Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

“Tragedi”Puasa Arafah

Ini cerita beberapa bulan yang lalu ketika saya dan teman-teman sedang mempersiapkan sebuah agenda besar di daerah Matesih, Karanganyar. Ceritanya waktu itu adalah hari arofah, jadi kami semua (kecuali saya waktu itu) puasa arofah, ada 4 putri dan 4 putra…
Kami berempat (putranya ketinggalan) sampai di rumah tempat dilaksanakannya acara. Awalnya semuanya baik-baik saja hingga si Ibu tuan rumah yang baik menyuguhkan teh lengkap dengan gelasnya sesuai jumlah kami. Ngiiiiiikkkkk….. disuguhi cah! Piye iki? Kami saling berpandangan satu sama lain, rasanya ingin tertawa dan entahlah apa perasaan kami saat itu. Andai kami mengatakan dari awal kalau kami sedang berpuasa… kalo saya sih biasa aja gak ada bedanya, hehe
Berkali-kali kami menolak dengan mengatakan,
“Nggih Buk…”
“ya…. Matur nuwun…”
“nggih, mengke buk…”
Rasanya tidak nyaman. Saya melihat wajah teman-teman saya kecut. Puasa arofah yang sangat berharga haruskan dibatalkan karena secangkir teh panas yang nikmat di tengah suasana yang dingin ini?
Amat sayang….. 
Saya tertawa tawa sendiri melihat tingkah teman-teman saya. Awalnya saya bertahan. Tapi si Ibu terus memaksa dan…. akhirnya saya meng-iyakan dan meneguk teh tersebut…(sembari tersenyum pada teman-teman saya yang lain, haha)
Si ibu belum juga menyerah. Akhirnya teman-teman saya kalah. Dituanglah teh kedalam gelas, dan………….. glek glek………… saya miris. Saya seakan bisa merasakan perasaan mereka. Puasa yang telah dinantikan selama setahun…. Kandas….
Tak lama kemudian, para putra datang. “Enak ya mereka gak jadi korban batalin puasa, sudah kami wakili (kecuali saya tentunya)” pikir saya….
Tapi…. Tak lama kemudian si Ibu keluar dari rumah dan……….. MEMBAWA TEH LAGI untuk teman-teman saya yang baru datang. Hahahahahaha, saya tersenyum penuh kemenangan mewakili teman-teman yang putri…
Saya (mencuri) melihat wajah mereka memerah. Bingung. Lalu tanpa pikir panjang… mereka meneguk suguhan tersebut. Melihat teh kami masih banyak, salah satu dari mereka bertanya,
“Lho… belum diminum?”
“Sudah” jawab saya
“Kog masih banyak. Jangan begitu, kita harus menghormati ibunya…” katanya. Ya memang ada benarnya juga….
Lengkap sudah tragedi puasa arofah kami semua (kecuali saya)…. Semoga Allah mengampuni…
Tapi kan kami (kecuali saya) tidak membatalkan puasa dengan semena-mena. Ada alasan yang insyallah syar’i, memuliakan tuan rumah yang memuliakan tamunya… insyallah…
Tidak hanya sampai disitu. Penyesalan kami akan tragedy puasa arofah ini masih berlanjut. Ibu tuan rumah MEMASAK MAKAN SIANG untuk kami. Mau menolak? Tidak mungkin, sudah disajikan. Astagfirullah… nikmat apa ini??
*mungkin ini adalah nikmat Allah bagi mereka yang sedang berjuang. Dan benar, setelah itu kami harus membelah hutan dan jalan… Allah memang paling baik*

Leave a comment »

Menjadi Pelayan bagi Mereka yang Sedang Belajar

Bagi sebagian teman (mungkin juga semuanya…) saya adalah orang yang paling menyebalkan. Saya perfeksionis dan ingin semua berjalan baik tanpa banyak pertanyaan. Semua kondisi yang ideal lah. Sementara itu saya bukan orang yang pandai menjelaskan dan sabar dalam memberikan penjelasan. Mungkin ini akibat saya sering belajar otodidak dan “menuntut” semua orang pun harus bisa belajar otodidak ( kasarannya….usaha dong!aku dulu juga belajar sendiri). Astagfirullah, saya sering mendholimi mereka… (membela diri: tapi emang seharusnya kita sudah bisa belajar sendiri tanpa harus banyak bertanya…)
Kisah 1.
*mbak, tempat X ini daerah mana?
# o, daerah Y.
*terus dari Y kemana?
#ke kanan, terus ada perempatan belok kiri
*waduh, kalo gak ketemu?
#ya tanya,,,,bisa tanya kan!

Kisah 2.
*mbak, bikin proposal ini gimana?
#udah ada contohnya kan, tinggal ngedit aja
*lah…nanti kalau salah gimana?
#dicoba dulu
*ntar salah mbak..
#kalau belum dicoba gimana tau salah benernya

Kisah 3.
*ketemu jam berapa?
#jam 19.30 tet. Telat tak tinggal.

Kisah 4.
*mbak, punya panduan ini?
#punya
*bisa minta?
#iya, tapi lagi dirumah ini gak ada modem… buka aja alamat A klik B download C.

Kisah 5.
#gimana dik perkembangannya?
*belum mbak…

_____selang beberapa hari____

#gimana?
*belum e mbak.. aku bingung

____selang beberapa hari____

#ini dik, udah jadi. Tinggal tanda tangan.

