teman saya dulu (sampai sekarang juga masih teman sih, haha, bahkan saya merindukan mereka). Tapi disini saya jadi sangat jatuh cinta dengan belajar. Belajar itu sangat menyenangkan. Suka sekali menyadari bahwa kita tidak tahu apa-apa ternyata, hehe… maksudnya masih banyak banget yang belum kita tahu.
Ketika dia bercerita belajar sampai jam 2 pagi, saya jadi termotivasi sekali. Dalam benak saya kalau dia belajar sampai jam 2 pagi pasti banyak ilmu yang dia dapatkan, kalau saya cuma belajar sampai jam 10 wah bisa kalah bersaing saya, hehe. Hm…tapi namanya baru belajar untuk belajar, jadi ya sekali bisa sampai jam2 pagi, tapi bermalam-malam selanjutnya tidur cepat, haha yah memang belajar tidak bisa dipaksakan! *lhoh…
Lulus, berisi. Dosen di kelas nyatanya tidak memberikan semua yang dia punya, kuncinya kita harus mencari sendiri. Kata pak Nadar, sehari satu buku. Wah, bisa terancam jadi orang genius kalau begitu! Rsanya tidak mungkin ya, hm, tapi itu mungkin, apalagi kalau sudah terbiasa, ya paling tidak 2 atau 3 hari lah biar tidak mabok buku jadinya. Intinya belajar itu tidak tidak boleh instant, tapi bertahap dan perlu keistiqomahan.
Lepas dari kampus kita akan dapat gelar di belakang nama kan, nah gelar itu tuh tanggungjawabnya besar, mengimplikasikan bidang ilmu yang kita kuasai, kalau kita pengetahuannya sedikit dan gak tau apa-apa bisa bahaya (bagi yang mau ngeles di bagian ini silakan 😀 ).
Untuk yang banyak kegiatan, aktivis misalnya, menjadi aktivis sudah menjadi pilihan hidup maka konsekuensinya adalah bekerja lebih keras dari orang lain. Kalau yang bukan aktivis belajar sampai jam 2 pagi, nah aktivis harusnya sampai gak tidur, kan dari sore sampe tengah malah mengurus kepentingan umum. Hm, bukan kgitu juga sih maksudnya, meskipun banyak aktivitas tidak menjadi legitimasi untuk tidak belajar, mengerjakan tugas asal-asalan, datang terlambat, dan sering membolos (wah, berasa menceritakan diri sendiri). Kebanyakan orang tidak melihat apa karya kita diluar sana, tapi mereka melihat diri kita seperti apa yang mereka lihat setiap harinya dari dekat.
Mari biasakan rajin belajar!

Leave a comment »

Pelajaran

Kemarin saya belajar satu hal, mengendalikan pikiran dan perasaan. Pernah tau rasanya menunggu balasan sms penting (dan pertanyaan lain) sampai bingung mau ngapain?dan itu terjadi berulang-ulang. Atau sudah rapih dan bersiap pergi tapi partnernya malah tidak ada kabar sama sekali. Padahal kita sudah membuang waktu untuk bersiap-siap, menunggu kabar, dan merencanakan banyak hal. Sudah tidak ingin menangis rasanya, tidak ingin berteriak dan banting sesuatu. Perasaan yang tidak tergambarkan. Mencoba menata hati dan menghibur diri sampai akhirnya menemukan rumus ini,
“Kuncinya adalah bagaimana kita menempatkan diri. Keadaan di atas namanya sudah jatuh tertimpa tangga. Bagaimana bisa? Sudah kecewa ditambah menyiksa diri pula (dengan menjadi galau dan marah).

Sebenarnya simple saja kok, walau sudah bersiap-siap kita bisa tetap melakukan aktivitas yang lain kok, belajar misalnya, atau nyapu, atau nyetrika, atau ngrapihin apa deh, pokoknya gak perlu banget menunggu dalam diam tanpa melakukan apa-apa. Toh, orang yang kita tunggu belum tentu segalau kita. Bisa saja dia lupa, sedang sibuk, atau mungkin ketiduran, hahaha. Jadi ya, nikmati saja…. Kalau lama tidak ada kabar, yasudah ganti kostumlah dan lanjutkan hidup. Begitu saja. Sederhana.”

