Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Taichung.

There’s an email informing that my paper was accepted to present in AISC. Thanks God. But it hasn’t been a guarantee that I would successfully attend the presentation however. Still, I should give my effort to make it true 🙂

East Asia, hopefully I’ll attend my promise next month. Aaamin..

Leave a comment »

Dia dia dia

Aku teringat seseorang yang sangat santun. Dia menjaga dirinya, mulutnya dan tangannya agar tidak menyakiti orang lain. Dia memilih menyimpan rapat semua perasaannya, bebannya, rasa sakitnya, menutupnya sekuat tenaga meskti kadang sangat meluap-luap hingga dia harus bersusah payah. Dia menjaganya sampai bisa menyampaikannya dengan santun, dengan terhormat, dengan menjunjung hak orang lain atas rasa aman dan harga dirinya. Dia tidak banyak bicara, sekali tapi mengena. Dia tidak menjanjikan apa-apa hanya menggantungkan dirinya pada takdir atas apa yang dia katakan dan dia inginkan…manusia tidak mempunyai kuasa apapun, Dia yang punya kehendak.

Tiba-tiba aku merindukan cara itu, caranya menjaga kami agar tidak tersakiti dan tidak banyak berharap, saat makin banyak orang hanya berkata-kata , saat makin banyak orang hanya bercerita tentang wacana, itupun dikatakan diluar sana jauh dari obyek yang dibicarakan. Saat main banyak orang merasa dewasa, merasa tahu, merasa benar, merasa lebih baik… itu… membuat aku berpikir ulang berkali-kali untuk mendefinisikan kembali orang seperti apa yang harus aku percaya, ucapan yang bagaimana yang harus aku dengar, tingkah laku seperti apa yang harus aku indahkan. Dunia terus berubah, orang-orang disekitarku juga berganti, aku harus mencari definisi yang baru, menggantikan definisi lama yang sudah mendarah daging dan melekat di dalam otak serta hati.

Aku merindukan cara itu…aku ingin diperlakukan dengan cara itu, cara yang santun, menghargai, membesarkan hati dan mengajarkan kepasrahan disaat yang sama…masalahnya, aku perlu kaca masihkah aku pantas diperlakukan seperti itu sekarang?bisa jadi karena aku juga sudah kehilangan definisi tentang ‘aku’, bisa jadi aku termasuk didalamnya: orang yang merasa dewasa, merasa tahu, merasa benar, merasa lebih baik.

Leave a comment »

Merapat!

Kau tahu, dimana tempat paling damai itu? Tempat dimana aku tidak perlu merasa takut atau cemas, dimana aku selamanya merasa aman dan penuh cinta. Bukan, tempat itu bukan disampingmu, bukan bersama kawan-kawan yang aku cintai, bukan ditempat dimana mimpi-mimpiku aku gantungkan. Tempat itu, dekat..tidak perlu visa, tidak perlu merencanakan perjalanan, tidak perlu biaya, tempat itu hanya mensyaratkan hati yang bersih, tingkah laku yang lurus, perasaan yang ikhlas, dan kepasrahan. Tempat itu ada di sisi Allah. Kita tidak harus mati untuk bisa disisi Allah. Jangan terpengaruh dengan yang biasa dibilang orang ‘semoga arwahnya diterima di sisi Allah’. Sisi Allah itu dekat. Bukankah Allah lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Allah itu dekat, dekat sekali.
Bila kehidupan terasa melelahkan dan banyak sekali orang-orang yang membuat kepalamu menjadi semakin penat, saatnya kembali pada kedamaian itu. Justru saat kamu mulai meninggalkan kedamaian itulah, semua lelah dan penat itu datang…kembalilah, kembalilah.

*di tengah kebingungan dengan sikap orang-orang, baiklah aku menyerah. Aku biarkan saja orang-orang bertingkah apa saja apa saja apa saja. Saatnya merapat!

Leave a comment »

Penilaian Orang Lain

Saya sering sekali berpesan pada teman-teman dan diri saya sendiri yang sering galau karena sikap dan penilaian orang lain,

“Allah tidak menilai kita berdasarkan penilaian orang lain terhadap kita”.

Itulah apapun yang disangkakan orang lain pada kita, selama kita yakin yang kita lakukan benar dan sudah melewati pertimbangan yang matang, maka lanjutkan saja.

