Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Kelompok 1 Edisi 2, apa yang akan terjadi selanjutnya? :)

Semester ini kami mendapatkan jackpot lagi lho! Presentasi pertama mata kuliah pak nadar! Seperti mengulang cerita semester satu, ada saya, kak anni, kak dika, dan mas andri. Sekarang yang akan kami sampaikan bukan bahasa inggris akademik, tapi pragmatic. Saya sebenarnya tidak paham banyak tentang bidang ini makanya agak deg-degan begitu, hyuuuhh…

Tapi sebenarnya ada baiknya juga lho kita jadi yang pertama dalam hal yang kurang menyenangkan begini. Yang pertama kalau kita kurang sempurna maka akan lebih bisa dimaklumi, namanya juga pertama, hehe *plakk! Tidak ilmiah sekali. Yang kedua ini yang lebih ilmiah yaitu kita bisa jadi model bagi yang lain, dengan kita tampil pertama maka yang lain bisa mengobservasi kelebihan dan kekurangan kita sehingga pernampilan yang lain nanti jadi lebih baik kan, jadi simplenya kita dapat pahala kalau orang lain bisa dapat inspirasi dari kita *maksa gak sih poin ini? hehe

Intinya, menjadi yang pertama, why not?! Karena kalau kita jadi yang kedua, ketiga, atau keempat belum tentu lebih baik juga kan, jadi apa yang ada di depan mata, laksanakan dengan sebaik-baiknya!!! tidak ada yang sulit kalau kita belajar, wong yang dipresentasikan juga semuanya ada di buku kog, hehe

Okeh, mata kuliah pragmatic, akan kuhadapi dirimu dengan kekuatan cinta kami! *eaaah

Bersama kita bisa!

Ranger hijau : Dika
Ranger putih : Andri
Ranger coklat : Anni
Ranger orange : Atin 😀

kelompok 1

Leave a comment »

Masih gak mau sedekah?

Belakangan ini saya menunggu-nunggu kapan ya sedekah saya waktu itu dibalas sama Allah? *ya ampun hamba yang krik-krik dan tuing-tuing banget deh mikir begitu, ampun ya Allah… 😦 kenapa mikir begitu? Ceritanya tagihan potokopian buku banyak banget (maklum awal semester) dan tagihan servis motor juga membengkak, maklum sudah berbulan-bulan gak masuk bengkel. Ketika uang di ATM sudah menipis sekali dan gak mau minta ortu (sedang menghindari minta uang ke ortu) akhirnya kepada siapa lagi hamba yang lemah ini mengadu dan menggantungkan harap…

Pagi-pagi buta ditelpun ibu, katanya kalo gak bisa pulang gak usah pulang aja gak papa, baiklah ibu… lalu masih males-malesan tiduran lagi. Lalu hape bergetar lagi, nomor tidak dikenal *saya belakangan ini suka digangguin penggemar jadi saya malas mengangkat telpun yang belum jelas dari siapa, lalu saya tinggalkan telpun itu.
Eh, ternyata telpun lagi entah kenapa firasat saya mengatakan bahwa ini dari orang baik, ternyata dari orang yang baik banget.

“Halo, ini atin ya? Ini mas udin temennya mas heru edi”
“Iya mas, ada apa?”
“Ini atin, kamu dulu jurusan bahasa inggris kan?”
“Iya mas, mau translate abstrak ya? Kirim ke email aja” (kepedean dan sok tau banget, haha)
“Bukan, begini mas mau minta tolong, nanti kamu bisa jadi penerjemah gak? Temenku ada tamu dari jepang, peneliti gitu. Nanti kamu temani dia ya, soalnya temenku gak bisa bahasa inggris”
“Oh, iya mas.”