Emang kadang kita yang suka bikin hidup ini ribet. Dan setelah bisa mengatasi diri sendiri, rasanya jadi beda lho,,plong! Kecewa dan teman-temannya bisa dihadapi dengan lebih santai. Dan…yang lebih penting lagi doakanlah orang yang sudah membuat kita menunggu itu, semoga dalam keadaan baik dna sehat, begitu saja. So, mari mengendalikan diri dan menjalani semuanya dengan santai. Hidup ini sederhana, jangan dibuat susah deh ya ^____^

Leave a comment »

Menunggumu

Menunggumu selalu menyakitkan. Seperti kemarin, kemarinnya, dan kemarinnya lagi. Beginikah kerasanya menunggu jawab itu? Aku telah memilih jalannya, tanpa tendensi. Aku ikhlas, menghabiskan waktu-waktuku sekedar menunggu jawaban yang selalu terlalu terlambat. Larut dalam pikiran dan prasangka. Aku selalu berprasangka baik, memikirkan bagaimana penatnya harimu dan lelahnya tubuh serta pikiranmu. Aku memilih mengalah dan menunggu. Meninggalkan sejenak kepentinganku untuk sekedar memastikan bahwa aku tidak akan terlambat membacanya dan mengabarkan bahwa aku baik-baik saja. Bahkan dalam pikiranmu yang kalut begini, aku memilih memikirkan semua yang baik dan satu per satu mulai mendoakanmu, satu, dua, tiga, empat…semoga Tuhan selalu mendekapmu dalam kesehatan, kedamaian, dan kelapangan. Aku hanya ingin jawaban, tidak ingin semuanya selesai, baik, dan sempurna, hanya ingin sebuah jawaban, apapun jawaban itu.

Leave a comment »

Air dan Batu

“Sabar bukan segala, tapi segalanya butuh sabar”, kata teman saya ketika saya bertanya kata-kata yang berpengaruh dalam hidupnya.

Lalu,apa hubungannya dengan air dan batu?

Pernah dengan kisah ini? Dulu waktu saya nyantri (hah, pernah nyantri juga???hahaha, santri kalong ding, suka bolos (bolos terus malah, kalo pelajarannya susah…) pernah mendengar cerita ini: ada seorang murid yang sudah lama sekali belajar pada seorang guru, tapi tidak kunjung bertambah ilmunya. Bodohnya setengah dewa. Lalu dia putus asa dan memutuskan untuk pulang. Ketika diperjalanan dia berhenti untuk mengambil air wudhu, lalu ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Batu yang berlubang di disitu, lubang yang diakibatkan tetesan air yang terus menerus. Seketika dia menyadari kesalahannya. Batu yang sekeras itupun bisa berlubang hanya karena tetesan air yang tidak seberapa, akhirnya bisa berlubang juga. Maka dia kembali ke gurunya dan bertekad untuk belajar lagi sampai dia berhasil. Ya, kesabaran air telah menginspirasinya. Sekeras apapun itu bila terus berusaha dan besabar pasti akan berhasil. Singkat cerita, dia kemudian menjadi ulama besar yang pintar dan masyhur.
*diceritakan untuk memotivasi santri agar bersabar dalam belajar dan tidak menyerah dengan materi yang susah.

Sama hal dengan ketika kita menghadapi orang lain misalnya. Dosen lah sebagai contohnya, sekeras apapun dan semenjengkelkan apapun dosen kita (menurut kita) beliau juga manusia biasa yang suatu saat bisa luluh, dengan apa? Kesabaran kita dalam menghadapinya dan usaha keras kita dengan memberikan bukti-bukti nyata, misalnya rajin mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya, datang tepat waktu, rajin konsultasi, dan rajin mendoakan!!!! ^___________^

Sama halnya juga yang mempunyai orang tua, yang saking sayangnya pada kita, membatasi keinginan-keinginan kita dan mengarahkan hidup kita begini dan begini padahal kita maunya begitu dan begitu dan kita yakin dengan pilihan kita.

Hmmm…begini nih kalau cinta ketemu cinta. Cinta orang tua pada kita dan cinta kita pada hidup kita juga orang tua kita. Maka mungkin kuncinya adalah bersabar, cinta kalau ketemu cinta pasti jadinya baik, hanya perlu menyamakan frekuensi cinta itu. Sabar menghadapi orang tua dengan tetap mencintainya.

Memberikan bukti-bukti dan menunjukkan usaha terbaik agar orang tua tahu kesungguhan kita, yakin deh pasti suatu saat akan luluh…tidak ada orang tua yang tega melihat anaknya tidak bahagia, maka dipilhkanlah amsa depan terbaik. Kalau kita punya kemauan yang beda, tunjukkan saja buktinya bahwa kita yakin dengan pilihan kita dan bahwa yang kita pilih itu baik, jangan lupa, tunjukkan kesungguhan itu. Orang tua kita tidak sekeras batu, percayalah, buktinya orangtua sudah merawat kita sampai sekarang ini.