Kisah 6.
*mbak, aku gak punya link ketua ESA nya univ D, gak usah kesana aja ya
#kamu punya cp mahasiswa univ E, nah kamu hubungi itu temen kamu di univ E. minta no,nya mahasiwa univ D. kalo udah kamu hubungi, minta no.nya akan jurusan bahasa inggris di univ D. dari situ kamu tanya aja ketua ESA nya siapa.
*o… iya ding mbak…
#asline kalian ki males repot

Saya memang lemah dalam hal melayani orang yang tengah berproses. Saya selalu menginginkan sesuatu yang ideal. Itulah yang membuat teman-teman saya banyak complain, tapi sedikit dari mereka cukup menyukai cara saya ini (tapi tetep aja banyak yang gak suka ding)… tapi saya juga belajar menghargai proses itu. Walau…dalam hati seakan ingin mengambil alih semua, tapi saya harus menahan diri karena setiap orang berhak belajar. Pasti ketika saya sedang berproses banyak juga orang yang khawatir dan tidak percaya tapi nyatanya mereka membiarkan saya berproses. Hingga sekarang pun saya masih berproses dan melakukan banyak kesalahan dan saya yakin saat ini ada juga orang-orang yang sedang melayani proses belajar saya. Sekarang saatnya saya menjadi pelayan bagi orang lain yang sedang berproses juga dengan memperlakukan mereka sebagaimana layaknya. Kita tidak bisa memaksakan karakter setiap orang. Tapi jangan juga kita lantas memanjakan, justru kita harus membuat orang lain mandiri. Sayangnya jarak keduanya sangat tipis.

Leave a comment »

Ikut Organisasi itu KURANG KERJAAN!

Kata-kata itu saya dapati ketika berbincang dengan seorang teman. Dia menanyai kami waktu itu satu per satu alasan kami ikut organisasi. Waktu itu dia menyimpulkan bahwa hanya sedikit mereka yang ikut organisasi benar-benar memaknai keikutsertaannya dalam organisasi. Bagaimana bisa? Karena banyak yang ikut organisasi UNTUK MENGISI WAKTU LUANG. Itu berarti selama ini dia kurang kerjaan sehingga menyibukkan diri dengan organisasi, it means organisasi hanya sebagai pelarian. Nah, apa jawaban saya waktu itu? Alasan saya berorganisasi adalah karena saya butuh dan saya harus mendapatkan banyak hal di kampus ini termasuk dengan berorganisasi. Kata teman saya jawaban saya CUKUP idealis. Baiklah…

Saya juga cukup sepakat dengan pendapat teman saya tapi tidak sepenuhnya. Memang bisa dibilang mereka yang hanya mengisi waktu dengan berorganisasi adalah orang-orang yang tidak kreatif dan kurang kerjaan. Tapi menurut saya fine-fine saja. Berarti pelariannya adalah hal yang baik (kalo organisasinya baik lho ya), bukan cuma tidur di kost atau nonton film dari pagi sampai pagi lagi. Jadi mereka harus dihargai juga. Jujur, waktu itu saya kurang suka dengan cara teman saya memberikan judge terhadap teman-teman saya yang lain. Tapi ya begitulah, karena teman saya memang berhak mengatakan itu (udah kerja sih dia, jadi suka-suka aja kalo bilang kami kurang kerjaan, hehe). Meskipun, mereka yang ikut organisasi karena kurang kerjaan, keikutsertaannya dalam organisasi pun hanya sebatas “agar waktunya terisi”. Sayang ya…

Kenapa sayang? Kalau cuma mau mengisi waktu luang bukan di organisasi tempatnya (menurut saya). Organisasi terlalu indah untuk diisi oleh mereka yang hanya “mengisi waktu luang”. Maksud hati ingin berkata sesuatu yang idealis, tapi belum pantas rasanya. Saya sendiri, kenapa ikut organisasi? *mungkin bisa dibukan postingan saya yang dulu tentang 8 Alasan Berorganisasi, hehe… saya sendiri sering berpesan pada adik-adik saya,

“Organisasi adalah tempat belajar.Ikhlaslah untuk belajar. Dan belajar itu mungkin akan sangat melelahkan, tapi mereka yang mau
lelah yang akan mendapat banyak ilmu.”

Bukan berarti juga, organisasi adalah tempatnya kerja rodi…orang yang ikut organisasi pada akhirnya harus menjadi orang yang berbeda dengan mereka yang tidak terlibat. Bagaimana mau berbeda kalau yang kita lakukan sama saja dengan yang tidak ikut organisasi? Nah, bagaimana pula kita akan dapat ilmunya kalau kita cuma diam, tentunya harus bergerak dan yang namanya gerak itu pasti butuh energi kan.

