Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Belum Dewasa

Masalahnya adalah ternyata saya belum benar-benar bisa mengatur diri sendiri, maka dari itu bisa dibilang belum dewasa. Apa sih sebenarnya definisi dewasa itu? Entahlah. Sepertinya memang itu suatu kata abstrak layaknya kata-kata abstrak yang lain, cinta misalnya. Misalnya dulu pas SMA saya dibilang lebih dewasa dari kakak saya yang sudah semester 5, tanpa memberikan ukuran yang jelas. Apa dewasa itu diukur dari muka ya? (kakak saya imut2 sih >.<).
Tiba-tiba saya teringat perkataan seseorang, bisa jadi kita sudah bisa melakukan sesuatu tapi belum tentu bersikap dewasa dalam melakukannya termasuk dalam memutuskan untuk melakukan hal tersebut. Bingung? Silakan direnungkan 🙂

Ukuran dewasa itu bisa jadi adalah saat kita sudah bisa mengatur diri sendiri, termasuk didalamnya mengenali diri sendiri bagaimana karakter kita dan mulai mengatur bagaimana kehidupan dan sikap kita. Dalam hidup kita sebenarnya sudah ada sekian banyak aturan misalnya aturan agama, aturan keluarga, aturan kampus, tapi itu semua tidak akan bisa mengatur kita sebelum kita bisa mengatur diri sendiri. Karena diri kita hidup dalam suatu suasana yang kompleks, maka kemampuan mengatur diri juga ditempakan pada kebutuhan yang kompleks pula misalnya mengatur emosi, mengatur diri sendiri, mengatur keuangan, mengatur sikap, dan lain-lain.

Saat kita sedang badmood dan banyak kerjaan dan sedang tidak punya uang tiba-tiba ada yang datang minta tolong atau mungkin minta bantuan atau mungkin pinjam uang. Bagaimana sikap kita? Disitulah kedewasaan akan memilih sikapnya. Saat kita banyak kerjaan lalu ada tawaran jalan-jalan atau nonton atau makan dan gratisan, mana yang akan kita pilih?disitulah sikap dewasa akan menjawab.

Karena saya belum bisa mengendalikan diri sepenuhnya untuk hal-hal kurang esensial misalnya jalan-jalan dan teman-temannya berikut belum bisa mengatur keuangan secara baik dan benar (makanya harus dikasih ke orangtua biar aman), maka kesimpulannya saya belum dewasa. Bagaimana denganmu? Semoga seiring berjalannya waktu kita bisa menjadi lebih dewasa.

Leave a comment »

Oleh-Oleh

Hm…ingat cerita tentang teman saya yang tugas belajar ke Jerman, untuk pertama kalinya saya tidak terlalu iri dan melihat pada diri sendiri, memang setiap orang punya jalan takdir masing-masing, seberapa besar yang diberikan sebesar itulah yang akan diterima.

Yah, walau belum ada bayangan mau ke Eropa setidaknya nyicil dulu deh, nama saya nampang di Jerman dan perancis, semoga suatu saat bisa kesana, bukan hanya nama, tapi seluruh jiwa dan raga, amin…

dari dika
katanya ini di papan tulis, entah dimana, sepertinya di jerman 🙂

380606_3988602244249_2036819160_n
kalo yang ini semua orang juga tahu lagi dimana 🙂

Thanks a lot untuk Yuliardika yang sudah may direpotin dengan permintaan yang kurang esensial ini, haha, tapi sungguh ini membakar semangat! Someday I’ll replace the sentence: Hey Dika, I am Here!!!

