Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Menghargai Sebuah Proses

Pagi ini saya belajar satu hal. Setelah beberapa hari yang lalu saya ‘dinasehati’ oleh sahabat saya reni dan memet. Mereka mengatakan bahwa saya orang yang terlalu perfeksionis dan tidak mudah mempercayai orang lain. Saya melakukan semuanya sendiri dan tidak memberi kesempatan orang lain untuk belajar banyak. Dan itu salah menurut meraka..
Hari ini dalam sebuah acara saya tidak bisa berbuat banyak. Adik-adik saya menyiapkan semuanya dan saya hanya bisa melihat tanpa melakukan banyak hal. Memang ada beberapa hal yang tidak ideal dan tidak sempurna disana sini. Ada perasaan kecewa dalam hati saya, namun saya hanya bisa diam dan terus mendukung mereka untuk bisa menyelesaikan acara hingga akhir…
Akhirnya saya belajar, bahwa mereka sedang berproses dan saya harus menghargai proses itu. Kalau saya menghandel dan mengatur semuanya, maka mereka tidak akan pernah belajar. Semua kesalahan dan ketidaksempurnaan akan membuat mereka belajar. Saya pun dulu juga seperti itu, belajar dari kesalahan-kesalahan dan coba-coba. Proses itu mungkin tidak membuat kakak-kakak saya dulunya puas bahkan kecewa seperti yang saya rasakan sekarang. Tapi mereka bersabar dan jadilah saya seperti sekarang ini, walau saya juga masih berproses sampai sekarang.
Setiap orang mempunyai hak untuk belajar, mengambil kesempatan, berharap, dan sukses dan saya tidak boleh menghalangi hak tiap orang itu. Saya harus memberi kesempatan seluas-luasnya untuk belajar dan belajar dari kesalahan. Saya pun bukan orang yang sempurna dan tidak berhak menuntut kesempurnaan. Saya bisa memandang hidup dengan lebih adil. Akhirnya saya mengerti yang dimaksud oleh rekan saya Krisnasakti, “biarkan semuanya mengalir”. Kini saya sudah mengerti arti kalimat itu. Alhamdulillah 

Leave a comment »

Duet Brilian itu Sudah Melangkah Jauh

Sore ini rasanya saya menjadi orang yang bodoh. Diawali dari Chat saya dengan kawan lama Yudha Dwi Prasetyama yang sedang studi di UGM. Diawali dengan chat ringan mengenai jurusan dan IPK. Lalu, menyangkutlah pembicaraan kami mengenai Brilian. Dulunya kami satu kelas dan saling bersaing satu sama lain, tapi juga saling mendukung. Mereka sangat membantu saya waktu SMA dulu. Saya senang dan bangga bisa berteman dengan mereka. Saat yang lain hanya bisa membicarakan kepintaran mereka dari jauh, saya bisa memanfaatkan kepintaran mereka hahaha…
Pembicaraan sampai pada Brilian yang sedang menempuh S2 di UGM sembari menyelesaikan S1 nya. Dengan bangga saya menceritakan hal itu. Lalu lama Yudha tidak membalas chat saya. Lalu saya ingat, Ya Allah Yudha kan juga brilian!!! Lalu saya bertanya, “Jangan2 kamu juga dapat beasiswa itu ya Yud?” dijawabnya, “Iya…tin.” ****PlaaKKKKK, saya seperti orang bodoh berbicara dengan Yudha. Saya hampir lupa kalau Yudah juga genius luar biasa. Saya malu bukan main!
Saya kembali melihat dalam diri saya. Kami berangkat dari kelas yang sama, dari guru yang sama, dari materi yang sama, dan menempati peringkat sepuluh besar saat lulus dari SMA. Tapi kini semuanya berbeda. Mereka mendapatkan beasiswa itu, mereka sudah menjadi mahasiswa Master di universitas tertua di Indonesia, gratis tis tis pula… -.-“”
Tapi saya tetap bersyukur dengan apa yang saya punya sekarang dan saya juga mensyukuri punya rekan-rekans eperti mereka. Saya merasa terbakar untuk bisa berusaha lebih keras. Yudha berkata, “ Butuh usaha keras tin…” yah, memang semua butuh proses dan saya belum melakukan pa yang mereka lakukan makanya saya juga belum mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Mereka sudah berlari namun saya belum kemana-mana…
Posisi saya saat ini telah saya pilih dan saya mensyukuri semua ini. Ya Allah aku ingin menjelajahi dunia untuk mentafakuri ciptaanmu, aku ingin mencintai ilmu untuk lebih mencintaimu.