Hal-hal yang saya dapatkan dengan bersedia bekerja keras antara lain:

1. Link ke PD3, soalnya PD3 yang paling sering saya temui. Awalnya grogi banget, lama-lama biasa aja. Awalnya saya harus nyari-nyari PD3, akhirnya PD3 yang nyari-nyari saya. Bisa juga dapet banyak kesempatan keluar kota misalnya kalau kita punya link dengan PD3. Nah, tidka mungkin bisa seperti itu kalau kita jarang ketemu kan. Sering ketemu berarti kita sering berusaha menemui beliau yang sibuk, menghabiskan waktu menunggu, bolos kuliah mungkin. Itulah yang saya sebut sebagai kesediaan untuk bekerja. Pada akhirnya, kedekatan dengan birokrat bisa sangat bermafaat termasuk diluar organisasi. Di organisasi yang lain yang lugu tentang “siasat” biasanya taat prosedur dan bingung, maka disitulah kita bisa berperan membantunya…

2. Produksi bulletin. Ceritanya, setelah pelantikan menteri saya sakit dan beberapa bulan kemudian dipanggil Allah swt. Saya? Waktu itu masih kecil, dari departemen kominfo dipindah ke sekjend dan langsung ditinggal. Setelah itu menjadi PJS sekjend. Apa yang saya bisa? Akhirnya, the power of kepepet saya waktu itu benar-benar galau tingkat tinggi. Gak bisa ngurusi adik2, mumet juga harus ngapain diantara menteri2 yang angkatan senior semua. Alhasil saya cuma bisa mempertahankan 2 staff yang bawa kesana kemari. Menyuruh mereka ini itu dan lebih banyak mengurus semuanya sendiri. Misalnya dalam produksi bulletin, saya hunting berita, saya ketik, saya desain sebisanya, beli kertas di pasar kliwon, membuat paper, masukin ke percetakan, ngambil ke percetakan, menata halaman dan menggabungkannya. Saya sering menangis waktu itu merasa tidak kuat dengan “cobaan” ini, tapi nyatanya senior juga tidak bisa berbuat banyak, mereka juga tidak menguasai perbuletinan. Hanya memberi semangat dan uang untuk operasional. Memangnya saya tahu tentang perbuletinan? Bahkan saya sampai sekarang tidak tahu seperti apakah criteria bulletin yang baik itu… payah…

3. Reparasi jam… untuk menghemat biaya dank arena sudah malam. Lagi-lagi the power of kepepet. Saya berhasil merenovasi jam dan membenahi mesinnya. Apa sekarang masih bisa? Sepertinya tidak, saya melakukannya serampangan dan asal jadi. Akhirnya pun jadi walau ya….. JADI-JADIAN!!!

4. Keluarga baru. Biasanya dalam organisasi yang akan menjadi sangat dekat adalah mereka yang sering BEKERJA sama (walau saya merasa tidak pernah bekerja sekeras mereka, hehe).

5. yang pasti public speaking and managerial sangat digembleng, belum lagi segala macam urusan yang membuat mumet *sekaligus mendewasakan dan mengajarkan banyak hal (emang bersama kesulitan itu ada kemudahan )

itu sedikit yang saya dapatkan, ya karena memang kontribusinya masih sedikit. mereka yang all out dalam organisasi pasti mendapatkan yang lebih banyaaaaaaaaaak dari ini

Nah, kembali ke pembahasan… beorganisasi untuk mengisi waktu luang. Okelah, saya sepakat dengan yang itu pada satu sisi daripada digunakan untuk sesuatu yang lebih buruk. Tapi di sisi lain sayang sekali kalau tenaga, pikiran, dan uang yang kita korbankan hanya bernilai “mengisi waktu luang”. Seharusnya ia bisa dimaknai lebih dari itu… organisasi adalah tempat kita belajar bukan cuma menghabiskan waktu.

Leave a comment »

Untitled *^$!*@(#&

#Ini bukan tentang hati yang menggalau
Ini tentang menerima kenyataan meski pahit, dari setiap kepahitan itulah Allah memberitahu kita rasa manis…pasti setelah kepahitan akan muncul sesuatu yang jauh lebih baik, ibaratnya Allah sedang mengganti kulit yang terluka dan bernanah dengan kulit yang baru…terima dan nikmati saja setiap kepahitan dan siapkan diri menjemput nikmat Allah yang semakin mendekat…
Selanjutnya, hidup kita lebih berharga daripada sekedar diam dalam kegalauan 🙂 #

Aku ingin mencari kata-kata yang tepat untuk menuliskan kekecewaan ini
Tapi tak jua aku menemukannya
Adakah kata yang tepat untuk mengungkapkan kekecewaan bagi orang yang sama sekali tidak berhak kecewa ini
Sudahlah waktuku habis memikirkannya, tidak dapat satu kata yang tepat
Terima kasih ya Allah telah mengakhiri kegelisahan ini dengan jawaban yang pasti
Firasat yang selama ini bergelayut akhirnya hilang bersama kekecewaan
Lega, meski sedikit terluka. Sedikit saja ya, hatiku terlalu berharga untuk terluka olehnya
Kini tak perlu lagi aku melukis impian-impian yang mungkin terjadi
Memimpikan sesuatu yang sempurna untuk hidupku
Munafik memang, bagaimana bisa makhluk sehina ini meminta yang sempurna?
Tapi Allah ku adalah maha cinta dan amat kaya dengan kasih sayang
Tidak ada yang sulit bagiNya memberiku sesuatu terbaik untuk menyempurnakan hidupku
Awalnya aku menentukan apa yang terbaik itu,
Tapi ternyata benar-benar Allah lebih tahu
Ditunjukkannya aku kebenaran ini dengan cara yang indah, meski kecewa
Dengan kekecewaan inilah mungkin Allah megajakku bicara
Baiklah, sekarang aku pasrahkan semuanya…
Cukup bagiku meniti jalan cintaNya ini dengan sungguh-sungguh
Urusan apa yang terbaik, pasti Engkau akan memberikannya pada waktu yang tempat yang tepat…
Cukuplah untukku memantaskan diri untuk mendatangi saat itu…
Terima kasih….
Nyatanya aku sudah bersahabat dengan kekecewaan sejak 1,5 tahun yang lalu…
Semoga aku tidak pernah menemukan kata-kata yang tepat untuk mewakili kekecewaan itu.

