Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Sakitnya Luar Biasa, Nikmatnya Tak Terkira

“Nek lahiran mbur koyo wong ameh pup, jenenge ora surga di telapak kaki ibu”1,kata teman karib saya ketika saya bercerita tentang pengalaman melahirkan. Kebetulan teman saya ini sedang menghitung hari menuju HPL.
“Pokoknya siap-siap aja Mbak..persiapkan diri untuk merasakan sakit yang luar biasa. Orang-orang bilang sakitnya kayak orang mau pup, ternyata itu bohong… iya awal-awalnya rasanya mules kayak mau pup, lama-lama… luar biasaaaaaahh. Tapi setelah itu.. MasyaAllah..plooooong.. cuma bisa bersyukur dan bersyukur…” cerita saya kepadanya.
***
Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan dalam proses melahirkan anak pertama saya, Wafa. Bayi perempuan menik-menik2 yang beratnya waktu itu 2.4 kg saja.Tapi tangisannya luar biasaaa.Karena tampak sehat wafa tidak diinkubator, soalnya gak ada inkubator juga.Saya melahirkan di Rumah Bersalin milik seorang bidan senior.Dulunya ibu mertua juga melahirkan anak ketiganya di sini.Sekarang adik ipar saya itu sudah kelas 2 SMA. Kebayang kan betapa seniornya bu bidan ini.
Saat itu kami mengungsi ke rumah mertua untuk persiapan lahiran karena jaraknya dekat dengan rumah bersalin.Semua perlengkapan sudah disiapkan, tinggal berangkat kalau sudah mules.Karena bapak dan ibu mertua saya sedang melaksanakan ibadah haji waktu itu, tinggallah kami berdua pasangan muda unyu-unyu, adik ipar laki-laki, dan budhe yang sudah sepuh yang sehari-hari menemani adik ipar selama bapak dan ibu mertua berhaji.
5 Oktober 2015, sehari sebelum HPL, saya sudah menanti-nanti datangnya tanda-tanda, namun yang dinanti tak kunjung datang.Ibu saya selalu menanyakan sudah ada tanda-tanda mau lahiran atau belum.Cerita ibu saya, beliau sudah menyiapkan perlengkapan untuk menemani saya kalau sewaktu-waktu mendapat kabar mau melahirkan.MasyaAllah, ibu itu seseorang banget yah.Di banyak kesempatan setelah saya menikah, saya semakin mencintai ibu saya.Beliau rela pulang pergi sejauh 40 km untuk menginap di rumah saya sekedar menemani kalau suami jaga malam. Sering beliau mengendarai sepeda motor sendiri melewati jalan Solo-Sragen yang ramai dan padat, padahal usianya tak lagi muda dan tak terlalu lincah mengendarai sepeda motor. Begitulah seorang ibu, apapun dilakukan demi anaknya. Barangkali dan pasti hal-hal seperti itu yang kelak akan saya lakukan untuk anak-anak saya. Dan proses melahirkan ini adalah salah satunya.
Sementara itu, ibu mertua juga tak kalah sering menanyakan kabar.Dari tanah suci, ibu berpesan kepada saya supaya sabar. Saya pun bertanya-tanya, kenapa pesannya itu ya? Saya mengira ibu akan memberikan banyak wejangan ini itu. Ternyata hanya satu kata, sabar.“Bapak karo ibuk ning kene dongakne terus, mugo-mugo diparingi gampang.”3
***
6 Oktober 2014.Inilah hari yang saya tunggu-tunggu untuk menjalankan tugas mulai sebagai ibu, HPL.Saya memulai hari dengan penuh semangat.Setelah shalat, saya dan budhe jalan-jalan.Sesekali budhe bercerita mengenai pengalamannya melahirkan 6 anaknya tanpa dibantu bidan, hanya dibantu dukun beranak.Budhe bercerita dengan santainya seakan-akan melahirkan adalah hal yang biasa, dan barangkali memang demikian halnya.Jadilah saya makin yakin bahwa melahirkan itu tidak sulit.Namun ada kekhawatiran karena sebelum-sebelumnya posisi Wafa belum ‘mapan’. Wafa baru mapan di lintasan luncur (kepala di bawah) waktu usia 37 minggu, sebelumnya sejak usia 28 minggu posisinya melintang-sungsang-oblique. Jadilah saya rajin bersujud setiap waktu dan alhamdulillah berhasil me’mapan’kan Wafa pada tempatnya.