Leave a comment »

Reni Winnie

Ini bukan sodaranya Winnie the pooh (walo aga mirip sih, hehe, piss). Ini adalah kisah tentang sahabat saya (semoga dia juga menganggap saya sahabatnya). Entah dari mana kisah ini berawal. Saya sendiri lupa persisnya bagaimana pertemuan saya dengan reni, tapi kata reni dulu saya itu super jutek pas kenalan sama dia. Hanya menyebutkan nama dan berpaling. Padahal seingat saya, dulu itu dia yang jutek banget. Saya sudah tersenyum tapi dia sibuk sendiri mencari temannya. Entah siapa yang benar, mungkin ada bagian memori kami yang tertukar haha… siapa yang benar? Itu tidak penting lagi sekarang, karena kami sudah menjalani kehidupan yang berbeda.
Friendship is born at that moment when one person says to another, “what? You too? I thought I was the only one”. Ya dari situlah persahabatan kami dimulai. Kami memandang banyak hal secara sama mulai dari persahabatan, hidup, sikap, sampai pandangan kami tentang cinta. Saat saya galau karena jatuh cinta pun dia juga merasakannya hehe… mungkin sudha tercipta frekuensi yang sama.
Reni adalah orang yang sangat sabar dan pengertian dengan kondisi dan sifat saya yang teledor dan pelupa. Dengan sabar dia mengingatkan dan menjaga barang-barang saya. Mungkin dengan alasan itulah Allah mempertemukan kami dan mengikatkan hati kami. Kami juga lahir dan dewasa di lingkungan yang sama, pramuka. Maka secara langsung maupun tidak apa-apa yang kami dapat di pramuka mempengaruhi sikap kami. Selanjutnya, kami juga punya hobi yang sama, jalan-jalan dan makan-makan. Untuk urusan makan-makan ibi tergantung situasi dan kondisi kantong. Pernah suatu ketika kami ingin makan ditempat yang ‘tampaknya’ mahal, kami pun harus menunggu uang PKM cair, dan benar sekali harganya memang mahal. Kalau lagi kantong kempes, makan nasi sayir seharga 1500 pun tak masalah . Untuk urusan jalan-jalan, petualangan kami sampai pantai Nampu membawa cerita tersendiri.
Saat itu kami tiba di rumah Ambon menjelang magrib. Karena reni harus pulang ke Klaten keesokan harinya, kami pun memutuskan pulang dari Wuryantoro-Wonogiri sekitar pukul set.7 pada kondisi hujan dan gelap. Sebelum berangkat kami dibekali cerita-cerita mistis tentang jalan-jalan yang akan kami lewati menuju Solo. Dengan sangat khawatir, kami pun menguatkan hati dan berhasil sampai di Solo pukul 09.00 dengan selamat. Maklum saja kami berjalan 20-30 km/jam saja.
Yang terpenting dari itu semua adalah dia mau menerima saya apa adanya dan mau mengingatkan saya saat saya salah dan banyak masalah. Dia juga mampu mengarahkan saya untuk lebih mendekatkan diri pada Allah. Begitulah seharusnya sahabat. Ya Allah, rahmatilah hidup kami dan pertemukanlah kami di JannahMu, semoga kami termasuk orang-orang yang bertemu dan berpisah karenaMu 

Leave a comment »

