Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Beginilah Asean Paragames Membuat Saya Rindu…

Ini bukan tulisan saya, tapi tulisan seseorang yang juga menjadi bagian dari APG kemarin, tulisan yang sangat indah kalau tidak bisa disebut sebuah puisi, tulisan yang -saya mampu merasakan- datang dari hati…
terima kasih Adhinsa Widya Ghynna 😀

12 – 22 December 2011

ya that’s only 10 days

but God have given me everything..U have given me everything

U give me a chance to meet the greatest person,,

So that I can learn to be patient,,

U know God,,they are the best gift from u in my life 🙂

although we have different language,,

we can talk anything the way we..

sometime,,occured miscomunicating and misunderstanding between us

therefore it make me feel so fun

we laugh together,

as the different language not be the matter 🙂

I learn their language.

I try to speak their language,,

maybe it feel so funny for them

sometime I have done some mistake 🙂

but I never give up just try and try

it’s so interesting to me

they’re my friend,,

ya,, it ‘ill be like that

although they live far away from me,,

I always miss and pray for them

they’re special friend for me 🙂

they learn me how to love someone truly

I hope,I can meet them later

somewhere…somehow

such as the lyric of this song :

tak ada manusia

yang terlahir sempurna

jangan kau sesali

segala yang telah terjadi

*courtesy of LirikLaguIndonesia.net

kita pasti pernah

dapatkan cobaan yang berat

seakan hidup ini

tak ada artinya lagi

reff:

syukuri apa yang ada

hidup adalah anugerah

tetap jalani hidup ini

melakukan yang terbaik

tak ada manusia

yang terlahir sempurna

jangan kau sesali

segala yang telah terjadi

Tuhan pasti kan menunjukkan

kebesaran dan kuasanya

bagi hambanya yang sabar

dan tak kenal putus asa

Source: http://liriklaguindonesia.net/dmasiv-jangan-menyerah.htm#ixzz1jtnIJM43

Source: http://liriklaguindonesia.net/dmasiv-jangan-menyerah.htm#ixzz1jUQZfA1

I still have a time to wait u here

keep the spirit for ur next chompetation 🙂

God always bless all of u 🙂

THANK YOU VERY MUCH 🙂

Leave a comment »