Leave a comment »

Kekuatan I.R.I

Pertama kali mendengar kata iri itu adalah kata yang tidak baik, sifat yang tercela. Tapi tunggu dulu, Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Maka iri mempunyai dua sisi, baik dan buruk.

Menurut saya iri itu penting. Akan berbahaya kalau orang-orang tidak merasakan iri sama sekali. Orang-orang tua sering mengatakan bahwa “Iri itu boleh, dalam hal ilmu bukan dalam hal harta.”

Bukan masalah dalam hal apa itu baik atau buruk, namun apa yang kita lakukan terhadap ke-iri-an itu. Katakanlah kita iri dengan teman yang lebih pandai. Seharusnya tidak sampai disitu, yang terpenting adalah kalau sudah iri kita mau apa? Kalau kita hanya diam dan tidak berbuat apa-apa untuk menjadi sepandai orang tersebut, maka nonsense. Mari memelihara sifat iri dan menjadikannya tenaga untuk menjadi lebih baik. Jangan sampai hati ini menjadi lelah dengan merasa iri dan terus bertambah sakit karena ternyata kita hanya bisa meng-iri-kannya tanpa berbuat apa-apa untuk menjadikan kita lebih bak pula… Iri dalam hal harta, menurut saya baik juga. Karena dengan begitu berarti kita mempunyai keinginan dan harapan untuk sukses. Selanjutnya apakah kita akan bergerak nantinya untuk menjadi kaya? Mari menggunakan iri sebagai motor penggeraknya… Ingat, dapatkan semua dengan cara yang terhormat ya. Bukanlah orang yang pantas dihargai yang menganggak dirinya dengan menjelekkan orang lain atau merugikan orang lain.

Iri dalam hal kecantikan atau kegantengan. Haduh… ini sensitif. Hm… mari memulainya dengan tujuan kita hidup di dunia ini. Kecantikan adalah rahmat yang harus disyukuri dengan cara yang baik. Bagaimana caranya? Dengan menjaganya dan menjadikannya sebagai sarana kita beramal. Wajah yang cantik dan rupawan memang seringkali menarik perhatian dan kecintaan dari banyak orang.

“Enak ya dia banyak yang suka. Kalo aku masih jomblo-jomblo aja… kasihan ya…”

Hehe, lucu. Sejak kapan jomblo menjadi hal yang pantas dikasihani. Justru jomblo adalah sebuah harga diri (bagi saya).

“Kenapa gak ada yang suka sama aku ya?”

Siapa bilang? Teman-teman disekitar kita dianggap apa selama ini. Kenapa kita jadi menyempitkan arti suka, cinta, dari lawan jenis. Padahal kita selalu punya banyak cinta disekitar kita. Merekalah yang lebih pantas kita hormati dan cintai pula.

Berhenti meng-underestimate diri sendiri. Wajah pas-pasan dan jelek sekalipun adalah rahmat dari Allah. Kalau kita cantik malah nanti bingung karena banyak yang suka. Pernahkah kita tahu bagaimanakah perasaan mereka yang cantik/ cakep dan disukai banyak orang? Apakah mereka nyaman dengan hal ini? Maka mari mensyukuri apapun yang kita punya. Wajah cantik rupawan itu nomor sekian (dalam aturan menikah lho ya…). Yang terpenting adalah agamanya. Bila kita saat ini menjadi orang yang tidak menilai orang lain dari fisiknya, maka kita pun akan dicintai dia yang juga tidak melihat seseorang secara sempit dari wajahnya. Bagi saya, seserang itu baik dilihat dari agamanya, akhlaknya, dan kepandaiannya. Kebaikan ilahi akan senantiasa terpancar walau wajahnya pas-pasan. Maka jangan sedih. Hidupkanlah cahaya Allah, maka hanya orang-orang yang mengerti cahaya ilahi pula yang akan melihatnya.

Saya iri pada teman saya yang hafalannya banyak dan kuat padahal amanahnya lebih banyak dan lebih berat dari saya (jadi, kemana saja ya saya selama ini), maka saya harus berusaha untuk bisa seperti itu…

Saya iri apda teman saya yang binaannya banyak dan patuh. Padahal kami dibesarkan dalam lingkungan yang sama (jadi, kemana saja ilmu yang saya pelajari selama ini), maka saya harus mulai memperbaiki diri untuk bisa menjadi sebaik dia dalam membina dan berdakwah…

Saya iri apda teman saya yang sudah mandiri secara financial padahal kami masih sama-sama kuliah, (hmm…kenapa saya belum juga memulai bisnis ya), maka saya harus segera mencari cara untuk bisa mandiri secara finansila juga…

Saya iri pada teman saya yang lebih paham terhadap materi kuliah, padahal kami diajar oleh dosen yang sama dan materi yang sama (lalu apa saja ya yang masuk ke otak saya selama ini), maka harus belajar lebih giat lagi…

Iri itu penting dan berpotensi membuat kita lebih baik jika kita bisa memanfaatkannya secara benar. Irilah, dan milikilah harapan yang lebih baik bagi kehidupan kita yang (sudah sepantasanya) mulia ini…

Jadi, kita harus iri dengan hal-hal baik dan kita harus segera menjawab rasa iri tersebut dengan berusaha meraih apa yang kita irikan. Hal-hal sepele yang belum tentu semakin membuat kita baik atau lebih mencintai Allah, minggir dulu saja lah ya… 🙂