POTENSI

Terinspirasi dari kegiatan mentoring saya kemarin bersama adik-adik baru angkatan 2011. materi pertama adalah ma’rifatul insan (mengenal diri sendiri). kala itu saya meminta adik-adik saya menulis semua potensi yang dimiliki. jawaban yang mereka tuliskan sangat beraneka macam dan cukup menggelitik. ada yang menuliskan potensi hidup, bernafas, bergerak, tumbuh dan berkembang (seperti ciri-ciri manusia) juga ada yang menuliskan bisa bernyanyi, akting, mencicipi masakan, sampai menggombal. jawaban mereka sangat lugu dan jujur. yah, selama ini begitulah kita sering melihat potensi diri kita, sesuatu yang bisa dibanggakan pada orang lain dan mungkin menuang prestasi. padahal, potensi-potensi yang dituliskan tersebut hanya sebagian sangat kecil sekali dari keseluruhan potensi yang dititipkan Allah pada kita. yah, sebagian kita baru menyadari potensi sebatasa potensi fisik yang bisa dilihat, diraba, dan diterawang. sementara itu, kita seringkali kurang menyadari potensi lain yang dititipkan oleh Allah yakni potensi ruh atau jiwa dan potensi pikiran. potensi ruh adalah pemegang kendali keseluruhan kehidupan kita sebagai manusia, disitulah muncul nilai-nilai ketuhanan dan kejujuran. maka dari itu banyak orang sering mengatakan “hati kecilku” itu maksudnya adalah jiwanya yang selalu menuntun pada apa yang disebut kebenaran.
selain itu ada juga potensi pikiran. otak kita terdiri dari miliaran sel yang terus berkembang setiap detiknya apabila terus menerus digunakan. ibarat PC otak kita tidka akan penuh sampai kita mati. namun, sedikit yang menyadari hal tersebut. ada sebuah guyonan, apabila ada yang menjual otak second maka yang paling mahal di dunia adalah otak orang Indonesia, karena jarang digunakan. ini adalah sebuah penghianaan besar bagi orang-orang Indonesia, termasuk saya.
nah, potensi fisik, ruh dan akal tersebut bisa menggiring kita pada dua kmeungkinan, menjadi orang yang beriman dengan mesyukuri semua nikmat yang sudah diberikan oleh Allah swt. bisa juga potensi itu mengantarkan kita kepada kekufuran. itu semua tergantung pilihan kita. Allah sudah membekali kita dengan semua potensi tersebut. mau kita apakan?terserah kita…

Leave a comment »

Bingung

Saya jadi bingung dengan keadaan sekarang dalam diri saya dan disekitar saya..hmmm… kata seorang teman dulu itu kalau kita sedang bingung jangan dipendam dalam pikiran atau hati saja. nanti jadi benang kusut. lebih baik diurai satu per satu dan saya mengartikannya untuk menuangkannya satu per satu lalu dibuat langkah permasalahannya dan yang terpenting segera benar-benar melakukannya.
saya bingung dengan keadaan saya sekarang. sebuah komitmen yang saling berhubungan dengan komitmen-komitmen lainnya, padahal masih satu tubuh. padahal saya cuma satu dan harus membagi-bagi diri saya untuk memikirkan banyak hal. seandainya saya orang yang hebat pasti tidak akan jadi masalah. sayangnya, saya masih jjjaaaauuuuhhhhh dari hebat. terlintas pikiran untuk membelah diri,hehe
lalu saya berpikir (lagi),,,dengan semua nikmat yang saya punya sekarang sungguh tidak ada alasan untuk bingung atau mengeluh, Ya Allah…betapa aku masih kurang bersyukur. teringat para pendahulu umat Islam yang mampu menjalankan banyak peran secara baik sebagai pedagang, ayah, suami, da’i, tentara, bahkan komandan perang, dan mereka semua…manusia biasa.
saya juga bingung dengan seorang pemimpin yang merasa “kenapa setiap ada masalah selalu aku yang dituju?” saya malah balik bertanya, “kalau gak ke kamu terus ke siapa? itu tandanya kamu masih kami anggap ada.”. ini adlah masalah yang sangat complicated secomplicated orangnya. seorang pemimpin yang dimintai tolong ketika mendapat kesusahan bukankah memang seharusnya seperti itu? kata Seorang teman dari IPB “memimpin adalah menderita. mereka yang menginginkan tepuk tangan dan pujian silakan keluar dari arena persaingan menjadi pemimpin. berjuang tanpa tepuk tangan.” tapi saya juga memahami kondisinya yang sedang galau dan banyak tuntutan, ya mencoba memahami. bukan berarti keadaan seseorang itu menjadi wataknya. bisa jadi memang dia sedang galau dan lebih bingung dari saya. maklum, menjadi pemimpin pasti banyak tekanan dan tuntutan.
hal lain dalah tuntutan. saya merasakan banyak sekali tuntutan, dari teman-teman, dari adik-adik yang beraneka rupa warnanya, dari orang tua, dan dari dalam diri sendiri. kalau tidak dilakukan dengan baik dan benar saya bisa gila. tapi mari melihat lebih dalam, bukankah karena ada tuntutan-tuntutan itu kita hidup dan bergerak? karena ada orang-orang yang menaruh perhatian besar pada kita, karena itulah kita harus bertahan dan memberikan yang terbaik, bukan kekecewaan. hmm…memang hidup ini kalau dipahami dari segi positif tidak akan yang jelek, semuanya indah seperti pelangi,,,semoga aku lebih bisa memahami ini semua sehingga kebingungan ini tak berlangsung lama.