From Bandung with Mia, Wakhid, and Arif

Bermodal nekad dan keinginan menggebu-gebu hasil akumulasi keinginan selama bertahun-tahun ditambah ada modal, maka berangkatlah kami (saya, wakhid, dan mia) ke sebuah kota bernama Bandung. Mau apa ke sana? Jalan-jalan. Dengan modal pas-pasan dicarilah link teman yang kuliah di bandung. Dan….terpilihlah Arif Prasetiya (Ayith), lebih tepatnya karena memang cuma dia yang menawari. Yes, akomodasi dan pemandu selama di bandung sip. Tinggal berangkat…
Rabu, 18 Januari 2012 kami berkumpul di stasiun Jebres, kereta berangkat pukul 19.17, karena model backpacker, maka kereta ekonomilah yang menjadi tujuan utama. Kereta kahuripan nomor 7A, 7B, dan 7C. Alhamdulillah pelayanan di kereta ekonomi sudah jauh lebih baik, semuanya dapat tempat duduk, ye ye ye…
Sedikit bercerita keadaan kereta ekonomi, setiap detik aka nada penjual asongan yang menawarkan kopi, popmie, energen, mizone, aqua, bahkan petugas kereta yang menawarkan makan malam, dinner di kereta!!! Wow, semuanya bersemangat menjemput rejeki dari Allah, mereka pantang menyerah meski modar-mandir 100 kalipun dan bersaing dengan banyak pedagang yang lain, tekad mereka luar biasa. Patut dicontoh! Jangan pernah berputus asa dengan rahmat Allah, karena kita tidak pernah tahu dari mana rejeki Allah datang, mungkin saja salah satu dari sekian banyak penumpang kereta adalah jalan rejeki. Kalau saat-saat seperti ini saya langsung ingat ayah dan ibu saya, Alhamdulillah…
Lelahnya perjalanan selama 11 jam (masih diperjalanan) terasa hilang ketika sampai di sebuah daerah bernama bandung. Memang belum sampai kota, baru di pedesaannya. Pemandangannya indaaaaaaah banget serasa jadi Harry Potter yang lagi perjalanan ke Hogwarts, kami melewati jembatan, persawahan, rumah-rumah tradisional, dan hamparan pemandangan yang menakjubkan! Oiya, pada fase ini saya melihat anak-anak pergi ke sekolah melewati persawahan. Saya pikir itu cuma ada di sinetron, ternyata benar-benar ada! Semakin tidak sabar untuk menjelajah Kota Kembang. Sebelum jalan-jalan, cerita dulu soal bertemunya saya dengan kawan lama (gak juga ding) si Wisudantyo, teman mbolang pas SMA. Kebetulan dia juga berangkat ke Bandung, dan bertemulah kami di kereta! Dia membawakan saya lempuk, makanan khas sumatera dari duren, yang dia bawa langsung dari Sragen, hasil kerja keras Elsana ngambil ke rumah Watik di Gabus (kog muter-muter???). alhasil perjalanan saya semakin berwarna karena ada si dantyo, panggilan saya ke dia… oke, sekarang kita tinggalkan dantyo, mari bercerita tentang indahnya perjalanan di bandung.
Sampai di stasiun kami disambut Arif yang langsung menggiring kami ke angkot yang menuju TransStudio. Mau ngapain disana? Cuma mau foto didepannya aja, haha….tapi karena pertimbangan efektifitas dan efisiensi, jadwal foto didepan transtudio dibatalkan, cukup melihat dari jauh saja. Tujuan pertama, alun-alun kota bandung. Obyek apa aja yang terjangkau dari sana?
1. Masjid agung Kota Bandung
2. Monumen 0 kilometer
3. Gedung merdeka
4. Museum KAA
5. Jalan Braga
6. Kota Tua
7. Balaikota Bandung
Semuanya dijangkau dengan jalan kaki, capek? Pasti, tapi namanya juga jalan-jalan, hehe. Dari situ kami lanjut jalan melewati Universitas Islam Bandung dan Universitas Pasundan menuju ke kostnya Arif di Pancasila 9 Taman Sari, tepatnya di wismanya anak-anak solo yang kuliah di ITB, namanya Widyakelana. Dari situ, kami istirahat sebentar, dan langsung tancap gas ke Lembang, memenuhi harapannya Mia.
Oke, untuk pertama kalinya di Kota Bandung dan saya harus mengendarai motor ke lembang, dengan memboncengkan satu nyawa, Mia. Berkali-kali saya berdoa dan berdzikir sepanjang jalan… kami tidak langsung ke lembang, mampir dulu ke UPI (Universitas Pendidikan Indonesia). Subhanallah, kalau dua minggu yang lalu saya terkesima dengan keindahan Universitas Brawijaya, maka saya katakana, UB kalah jauh disbanding UPI. Keren.. usut punya usut SPPnya dua kali lipat dari UNS, pantes….
Acara dilanjutkan dengan sholat dhuhur di masjid UPI yang megah banget. Lalu, muter-muter kampus UPI yang keren abis dengan ditemani temannya Mia yang kuliah disana, puas sudah mengagumi UPI. Pengen kuliah disana? Sebentar, saya pikir-pikir dulu biayanya….
Perjalanan ke lembang mirip-mirip ke tawangmangu jadi ya lumayan sudah menguasai medan. Lama kelamaan sampailah kami di sebuah tempat yang bangunanya aneh, tabung ditutup dengan setengah bola, tempat syutingnya Petualangan Sherina, yap benar sekali Boscha. Disini Mia yang kegirangan tiada henti, Alhamdulillah… karena cuma dikasih waktu 5 menit, kami Cuma jepret2 dan pulang… perjalanan pulang mampir lagi ke UPI karena tadi sebelumnya belum sempat jepret2 disana…
Well, saatnya kembali ke kota…. Mau kemana? Si Mia pengen lewat flyover. Emang dasar di Arif baiknya minta ampun, lewatlah kami di flyover dambaan Mia, jalan layang. Next, destination, museum geologi, ini si Mia juga yang pengen…*kok dari tadi nurutin si Mia terus ya, haha … kalo saya cuma pengen ke ITB, UNPAD, sama jalan Braga, that’s all…hehe
Oke, dari museum geologi, kami jalan ke gedung paling terkenal di Bandung. Gedung sate, tempat ngantornya pak Ahmad Heryawan, yup gubernur Jawa Barat. Dalam kondisi hujan, kami masih tetap bersemangat, yeyeye…
Selanjutnya kemana? Ke tempat settingnya Ranah 3 Warna, kampus Universitas Padjadjaran dan monument…apa ya?lupa namanya, hehe….didepannya Unpad, bangunannya sekilas ada kayak opera house tapi beda banget… dari situ,sampailah kami di tujuan terakhir, ITB. Mau ngapain? Saya cuma pengen foto di depan ITB, di tugu aneh yang ada tulisannya Institut Teknologi Bandung. Masuk ITB dan jalan-jalan berkeliling, saya terkesima dengan kampus ini. Aroma belajar dan mengabdi sangat kental, saya amat merindukan suasana ini…oh ITB ^^ ditambah lagi, disini mahasiswa gak boleh bawa motor atopun mobil, kereeeen… kapan ya UNS kayak gini? Pasti bisa!
Lelah, kamipun kembali ke basecamp, kostnya arif sambil menunggu magrib. Ba’da magrib kami berjalan lagi membelah daerah kampus ITB menuju Balaikota, barulah naik angkot kembali ke stasiun. Perjalanan sehari yang indah dan mengesankan, ke tempat-tempat yang saya inginkan selama bertahun-tahun. Alhmdulillah…
Perjalanan pulang ke Solo diisi dengan tidur di kereta karena besoknya harus ketemu dosen di kampus^^
Next trip, Kebumen, Bogor, Singapore, Malaysia, Thailand, Bromo, Lombok. Sumatera, Kalimantan, Makassar, tapi nunggu tabungan gemuk dan yang jelas ada gelar mahasiswa S1 udah copot, hehe
Oiya, catatan penting. Seperti biasa kalo saya pergi tanpa minta ijin pasti ada-ada saja yang saya alami. Untung buka kecelakaan atau kehilangan apa-apa yang penting. Hanya saja foto-foto saya selama di Bandung yang ada di camdig hilang. Entah kenapa, gara-gara dipindah teman saya ke komputer. Bukan bermaksud menyalahkan, saya terima saja sebagai hukuman dari Allah…. ^^