Amin…

Leave a comment »

Gaul (Sesuatu yang Menggelitik)

Tergelitik dengan kata Dinda soal dirinya yang diminta lebih gaul oleh bapaknya. Lalu dinda berkomentar semenjak bertemu saya dia sudah jadi lebih dari gaul. Kemudian bla bla bla dan salah satu indikasinya adalah “Akhirnya aku makan di GM setelah sekian lama”. (GM=Solo Grand Mall, salah satu mall di Solo) Huaa..please deh sejak kapan identitas gaul jadi identik dengan mall??? Dan saya yang jadi korbannya pengidentitasan tersebut! Saya bahkan tidak suka ke mall, hanya untuk keperluan tertentu saja yang amat penting dan mendesak. Lebih suka jalan ke museum, ke alam-alam, dan tempat-tempat lain yang memungkinkan untuk belajar sesuatu.

Memang sih mungkin sebagian besar beranggapan anak-anak yang suka jalan di mall itu gaul. Padahal salah satu teman saya pernah berkomentar, orang-orang yang sering jalan di mall sebenarnya adalah orang-orang yang ‘ndeso’. Jadi mana yang benar ya?
Kalau kata anak-anak rohis, anak gaul itu ya yang suka ngaji dan prestasinya oke. Kalau kata anak-anak bem, anak gaul itu yang melek isu-isu nasional, kata aktivis lingkungan, anak gaul itu ya yang peduli lingkungan dan melakukan aksi nyata untuk itu. Selanjutnya, menurut anak-anak esksul kebudayaan tradisional, anak gaul itu yang menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur. Kata anak-anak keilmiahan, gaul itu jago penelitian dan menghasilkan karya nyata yang bermanfaat.

Jadi, apa sebenanya gaul itu? Hm…menurut saya, anak gaul itu yang openminded, mudah berteman, punya karya nyata, berwawasan luas, sayang keluarga, dan kehidupan beragamanya bagus (wuaaa beraaat….cari kaca, cari kaca!). Sementara itu dulu deh, belum dapat ilham lagi untuk menuliskan kriterianya (haha, padahal ini cuma merangkum criteria yang di atas). Jadi, anak gaul itu gak identik dengan mall lho, tapi boleh juga sekali-kali ke mall. Ukuran gaul juga bisa berbeda-beda dari satu komunitas ke komunitas lain, jadi criteria gaul itu luaaas banget, lu bilang gue gak gaul, berarti gue juga boleh bilang lu gak gaul. Sorry bro, gaul kita beda! It’s okay, fine!

Dan, ini nih update status teman yang tiba-tiba menginspirasi soal gaul:
“bergaul dengan Al-Qur`an agar jadi anak gaul yang tidak ketinggalan jaman. Kenapa? Karena Al-Qur’an berlaku sepanjang jaman, jadi gak akan pernah ketinggalan^^. Yuk jadi pembaca! Yuk jadi anak gaul!”

Leave a comment »

Sebuah Kepastian: Kita Semua Akan Mati

1600flowers_2001 Jumat lalu bertemu dengan dik Memet, my big brother, karena emang gendut (hahaha, peace Met!) tapi pintarnya luar biasa. bagaimana tidak, baru semester 7 sudah ngajar dimana-mana… bukan guru lho, tapi jadi dosen, di beberapa univ di Solo dan beberapa fakultas di UNS, untuk yang satu ini gue harus bilang wow!!!
Tapi bukan itu yang akan dibahas disini, tapi tentang sesuatu yang pantas kita renungi, silakan pasang backsound perenungan!

Jadi, memet bercerita tentang adik kosnya yang baru dipanggil oleh Allah karena sakit tipes yang berlarut-larut dan jatuh di kamar mandi. Ketika dibawa kerumah sakit kondisinya sudah buruk. Alkisah adiknya ini adalah mahasiswa yang tekun belajar, kreatif, dan tidak mau merepotkan orang lain termasuk tidak mau dibawa ke rumah sakit. Karena keadaan yang sudah parah demikian, dibawalah dia ke rumah sakit dan harus menjalani dua operasi di dua hari yang berbeda: pembersihan virus dan operasi kepala untuk membersihkan darah di otaknya.

Operasi berjalan lancar, tapi tidak dengan hari-hari berikutnya, kondisinya terus menurun dan pada hari Rabu itu (kalau tidak salah) dia dipanggil oleh Allah. Memet, walau tidak menyaksikan langsung, tapi dia seakan bisa merasakannya.