Entah kenapa saya sangat bersemangat. Padahal saya belum pernah jadi interpreter sama sekali. Yang membuat saya sangat bersemangat tidak lain adalah kata “peneliti dari jepang”. Setelah itu saya bersiap untuk berangkat. Lalu datanglah sms,

“Nanti soal feenya biar diurus mas joko ya” (mas joko: teman mas udin yang minta ditemenin)

*wahaaa saya langsung tambah semangat karena ternyata ada feenya. Disaat tidak beruang dan bingung bagaimana berhemat, angin segar datang…langsung bersyukur banget karena Allah baik banget deh memberi disaat kita membutuhkan. Sempat mikir, wah ini nanti balesan sedekah yang mana ya? Yang itu atau yang itu ya? *haha, nakal banget

Sudah-sudah saatnya fokus pada tugas! Harus bagus karena yang akan ditemani adalah peneliti internasional, gak boleh malu-maluin diri sendiri dan almamater! *ganbatte kudasai! *hwaiting!!

-cerita jalan sama profesornya nanti dulu ya-

Singkat cerita saya harus membolos satu mata kuliah untuk ini, tapi nggak apa-apalah kesempatan ini gak bisa diiulang, kapan lagi bisa dapat kesempatan begini?hehe *pa khan, maaf ya saya mbolos kuliah bapak. Sore harinya setelah kami mengantar prof.nagai, kamipun diberi sejumlah uang sebagai fee kami menemani beliau seharian ini. berapa besarannya? Gak etis kalau dibilang disini, bisa buat makan 2 minggu lah… *sambil menunggu beasiswa bulan depan turun, hehe…

Itulah… jadi tambah semangat bersedekah. Tapi niat sedekahnya jangan karena mengharapkan imbalan lho ya. Sedekah ya sedekah aja karena soal imbalan pasti kita dapat imbalan yang jauh lebih banyak, karena itu pasti maka jangan diharap-harapkan terlalu berlebihan karena nanti malah merusak niatnya, hehe… Allah lebih tau bagaimana membalas amal hambaNya dan kapan waktu yang paling tepat, hehe. Semangat sedekah!

Leave a comment »

Sehari bersama Prof. Nagai – Osaka City University

Sedang malas menulis panjang, beberapa ini adalah hal-hal menarik tentang kebersamaan kami dengan prof. nagai dari Osaka, check it out!

• Jadi, prof.nagai adalah professor hukum di Osaka City University, beliau datang ke Indonesia sebagai follow up penelitiaanya 5 tahun yang lalu tentang local cooperation di daerah jogja, bidang garapan prof ini adalah local cooperation. Ini dia nomor 2 dari kanan :

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

• Untuk pertama kali saya masuk Hotel Phoenix jogja, subhanallah…isinya bule-bule semuaaaa…
• Kenal dengan mas joko (temennya mas udin) yang ternyata adalah alumni UNS dan UGM
• Mengunjungi DPU Bantul untuk wawancara dengan petugas disana tentang pengelolaan sampah di kawasan Kartamantul (Yogyakarta, Sleman dan Bantul) disini kami disambut baik dan mengobrol banyak dengan Pak Arif dan Bu Sinta
• Saya jadi sedikit tau tentang pengelolaan sampah dan kerjasama antar kabupaten di jogja, hehe
• Setelah itu, kami menuju TPA Sampah. Ya, bagian yang kurang menyenangkan memang tapi inilah yang harus dilakukan! Prof nagai hebat sekali beliau bisa bertahan dengan bau sampah yang sangat menyengat. Belum ada 1 menit saya keluar mobil sudah tidak tahan dengan baunya, hehe. Selain ke penimbunan sampah kami juga ke pengolahan limbah cair dari sampah tersebut, ya jadi sedikit-sedikit tahu deh Alhamdulillah yah
• Lalu kami makan…dibayari prof nagai (informasi yang tidak penting hehe)
• Setelah itu kami bertemu dengan bapak Agus ketua program Magister Administrasi Publik UGM, wah jadi ketemu orang besar dan bisa menyimak pembicaraan dua ahli dibidang pemerintahan, kapan lagi coba?