Tapi ini masih ada di kamera Mia 😀

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sekian dulu ya, insyallah akan terus menjelajah. bumi Allah yang luassss

Leave a comment »

Aku belajar tentang hidup..

Aku belajar, bahwa hidup bukanlah urusan hidupku, pekerjaanku, kebutuhanku, keinginanku, kelebihanku, dan kekuranganku… terlalu tidak adil bila aku menganggap bahwa aku sendiri dengan semua urusanku, terlalu egois bila aku hanya melihat ini kebutuhanku, ini keinginanku, ini cita-citaku…
Aku belajar, bahwa aku hidupku adalah hak banyak orang, ini semua yang aku punya adalah hal banyak orang, Pernahkah aku menanyakan,
“kawan, apa yang aku inginkan dari aku?”
“ibu, anak seperti apa yang ibu inginkan? Ibu ingin aku bagaimana?”
“ayah, apa yang kurang dari aku?”
“bapak ibu guru, apakah aku selama ini terlalu banyak membandel?”
“teman, apakah aku terlalu membiarkanmu bekerja keras sendirian selama ini?”
“adik, apakah aku kurang mengbahiskan banyak waktu bersama kalian? Apa yang belum aku ajarkan pada kalian?”
“kakak, apakah aku terlalu tidak mempedulikanmu?”
Hidupku adalah bagian dari kehidupan orang lain, hidupku adalah kebahagiaan dan harapan dari banyak orang lain. Bila aku malas dan tidka berbuat, maka aka nada bnayak hati yang kecewa. Entah berapa banyak doa-doa dan harapan yang mereka panjatkan hanya untuk kebahagiaanku…mereka yang mencintaiku,,, begitupun, bila aku berhasil, maka aku telah membuat banyak hati bangga dna bahagia, hati mereka yangmencintaiku,
Terbayang ketika aku tidak menyambut mereka dengan wajah termahku, maka aku telah mengambil kebahagiaan mereka, ketika aku bersantai sementara teman-temanku bekerja dan mengusahakan yang terbaik untuk kami, sunguh aku telah membuat orang lain menderita, membayar lebih untuk kawannya tidak banyak berbuat…
Kalaupun aku menganggap ini semua tidak penting maka biarkan aku melakukannya untuk mereka, orang-orang yang mencintaiku, yang selalu mengingat aku dalam doa-doanya, yangmenginginkan aku bersama mereka kelak di syurga nanti…

Leave a comment »

Holiday Trip 1: Malang

Malang…. Sudah 10 tahun yang lalu saya menginjakkan kaki di kota ini. Bahkan saya sudah tidak ingat apa-apa lagi selain taman Selecta itu pun ibarat foto sudah blurr…

Tanggal 8 lalu ada kesempatan ke Malang lagi bersama teman-teman LSP. Kemana? Universitas Brawijaya. Perjalanan malam cukup menyenangkan bagi saya, menikmati kota-kota diwaktu malam, Ngawi (kalo yang ini mungkin belum bisa disebut kota, hehe), Madiun, Jombang, Blitar, Kediri, Tulungagung, dan Malang.