Sore harinya, kami memutuskan ke dokter.Hasil pemeriksaan menunjukkan kehamilan saya masih oke-oke saja dan bisa ditunggu sampai seminggu kemudian.Kata dokter, kalau H+7 belum lahir akan dilakukan tindakan, entah induksi atau operasi. No no no, menurut cerita induksi itu lebih sakit daripada kontraksi alami dan saya takut kalau harus dioperasi (efek nonton video operasi sesar di youtube T.T ). Alhamdulillah tidak ada penghalang untuk melahirkan normal, tinggal menunggu waktu saja dan kehendak Allah.Hari, tanggal, dan jam kelahiran anak kita sudah ditetapkan, kita hanya perlu pasrah dan khuznudzan.
Setiap pagi berangkat kuliah, suami saya selalu berpesan kepada Wafa yang masih di dalam perut, “Dek, lahirnya pas abi di rumah yaa…”.Suami saya seorang dokter yang sedang mengambil S2 di Yogyakarta.Setiap hari berangkat subuh dan pulang magrib kadang isyak.Sabtu pagi-Ahad malam suami bekerja di sebuah klinik di Wonogiri.Hanya bisa berharap semoga mules-mules dan lahirannya pas suami ada di rumah. Saya membayangkan Wafa manggut-manggut di dalam perut saya,
8 Oktober 2014.Seharian itu saya memeras keringat untuk mencuci manual, menjemur, ngepel ala inem seluruh ruang, dan jalan-jalan di treadmill.Berharap si Wafa segera keluar.Rabu petang, masih di hari yang sama. Saya dan suami memutuskan ke bidan.Disana saya diminta untuk ke sebuah ruangan untuk pemeriksaan dalam.Apa itu? Suami saya belum pernah cerita istilah pemeriksaan dalam (atau mungkin saya yang lupa hehe).Ternyata pemeriksaan dalam itu sakit, saya meringis dan malu.Bu bidan cuma bilang, “Santai wae Mbak, nek santai ndak sakit.”4. Belum bukaan tapi sudah tipis”, lanjutnya. Entah apa yang sudah tipis, tapi suami saya manggut-manggut, saya ikut manggut-manggut saja. Kunjungan kami di bidan diakhiri dengan komentar bu bidan, “Paling engko bengi”5.Baiklah, lampu kuning. Saya bahagia sekaligus was-was.
Rabu malam bakda isyak.Kebetulan saat itu di rumah sedang ada halaqoh suami saya.Saya masih wara-wiri menyiapkan suguhan.Menjelang pukul 9 malam saya merasakan mulas.Masih biasa.Saya belum merasa kalau itu tanda lahiran.Saya masih terus beraktivitas.Sampai pukul 11 rasanya makin mulas.Saya mulai tidak tenang mondar-mandir kesana kemari, duduk, berdiri, jalan, tiduran, miring, pokoknya mencari posisi yang nyaman. Saya mulai mual dan memuntahkan apa saja yang saya makan. Adik ipar saya cengar-cengir melihat tingkat saya waktu itu, “Lha meh lahir kuwi Mbak.”6
Sementara itu suami saya berkali-kali mengajak untuk ke bidan.Saya bilang kalau saya masih kuat.Pukul 01.30 saya sudah makin kesakitan.Suami saya langsung membawa saya ke bidan.Sementara itu, adik dan budhe masih terlelap.Sampai di rumah bersalin, dicek bukaan, kata bu bidan bukaan 1.Saya dan suami diminta menginap di klinik saja.Rasa mulas itu makin sakit.Suami saya berkali-kali menenangkan, meminta saya tidur menghemat tenaga.Tidak bisa, kecuali tertidur setiap rasa mulas itu reda beberapa saat.Saya sudah tidak bisa makan dan minum apa-apa, semua dimuntahkan lagi.