Kesimpulannya, hari ini walaupaun bolos kuliah saya mendapatkan begitu banyak hal yang sangat berharga dan mungkin tidak akan bisa dilupakan. Terimakasih mas Udin, terima kasih mas Joko, terima kasih prof nagai, terima kasih Allah 🙂

Leave a comment »

More than just ‘money’

Seringnya mungkin kita atau saya membayangkan bahwa balasan dari sedekah (uang) adalah uang pula dalam jumlah yang berlipat-lipat. Nah, itu berarti kita melimitasi karunia dari Allah karena sejatinya karunia dari Allah itu luas sekali dan uang itu cuma bagian super kecil saja dari karunianya (baca: balasannya). Kalau diingat-ingat lagi sungguh ada banyak hal yang kita dapatkan yang tidak ternilai dengan uang lho, karena kalau kita membelinya maka berapapun uang itu tidak akan cukup. Contoh konkrit yang saya alami adalah bertemu dengan teman-teman saya yang di UGM. Pertemuan dengan mereka dan akhirnya bisa bersahabat adalah sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan uang karena saya tidak mungkin bisa membeli hati mereka dengan uang. Kalau saya harus membeli sebuah pertemanan, pertemuan, kebersamaan, dan silaturahim, kira-kira berapa harga yang harus saya bayarkan?

Yang kedua adalah kesehatan. Mungkin ini sudah terlalu sering dibicarakan tapi kita tetap kurang bisa mensyukurinya. Sakit itu kan biayanya mahal dan sehat itu tidak bisa dibeli lho. Karena sejatinya bukan dengan membeli obat-obatan itu kita bisa sehat, tapi rahmad dari Allah yang menjadikan kita sehat, salah satunya dengan obat-obatan yang kita beli dan kita minum. Nah, coba diingat-ingat apakah kita sering sakit atau jarang sakit? Kalau jarang sakit maka mari bersyukur yang banyak.

Yang ketiga adalah ketenteraman keluarga. Begitu banyak orang yang mengalami masalah dalam keluarganya, kalau saat ini kita punya keluarga yang biak tenterem dan adem ayem maka apa lagi yang membuat kita tidak bersyukur. Karena sejatinya perasaan adem ayem dan ketenteraman itu tidak bisa dibeli juga dengan apapun, maka sebenarnya kita itu kayaaaa sekali lho…

Dan masih banyak lagi…

Maka untuk sedekah-sedekah yang sudah diikhlaskan itu, relalah untuk menerima apapun yang akan diberikan Allah sebagai imbalannya, kan Dia yang paling tahu dan paling paham, iya kan…

Leave a comment »

New Project on Korean Language

Begini nih kalau bukan ahlinya tapi coba-coba jadi ahli, semoga berhasil deh, amin… dan yang paling penting jangan sampe malu-maluin…. Thanks to Dinda dan Mas Adi untuk bantunnya merampungkan project ini 🙂

THE USE OF KOREAN EXPRESSIONS WITHIN KPOP FANS COMMUNITY

Atin Kurniawati
Graduate Student of Linguistics Universitas Gadjah Mada, Jalan Sosio Humaniora 1 Bulaksumur, Yogyakarta 55281, Indonesia