Leave a comment »

Bukan Sekedar Upacara

Tidak terasa sudah tiga tahun lamanya saya meninggalkan rutinitas setap hari senin, upacara bendera. Sekarang saya seakan menjalani rutinitas tersebut tapi di posisi yang berbeda. Dulu saya berbaris di depan tiang bendera, sekarang saya berbaris di belakangnya, sebagai (calon) guru.

Pagi ini semua warga SMA 1 Solo melakukan upacara bendera. Saya ikut berbaris dan mengikuti jalannya upacara dengan berusaha hikmat karena saya sekarang dilihat banyak murid sehingga harus bisa menjaga sikap. Saya berbaris dan mengikuti aba-aba persis yang saya lakukan beberapa tahun yang lalu.

Upacara bendera memang bukan sesuatu yang istimewa bagi kebanyakan siswa, hanya sebagai rutinitas yang mengharuskan bangun pagi pada hari senin, berpanas-panasan di lapangan, dan hormat pada bendera. Jauh sebelum hari ini saya selalu merasakan sesuatu yang berbeda saat upacara bendera, terutama saat bendera dikerek menuju tempat tertinggi…
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku hiduplah negeri
Bangsaku rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya bangunlah badannya
Untuk Indonesia raya
Indonesia raya merdeka-merdeka
Tanahku negeriku yang kucinta
Indonesia raya merdeka-merdeka
Hiduplah Indonesia raya.

Sebuah perasaan yang masih menyarang dalam hati saya sampai saat ini. Ironi perjuangan para pahlawan dengan sikap kita sekarang. Naiknya bendera itu dahulu dibarengi dengan tetesan daraj dan kucuran keringat, sementara kita hanya bisa menghargai dengan hormat sekenanya saja. Sungguh kasian para pahlawan kita. Saya langsung terbayang dengan keadaan Indonesia, saya malas membicarakannya. Lalu, rangkaian akan dilanjutkan dengan mengheningkan cipta, sebuah sesi yang diciptakan untuk sama-sama mendoakan para pahlawan kita. Namun, lagi-lagi seberapa khusyukkah kita meminta? Seberapa dalamkah kita bersungguh-sungguh berterima kasih kepada pahlawan dan kemerdekaan ini, meski hanya 3 menit 2 minggu sekali… lagi-lagi ironis.

Apakah kita hanya akan bisa melakukan rutinitas ini untuk menghormati para pahlawan. Bukan, mereka tidak ingin diperingati, mereka hanya kita kemerdekaan ini dilanjutkan agar mereka tak menyesal mati muda atau meninggalkan yatim dan janda. Saya akan menjadi guru, dan saya akan memberikan yang terbaik bagi bangsa ini. Biarlah para pemimpin yang ada sekarang ini bobrok akhlaknya, mereka pun akan mati meninggalkan nama. Masa depan Indonesia masih suci adanya. Mereka kini sedang duduk di bangku-bangku sekolah, atau mengkaji kitab-kitab di madrasah atau mungkin sedang bingung memikirkan apa yang akan dimasaknya esok hari.