Orang-orang yang tidak seidealisme dengan kita mungkin akan kurang suka, maka biarkan saja, toh kita tidak memaksakan idealism kita ke dia kan? Masing-masing dari kita menjalani kehidupan yang berbeda, mempunyai dunia yang berbeda, mempunyai target yang berbeda, mempunyai keyakinan dan idealisme yang berbeda, jadi kenapa harus memaksakan diri untuk sama?

Terkadang heran dengan sikap orang lain, jadi lebih baik menerima saja semua anggapan orang lain itu entah baik atau buruk, daripada memaksakan orang lain untuk mengerti kita. Dan menyelamatkan diri kita dengan tidak mencari-cari alasan untuk pembenaran diri, biarkan saja, Allah selalu terjaga. Kita tidak bisa mengubah sikap orang lain, tapi kita bisa mengatur diri dan perasaan kita dalam menghadapinya.

Tahukan, saat ini dibelahan bumi lain mungkin juga sedang ada satu atau beberapa orang yang tidak habis pikir degan sikap kita dan disaat yang sama merasa terdholimi
dengan sikap kita.

Membayangkan semua orang di dunia ini bisa saling menghargai, saling memahami, saling mengalah, saling menerima, saling mendukung, saling percaya…bila itu bisa terwujud semoga aku ada didalamnya.

*tapi penilaian orang lain juga pantas direnungkan sebagai bahan introspeksi, itulah kenapa kita hidup bersama-sama dengan orang lain: karena kita tidak bisa berkaca pada diri sendiri

Leave a comment »

Peraturan

Peraturan-peraturan itu dibuat untuk melindungi kita, bukan untuk menyulitkan kita…taat peraturan lebih menyenangkan dan terhindar dari penyesalan di masa depan, insyallah. Termasuk juga (dan pastinya) peraturan-peratuan dari Allah, dijamin kalau dipatuhi hidup akan tenang dan berkah insyallah…

*malam ini pegel2 menghapus foto-foto di fb, sebenarnya sudah dari dulu dilarang upload foto di fb, tapi nekat.. 😦 baiklah sekarang saya mau memulai pertaubatan…

Leave a comment »

Jangan ke-GR-an!!!

Selamat pagi (walau ditulisnya sore hari, hehe). Kali ini saya mau mengungkapkan unek-unek dalam hati tantang rasa GR. Apa itu? Gak tau juga sih definisinya, pokoknya GR hehe…

GR adalah salah satu pintu masuk dan jebakan yang membuat seseorang menjadi galau, menumbuhkan benih-benih rasa suka dan rasa penuh harap, huh! Emang susah kalau sudah berhubungan dengan yang namanya galau. Ada orang yang bilang assalamualaikum dikira memberi sapaan khusus, yang sebenarnya biasa aja dan dia sangat biasa megucapkan salam ke banyak orang lain. Dia balesin sms dikiranya wah perhatian banget sampai bales sms dari aku, ya ampun please deh adalah hal yang sangat wajar kalau seseorang disms dan membalas sms tersebut. Lalu, dia tanya sesuatu ke kita, lalu kita berpikir Ya Allah…dari sekian banyak temen-temen dan sekian banyak temen cowoknya dia kenapa dia tanya ini ke aku, berarti aku terpilih dong hahaha….hahaha juga, please deh biasa aja dia nanya begitu, mungkin emang dia gak punya nomor yang lain, atau kebetulan kamu habis sms dan dia males nyari nomor temen yang lain lalu dihubungilah kamu biar mudah, begitu saja, simple sekali sebenarnya.

Intinya adalah, jangan mudah digoda GR, dia adalah jebakan yang mematikan, membuat hati-hati yang biasa aja jadi berbunga-bunga. Ingatlah dan pikirlah dengan logika bahwa yang dia perbuat itu adalah hal yang biasa saja, dan dia juga melakukannya ke banyak orang lain, jadi please deh gak suah GR!