e-mail: atinkurniawati@gmail.com

Abstract
Korean Pop (K-Pop) has been widely accepted in the world including in Indonesia. Korean artists including singers, actors, and actresses have successfully become new idols of people, especially youth. In Indonesia, there is a K-Pop fans community named UKLI (United K-Pop lovers Indonesia) which is organized in many districts or cities. One of those districts is UKLI district Solo, Central Java which gathers K-Pop fans in the area. The members of UKLI usually have their own idol of actress, actor, boy band, or girl band however they also unite in the community as Kpop lovers in general. In the community, they grow together creatively as K-Pop lovers by establishing some division such as dance cover, band, film, and singing. As they are included in a community, UKLI members have their own identity that represents their involvement is the community and as K-Pop lovers in general. As K-Pop lovers, their appearance and style are influenced by Korean style. Not only can be seen from their style, but also their communication shows Korean influence for example by using any Korean expressions while they are communicating in Bahasa Indonesia. Most of them are not Korean language learners. They know Korean expressions from Kpop media such as dramas, movies, magazines, or songs. The use of Korean expressions in UKLI members’ communication is interested to be analyzed, more interesting since they are not learning Korean language intensively. This paper would like to describe the Korean expressions used by UKLI members, and errors in the expressions usage.

Keywords: Korean expressions, UKLI, language errors

Leave a comment »

Saatnya Belajar!

Mungkin karena pengaruh kelabilan usia juga sih ya, jadinya masih suka galau walau statusnya sudah mahasiswa S2. Seringkali saya menyadari bahwa saya belum sedewasa itu, masih suka bingung dengan hal-hal yang tidak penting, bingung bagaimana kalau begini dan begitu, bingung soal nilai. Saya melihat teman-teman saya yang sudah lebih dewasa mereka begitu tenang dan mempunyai pendirian, tidak mudah galau dan menjalani hidup dengan santainya…*tapi gak tau juga ding kalo hatinya juga dipenuhi kegalauan, haha

Jadi, karena alasan inilah saya memutuskan hal yang berat: Menunda keikutsertaan dalam Indonesia Kita#1 yang akan dilaksanakan di Pulau biawak. Ini lebih karena saya terlalu sayang dengan kuliah, gak mau bolos kuliah hehe. Selain itu saya juga menyayangkan perubahan-perubahan yang dilakukan oleh panitianya. Misalnya awalnya kegiatan akan berlangsung tanggal 22-24 (Jumat sampai minggu) nah saya semangat-semangat saja berarti senin masih bisa kuliah. Eh taunya tiba-tiba jadwal berganti menjadi sampai tanggal 25 pagi, artinya saya harus naik pesawat untuk bisa ngejar kuliah. Tiketnya lumayan murah tapi entah kenapa hati saya tidak tenang. Akhirnya saya belum membeli tiket, ditambah terbayang-bayang akan membolos kuliah.

Akhirnya, pagi ini (di last minutes) saya putuskan untuk tidak jadi berangkat. Bagi saya sekarang kuliah adalah prioritas utama mengingat nilai semester 1 yang kurang memuaskan saya harus bekerja keras supaya nilai saya sempurna semester ini yang artinya saya harus lebih banyak belajar, lebih banyak membaca, dan lebih banyak berdiskusi. Memang nilai bukan tujuan, tapi nilai itu menggambarkan kemampuan kita. Memang nilai itu buatan manusia, tapi nilai seringkali lebih jujur daripada kejujuran kita terhadap diri kita sendiri kan orang lain lebih obyektif memandang kita. Justru kalau dapat nilai kurang baik harusny bersyukur karena kita tidak punya tanggung jawab moral yang terlalu besar hehe, kalau nilai biasa tapi kemampuan oke kan keren, sebaliknya kalau nilai oke tapi krik-krik kan jadinya malu.

Oke, bukan saatnya lagi main-main. Mari bersemangat! Saat ini saya sedang berusaha mengalah, mengalah pada diri sendiri yang belum juga beranjak dewasa. Mengalah untuk menang! Salah satu cirri kedewasaan seseorang adalah saat dia bisa memilih mana yang lebih baik bagi hidupnya sekalipun itu sulit tapi dia bertahan dalam kebaikan yang telah dia pilih dan melaksanakannya sampai akhir dengan penuh tanggungjawab.