Perjalanan pertama mampir kerumah Arini untuk mandi dan sarapan. Langsung perjalan berlanjut ke Universitas Brawijaya. Sepajang perjalanan saya langsung jatuh cinta dengan Malang. Kota yang indah, bersih, rapi, sejuk pas untuk belajar, bekerja, dan berumah tangga (lho??)

Sampai di Universitas Brawijaya, WOW! Amazing! Kampusnya BAGUS banget, setidaknya dibandingkan kampus UNS Solo tercinta, kampus UB jauh lebih bagus, bersih, rapi, tertata, nyaman, dan lagi SEJUK. Fasilitasnya? Jangan Tanya, rumah sakit kampus pun ada. Mall? Cuma beberapa langkah. Kampus ini merupakan area pendidikan yang sangat kondusif. Dikelilingi oleh kampus-kampus lain seperti Universitas Negeri Malang, Universitas Merdeka, Politeknik Negeri Malang, dan sekolah-sekolah yang lain menjadikan lingkungannya pendidikan banget.

Setelah itu, tujuan kedua adalah alun-alun Batu. Awalnya saya bertanya-tanya, alun-alun? Mau ngapain? Ternyata alun-alun Batu tidak seperti yang saya banyangkan. Tempat ini sudah disulap menjadi temapt hiburan atau lebih tepatnya tempat bersantai keluarga yang sangat indah. Ada lampion, patung-patung, firework, air mancur, dan satu lagi ada air siap minum, hehe. Apalagi ditambah dengan pemandangan pegunungan yang menambah keindahan dan kesejukan tempat ini. BETAH.

Tujuan terakhir…. Batu Night Spectacular. Tempat untuk menguji adrenalin. Sayang uang mepet harus pilih-pilih wahana ini. Pilihan 1: film 4D. Ada apa? Cuma permainan kursi dan layar sebenarnya, tapi bisa membuat efek demikian menegangkan. Kami dibawa meluncur dihutan salju, terperosok, terbanting, dan tertimpa batu, kayu, salju, dan banyak lahi. Rasanya ingin cepat selesai. Tapi pas sudah selesai malah nyelutuk. “Lho? Uwis tho?”
Wahana kedua: Orbiter. Melihat mereka yang sudah dikocok-kocok oleh orbiter saya jadi pikir-pikir lagi. Tapi saya teringat tantangan mbak kost yang sudah pernah naik orbiter. “Nek ning BNS ra numpak orbiter nyesel pokok’e”. Dan benar, dengan modal nekat saya coba wahana ini. Awalnya biasa saja, makin lama masyallah, ini orang dikocok-kocok sekarepe dewe, seakan jantung saya berhenti untuk beberapa detik dan tubuh saya kaku. Benar saja, selesai permainan, kaki saya kram! Mau coba lagi? Tidak untuk yang ini.

Wahana lainnya? Reni sudah kelaparan dan ngajak keluar. Akhirnya good bye BNS dan good bye Malang!

*terlihat kemegahan Jatim Park 2, Pengen kesana suatu saat nanti. Juga kemegahan kampus Univesitas Muhammadiyah Malang yang sangat mempesona. Pengen kuliah disana? Sebentar, saya coba yang negeri dulu apalagi bapak saya sudah berpesan: “S2 ning Solo wae…”

*satu lagi, mahasiswa UB walau masih semester 3 dan 5 sudah sangat pintar bebicara dan percaya diri. Berbeda dengan mahasiswa solo yang kalem-kalem dan cenderung kurang percaya diri untuk bicara akhirnya ya kami-kami ini generasi tua yang jadi ujung tombak.

Photo gallery 😀

Leave a comment »

Nyanyian Ibu dan Lulus Bulan Maret

BELUM.

Saya belum akan wisuda dalam waktu dekat ini. Kalau mau bermimpi saya ingin bulan Maret nanti lulus supaya bisa fokus membantu persiapan pernikahan kakak saya. Soal wisuda bisa kapan-kapan sesuai jadwal. Bismillah. Saya bertekad MARET nanti saya dapat gelar S.Pd, Amin..

Saya ingin bercerita tentang perjalanan saya menyusun skripsi. Berkali-kali mandhek dan galau. Berkali-kali pula jadi semangat berapi-api. Terkadang kesal kalau ibu “bernyayi” gara-gara ada beberapa teman yang sudah ujian pendadaran dan saya belum. Itulah bentuk kasih sayang ibu yang seringkali kita (saya) salah persepsikan.