Leave a comment »

Allah adalah tujuan kami

Mengarungi samudera kehidupan
Kita ibarat para pengebara
Hidup ini adalah perjuangan
Tiada masa tuk berpangku tangan
Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan sirna ditelan masa
Segores lukan dijalan Allah
Kan menjadi saksi pengorbanan
Allah ghoyyatuna
Ar Rosul qudwatuna
Al qur’an dusturuna
Aljihadu sabiluna
Al mautu fi sabilillah
Asma amanina
Allah adalah tujuan kami
Rasulullah teladan kami
Alqur’an pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Syahid dijalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi…

Indah ya syair ini. Saya menangis ketika lama tak mendengar nasyid ini dan kemudian mendengarnya kembali. Seperti kehilangan apa yang sempat saya miliki dulu… Alhamdulillah, Allah memberikan kasih sayangnya selalu dan menjaga saya tetap berada di lingkungan ini…

Hidup ini adalah perjuangan
Tiada masa tuk berpangku tangan

Ya, hidup adalah perjuangan. Seyogyanya tidak ada waktu bagi kita untuk bermalas-malasan. Kewajiban kita lebih banyak disbanding waktu yang kita punya. Maka wajib bagi kita “ketika selesai dari suatu urusan, maka bergegaslah kepada urusan yang lain.” Rasulullah adalah manusia paling produktif. Tidak ada waktunya yang tidak bermanfaat.

Diamnya adalah pikir
Bicaranya adalah dzikir
Amalnya adalah keteladanan

Ya Rosulullah, aku merindukanmu…meski akupun tak sanggup membayangkan seperti apa dirimu. Aku hanya tahu bahwa engkau sangat mencintai ummatmu, hingga sebelu kau wafat dan kelak dibangkitkan pertama kali, “ummati…ummati…” kata yang engkau ucapkan. Semoga aku selalu menjadi pengikutmu yang baik dan pantas engkau sebut sebagai “ummati…” itu. Salam atasmu wahai rosulullah tercinta…

Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan sirna ditelan masa
Segores lukan dijalan Allah
Kan menjadi saksi pengorbanan

Ya, Allah tidak pernah tidur. Dia maha melihat semua yang kita lakukan hingga setiap peluh yang menetes tidak lepas dari sepengetahuannya. Hingga semangat yang mengalir bersama aliran darah senantiasa dia melihatnya. Semuanya akan menjadi saksi pengorbanan kita kelak. Semua gelisah, lelah, kecewa, juga luka yang menganga atau tersembunyi dalam hati.

Allah adalah tujuan kami
Rasulullah teladan kami
Alqur’an pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Syahid dijalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi…

Ketika Allah menjadi tujuan, maka tidak akan ada yang sis-sia. Tidak aka nada yang terlalu berat karena Allah lah yang memberi tenaga. Tidak aka nada yang terlalu sakit, karena Allah yang memberikan kekuatan. Percaya dan cinta padaNya membuat hati selalu damai apapun yang terjadi. Allah tempat kita memulai dan berakhir.

Rasulullah, apalah yang bisa kami lakukan bila dulu tidak ada engkau yang mengemban amanah berat ini pada awalnya. Apalah yang kami tahu tentang islam dan mencintai Allah bila kau dulu tak mengajarinya. Bagaimanakah kami tau tentang dakwah dan jihad bila engkau tidak mencontohkannya… maka semoga kami selalu menjadikanmu teladan dalam semua aspek hidup kami

Al-qur’an pedoman hidup kami. Ia mengajari kita semua ilmu, melalui qur’an kita tengah berbicara dengan Allah. Melantunkan ayat-ayat cintaNya, memperlajari dan mengajarkannya. Dengannya kita tidak akan pernah tersesat selama kita memahaminya dengan fikroh yang benar dan tidak sombong.

Jihad adalah jalan juang kami. Jihad bukan sebuah kata yang menyeramkan. Jihad adalah jalan yang mulia dan bagi semua hal yang mulia, jalannya yang ditempuhnya pun selalu mulia. Islam adalah agama kedamaian dan keselamatan, maka jihad sejatinya adalah permbawa kedamaian dan keselamatan itu sendiri. Dan inilah jalan jihadku, menjadi da’i sebelum yang lain, menjadi bagian dari sebuah kata mulia bernama dakwah. Berat ya? Tidak, bahkan kita semua mempunyai kewajiban berdakwah, sadar atau tidak.

Allahumma amitni ‘ala syahadati fi sabilik. Ya Allah matikanlah aku dalam keadaan syahid di jalanmu. Apalah yang lebih indah daripada akhir hidup seorang muslim selain menjadi syuhada. Maka tidak ada pilihan selain menjaga keikhlasan dan keistiqomahan dijalan Allah…

“Mintalah firdaus yang tertinggi.” Kata rosulullah, maka apa salahnya selalu menyenandungkan permintaan ini dalam do’a-do’a kita…

“Ya Allah, berikanlah aku syahid di jalanMu…”

Jalan ini memang panjang dan lama. Tapi janji Allah tidak pernah salah dan teringkar. Suatu saat agama yang mulia ini akan tegak dan semoga kita termasuk dalam pengusung-pengusungnya. Meski mungkin kita tidak melihat kejayaan itu,,, semoga surgalah yang akan menjadi tempat kita merayakannya.