Malam ini saya mengantar teman-teman Jogja berangkat ke Pulau Biawak. Ikut nimbrung di stasiun sampai mereka masuk ke peron. Walau tidak bisa berangkat bersama mereka tapi saya bahagia bisa melihat mereka berangkat dengan optimisnya. Lebih bahagia lagi karena saya bisa memilih untuk tidak jadi berangkat dan memihak pada kuliah, pilihan yang menyenangkan bukan?

Leave a comment »

Best Friend?

Suatu sore saya tengah berbincang dengan teman, lalu teringatlah dia dengan pertemuan siang tadi dengan teman saya reni. Lalu saya bilang ke teman saya itu, “Reni is one of best friends I ever had”. Lalu dia bertanya seketika, “What is a best friend like? Sahabat terbaik itu seperti apa?”

Wahaa…kalau ditanya soal definisi, maka saya akan langsung bingung. Saya termasuk orang yang dengan mudah mengatakan bahwa he is my best friend, she is my best friend, they are my best friend. Lalu mengapa seseorang bisa dikatakan sebagai best friend ya?

Hmm…mungkin ini beberapa poinnya:
1. Orang-orang yang melewatkan banyak waktu bersama kita, misalnya teman sebangku atau teman sepermainan dan jadi akrab yang akibatnya saling membantu, saling memahami, dan saling-saling yang lain
2. Orang-orang yang menghadapi kesulitan bersama kita, misalnya teman di lembaga, teman di pramuka, hehe
3. Orang-orang yang punya karakter yang sama sehingga punya hobi yang sama dan punya visi misi yang sama
4. Orang-orang yang tidak pernah bertemu dan tidak pernah bersama tapi punya gaya hidup, kegemaran, dan keanehan yang sama lalu saling berkomunikasi misalnya lewat dunia maya lalu keduanya saling memahami
5. Orang-orang yang sama-sama freak dan bersatu
6. Orang-orang yang berbeda tapi disatukan oleh takdir dan saling melengkapi

Nah, bicara soal reni (keluarga saya sangat berterima kasih kepada reni karena dialah yang selalu ada saat saya butuhkan saat keluarga saya tidak bisa membantu, hehe).
Kenapa saya dan reni bisa menjadi sahabat? Dilihat dari sifatnya, saya dan reni termasuk orang yang sama-sama keras, sama-sama suka mengatur, dan sama-sama perfeksionis tapi ketika bersama kami bisa saling mengalah. Dari segi aktivitas, saya ikut banyak organisasi dan reni menjadi mahasiwa tulen yang punya aktivitas ngelesi dengan jam terbang yang tinggi, tapi kami selalu punya waktu untuk dihabiskan bersama. Saya dan reni bermimpi bersama dan kami saling menyemangati hingga akhirnya mimpi kami terwujud meski dalam waktu dan kesempatan yang berbeda. Saya orang yang sangat pelupa dan teledor sedangkan reni orang yang sangat sabar dalam menghadapi saya. Saya orang yang galauan dan reni orang yang jleb jleb dengan pendapatnya, tapi saya tidak pernah merasa tersinggung dengan kata-katanya karena itulah yang jujur. Sahabat itu yang selalu ada walau tidak berbentuk kehadiran fisik. sahabat itu yang membuat kita merasa aman. sahabat itu yang membuat kita selalu merasa bersyukur. sahabat itu yang kita sebut dalam doa kita. Kebersamaan bersama reni cukup 4 tahun, tapi cerita dan persahabatan kami tidak akan berhenti 4 tahun itu, akan tercipta cerita-cerita selanjutnya. Karena kami tidak mengerti bagaimana takdir akan membawa kami…

Sahabat-sahabat saya yang lain adalah FF (Friends Forever) yang tergabung sebagai alumni dewan ambalan dan dewan kerja PMR, kebersamaan kami sudah tujuh tahun lamanya dan selama tujuh tahun itu saya yakin dengan mereka bahwa bersama mereka saya merasa aman dan nyaman.