“Dhik, skripsimu tekan ngendi?”

“Udah ketemu dosen?”

“Kiro-kiro kapan rampungmu?”

Haduh, rasanya bosan ditanyai begitu terus… jalan satu-satunya untuk lepas dari itu ya segera diselesaikan, maka tidak aka nada lagi nyanyian tentang skripsi dirumah, hehe

Perjalanan skripsi saya tidak semulus apa yang saya banyangkan. Seperti minum obat 3 kali sehari, saya 3 kali seminggu harus menemui dosen bernama Pak Martono. Dosen pembimbing saya lulusan Leeds University. Demikian juga dengan dosen pembimbing yang satunya, Pak Gunarso. Lulusan Sidney University. Kalau dipikir-pikir saya mendapatkan pembimbing yang luar biasa. Masalahnya apa saya tidak bisa mengimbangi keduanya ya? Sampai bisa lama begini??? Saya jawab, tidak. Saya pasti bisa mengimbangi mereka. Setiap kali saya menyampaikan draft yang tebal, pasti akan diperiksa satu per satu, dan benar saja, selalu ada kesalahan. Selalu ada yang kurang. Apakah saya terlalu bodoh? Bukan. Justru karena saya pintar dosen saya pun ingin skripsi saya maksimal (membela diri). Dan benar saja, setiap kali ada kekurangan saya kan membaca dan membaca lagi dan subhanallah saya menemui ternyata begitu banyak ilmu yang belum saya tau. Dan dengan ditolaknya dratf saya justru membuat saya belajar lagi dan lagi.

Jadi, apakah draft ditolak itu menunjukkan sinyal negatif? Tidak. Saya senang dengan proses yang saya jalani. Akan saya jalani ini semua dengan senang dan ikhlas insyallah akan banyak hal yang saya dapat.
Capek? Pasti. Tapi memang selalu ada harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang baik. Capek dan galau adalah bayarannya. Tapi saya berharap dari itu semua saya menjadi lebih pintar dan lebih berkompeten sebagai guru. Ya, sebagai guru bahasa Inggris yang professional.

Leave a comment »

Nama-nama dan Kota-kota

Perjalanan skripsi saya meninggalkan sebuah harapan dan membuat mimpi-mimpi saya semakin tinggi dan menggila. Bagaimana bisa? Dosen saya menuntut saya untuk menggunakan referensi-referensi internasional. Makanya, buku-buku internasional pun saya lahap, saya baca semuanya.
Disitu saya membaca nama-nama beken, Richards, Nunan, Brown, Beauchamp, Van Lier, Diane Larsen-Freeman, Posner, David Pratt, dan lain-lain. Mereka adalah tokoh-tokoh pengajaran bahasa Inggris yang hebat. Buku-bukunya dibaca jutaan mahasiswa diseluruh dunia dan dicetak jutaan eksemplar. Mungkinkah saya bertemu mereka suatu saat nanti?

 

Dosen saya Bu Dewi dibimbing oleh Anne Burns seorang pakar action research waktu beliau S3 di Australia, Macquire University. Anne Burns yang bukunya hanya bisa saya baca (itupun fotokopian) dan dosen saya bertemu dengannya bahkan dibimbing disertasinya.

 

Juga teringat cerita Muhammad Assad yang bertemu dengan Yusuf Qardhawi, bahkan berjabat tangan dan mengirinya menuju podium. Yusuf Qardhawi yang hanya mampu saya dengar namanya dan saya baca bukunya, ternyata Assad mahasiswa asal Indonesia bisa juga bertemu dengannya. Saya? Insyallah kalau saya serius berusaha…

 
Buku-buku yang saya baca juga membut ya gila dengan kota-kota dan penerbitnya:

Oxford: Oxford University Press
Cambridge: Cambgridge University Press
London: Kogan Page
Kota-kota yang masuk daftar kota yang ingin saya kunjungi suatu saat nanti. Sebagai apa? Tidak penting itu. Entah sebagai mahasiswa, dosen, guru, bahkan wisatawan. Saya ingin menginjakkan kaki ditempat-tempat yang sudah melahirkan banyak orang hebat, tempat yang sudah memasuki hati saya entah sejak kapan. Yang foto-fotonya menghiasi kamar saya. Yang karenanya saya bertekad akan menabung. Saya ingin melihat dunia. Saya yakin Allah akan membawa saya kesana. Amin…

2 Comments »

Single itu prinsip, Jomblo itu nasib..