Begitupun juga bendera merah-putih, ia tidak ingin hanya dikibarkan untuk diturunkan lagi. Dia tidak butuh dihormati dihari-hari besar kebangsaan. Lebih dari itu, dia menginginkan tejaga harga diri dan martabatnya. Dia ingin berkibar disenatero dunia, bukan untuk mejajah namun untuk menunjukkan pada dunia inilah bangsa besar yang dibangun atasa perjuangan bukan pemberian. Inilah bangsa yang tumbuh bersama keringat, darah dan air mata, bukan suapan dan belaian lembut penjajah berwajah manis. Dan itu adalah tugas kita. Bukan harus dengan menjadi pejuang dan berperang, namun dengan apapun yang bisa kita lakukan.

Leave a comment »

Berhentilah Mengeluh

Kalau kita memilih untuk mengeluh, tentulah hidup ini akan dipenuhi dengan keluhan. Sifat dasar manusia yang tidak pernah puas menyebabkan buta mata, hati, dan telinga dari mensyukuri nikmat Allah swt. Suasana panas kita mengeluh, dingin juga mengeluh. Sedikit masalah mengluh apalagi banyak masalah. Sebenarnya kenapa kita mengeluh? Karena kita punya keinginan terhadap sesuatu keadaan yang lebih baik. Namun, kita tidak mempunyai kekuatan untuk merubahnya. Lalu, apakah kita hanya bisa mengeluh?
Sebuah atau bahkan ribuan keluhan tidak akan bisa mengubah apa-apa. Keluhan hanya akan membuat suasana makin buruk. Bagaimana tidak, saat kita mengeluh sesungguhnya hati dan pikiran kita tengah meng-iya-kan keadaan yang terjadi. Seringkali sebuah keadaan itu menjadi berat karena kita yang salah menyikapinya. Sebuah keadaan atau permasalahan hanya bisa diselesaikan dengan menyelesaikannya, bukan dengan mengeluh. Selain tidak mampu menyelesaikan masalah, mengeluh akan membuang tenaga. Akan lebih baik tenaga dan pikiran kita digunakan untuk berupaya menyelesaikan masalah tersebut. Misalnya saja saat cuaca panas, kita mengeluh kepanasan dengan muka cemberut tidak akan menyelesaikan apa-apa. Lebih baik segera mencari kipas atau melakukan hal lain yang bisa menghindarkan kita dari kepanasan. Hal itu jauh lebih realistis.
Dalam kuliah hal itu juga sangat sering terjadi. Banyak tugas dan jadwal padat itu kan memang tujuan kita dikirim ke kampus oleh orang tua kita. Lalu, saat semua tenaga dan biaya sudah dikerahkan kenapa kita malah merasa terbebani. Inilah sudut pandang yang aneh. Bukankah semua mahasiswa ingin mendapatkan ilmu di kampus, namun saat ilmu itu mengetuk melalui tugas dan buku-buku malah sangat dihindari. Saat ilmu itu semakin dekat malah kita menjauh dan banyak mengeluh. Aneh. Kalau banyak tugas tidak usah mengeluh karena kita sedang menapaki jalan surge, barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu Allah akan memudahkan jalannya ke surga, sabda Rosulullah tercinta. Saat saya merasa berat mengetik atau menulis tugas, satu hal yang saya ingat, satu huruf satu pahala, haha (dengan menganalogikan satu langkah satu pahala bagi orang yang berjalan ke masjid, atau satu huruf sepuluh kebaikan bagi orang yang membaca al-qur’an) entah bisa dianalogikan atau tidak, yang jelas itu menyemangati saya. Memang urusan pahala itu urusan Allah namun pahala juga merupakan motivasi yang menggiurkan.
Kembali ke permasalahan mengeluh, lebih baik segera kita upayakan pemecahan masalah yang hendak dilakukan. Ujian kecil bisa mejadi sangat besar kalau kita menyikapinya secara berlebihan, demikian juga ujian besar bisa mengahncurkan kalau kita salah menaggapi. Bukankah Allah itu sesuai persangkaan hambaNya, maka berprasangkalah yang baik. Tidaklah kita ditimpa musibah atau kesedihan melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosa kita. Gimana gak enak tuh? Cuma modal sabar dan berpikir positif. Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah, maka mari kita segera berhenti dari orang yang selalu mengeluh menjadi orang yang senantiasa bergerak untuk menghindari segala macam keluhan dengan mengupayakan jalan keluar.