Leave a comment »

Tak Harap Kembali

Masih berbicara tentang cinta (haduh…temanya kok cinta terus ya, tapi ini berdasarkan pengertian cinta yang sudah kita sepakati lho ya, cinta yang universal, tidak tendensius, dan tidak terbatas pada rasa suka pada lawan jenis)

“Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
HANYA MEMBERI TAK HARAP KEMBALI
Bagai sang surya menyinari dunia”

Begitulah seharusnya cinta

Seperti itulah cinta yang ingin saya katakan. Cinta itu memberi, itu saja. Kembali atau tidaknya bukan merupakan tujuan. Kenapa bisa terjadi “Pemberi Harapan Palsu” itu karena kita mengharap rasa suka dan cinta yang kita berikan itu kembali, berbalas, berarti itu ‘mungkin’ bukan cinta. Cintaku bertepuk sebelah tangan juga fenomena yang sering terjadi, ya sama aja sih sebenernya karena kita pengen dicintai juga, pengen berbalas. Padahal cinta yang benar (menurut saya) tidak pernah memberikan harapan palsu dan tidak pernah membuat kita galau gara-gara bertepuk sebelah tangan. Dan ingat, di atas kita (gak usah ndogak ke atas!) ada sang mahacinta yang peling tau bagaimana cara menjawab dan membalas cinta kita… *apa??!! Membalas, katanya tak harap kembali?hemm…pasti akan dibalas tapi tidak perlu lah kita menetapkan standar-standar terbalasnya itu, pokoknya percaya deh Allah itu adil dan tidak pernah dzalim.

Maka mencintai itu memberi, tak harap kembali, seperti ibu… cintanya tidak ada tendensi. Jadi, untuk orangtua, sahabat, teman, musuh, guru, bahkan yang kita harapkan membalas rasa suka kita, mari mencoba mencintainya dengan lebih tulus, memberi…barangsiapa memberi akan menerima. Tenang saja sudah ada yang mengatur semua, tidak akan rugi. Jadi, perhatian, pengertian, pengorbanan, waktu-waktu menyakitkan untuk menunggu, tenaga yang terbuang untuk membantu, juga airmata yang tumpah mungkin (ehem ehem), mari mulai kita ikhlaskan…itu baru cinta namanya. Terus memberi, bukankah memberi itu hal yang menyenangkan? Yang suka memberi dengan ikhlas pasti juga akan dipasangkan dengan dia yang suka memberi dengan ikhlas pula… ^^

*hmm, agak nggak nyambung sih ini, tapi pengen bilang cinta yang sering ketinggalan, cinta pada tanah air, yuk menjadi manusia baik agar tanah air kita kembali seperi lagu-lagu jadul itu…kalau kita kecewa sekarang, semoga kitalah yang akan mengobatinya.

Leave a comment »

Hujan

Kedamaian itu datang bersama hujan. Saat aku hanya perlu mensyukurinya. Tanpa perlu menghitung berapa juta air menetes, aku hanya perlu melihat bagaimana air mulai menggenang, lalu mengalir menepati takdirnya, berjalan dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Hujan selalu memberikan airnya, pada mereka yang mungkin sering mengeluhkannya, layaknya matahari yang terus membagi teriknya, meski orang-orang kadang mengutukinya. Bintang pun menepati takdirnya dengan tulus. Indah, meski seringkali harus tertutup awan kelam dan mendung, tapi dia tetap bersinar, terlihat oleh mata-mata manusia atau tidak. Bulan juga tidak meminta selalu menjadi purnama, kadang hanya berbentuk sabit, kadang tak terlihat sama sekali. Bulan apapun bentuknya selalu mempunyai keindahan tersendiri, begitupun hujan, awan, bintang, matahari.

Hujan, bintang, matahari, awan tidak pernah mengeluh dengan perannya. Tidak mengharapkan sesaji atau puisi-puisi bagi diri mereka, mereka hanya tau bagaimana menjalani takdir dengan sebaik-baiknya, apapun kata mereka yang banyak menerima kebaikan darinya.

Di ujung lelahku, menit-menit yang berlalu dengan keras, hari-hari bertemankan prasangka, juga hati yang sebentar lagi menjadi gila. Menyiksa diri tanpa kau pernah tau betapa beratnya mencintaimu. Membawaku berjalan mundur dan rapuh. Tak mengerti kenapa takdir membawa kita pada hari ini.