“Mati itu gampang banget ya Mbak.” Kata memet menutup ceritanya
“Iya Met…”

Jadi ingat cerita anak UGM yang jatuh dari kosnya entah lantai berapa, juga anak UNS yang kos ditempat dik Sayekti, juga jatuh dari lantai 3, sampai ketika dirumah mendengar kabar kematian tetangga, santri penghafal qur’an yang sebentar lagi akan merayakan kelulusannya dengan gelar hafizah, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Sakit membawanya kembali kepada Sang Pencipta.

Kematian itu pasti, sangat pasti hanya cara mati saja yang berbeda-beda ada yang sakit, kecelakaan, jatuh, minum racun, ditembak, dan lain-lain yang intinya sama mengantarkan pada kematian. Tapi ada satu hal yang lebih penting dari itu: dalam keadaan apa kita mati.

Kematian bukan untuk ditakuti, tapi yang perlu ditakuti adalah bila kita mati dalam keadaan yang tidak baik, keadaan keimanan kita, keadaan hati kita, keadaan aktivitas kita.

Kata pepatah (sampai sekarang saya belum tau siapa sebenarnya pepatah itu), “Sedia Payung Sebelum Hujan”. Kapan hujannya? Entahlah. Maka bawa saja selalu payungnya. Sama hal dengan kita sedia amal sebelum mati. Kapan matinya? Entahlah. Maka bawa selalu amal bersama kita. Kematian tidak bisa diprediksi, tapi ia bisa dipersiapkan.

1 Comment »

“SEMESTA HATI, UNTUKMU IBU…”

22 Desember 2012 lalu (haha, baru bisa posting lagi, dirumah sinyalnya sekarat), hari ibu, ingin mengutip ungkapan cinta dari seorang kawan untuk ibunya, sungguh ini pula yang aku rasakan. Terima kasih mas Athan untuk kata-kata indahnya, pasti ini mewakili banyak cinta anak-anak pada ibunya…

Ada masa dikala gelang-gelang ingatan merantai persendian waktu. Seumpama titah Tuhan yang mengekal langit pada pijaknya. Dan gelang-gelang ingatan itu akhirnya sampai kepadaku, ketika bayangmu kukenangkan. Kau, wanita yang tetap tersenyum dalam sakitmu saat hadirku.

Aku tahu, tak pernah berkurang cintamu kepadaku meski hidupku t’lah menguras semua kasih sayangmu di tiap hariku. Aku tahu, seringkali kau tahankan perihmu ‘tuk keringkan tiap tetes airmata bahkan sebelum sempat kau tumpahkan hanya agar ku tak ikut bersedih denganmu. Aku tahu, seringkali kau redamkan panas amarahmu untuk tiap salahku hanya agar tak ada kecewa yang melukis sedih di wajahku meski untuk itu harus kau tahankan sakit yang menghimpit di dadamu. Aku tahu, tak jarang kau tuluskan senyummu di atas helai kecewamu akanku hanya untuk meyakinkanku bahwa kau ikut bahagia atas tiap putusanku meski untuk itu harus kau tahankan bergumpal sesak di hatimu. Dan sungguh, aku tahu, terkadang kau harus menggenggam tanganmu sendiri hanya untuk meyakinkan bahwa masih tersisa kekuatan dalam dirimu untuk selalu menjagaku meski untuk itu harus kau habiskan separuh usiamu.