Sepintas kata itu lucu menurut saya, bagaimana dengan Anda?
Pertama kali saya mendengar kata itu pada saat briefing acara paragames. Saat itu saya dan teman saya Reni sedang ngobrol dengan rekan2 senior dari POK. Setelah ngalor ngidul saya iseng bertanya kepada salah seorang,
“Mas, sudah punya pacar?”
Waktu itu saya merasa sangat bodoh. Tapi gak apa-apalah karena ini untuk tugas. Lho kok bisa? Besok paginya saya harusmengumpulkan tugas Pragmatics, dan saya merasa dengan pertanyaan tersebut gejala pragmatics akan terlihat. Dan ternyata benar…
Mr.R : “emang ngopo dik?”
Saya :“ya gak papa, udah punya belum mas?”
Mr. R :”udah.”
Saya : “udah yakin mas sama pacarmu yang sekarang? Pilihan terakhir itu? Sampai nikah?”
Mr. R :”hehehe…ya gimana ya, jodoh itu di tangan Tuhan. Kita kan hanya berusaha. Pasti nanti Tuhan memberi aku yang terbaik.”
Saya : (“yesss,,, keluar gejala pragmaticsnya… haha, artinya sebenarnya masnya itu belum mau jawab pertanyaan saya. Entah karena sebenarnya dia tidak yakin atau memang dia tidak siap dengan pertanyaan saya. Tidak menyangka ada orang yang baru kenal dan langsung menanyakan itu…”)
Mr. R :”lha kamu sendiri dik?”
Saya :”saya sih gak mau pacaran mas. Ntar aja kalo udah siap langsung cari.”
Mr. R :”lho kog gitu?”
Saya : (“haduh, susah jelasinnya….dia kan non muslim….saya hanya tertawa.”
Tiba-tiba Reni teman saya nimbrung dan,
Reni :”sorry mas, buat kami single itu prinsip mas, tapi kalo jomblo itu nasib. Nasib STMJ”
Mr. R :”opo kuwi?”
Reni :”Semester Tujuh Masih Jomblo.”

Haha, saya tidak sepenuhnya setuju dengan kata itu, walau Reni mengatakan “kami (saya dan dia)”. Bagi saya single bukan prinsip juga sih. Nanti malah gak sesuai sunnah Nabi. Tapi bagi saya single adalah pilihan untuk sekarang. Ya untuk sekarang sampai saya siap suatu saat nanti. Kapan? Belum tahu.
Nah, soal jomblo itu nasib. Hm….mungkin juga. Tapi saya tidak setuju juga sepenuhnya. Jomblo itu juga pilihan. Kalau mau mungkin saya bisa saja punya pacar saat ini (emang ada yang mau?). Pasti ada… (lho???pede tenan). Tapi ya itu tadi, jomblo juga adalah pilihan. Yang namany punya pacar kan gak harus serius. Asal statusnya punya pacar, it means gak jomblo. Nah, disinilah salahnya, kenapa harus menyatakan bahwa jomblo itu nasib? Justru bagi saya jomblo adalah pilihan yang terhormat! Mungkin sama juga dengan mereka yang memilih pacaran untuk mendapatkan pasangan yang baik. Saya mengatakan sama terhormatnya karena saya tidak mau menghakimi mereka yang pacaran pasti buruk. Karena sejatinya saya juga tidak tahu niatan apa yang ada di dalam hati mereka. Buktinya, banyak orang-orang yang sudah paham dengan hokum pacaran dan seluk beluknya, tapi tetap saja mereka pacaran. Nah, kalau MISAL mereka paham hukumnya, kenapa harus dilakukan? Mungkin mereka melihat sisi baik dair pacaran (mungkin saja).
Baiklah, kembali pada pilihan jomblo adalah pilihan yang terhormat. Seorang jomblo tidak terbawa arus dengan maraknya pacaran. Kedua, jomblo lebih leluasa dalam segala aktivitas karena tidak aka nada yang cemburu atau curia. Ketiga, bisa melakukan banyak hal lain daripada sms-an, telfon2an, dsb yang insyallah lebih bermanfaat. Danmasih banyak kebaikan lainnya. Kalau orang-orang berdalih punya pacar membuat lebih semangat dalam belajar, maka jomblo lebih keren karena dia bisa selalu menyemangati dirinya sendiri.
Jadi, tidak ada yang salah dengan menjadi single dan jomblo (tapi tetep harus menikah suatu saat nanti). Jadi ingat pesen mahasiswa S2,
Mr. RW :”Gak usah pacaran dik, pacaran itu gak baik. Banyak dosa deh pokoknya gak penting.”
Saya :”kog mas punya pacar.”
Mr. RW :”yah…kalau sudah terlanjur ya dijaga, jangan sampai disakiti, jangan sampai putus, jangan sampai terjerumus dalam kemaksiatan. Kalau mask an udah 8 tahun pacarannya sayang kan kalau putus. Dulu mas belum tahu kalau pacaran itu gak boleh, tapi sekarang kan sudah terlanjur, jadi ya dijaga aja biar nanti jadi istrinya beneran”
Saya :”&#@($%$*@@%$!(!)!#@)$”
Kalau tahu banyak dosa, kenapa dilanjutin??? *Setidaknya sudah berpesan baik pada yang lebih muda*