Nah, sekarang kalau ada yang bersikap baik dan sikap baiknya itu menimbulkan keGRan bagi orang lain, siapa yang pantas disalahkan? Kata teman saya, orang yang menyebabkanlah yang salah karena dia bersikap baik ke semua orang. Kalau menurut saya, orang yang keGRan yang salah, tidak menjaga hatinya dari tipudaya GR.
Seharusnya bisa lebih mengenali universalitas kebaikan orang lain. tetaplah berbuat baik ke semua orang dan konsistenlah biar mereka yang keGRan akhirnya sadar

Okeh, sudah sepakat? Mari kita tutup dengan hamdalah… alhamdulillahirabbilalamin…

*mari bersikap dewasa dan tetap menebar kebaikan!

Leave a comment »

Kita Harus Membeda-bedakan Teman!

Waktu pelajaran di SD dulu, PMP kayaknya, kita diajari untuk tidak membeda-bedakan teman, tidak boleh pilih kasih dalam berteman. Sekarang saya mendapatkan pencerahan dari kata-kata itu. Agaknya kita perlu definisi teman disini. Kalau saya sendiri mendefinisikan teman itu secara umum, kalau yang dekat dan masuk dalam lingkaran kehidupan kita maka sebut saja mereka sahabat. Dalam rangka berteman, kita sangat boleh berteman dengan siapapun, latar belakang etnis agama bahasa dan ras apapun, tapi dalam rangka berteman, saling menghargai, saling menghormati. Tapi untuk mereka yang masuk dalam lingkaran kehidupan mereka, maka agaknya kita harus membeda-bedakan. Memilih mereka yang satu visi, yang baik dan bisa saling menjaga, yang bisa saling mengingatkan dan sejenisnya… yang penting jangan sampai kita melalaikan lingkaran luar yang bernama pertemanan tadi, walaupun kita sudah memilih lingkaran dalam kita tetap harus menjaga lingkaran luar itu dengan sebaik-baiknya, menghargai dan memberikan banyak kemanfaatan untuk yang lainnnya, insyallah..

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita bersikap. Dalam bersikap kita harus membeda-bedakan teman. Maka dari itu penting bagi kita untuk mengenali karakter teman, kadar kedekatan dengan teman, dan juga idealism teman kita. Makanya kita tidak salah bersikap atau berkata. Misalnya ada teman kita yang orangnya easy going dan asik dan ada yang juga yang introvert dan mudah tersinggung, maka kita perlu memberikan treatmen yang berbeda misalnya untuk memberikan kritikan, bertanya, meminta tolong dan lain-lain.

Kadar kebaikan kita kepada teman juga harus adil, sesuai dengan karakternya. Teman yang keGRan harus diberi treatment yang beda dengan mereka sikapnya biasa saja. Kalau ada teman yang keGRan dan kita memberikan treatment yang sama dengan mereka bersikap biasa wah bisa-bisa nanti keGRannya sampai ke tingkat internasional yang pada akhirnya akan bla-bla-bla.

Maka, membeda-bedakan teman itu boleh dan perlu 😀

Leave a comment »

Aku, Kamu, dan Jarak Antara Kita

Ketika ada seorang laki-laki menyukai perempuan maka saat itulah dia harus menyadari adanya AKU, KAMU, dan JARAK diantara kita atau SUBJECT, OBJECT, and DISTANCE. Yang dimaksud disini adalah, ketika mulai ada rasa maka saatnya kita mengambil jarak untuk bisa lebih menjaga hati dan menjaga diri serta orang yang ‘katanya’ disukai itu, bukan sebaliknya…sementara itu menyiapkan hati, mental, dan materi.

*kata ustad di masjid NA kemarin (semangat-semangatnya memulai kajian rutin yang ikut libur bersama libur semester, ternyata disambut dengan tema MENUJU KELUARGA SAMARABA, *hyuuhh….kenapa? gak apa-apa.)

Leave a comment »

Lima Keharusan dalam Hidup

Dalam hidup ini, ada lima poin yang kalau kita jalankan dengan baik maka insyallah hidup kita akan mulia dan bahagia, apakah itu?