Maka hari ini, untuk semua waktu yang terlewati tanpa cinta yang sempat kudekapkan kepadamu, dan untuk semua rasa yang tak sempat kujelmakan dalam kata, terimalah sebuah sebuah bingkisan kecil dariku, “SEMESTA HATI, UNTUKMU IBU…”

Leave a comment »

Tidak ada yang tidak berguna

1600flower_2020Pagi ini saya mendapat siraman rohani yang jleb-jleb dari kakak guru Wilda. ceritanya saya sedang galau dan sedih karena saya tidak punya passion di salah satu mata kuliah, yang menurut saya tidak-terlalu-berguna. lalu, mbak wilda bertanya,
” Definisi berguna menurut Atin apa?”
” Ya yang bisa dipakai, yang bisa kita manfaatkan.”
” Kalau baju yang atin pake sekarang berguna tidak?”
” Iya jelaslah.”
” Kalo lap?”
” Ya berguna juga.”
” Jadi, mana yang lebih bermanfaat?”
” Ya dua-duanya, tergantung tujuan dan fungsinya kan. Dan keduanya tidak bisa saling mengantikan peran.”
” Nah, tahu gak kalo baju Atin itu suatu saat juga bisa jadi lap?”
” Iya lah…”
” Benar sekali, suatu saat baju atin juga akan jadi lap, entah lima atau tujuh tahu lagi,”
” haha, mungkin dalam hitungan bulan sudah gak muat ini mbak.”
” Jadi, kesimpulannya apa tin?”
” Hah? apa dong?”
……………………………………………loading…………………………………………………..
” Gak tau mbak.” jawab saya pasrah
” Ya ampun, masih gak tahu?”
” Apa dong?”
” Jadi, di dunia ini tidak ada yang tidak berguna. Apa yang kita anggap sekarang tidak berguna bisa jadi suatu saat menjadi sangat penting.”
“ooooooooooooooooooooooooooo…………………………….., iya juga si mbak, siapa tahu 5 tahun ke depan kampus di Solo sedang membutuhkan ahli mata kuliah ***, yayaya, saya paham mbak… jadi walaupun saya belum memahami kegunaannya sekarang tapi kan tidak tau mungkin suatu saat entah kapan itu pasti akan berguna.”
” Yap, benar sekali!”

Aaaah…rasanya lega sekaligus menyesal kenapa selama ini tidak kepikiran masalah sekecil ini. Adanya malah mengeluh dan malas-malasan. Ya ampun sayang banget satu semester membuang waktu hanya untuk ‘menemukan passion’ dan mencari alasan untuk bersemangat. huhuhuhu… Padahal masalah ini sebenarnya sangat sederhana, lakukan saja tidak ada yang tidak bermanfaat. entah kapan itu suatu saat pasti apa yang kita pelajari akan bermanfaat.

Semangat!!!

Leave a comment »

“Intimidasi (oleh) Pelanggan”

Kami kemarin sempat berbincang-bincang tentang sebut saja intimidasi pelanggan, siapa tokohnya?ada mas Wiji dan mas Andri. Ceritanya bermula dari… soal dilema membawa buku-buku kuliah yang begitu banyak waktu pulang nanti. Bagaimana kalau nanti melebihi kuota? Kata mas Andri, ‘gak papa, kamu ngeyel aja. Nanti kalau petugasnya gak mau bilang aja kamu udah pernah dan boleh. Kalau masih gak boleh, kamu suruh aja panggilin managernya, nanti pasti langsung dikasih, haha..’ emang dasar mas Andri ini paling ‘cerdas’ kalo soal beginian, mengintimidasi, haha. Bukan juga sih sebenernya memang kita punya hak untuk dilayani kok sebagai pelanggan. Katanya, kalo di Korea itu kalau ada pelanggan yang tidak puas dan meminta seorang pegawai dipecat, maka serta merta manager akan memecat pegawainya tersebut, wuaaaa…. Enak betul jadi pelanggan!