2 Comments »

Kaprodi pun berkaca-kaca…

Pementasan teater mata kuliah drama mahasiswa pendidikan bahasa Inggris FKIP UNS 2009 berakhir dengan kebahagiaan. Lalu apa hubungannya dengan saya. Ya, saya menjadi penonton. Tapi bukan ini yang mau saya ceritakan. Saya ingin menceritakan kejadian waktu kaprodi saya memberi sambutan setelah semua kelompok tampil. Tanpa diminta, kaprodi saya Bu Endang langsung maju ke tengah arena dan berbicara dengan lantang tanpa microphone. Beliau tersenyum bahagia dengan penuh luapan emosi, lebih tepatnya hamper menangis waktu memberi sambutan. Intinya, beliau sangat bangga dengan penampilan anak-anaknya yang sangat bagus dan all out. Dengan mata berkaca-kaca, saya hanya mendengar kata-kata terakhir,
“I did nothing and you do it perfect. Thank you very much.”
Entah mengapa saya sangat mengingat kata ini. “I did nothing.” Memang selama persiapan dosen tidak memberi bekal apapun pada mahasiswa angkatan 2009. Ini adalah kali pertama mata kuliah drama melakukan pementasan dan praktis angkatan 2009 tidak punya bekal apapun. Mereka melakukannya sendiri. Berlatih sendiri, menyeting sendiri, mengkoreksi sendiri, melakoninya sendiri. Sebuah kerja yang berat latihan setiap malam sehingga mata kuliah yang lain keteteran. Tapi hari ini saya mendengar mereka,
“Aku kangen latihan drama maneh…”
Ya, kerinduan itu sudah muncul baru saja setelah semua pementasa berhasil dengan sukses. Bulan-bulan yang berat itu justru kini dirindukan oleh mereka. Malam-malam yang membuat mereka muak dan putus asa kini terbayar dengan pementasan yang hebat dan membuat kaprodi kami berkaca-kaca… Berat memang apa yang dilakukan adik-adik saya, tapi dalam tekanan itulah mereka belajar. Mereka belajar membagi waktu untuk mata kuliah yang lain, belajar menghargai teman lain, belajar menghargai teman yang masih belajar acting dan logat amerika. Ya, mereka belajar tentang persaudaraan, tentang betapa keberhasilan yang besar harus didahului oleh perjuangan yang panjang dan memuakkan. Ketika semua berakhir, kerinduan akan masa-masa itu akan datang. Memang masa-masa harus dirindukan, masa dimana kita belajar menjadi lebih baik.
Pementasan pun diakhiri dengan acara cium tangan dan cipika cipiki mahasiswa dengan dosen. Saya merasa sekarang ‘persahabatan’ dosen dan mahasiswa di prodi kami semakin erat, hehe… Semoga tetap membuat dosen kami tegas dna obyektif. Mahasiswa PBI FKIP UNS memang berkarakter kuat dan cerdas tambah mandiri, tidak mudah putus asa dan bisa diandalkan….hehe (saya juga mahasiswa PBU lho..)
Selamat kepada seluruh mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNS 2009. You are great!