Kemarin malam bintang tampak sejenak, lalu tersembunyi oleh pekat. Juga bulan yang dengan tulus tidak menampakkan keindahannya, terlindungi awan kemarin siang. Hari ini hujan turun dengan ramah, pagi tadi matahari bersinar lalu ikhlas tertutup mendung. Saat ini aku paham, bila aku memutuskan untuk mencintaimu, maka aku harus belajar ikhlas seperti mereka. Bila ini sudah ditakdirkan, maka aku hanya perlu menjalaninya dengan sebaik-baiknya, dengan tulus, apapun dan bagaimana pun kejadian-kejadian yang akan terjadi, juga kecamuk dalam hati. Aku hanya perlu menjadi matahari, hujan, bintang, awan, dan bulan. Mencintaimu ibarat cabang yang terus tumbuh seiring aku menjadi dewasa…aku memilih berpijak pada akar, yang akan menentukan bagaiamana kelanjutan hidupmu dalam pohon kehidupan ini. Akar, yang mengijinkanku tetap hidup hingga sekarang sampai akhirnya menumbuhkanmu dalam salah satu cabangnya. Akar. Akar. Akar.

….saat hujan mulai reda, aku bahagia, aku juga mereda….

Leave a comment »

Doa

Ini karena aku mencintaimu. Cinta yang telah kita sepakati seperti apa maknanya. Begitu banyak yang ingin aku bagi dan aku katakan padamu. Tapi rasanya tidak baik bila aku memintamu harus begini dan begitu padahal aku juga belum baik. Maka lewat doaku saja aku meminta pada yang maha membolak-balikkan hati, maha baik, untuk menjadikan kita lebih baik. Aku tidak akan bisa mengatakan ini padamu secara langsung mungkin, bahkan saat visa kita bersama telah kadaluwarsa. Maka aku memilih untuk melantunkkan dalam doa. Dia yang pasti bisa menyentuhmu, yang pasti bisa mengajakmu bicara, yang bisa menggerakkan hatimu, yang bisa menyampaikan pesan cintaku padamu juga cinta banyak orang lain padamu.

Selalu ada Dia, yang bisa menyampaikan ini semua, memeluk harapan dan membicarakannya dengan cara yang lebih baik, lebih indah, menyampaikan ini padamu, memeluk harapan kita, membicarakan kita pada dengan bahasa.

Untuk mereka yang kita cintai,doa-doa bisa melakukan lebih banyak…

Leave a comment »

Akhir Penantian ^^


Layaknya semua yang dimulai, pasti akan diakhiri. Yang direncanakan pasti akan terwujud atau tidak terwujud pada akhirnya. Kadang kita mampu berusaha dan membuatnya jadi nyata, kadang kita hanya perlu menunggu dan melihat semuanya terjadi, hanya perlu bergantung pada yang maha memberi. Ada satu, kita harus memulainya. Memulai dengan kesungguhan, agar Tuhan percaya seberapa besar kita menginginkannya. Memulai dan mencoba…tidak cukup sekali memang, bisa jadi berpuluh kali. Iri. Ada yang sekali mencoba lalu berhasil. Itu bukan kuasa kita, ada yang maha adil di atas ini semua yang lebih tau kapan saat yang tepat mewujudkan apa yang kita minta.

Maka, ketika seluruh keringat dan darah telah diberikan, hanya ada satu pilihan kemudian, Tuhan aku pasrah. Lalu seluruh harapan dan doa itupun terucap dengan ikhlasnya, dengan santunnya, dengan indah dan lembutnya. Ya, pada akhirnya kita hanyalah manusia tidak sempurna yang akan selalu bergantung pada yang sempurna.

Kadang, mungkin dengan sombongnya kita terlalu bersemangat dalam berusaha hingga lupa meminta. Padahal, bukan semangat dan usaha keras yang mendatangkan keberhasilan, tapi kata “IYA” dari yang maha menentukan, yang seringkali kita lupa dan kesampingkan. Seringkali yang terlantun adalah doa-doa yang telah kita hafal diluar kepala tanpa kesungguhan dan kemantapan hati, tanpa merasa lemah, dan tanpa harapan serta takut.

Tapi…penantian itu pasti berakhir. Indah atau tidak tergantung pada bagaimana kita melewati proses penantian itu, juga tergantung pada apa kata Tuhan. Usaha dan Tuhan…

*terucap syukur menyambut berita bahagia, “…akan menggenapkan setengah dien”
Kesabaran dan keyakinan dalam penantian yang telah berhasil dilewati semoga membuahkan cinta yang baik dan benar ^______________^

Leave a comment »