Beda lagi cerita mas Wiji yang soal percetakan gitu deh, terus ada masalah yang menyebabkan si pelanggan kesal karena hendak ‘disuap’ sama petugasnya, nah disini si pelanggan yang kebetulan orang kaya, dia nantangin, ‘mana bos kamu? Kalau perlu saya beli ini percetakan!’ sontak seluruh karyawan ciut, hahaha…

Nah, jadi ingat juga pas ke Medan. Disana pelayannya sangar-sangar sampai melayani pelanggan saja tidak tersenyum. Tapi pas Kak Citra yang ngomong langsung si pelayan tadi jadi ramah dan manu banget. ‘Kak Citra apain tadi dia?’, jawabnya, ‘haha, sudah aku intimidasi tadi dia! Kita harus lebih galak dong’ krik krik krik…hahha

Jadi, intinya bukan soal bagaimana kita mengintimidasi orang lain, tapi soal memperjuangkan hal kita. Nah, kita kan udah bayar untuk dapat fasilitas tertentu, so kita berhak mendapat pelayanan terbaik dong, gak boleh seenaknya aja. Kalau ada yang kurang memuaskan, minta! tuntut! Pokoknya janga mau rugi deh. Kalo kebanyakan nih ya kita sebagai orang jawa banyak yang pekewuhan soal tuntut menuntut begini, tapi menurut saja sudah saatnya kita saling menyadari peran, jadi intimidasi yang dilakukan oleh pelanggan (sepanjang itu sesuai dengan hak-hak kita) maka wajib dituntut dan kita harus berani, galak kalau perlu. Mungkin itu salah satu cara mendisiplinkan dan memperbaiki kinerja bangsa kita. Mari memulai menjadi pelanggan yang disiplin, haha.

Leave a comment »

Solo, Ketika Cinta Bercahaya

kindergarten Pulang ke Solo itu rasanya selalu ‘sesuatu’. Jogja yang dipenuhi kepenatan belajar dan sedikit kegalauan seakan menyingkir dan musnah ketika sampai di sebuah kota tenang yang dilintasi bengawan, Solo. Rasanya itu nyeeees. Rasanya ada miliaran cinta yang mendekap, rasanya itu menenangkan dan damai. Selalu akan ada senyum sapa dan salam hangat. Mereka masih sama, cintaku yang dulu, sekarang aku juga masih mencintainya, semoga mereka juga, walau aku sudah sedikit tak setia. Semoga cinta selalu bisa memberikan maafnya…

Cinta mereka itu selalu memberikan pengertian, tidak menyalahkan aku yang seringkali melirik kesana kemari, mereka tetap setia merangkul dan mulai membisikkan kata-kata yang menentramkan, tidak menggurui sama sekali tapi rasanya menusuk sampai ke ulu hati. Mereka tidak pernah meninggalkan aku sekalipun aku sudah melangkah jauh, lalu, bagaimana bisa aku berkhianat dengan kesetiaan ini?

Siang ini kami berbicara banyak, masih dengan senyum itu, dekapan itu, doa itu… (yang selalu aku rindukan), dan aku masih bisa merasakannya, cinta yang bercahaya menyala-nyala. Cinta ini tidak pernah menyakitkan walau berkali-kali aku harus berkorban (sedikit sekali dibandingkan yang lain sebenarnya), cinta ini tidak pernah membuatku bersabar terlalu lama meski yang kami tunggu tidak kunjung terjadi, cinta ini benar-benar membuat kesabaran menjadi makanan yang lezat.

Aku mendengar nasihat dan kata cintanya siang ini. Dengan lembut dan tidak menggurui, dia mulai menuntunku berkaca, melihat mukaku yang semakin kotor oleh debu-debu jalanan, Bila tidak dibersihkan sekarang maka sebentar lagi akan tumbuh jerawat yang semakin lama sembuhnya. Juga otakku yang tiba-tiba menjadi norak sangat penuh dengan ‘ilmu’ dan mengesampingkan yang lain hingga ke sudutnya, bila tidak segera ditata maka sel-sel yang tersudut akan matilah pula.

Aku selalu mencitainya, sebentuk cinta yang selalu bercahaya di sebuah kota kecil dimana semua cerita bermula. Cinta yang cahayanya selalu mendekap aku lembut, menuntun kepada cahaya. Sebentuk cinta yang bercahaya.