Leave a comment »

LSP OH LSP

Akhirnya 1,5 jam lagi kami (saya, nikmah, dyah, krisna, dan dimas) akan berhanti menjadi orang-orang tua di LSP, setelah melewati rangkaian panjang pertanggungjwaban dan dibantai oleh beberapa rekan dari UKM yang lain…
sudah setahun kami menjalani semua ini, sebuah UKM bernama Lingkar Studi Pendidikan yang bergerak di bidang keilmiahan, katanya begitu…

Dalam setahun itu pun sebenarnya kami masih meraba dan mencari apa yang sebenarnya harus kami lakukan. Banyak tuntutan dan makian karena tak kunjung menunjukkan perubahan
*dalam hati saya berpikir, hanya mereka yang maun melihat kelelahan ini yang berani bicara begitu, yang lain bahkan tak tau kami ada, padahal kami sudah berbusa-busa memperjuangkan sesuatu yang bernama keilmiahan di fakultas ini…

Hinaan pun datang karena kami dianggap hanya mencari uang melalui hibah dan kompetisi yang lain,
*sungguh, bukan itu tujuan utama kami… kerja kami memang butuh dana besar dan apakah salah kalau kami memenangkan kompetisi hibah? dalam hal ini saya hanya bisa mencibir dan merasa lebih baik dari mereka yang hanya bisa mengkritik tanpa berbuat sesuatu yang lebih baik… paling tidak kami mempunyai karya nyata bukan hanya sesuatu bernama kritikan.

Senior senior masih setia mendampingi kami yang baru setahun berdiri, dalam kebersamaan itu pula muncul ketidaksenangan dan sakit hati, namanya juga orang banyak… hingga entah berapa liter air mata yang tumpah dan berapa jam waktu yang hilang hanya untuk saling membentak dan menyalahkan… astagfirullah…

Saat itu kebingungan memuncak dan kita tidak ada yang mau bicara. hanya diam dan saling berprasangkan dalam hati. sementara itu adik-adik yang kita pimpin terlanjur menyadari dan kecewa dengan ulah kakak-kakaknya yang tak kunjung dewasa…

Kami belajar kesabaran disini, setahun ini. kami belajar menghargai orang lain dan belajar menerima takdir, bahwa kami tidak bekerja dengan orang yang sempurna. Kami belajar berkorban, mengorbankan harta, waktu, bahkan hati untuk terus bertahan…

ini bukan kisah yang mengerikan, ini adalah kisah indah yang membuat kita semakin dewasa… memang bila kedewasaan itu mahal, maka setahun yang berat ini adalah harga yang harus kita bayar…

_LAC, menjelang demisioner_

Leave a comment »

Lihat lebih dekat…

Lihat ini…

Hari ini begitu indah dan dia tidak pernah bisa melihatnya, dia bisa merasakan panas tapi dia tidak pernah bisa melihat matahari
juga, dia mendengar banyak orang berkata…hanya mendengar, tanpa pernah tau seperti apa orang yang sedang berbicara dengannya,
dia mendengar begitu banyak kata-kata yang indah,
bunga,
sungai,
awan,
rumput,
hijau,
biru,
merah,
dan banyak kata yang lain, dia tak tau seperti apa itu
hanya mendengar cerita dan mengimajinasikannya ‘mungkin’ dalam dunianya sendiri…

Dia tidak pernah tau seperti apa bendera merah putih itu, tapi dia tau bahwa bila sebuah lagu penuh cinta “Indonesia Raya” sedang dikumandangkan, dia tau bahwa Sang Merah Putih sedang berkibar”

Dia hanya tau berlari sekencang mungkin, ya..sekencang mungkin karena dia pun tidak tau seperti apa lawannya, seperi apa itu garis finish… dia hanya tau dia berlari sekencang-kencangnya dan bila semua manusia disana bersorai dia tau bahwa dia memenangkan perlombaan itu. riuh sekali orang-orang mengelukan namanya, menggemakan Indonesia, dia hanya bisa mendengarnya dan merasakan kebanggaan, kebahagiaan memenuhi raga dan jiwanya…

Dia hanya tau bahwa dia sedang berjuang untuk Indonesia, negeri yang begitu dicintainya, meski berkali-kali sebuah negara bernama Indonesia itu mengecewakannya…

Saat medali dikalungkan dan semua orang minta berfoto dia tidak tau seperti apa medali yang dipakainya saat ini dan seperti apa jadinya foto-foto itu…

Dia tidak butuh dikasihani, bukan… dia sedang berbicara tentang rasa syukur, tentang optimisme dan tentang keilkhlasan… apa kau bisa merasakannya?

Terima kasih, untuk Indonesia yang berkali-kali berkumandang… untuk kebanggaan yang tercipta bagi seluruh rakyat, untuk kebanggaan dan kebahagiaan…

Dia tidak pernah menyalahkan Tuhan, Dia justru bersaksi atas kebesaran Tuhan, tidak diberiNya mata yang mungkin banyak berbuat dosa, tapi Tuhan memberinya kaki yang kuat, jiwa yang lapang dan optimisme tingkat tinggi,,,

Leave a comment »