Leave a comment »

Saatnya Mengerti.

Mungkin memang masa dimengerti telah usai
kini kita harus mengerti, menghargai, dan menerima
meski harus menghancurkan hati secara perlahan
dengan diam semua tidak akan selesai begitu saja
hanya menguap sebentar lalu menjadi hujan yang menyakitkan
mau tidak mau kita akan menjadi lilin
memberi sinar terang sementara tubuh kita terbakar
bukan, kita tak akan lama bertahan
haruskah kita menjadi seperti Tuhan?
Yang selalu disakiti namun tetap sayang
tapi kita bukanlah Tuhan
kita tidak seadil Dia dalam memberi
pun kita tidak sepandai Dia dalam mendifinisikan arti terbaik
memang kita harus selalu mengerti,
anak-anak kecil disekitar kita sedang meminta
pada kita yang tak punya apa-apa
yang masih bingung mencukupi dirinya sendiri
tapi kita harus mengerti mereka
kita bisa memberi ketentraman hati meski tak menyembuhkan
kita mampu memberi sebentuk senyum meski tak meringankan beban\
kita mampu berpura-pura kuat agar semua bertahan
memang harus kita yang berpura-pura
sebuah kepura-puraan untuk kebaikan, sebut saja…
sementara kita masih juga ingin dimengerti
kesibukan, urusan pribadi, dan amanha yang lain, kita harus dimengerti
sayangnya masa kita sekarang adalah mengerti,
maka jagalah agar kita tidak tenggelam
agar kita tetap punya oksigen untuk bernapas
bukan lagi saatnya kita mengadu pada manusia
hanya pada Dia tempat terakhir dan terbaik tuk kita bermanja
Dia bisa,
memberi kita kekuatan untuk menyingkirkan semua lelah
memberi kemantapan untuk mengusir bimbang ragu
memberi ketengangan untuk bisa tampak tegar didepan mereka
ang punya harapan besar terhadap orang-orang seperti kita…
saatnya kita mencintai,
saatnya kita memberi,
karena kita lebih tua meski tak mesti lebih dewasa
karena kita sudah merasakan ini lebih dulu dari mereka
karena kita dipanggil kakak oleh mereka…

Leave a comment »

(Kehilangan) Ideologi

Apalah artinya ideologi? Sebuah pertanyaan dari seorang teman. Ideologi itu hanya menyebabkan perpecahan hanya karena berbeda pandangan. Toh tujuan akhir yang hendak dicapai itu sama, kenapa harus saling bersaing. Saya jadi terusik dengan pernyataan ini, apa pentingnya ideologi?

Hm, mari kita mulai.
Pertama saya ingin bicara mengenai agama. Ya, ideologi dapat dikatan sebagaimana agama. Setipa manusia mempunyai kesempatan untuk memilih beragama atau tidak. Mereka yang sudah memeluk sebuah agama akan dengan sangat serius menjalankan ajaran agamanya. Di dunia ada banyak agama yang sama-sama menyembah Tuhan, namun cara yang ditempuh berbeda. Mereka beribadah dengan cara yang berbeda sesuai dengan ajaran agamanya. Masuklah kedalam agamumu secara kaffah. Yah, dapat dianalogikan seperti ini ketika seseorang tidak menjalankan ideologinya atau mencampur ideologinya dengan idoelogi yang lain maka nilai-nilai yang terkandung dalam ajarannya akan rusak. Walaupun semua mempunyai tujuan yang sama yakni menyembah Tuhan, namun pemahaman dan penggambaran mengenai Tuhan itu sendiri masing-masing berbeda sehingga melahirkan cara yang berbeda pula. Lalu bagaimana untuk menyatukan itu semua? Tidak bisa. Ideologi adalah sebuah prinsip yang hendaknya dipegang teguh sampai mati. Yang bisa dilakukan hanyalah saling menghargai prinsip atau ideologi masing-masing.