Leave a comment »

Ruhiyah

paper-snowflake-thumb3747285 “Tahu gak kenapa lu jadi galau-galau gak jelas begini akhir-akhir ini? Coba lu ingat deh, sejak minggu kemarin lu udah tilawah berapa juz coba? Gua juga gak yakin lu tahajudnya rutin, hahahaha, kalo dhuha mungkin masih bisa, sedekah juga, lu udah sedekah berapa banyak? Emang ya Tin, kalo gue pikir-pikir emang sebenernya semua itu soal ruhiyah deh, makanya lu jadi galau-galau gak jelas begini. kalo ruhiyah bagus nih ya, gak sempat deh tuh galau-galau mampir ke kita…, hahaha”

Saya, (tertawa getir) “ha…ha…ha..” (dan mengamini dalam hati)

Bagi kita yang senantiasa menjaga Allah, maka Allah adalah sebaik-baik penjaga, termasuk menghindarkan diri dari kegalauan yang tidak penting. Tapi pasti selalu ada hikmahnya, termasuk menyadari hal ini. Dan karena kehidupan itu adalah serangkaian pelajaran, maka pasti setiap waktunya mengandung pelajaran. Bersyukur masih diberikan kesempatan untuk menyesal.

Leave a comment »

Cara Jojoba Menghibur Dirinya (Sebuah Kebenaran yang Disamarkan)

“Apa? Gandengan? Hahaha, lu mau dapet sisa?”

Wuaa…ini tema yang akan menjadi sensitive sekali sebenarnya. Buat yang sudah punya pacar anggap ini cara pada jojoba (jomblo-jomblo bahagia) menghibur dirinya, hehe.

Itu yang dikatakan seorang teman ketika kami membahas tentang salah satu gaya pacaran (pegang tangan atau gandengan atau apa deh sejenisnya). Tiba-tiba kami jadi geli sendiri, menyembunyikan tangan masing-masing dan tertawa. Ya ampun, bayangin aja tangan ini udah seenaknya dipegang-pegang, digandengan yang bukan mukhrim, belum tentu jadi suami pula, kan akadnya pacaran belum dinikahi, jadi tetep aja (bagi kami) itu ‘tidak baik’ bila tidak bisa disebut dosa, karena dalam hadist juga setau saja tidak dengan tegas mengatakan bahwa itu dosa (silakan dikoreksi bila salah) tapi derajat ‘ketidakbaikkannya’ lebih mengerikan daripada ditusuk besi panas. Sudah, kita akhiri dulu pembahasan ini.

Kembali ke soal gandengan tadi. Cuma gandengan sih, tapi coba dipikirkan lagi. Kalau tangan kita sudah seenaknya saja dipegang, juga bahu misalnya itu ibaratnya kita kayak buah yang jadi tester. Pada akhirnya para pembeli akan memilih buah sejenis tapi yang belum dipegang-pegang kan. Ini dari sudut pandang kami lho ya, kalau ada yang berpendapat lain silakan saja, kita semua diberikan hati dna otak untuk memutuskan mana yang benar, baik, salah, dan buruk.

Wah, bagaimana kalau itu (pegang tangan dan bahu) sebagai tanda kasih sayang atau sebut saja sebagai tanda melindungi (misalnya konteksnya nih lagi nyeberang jalan atau lagi berdesakan, kan takut keserempet atau ilang atau takut ketuker).

Hm…bagaimana ya? Kan niatnya baik ini. Jadi sudah juga kalau begini. Kalau saya memilih menjadi wanita mandiri yang bisa melindungi dirinya sendiri ketika menyeberang, ketika di tengan kerumuman, membela diri dalam antrian dan sebagainya. Beda soal kalau nanti sudah punya suami. Kan suami tugasnya melindungi istri, nah disitu boleh kita pura-pura jadi makhluk yang lemah dan perlu dilindungi (hehehe, bagian ini ngasal).

Jangan jadikan jomblo sekedar nasib, tapi jadikan itu prinsip, jadi jomblo juga harus visioner. Percaya atau tidak, menjadi jomblo itu membuat para wanita lebih tangguh, berani, dan mandiri!

Leave a comment »