a. Hidup itu harus selamat. Maksudnya apapun profesi dan yang kita lalukan semoga bisa selamat. Kalau jadi mahasiswa ya selamat dari nilai jelek, kalau sedang berkendara selamat dari kecelakaan, kalau sedang menjadi pejabat selamat dari korupsi dan lain-lain

b. Hidup itu harus sehat. Kalau kita sakit kan sebanyak apapun materi yang kita punya jadi gak ada artinya. Punya banyak uang kalau sakit komplikasi juga gak bisa makan seenaknya, paling makanan-makanan standar. Kalau sedang sakit maka tidak bisa bekerja, tidak bisa belajar maksimal, tidak bisa silaturahim, dll. Makanya penting sekali menjaga kesehatan

c. Hidup itu harus bisa mensyukuri nikmat. Apapun yang dipunya kalau kita bisa mensyukuri maka itu lebih baik bagi kita daripada membayangkan yang kita tidak punya yang pada akhirnya malah kita galau terus, menerima dan mesyukuri itu lebih indah 🙂

d. Hidup sekali itu harus terhormat. Nah, ini nih jangan suka menjual harga diri, hehe. Kalau jadi mahasiswa atau siswa jangan mencoreng kehormatan diri dengan suka menyontek dan suka bolos (boleh bolos asal alasannya ilmiah dan syar’I hahaha). Pokoknya jangan sampai melakukan hal-hal yang bisa menjatuhkan harga diri kita, makanya jaim itu perlu, hehe. Hidup jaim! Tapi jaimnya juga jangan lebay ding, sewajarnya saja… termasuk disini memperbaiki penampilan dan memperbaiki sikap, dan selalu up to date *nyambung gak ya?

e. Hidup sekali itu harus untung di akhirat. Kelak manusia akan dibangkitkan kembali untuk melihat dan mendapatkan imbalan atas prestasi dan prasastinya. Maka, mari menanam yang baik dengan ibadah-ibadah supaya kelak kita mendapatkan banyak kebaikan, amin…

2 Comments »

Mantra di 2013??

Kemarin habis ngobrol dengan teman saya. Katanya kemarinnya dia habis diruqyah karena ternyata selama ini dia disantet (dimantra) oleh seseorang. Selama ini dia diikuti oleh 14 jin yang membuat dia malas-malasan, banyak makan, sering mengantuk, dan badannya sakit semua. Usut punya usut memang ada masalah dengan seseorang yang melakukan itu…kemudian dia berkomentar,

“Ini sudah 2013 lho, jamannya kompetensi masak masih main mantra-mantra, apalagi pelaku insan akademis.”

Waktu itu saya hanya bisa tersenyum (kalau tidak boleh disebut ngakak). Jadi telah terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat antara kedua orang ini yang berlarut-larut dan kedua tetep kekeuh dengan pendapat masing-masing sampai pada akhirnya terjadilah peristiwa mantra-mantra yang mengirimkan 14 jin untuk mengikuti teman saya itu, hmm..

Sebagai muslim saya percaya dengan adanya makhluk gaib, tapi saya tercengang mengenai adanya mantra-mantra atau jampi-jampi yang sengaja dibuat untuk mencelakakan orang lain atau membuat susah hidup orang lain, dan lebih tersengang lagi bahwa ada orang yang tega melakukan itu, dan lebih tercengang lagi bahwa itu dilakukan oleh penghuni kampus yang katanya intelektual, hehe… saya hanya bisa berkomentar,

“Kenapa begitu ya, sekarang kan jamannya kompetensi, harusnya kalau memang merasa benar bisa dibuktikan dengan kinerja yang lebih baik, prestasi yang lebih baik, kenapa harus menjatuhkan orang lain dengan cara seperti itu, itu namanya pembodohan diri sendiri…”

Ya, menurut saya orang yang melakukan jalan pintas atau menghalalkan segala cara untuk mengegolkan dirinya sendiri adalah orang yang rugi karena dia sedang membohongi diri sendiri. Seharusnya dia meningkatkan kompetensi supaya bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Ibaratnya dia sedang berada di zona tidak nyaman dengan adanya persaingan, kalau dia melakukan jalan pintas artinya dia malah kembali berlindung di zona nyamannya sementara orang lain bertarung dengan meningkatkan kapasitasnya, maka pada akhirnya pun kebenaran atau kompetensi akan menang, karena orang lain berhasil melewati zona tidak nyaman dan naik ke kelas dengan mendapatkan zona nyaman yang setingkat lebih tinggi sedangkan dia yang malas berusaha itu tetap berada pada tingkatnya, gak naik-naik.

Sekian, bila ada salahnya mohon dimaafkan 🙂

Leave a comment »