Pada akhirnya, sahabat itu bukan soal berapa lama waktu yang kita habiskan bersama tapi sahabat itu soal rasa dan hati. Soal rasa itu akan semakin dalam ketika kita tidak bisa mendefinisikannya. Sama seperti cinta, true love in undefined love “Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang tidak dapat didefinisikan”.

Sudahkan kita mencintai sahabat kita? Sebut dalam doa kita yuk! Kan kalau cinta suka disebut-sebut. Nah saya punya tips nih, dalam mendoakan teman gak usah disebut satu per satu (kecuali kalau ada keperluan tertentu sih ya) sebut saja “teman-teman sekelas”, “teman-teman SMA”, “teman-teman SMP”, “teman-teman BEM”, dan lain-lain. All in one kan?

Leave a comment »

Cinta sejati (Ost.Habibie Ainun)

Kalau ditanya apa yang paling menarik dari film Habibie Ainun, maka jawabannya adalah soundtracknya. Waktu nonton film ini, saya tidak merasakan sesuatu yang wow, kecuali music yang mengalun sebagai backsoundnya apalagi waktu filmnya mau habis dan lagunya diputar penuh, mantap! Mau tau liriknya? Ini dia…

“Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulangan kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku
Saat aku tak lagi disisimu
Kutunggu kau dikeabadian
Aku tak pernah pergi selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh slalu ada di dalam hatiku
Sukmaku berteriak menegaskan cintaku padamu
Terima kasih pada mahacinta menyatukan kita
Saat aku tak lagi disisimu
Kutunggu kau di keabadian
Cinta kita mengukirkan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapapun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Lembah yang berwarna membentuk melekuk memeluk kita
Dua jiwa yang melebur jadi satu dalam kesunyian cinta.”

Habibie dan Ainun bisa jadi merupakan contoh dan teladan dalam bidang cinta sejati di Indonesia. Hmm…gimana ya, kalau saya lebih melihat sosok Habibie sebagai mantan presiden Indonesia dan ilmuwan yang sangat kontributif, yah walaupun pada akhirnya lebih bisa mengaplikasikan ilmunya yang keren di negeri orang. Tapi tetap beliau adalah putra bangsa Indonesia. Mengenai Ainun, beliau adalah wanita yang selalu ada disamping pak Habibie dan sudah jodohnya disamping pria yang hebat ada seorang wanita yang hebat pula, itulah ibu Ainun. Soal kisah cinta mereka…saya hanya berharap semoga kelak bisa menjadi istri yang baik yang selalu mendampingi dan mendukung suaminya dalam kondisi apapun. Hyuuuh…apasih?

Leave a comment »

Bertahan

Sudah aku putuskan untuk bertahan sampai waktu itu sampai saat aku divonis untuk menyerah dan meneruskan jalan hidupku. Hidupku tidak pernah benar-benar berhenti, hanya ada satu bagian yang tidak bergerak dan ia jauh tertinggal, bagian yang terus bertahan.

Bertahanku ini bukan sebuah keputusasaan dan menyerah pada takdir. Aku bertahan karena aku percaya dengan kesabaran yang aku bayarkan ini. saat aku memilih untuk tidak melangkah, bertahan untuk membiarkan air kehidupanmengalir sebagaimana mestinya tanpa menimbulkan riak-riak. Mengikuti kehidupan dengan mengikuti alirannya, tanpa berontak, tanpa bersorak. Aku megalir bersama aliran kehidupan bukan menghanyut, hanya percaya bahwa aliran ini akan sampai pula ke muaranya.

Saat aku ingin berhenti, maka aku ingat bahwa terlalu sering aku menyerah saat apa yang aku nantikan itu semakin dekat.

Leave a comment »

Tentang Komitmen dan Hujan

Pernah mendengar tentang Mestakung? Yap, semesta mendukung. Mungkin itulah yang terjadi pada kami. Ketika setiap orang memegang komitmen dan terus maju demi komitmen itu maka alam akan menunjukkan kekuatannya, membantu mewujudkan komitmen tersebut. Teringat pengalaman di Bromo dimana kami mengingkari komitmen yang berakibat kami tidak jadi backpacker tapi jadi wisatawan biasa yang cukup boros, hehe. Baru-baru ini kami memperbarui komitmen dengan mengagendakan main ke Tawangmangu.