Ikhlas. Semangat, istiqomah. 19022012

3 Comments »

Crazy Little Thing Called Love

Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang membuat seseorang terus melakukan hal-hal baik. Suatu perubahan muncul karena adanya cinta. Cinta kepada Tuhan, kepada diri sendiri, kepada orang lain, kepada tanah air, kepada sahabat. Cinta mempunyai energy yang maha dahsyat meski hingga saat ini belum ada yang mampu mendefinisikan cinta. Mungkin memang cinta diciptakan bukan untuk didefinisikan, entahlah.

Terkadang cinta membuat aku menyesali sesuatu juga membenci sesuatu yang lain. Namun juga seringkali, cinta membuat aku nyaman dan hidup dalam kesyukuran. Jadi, apakah cinta itu pembawa kesedihan atau kebahagiaan? Dua-duanya, cinta memang sesuatu yang gila. Mereka yang jatuh cinta selalu menjadi gila.

Ketika aku mencintai maka aku ingin pula dicintai. Bila tidak? Aku harus membuatnya mencintaiku agar aku bahagia. Bagaimana? Berubah menjadi seseorang yang pantas dan ingin dicintainya. Apakah itu hal yang salah? Tidak. Itulah salah satu tujuan mengapa cinta diciptakan. Agar seseorang melakukan perubahan.

Maka aku ingin mencintai dia yang menginginkan seseorang yang sempurna. Agar aku tak bersembunyi dibalik semboyan, “yang mau menerima aku apa adanya.” Bila begitu, maka aku juga akan mendapatkan yang apa adanya. Kalau aku bisa mendapat yang terbaik mengapa harus menerima yang apa adanya? Lalu, sayangnya sampai sekarang aku belum menemukannya… Allah belum menunjukkan jalannya. Lalu? Menunggu, sambil terus menyibukkan diri selama menunggu menjadi sosok yang pantas dicintai dan dijaga.

Cinta juga bisa membuat aku kecewa. Lalu, apakah berarti cinta adalah makhluk yang jahat? Bukan. Bersyukurlah kalau masih bisa merasakan kecewa, daripada tidak sama sekali. Bukan cinta yang salah, tapi kita yang salah menempatkan cinta atau salah dalam melakukan langkah perubahan untuk mendapatkan cinta. Bisa juga, kita dibuat kecewa agar kita menyadari lebih dekat bahwa yang kita cintai bukanlah yang terbaik. Bersyukurlah dengan rasa kecewa dan mari belajar dari kepingan-kepingan hati yang terserak.

Cinta yang sebenarnya selalu mengantarkan pada kebahagiaan dan hal-hal yang baik. Saling menjaga, saling mengasihi. Cinta yang tulus akan menemukan jalannya sendiri untuk itu. Tak peduli berapa lama harus menunggu. Cinta akan memberikan kekuatan untuk itu. Cinta yang sebenarnya adalah keyakinan dan kepercayaan terhadap hal-hal baik yang mungkin terjadi. Tak peduli berapa kali harus kecewa, cinta yang sebenarnya akan menemukan jalannya sendiri pada kebahagiaan di waktu yang tepat yang membuatnya indah…

Contohnya seperti ini 🙂

Leave a comment »

The Humble Man, Pak Sabar!

Namanya sangat singkat, SABAR. Ya, hanya itu…. SABAR. Mungkin nama itu pulalah yang membuatnya mampu bersabar menghadapi ujian hidup yang demikian pahit. Suatu peristiwa kecelakaan kereta api yang memaksa dia kehilangan salah satu kakinya. Tapi dia mampu bersabar hingga menjadi seperti sekarang. Seorang tuna daksa yang mampu mengharumkan nama Indonesia dengan mendaki gunung Elbrus dan Kilimanjaro. Dimanakah itu? Katanya ada di suatu tempat bernama Afrika dan Rusia. Gunung yang sangat tinggi dan puncaknya bersalju. “Salju itu seperti tepung”, katanya. Baiklah, saya sekarang sudah bisa membayangkan bagaimana salju itu…

Darimana saya tahu beliau? Asean Paragames. Lagi-lagi event itu telah memberikan makna indah dalam hidup saya. Pada saat upacara pembukaan, pak Sabar menaiki podium gelora Manahan dengan tongkatnya. Sangat lincah dan kemudian menghilang. Saya mencari-cari waktu itu, tak lama kemudian, dia terbang dari podium menuju tempat obor. Ketika itu pembawa acara membacakan prestasinya. Speechless. Seseorang yang tidak sempurna mampu melakukan itu, betapa Allah adil pada hamba-hambaNya… “Saya harus belajar dari dia!” pikir saya waktu itu. Tapi muncul juga keraguan, “memang dia tinggalnya dimana? Punya fb gak ya? Blog? Atau media lain kah?” Lalu saya lupa dengan niat saya itu karena terhanyut dalam “romansa” APG.

Hingga suatu hari, adik saya Memet mengatakan, “Woalah Mbak…. Kowe pengen ketemu pak sabar? Kae lho rumahe ngarep kosku… “ dengan entengnya Memet mengatakan itu…
“Alhamdulillah…” saya bersyukur, sangat bersyukur atasa kemudahan yang diberikan oleh Allah. Beginilah nikmatnya punya banyak saudara dan teman…hehe…
“Kapan aku diantar kesana?”
“Ntar aku kabari deh.” Jawaban singkat dari Memet sedikit meruntuhkan kebahagiaan saya…

Lalu beberapa waktu berselang,

“Dik, kapankah kita ke tempat pak sabar? Tapi kalai kamu sibuk kapan aja deh gak papa.”
“Sekarang bukan aku yang sibuk, tapi bapaknya yang lagi sibuk mbangun rumah.”