Lalu, bukankah kalau semua dapat bekerjasama tujuan itu dapat lebih cepat dicapai? Menurut saya tidak. Dengan pandangan dan falsafah gerak masing-masing, penganut ideologi tidak bisa disatukan begitu saja. Akan ada nilai-nilai yang hilang atau tumpang tindih, serobot sana sini. Kecualio kalau ada kepentingan yang sama. Saya tidak menyamakan kepenringan dan tujuan dalam hal ini karena memang kedunya berbeda. Kalau penganut ideologi mempunyai kepentingan yang sama maka mereka mungkin akan bisa bekerjasama. Tapi bukan untuk melebur.
Ideologi adalah nafas gerak. Ia mempunyai standar masing-masing yang telah dirumuskan oleh pemikir-pemikirnya jauh-jauh hari. Setiap ideologi sudah mempunyai standar operasioanal dan langkah gerak.

Mengenai persaingan, itu adlaah sesuatu yang indah bagi saya. Dengan adanya persaingan manusia akan senantiasa berusaha memperbaikimkualitas diri dan kerjanya. Yang terepenting adalah jangan bermain kotor. Inilah yang menyebabkan buruknya ideologi karena orang-orang didalamnya yang tdiak konsisten atau istiqomah.

Bagaimana bila bergerak tanpa ideologi atau kehilangan ideologi? Yang pertama, arah gerak yang tidak jelas. Misalnya saja dalam kehidupan kampus, ketika pengurus lembaga eksekutif berkurang kepeduliaanya terhadap pendidikan politik mahasiswa alih-alih mencomot ruang gerak lembaga lain yang lebih dekat dengan mahasiswa untuk bisa mendapatkan massa sebanyak-banyaknya. Bagi saya itu adalah wujud kebingungan dan ketidaktanggapan mereka terhadap perkembangan jaman dan tuntutan masyarakat. Bukannya memikirkan bagaimana bisa menumbuhkan keasadaran mereka sendiri namun malah mencari jalan pintas. Ini bukan hanya merugikan bagi idelisme lembaga namun juga bisa merusak persaingan yang sebagaimana mestinya. Meski yang diluar hanya bisa memendam semuanya dalam hati, disatu sisi mereka (yang melaksanakan) akan merasa menjadi yang paling benar dan menjadi pihak yang tersakiti dengan tanggapan semacam itu. Bagaimanapun semua pihak harus mampu bersikap dewasa, menyadari kesalahan masing-masing dan melapangkan dada untuk saling memaafkan. Bukan berarti pihak yang lain sepenuhnya benar, justru karena ada ayng tidak sempurna sehingga peluang tersebut diambil oleh yang lain sampai terjadi hal-hal seperti ini. Tapi seandainya ada komunikasi yang baik hal ini tidak akan terjadi. Mereka dapat bekerjasama karean notabene mempunyai kepentingan yang sama.

Karena perbedaan itu fitrah dan indah. Dengan adanya perbedaan kita jadi bisa menjangkau semua lapisan, semua minat, dan keinginan. Memang sudah sewajarnya perbedaan disikapi secara tepat. Kuncinya adalah menghargai dan konsisten dengan ruang gerak masing-masing. Kalau ada yang bertentangan bersainglah dengan ksatria dan cara yang baik. Tapi itu semua kembali kepada masing-masing orang. Bagi yang suka dengan pluralisme dan mendambakan sebuah peleburan itu terserah masing-masing orang sesuai tingkat kepahaman dan kepatuhannya dalam menjalankan ideologi tersebut.

Leave a comment »

Give up, No Way!

When the sadness come and bring you down
and the chances are closed
when all the faults are yours
and all the weaknesses belong to you
all you need is look into
the heart that has driven you
perfect is nothing for all human being
in which you are belonging
but every single has a right to be better
and the chance is always opened
being perfect is an endless dream
that you will never awake from
the faults,
weakness,
because you are an ordinary creature
dont waste the time dreaming
coz all you need is trying
to be better,
to be stronger,
and He’s listening every pray
answering evey hope,
if you’re alone
and no one looking back to you
dont waste to much time waiting
let them passed away in the episode
He’ll send you others much better
dont let your heart hurted for long and die
gives it air to breath and it’ll bring you new
do everything you can do,
He gives you as you try to get it…

Leave a comment »