Pukul 02.30 saya merasakan ada letupan di dalam perut ‘plukk’, lalu syuuuuur… ada cairan yang keluar dari jalan lahir tanpa biasa dikendalikan. Suami mengecek, “Ketuban, Dik.”Ternyata begini rasanya pecah ketuban. Bu Bidan, bukaan 2. Sejak itu saya pindah ke ruang bersalin dengan kostum bersalin lengkap.Saya menyadari bahwa sebentar lagi saya akan melewati perjalanan itu, sebuah perjalanan yang sebanding dengan jihad. Ada rasa khawatir dan takut, tapi saya berusaha menguatkan diri.Ya Allah, hamba ikhlas.Saya merasa perlu menghubungi ibu.Saya ingin ditemani dan didoakan oleh ibu.Ya, ibu.Saya meminta suami untuk menghubungi kedua ibu kami, meminta doa. Ibu saya langsung bersiap menuju Solo.Sementara itu, bapak dan ibu mertua langsung menuju masjid untuk mendoakan kemudahan bagi saya.
***
Pukul 03.00.Allahu akbar. Rasa mulas itu makin menjadi.Saya makin gelisah. Saya bertanya ke bidan jaga,
“Mbak, ini lahirnya masih lama?”
“Baru bukaan 3 Mbak.”
“Tiap bukaan jaraknya berapa?”
“Kalau anak pertama sekitar 1-2 jam Mbak”
Allahu akbar, saya berhitung saat itu baru pukul 3 dan artinya kalau sesuai teori saya baru akan lahiran sekitar setengah hari lagi. Masa-masa seperti ini rawan stress sekali, beruntung suami selalu memberi semnagat.
“Ada anti nyeri gak sih Mbak, biar sakitnya berkurang?” pertanyaan ‘aneh’ yang saya lontarkan sambil meringis kesakitan.
“Gak ada Mbak, makin sakit makin bagus, tandanya makin dekat ke lahiran”
Saya pasrah.Waktu terus berjalan dan rasa sakit itu makin dahsyat.Rasanya saya pengen bilang ‘PAUSE!’ waktu kontraksi datang, biar saya bila mengatur nafas dan rasa sakit.Saya meremas tangan suami, menarik rambut, dan entah apa lagi. Berkali-kali suami mengingatkan untuk berdzikir.
Adzan subuh berkumandang.Suami saya pamit ke masjid.Awalnya saya mencegah, saya takut sendirian di ruang bersalin itu.Lalu suami saya menguatkan, “Ndak lama Dik.”Tak lama, ibu saya datang.Ibu masuk ke ruangan lalu memeluk saya, saya merasa damai.Ibu mengecup lalu mendoakan saya.Ibu menemani saya selagi suami shalat subuh.
Usai shalat subuh saya merasakan sakit yang amat sangat.Saya sampai berteriak kesakitan tiap kontraksi, seperti ada yang menekan dan memaksa keluar. Saya mulai berteriak mengejan…
“Dik jangan ngeden dulu!”Kata suami saya setengah panik.
“Nggak bisa ditahaaaann!!!”
Barangkali itulah rasa sakit paling sakit yang pernah saya rasakan.Dalam hati saya ingin menyerah, mengangkat bendera putih dan bilang, “Mas, ayo kita operasi saja.”Astagfirullah barangkali saat itu saya sedang digoda setan.Di saat-saat melahirkan memang harus banyak-banyak berdzikir supaya kita tetap ikhlas dan yakin.
“Kalau belum nangis berarti masih kuat, belum sakit-sakit banget.”Kata bu bidan.
Benar, saya tidak menangis.Tandanya saya masih kuat.
Saya mengejan tanpa bisa ditahan, banyak cairan yang keluar dari jalan lahir entah darah atau apa. Lalu episode terakhir itupun dimulai.Saya diminta telentang dan menekuk kaki.Ternyata tak butuh selama itu sampai bukaan lengkap.
“Kalau kerasa kenceng ngeden ya Mbak.”Kata bu bidan.
Inilah episode yang sering diajarkan oleh suami saya.Jangan ada suara waktu mengejan, pusatkan tenaga di jalan lahir, atur nafas, jangan angkat bokong.Kepala bayi sudah terlihat, dan saya mengejan setiap kontraksi.Tak langsung berhasil.Saya merasa setiap mengejan jalan lahir melar semelar-melarnya.Saya mengejan sekuat dan selama yang saya bisa.Lalu, broooolll…..tepat pukul 06.00, 9 Oktober 2014 Wafa lahir.Alhamdulillah.Alhamdulillah.Alhamdulillah.Sebuah nikmat yang tak terkira.Tangisannya kencang sekali dan saya ikut menangis bahagia.Suami saya memeluk dan berkali-kali mengecup kening saya.Alhamdulillah perjalanan itu telah terlewati. Saya sudah tidak tau apa yang dilakukan para bidan, saya mendekap Wafa di dada, melihatnya, membelainya, MasyaAllah… inilah Wafa yang 9 bulan kami bayang-bayangkan. Allahu akbar.