………..speechless…………

Lama setelah itu… sebuah sms datang.
“Mbak, masih mau ketemu pak sabar?”
“Mauuuuu…. Kapan?”
“Jumat ba’da Jumatan. Pripun?”
“Okay. Terima kasih Memet… ”

Dan hari itupun datang….
Kami (saya, memet, reni, dan mbak Ay) meluncur ketempat pak sabar. Ternyata Benar, rumahnya hanya disamping kampus kami. Kemana saja kami tidak pernah menyadari hal ini? Mungkin benar adanya kalau mahasiswa lebih asik dengan dirinya sendiri, urusannya sendiri, hehe

Kami disambut dengan sangat BIASA. Tidak ada kesan bahwa kami adalah tamu yang hendak belajar dari dia. Kami berpikir dia akan memberikan motivasi dan bercerita tentang perjuangannya. Namun, ternyata pak sabar bukanlah seseorang yang senang bercerita tentang dirinya. Dia tidak akan bercerita kalau kami tidak bertanya. Lalu, apa yang kami lakukan disana?

Pertama-tama pak sabar memperlihatkan sepatu yang dipakainya mendaki Elbrus dan Kilimanjaro. Sepatu itu kini ada dihadapan saya berikut yang memakainya. Hanya sebelah memang karena memang pak sabar cuma punya satu kaki. Selanjutnya beliau bergerak dengan lincah ke lantai 2 mengambil laptop. Ya, setelah itu kamu melihat perjalanan pak sabar mendaki kedua gunung tertinggi tersebut dengan sesekali mendengarkan cerita tentang tempat-tempat yang tengah dilalui (tentunya setelah kai bertanya). Saya mendapat kesan, pak sabar memang orang biasa. Dia samasekali tidak menganggap dirinya sebagai pahlawan atau apa. Dia bersikap biasa bahkan bercanda layaknya orang Solo pada umumnya. Rendah hati…. Oiya, video yang kami lihat masih bersifat dokumentasi pribadi dan tidak boleh dicopy (jadi mau pamer bahwa kami adalah orang-orang terpilih yang melihat video tersebut sebelum yang lain, hehe). Rencananya pak sabar akan membuat pameran perjalanan beliau. Juga beliau ingin menyerahkan baju dan semua peralatan yang pernah digunakan pada saat mendaki kepada presiden SBY untuk dimusiumkan. Jadi, dia tidak perlu banyak berkata, tapi biarlah orang-orang langsung melihat buktinya.

Memang dia HANYA mendaki. Tapi yang dilakukannya telah mempengaruhi paradigma banyak orang, salah satunya saya.
Sebagai penutup, sebuah kalimat yang saya kutip dari Rumah Perubahan:
“Sesuatu yang kita lakukan untuk diri sendiri akan MATI bersama kita. Perubahan dan sesuatu yang kita lakukan untuk kebermanfaatan orang lain akan lebih kekal abadi.”

 

Leave a comment »

SBY HARAM DATANG KE SOLO!

Begitulah salah satu poster demo mahasiswa ketika presiden SBY datang ke Solo dan Sragen. Adik tingkat saya yang melaporkan dari tempat terjadinya demo (dia sedang magang di Solopos). Kemudian dia menambahkan komentar,
“Kalau anda tidak mau dipimpin SBY, maka KELUAR dari Indonesia SEKARANG juga.”
Saya pun tersulut emosi (saya salah satu penggemar SBY, hehe). Bagi saya mahasiswa yang mengutarakan hal tersebut adalah orang-orang putus asa. Apa yang mereka harapkan dari itu semua? Apakah SBY sedemikian keji sehingga diHARAMkan masuk Solo? Apakah SBY sudah murtad? Setahu saya dia masih penganut Islam dan menjalankan sholat.
Saya melihat pak SBY sudah tidak sebagus dulu memang. Kini saya tidak lagi melihat SBY yang gagah dan ganteng. Sekarang wajahnya menua dan kantong matanya makin tebal. Apakah dia menanggung beban yang sedemikian besar? Menghabiskan waktu tidurnya untuk memikirkan rakyatnya (termasuk yang selalu mneghujatnya)? Kasihan Pak SBY…

Mahasiswa yang mengatakan demikian berarti dia sudah mempunyai alasan yang kuat dan jalan keluar yang jitu untuk menjawab berbagai permasalahan Indonesia. Kalau belum punya dan hanya asal bicara, jangan mengaku mahasiswa, kasian mahasiswa lain yang benar-benar berkontribusi ikut2an mendapat cap buruk. Karena seringkali kesalahan satu orang akan digeneralisasikan.

Bagaimana rakyat yang tidak percaya pada pemimpinnya akan bisa melihat kebaikan yang hendak dibawa oleh pemimpin? Kalau banyak orang mengkritik SBY dan menyalahkannya, seringkali saya dan Bapak saya ganti mengkritik orang yang hanya mengkritik tersebut. Akhirnya memang negeri ini benar-benar menjadi negara kritikus. Kata Bapak saya,
“Tidak perlu banyak kritikan. Beri kritik sekali saja yang membangun syukur dengan penyelesaiannya juga dengan cara yang baik, kita kan punya etika. Kalau mau berubah itu dimulai dari kita sendiri. Bapak di kantor juga berusaha menjalankan tugas sebaik-baiknya. Baik terhadap bawahan, berusaha adil danmerangkul semua.
Buktinya sampai sekarang bapak gak pernah kena kasus kan. Kalopun dikritik itu wajar tapi tidak pernah untuk hal-hal yang sangat penting. Isone kok mbur ngritik. Kalo mencari kekurangan semua orang bisa, tapi memberi solusi hanya orang-ornag tertentu yang bisa. Dan biasanya mereka tidak banyak mengkritik. Tidak banyak bicara tapi langsung bertindak.”