Sore itu hujan dan kami sudah merencanakan untuk berangkat ke Solo. Beberapa orang mulai mengundurkan diri karena berbagai alasan. Dari jauh terkirim juga sms dari mas andri, “ini ujan lo. tawangmangu pasti ujan lebih deres”.

Tinggal kami bertiga yang tetap maju, “komitmen tetap komitmen” kata mas Athan. kalau saya sih mau berangkat atau tidak saya akan tetap pulang ke Solo, hehe. Setelah saling menggalau akhirnya mas Rahmad dan uda Nico pun memutuskan untuk tetap ikut. Kami pun menembus hujan rintik-rintik menuju Solo. Tepat adzan maghrib kami sampai di Solo. Dan hai….Solo terang benderang malam harinya, tidak hujan sehingga planning kami bisa terlaksana, main lampion, galabo, dan makan nasi liwet malam-malam. Hujan di jogja dan sepanjang perjalanan tidak membuat Solo ikutan hujan di malam harinya.

Hari berikutnya kami main ke Astana Giribangun, mau ziarah kakek Soeharto: Bapak Pembangunan Nasional. Dari sana kami menembus hujan menuju Tawangmangu (di Tawangmangu setiap siang habis dhuhur pasti hujan), tujuan kami pertama adalah Grojogan Sewu. Nah, pada waktu hujan mencapai puncak kederasannya kami memutuskan untuk beristirahat dan makan di salah satu rumah makan. Tepat waktu kami selesai makan, hujan reda dan matahari kembali merajai siang, menyengkan bukan? Lalu kami menuju penginapan dan melanjutkan petualangan ke Grojogan Sewu. Sampai disana sudah pukul 15.30.
“Wah, sudah mau tutup mbak, 30 menit apa bisa naik turun?”
Kami pun bingung dan krik-krik, kan jauh turun naik ke Grojogan sewu. Tapi dasarnya saya keras kepala sih ya, jadi langsung bilang, “Bisa Pak, 8 tiket!”
Dan teman-teman yang lain pun pasrah, haha *sambil membayangkan menuruni dan menaiki 1250 anak tangga, baiklah… kamipun semangat 45 menuruni tangga, bahkan ada yang lari-larian. Akhirnya samapi Grojogan juga, poto-poto sebentar lalu disempritlah kami oleh petugas tanda kami harus segera naik. Kamipun menaiki anak tangga sambil ngos-ngosan (tapi tetap diselingi poto-poto juga sih hehe) dan sampailah kami ke finish tanpa ada yang tepar dan semuanya tetap sehat!

Pagi harinya waktu kami merencakan ke Sukuh dan Cetho serta mampir ke kebun the, cuaca cerah sekali dan tahukah? Hujan baru turun waktu kami sudah turun dari Cetho dan sudah foto-foto di Kebun teh! Pas banget, waktu kami makan hujan turun dan selesai makan hujan mulai reda. Kamipun pulang dengan senang 🙂 tidak lupa makan durian dulu bareng-bareng, Alhamdulillah..

Itulah cerita kami tentang komitmen dan hujan. Kami berusaha memenuhi komitmen dan jadwal yang sudah direncanakan dan alam seakan menyetujui rencana dan komitmen kami.

Konklusinya, (agak maksa sih sebenernya, hehe), bahwa kalau kita sudah berkomitmen dan bertahan dalam kondisi sulit maka alam akan mengerahkan kekutannya untuk mendukung kita, insyallah. Sebenarnya bukan alam, tapi diri kita sendirilah ‘kekuatan yang mendukung itu.’

Leave a comment »