Kami dirawat di satu kamar, setiap saat saya bisa melihatnya, putri kecil kami.Setelah melahirkan bukan berarti urusan selesai.Saya masih harus belajar banyak hal.Bukan sekedar menyusui, karena ternyata duduk, buang air, dan berjalan pascamelahirkan itu juga butuh usaha ekstra.Saya ingat waktu itu saya takut buang air karena takut jahitannya kenapa-kenapa.Saya sempat buang air kecil sambil berdiri dan buang air besar dengan penuh perjuangan.
Pelajaran selanjutnya adalah menyusui.Ini cukup menggalaukan karena puting saya datar, harus ditarik pakai spet dulu setiap mau menyusui.Akhirnya bu bidan menyarankan untuk membeli sejenis nipple yang ditempelkan ke putting, barangkali bisa membantu.
Menjelang pukul 9 malam suami saya mencari alat yang dimaksud. Cukup jauh menuju toko yang lengkap dan sesampainya di sana ternyata uang yang dibawa suami kurang. Bagusnya lagi ATM ketinggalan. Suami saya memohon kepada pemilik toko untuk tidak tutup dulu. Sementara itu suami saya mencari pinjaman uang ke temannya yang rumahnya tidak jauh dari toko.Ternyata temannya tidak ada.Dengan mengumpulkan segenap keberanian, dia meminjam uang kepada ayah temannya itu.Akhirnya dapatlah alat itu seharga 70 ribuan.
Sesampainya di klinik, suami bercerita tentang kejadian yang dialaminya.Saya tersenyum haru, bangga, dan makin mencintainya.
“Gak papa abi malu sedikit, yang penting Wafa bisa mimik.”Katanya.
Wahai para ayah, kalian luar biasa.Bahwasanya melahirkan itu bukan perjuangan ibu seorang diri, ada juga ayah yang tak kalah banyak berkorban.Setelah dicoba-coba, ternyata alatnya tidak terlalu membantu, jadi kami harus sabar perlahan dan terus mencoba menyusui.
Hamil dan melahirkan cuma secuil perjuangan sebagai orangtua.Masih ada PR besar untuk mengantarkan anak-anak kita hingga dewasa menjadi insan-insan yang tangguh aqidahnya, akhlaknya, pikirannya, fisiknya.Semoga Allah kuatkan dan mudahkan jalan kami. Semoga kelak anak-anak kami menjadi pemberat timbangan kebaikan kami di akhirat, aamiin..
Usai melahirkan, bapak saya berpesan, “Duwe anak ki engko repot, tapi sak repot-repote duwe anak tetep luwih seneng katimbang ora duwe anak.Kudu bersyukur.”7
Kalau menjadi ibu itu mudah, maka bukanlah surga di telapak kakinya.Wahai ibu, lelahmu mendidik anak adalah jihadmu, dan Allah siapkan pahala tak terkira di dalamnya.

***
Melahirkan itu sakit.Iya, betul.Tapi saya merindukan saat-saat itu.Tahukah, saat itulah saya merasakan indahnya pasrah kepada Allah, indahnya ikhtiar hingga batas kemampuan sampai saat yang ditentukan Allah untuk berbahagia.Saya merindukannya.Semoga Allah mengijinkan saya merasakannya lagi serta memberi kekuatan untuk mendidik putra-putri saya kelak hingga menjadi generasi yang tangguh.Teruntuk suamiku, setiap jengkal perjuangan itu menjadi semakin indah bersamamu.

***
Catatan:
1. Kalau melahirkan rasanya cuma seperti mau buang air, namanya bukan surga di telapak kaki ibu
2. Kecil mungil
3. Bapak dan ibuk di sini mendoakan terus supaya diberi kemudahan.
4. Santai saja mbak, kalau santai tidak sakit
5. Sepertinya nanti malam
6. Hampir lahir itu Mbak.
7. Punya anak nanti repot. Tapi serepot-repotnya punya anak lebih bahagia daripada tidak punya anak. Harus banyak bersyukur.

Advertisements
Leave a comment »