Begitulah, menyampaikan kritik itu boleh dan dianjurkan. Yang dikritik pun harus menerima karena kritikan merupakan bukti kepedulian untuk berjalan ke arah yang lebih baik. Negeri ini adalah negeri yang beretika. Sampaikan kritikan dengan santun sehingga pemimpin merasa dicintai. Fitrahnya ketika seseorang dicintai dan dihargai maka dia juga akan mencintai dan menghargai.

Khusus untuk Pak SBY, saya berkhuznudzan beliau adalah orang yang baik. Lepas dari semua kekurangannya, dia telah merelakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk bangsa ini, untuk saya juga salah satunya karena saya bagian dari bangsa ini.

Semoga Allah membimbingnya hingga selesai masa amanahnya. Semoga rakyat Indonesia tidak lupa mendoakan pemimpinnya agar mampu berlaku adil dan menjaga amanah. Apalah artinya SBY tanpa dukungan segenap rakyat…
Untuk mereka yang berdemo, terima kasih telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menyuarakan kekecewaan, tapi tolong telurkan pula ide-ide inovaif sebagai pertanggungjawaban gelar “kaum intelektual” yang tersemat dalam diri kita. Mari mengasah ilmu dan skill kita dengan sungguh-sungguh (kuliah yang bener) agar dapat semakin cepat membawa perubahan. Kita adalah motor perubahan, bukan kritikus ulung yang terus mencari kekurangan lalu cuci tangan setelahnya. Hidup Mahasiswa!!!

2 Comments »

Serial Tukang Becak: Ternyata Mereka tidak Pulang!

Cerita tentang perjuangan para tukang becak yang saya temui di daerah Keraton Kasunanan Solo. Waktu itu saya sedang persiapan menjelang APG. Semuanya sibuk hingga larut. Pukul 1.00 dini hari (ini adalah waktu paling malam saya belum pulang ke kos, karena memang sedang bertugas) ketika salah seorang teman saya (bule dari Turkmenistan, tapi sudah seperti orang pribumi) bertanya…
“hey, kalian sudah sholat Isya?”
“astagfirullah belum. Jam berapa sekarang Serdar?”
“jam 1. Ayo saya antar.”
Lalu saya dan dua orang teman saya diantara oleh serdar ke sebuah mushola kecil disamping pendhopo tempat berkumpulnya semua volunteer APG. Mushola itu tepat disamping pintu masuk keraton Kasunanan. Musholanya sudah tutup dan tidak ada mukena diluar. Walhasil saya sholat dengan pakaian seadanya, Alhamdulillah sudah memenuhi syarat. Serdar menunggu kami dari jauh.

Diserambi mushola itu banyak tubuh bergelempangan. Saya herau kenapa yang mereka tidur disini? Diluar mushola dan dengan selimut seadanya. saya harus mencari celah diantara tubuh-tubuh ini yang memungkinkah saya sholat dengan nyaman. Alhamdulillah…

Setelah sholat akhirnya pertanyaan saya terjawab. Didepan mushola berjejer becak-becak dengan berbagai corak dan warna. Ya, ternyata mereka dalah tukang becak. Entah dimana mangkalnya, mungkin di sekitar pasar Klewer. Ternyata mereka tidak pulang. Mereka membawa bekal seadanya. di mushola inilah mereka tidur, meletakkan baju bahkan mencuci dan menjemur baju pun disini. Dimana ya keluarga mereka? Apakah mereka perantauan yang tidak punya tempat tinggal? Bagaimana ya keluarga yang sedang mereka tinggalkan? Adakah mereka dalam keadaan yang lebih baik ataukah sama saja bahkan lebih buruk? Hanya Allah yang tau…

Ternyata bukan hanya tukang becak yang tidak pulang. Ketika pulang saya melewati daerah pasar klewer. Subhanallah, mereka juga tidak pulang. Pada pedagang asongan di sekitar keraton dan pasar klewer ternyata juga tidak pulang. Mereka tidur di emperan took dengan alas seadanya dan menjaga dagangan mereka tetap bersama mereka, mendekapnya. Begini beratnya kah menjemput rejeki dari Allah? Kapan ya mereka pulang dan bertemu dengan keluarganya? Lagi-lagi saya tidak tahu…
Tapi saya yakin mereka adalah orang-orang yang gigih. Semoga Allah memudahkan rejekinya dan memberikan kesehatan serta kesabaran baginya dalam bekerja… Amin…

Selama ini mungkin kita (saya ) terlalu asik dengan kehidupan masing-masing. Selalu berkecukupan dan bisa pulang ke kasur empuk setiap malam tanpa harus memikirkan makan apa besok. Tapi pengalaman melihat kota Solo pukul 1 pagi membuka mata saya bahwa tidak semua orang diberi kemudahan yang sama. Mereka yag diberi kemudahan mempunyai kewajiban lebih besar untuk memudahkan orang lain pula…

Leave a comment »