Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Semester 1, Ganti!

UGM Part. 1
Sedang galau menunggu nilai. Rasanya baru kali ini semejak kuliah saya galau gara-gara menunggu nilai keluar. Sudahlah, nilai itu pasti mengikuti kemampuan kita, hehe… kalaupun tidak sesuai dengan kemampuan ya….nilai kan buatan manusia, kita punya tanggungjawab sendiri diluar nilai-nilai itu, tanggungjawab sebagai orang yang sudah belajar dan tau *ingat mata kuliah filsafat ilmu, hehe

Untuk ceritaku yang terangkai selama satu semester ini aku bersyukur pada Tuhan. Aku dipertemukan dengan orang-orang baru juga didekatkan dengan yang sudah lama. Satu semester ini aku semakin yakin tentang hidup, aku yakin tentang takdir Allah. Kuliah biasa saja sebagaimana mestinya, tapi kehidupan diluar kuliah memberi lebih dari teori-teori.

Allah, aku semakin mencintaiMu, insyallah…semoga aku lebih bisa mengerti dan memberi.

Hidup ini dinikmati dan disyukuri dengan sepenuhnya 🙂

2 Comments »

Lembutkanlah…

Hati ini sedang gemrudug tiada tara. Ada apa? Di depan mataku sendiri, dia menatapku dengan pandangan yang sungguh meremehkan, merendahkan, aku tidak mampu dan tidak mau berbuat apa-apa untuk yang dia hadapi sekarang. Aku sudah bicara cukup panjang, memberikan saran dan masukan. Tapi itu ternyata tidak cukup. Mbak, mana tanggung jawabmu? Pandangan mata itu, dan nada bicara itu membuat aku ingin mengumumkan putus dari semua ini. Bukan masalah ‘ini’ tapi masalahnya adalaha seseorang yang bicara itu tadi.

Senior tidak berguna! Senior tidak bertanggung jawab! Tidak loyal! Baiklah… teruskan saja, setelah ini kita putus!
Selalu begini, orang yang ikut organisasi, meskipun dia sudah lulus sudah tamat akan terus menerus dihantui tanggungjawab sebagai senior, sebagai alumni, gak ada habisnya. Sudah macam orang tua saja mikirin anak sampai mati. Haduh…. Slow…
Waktu itu saya pengen banget menjawab dengan segala kesombongan yang tiba-tiba muncul:
1. Emang senior cuma aku ya? Masih mending aku mau diajak ngobrol begini, ikut mikir walo gak signifikan juga, yang lain? Gak dicariin juga? Gak dimarahin juga?
2. Cara kamu ngomong ikut sakit banget ya!
3. Kamu berapa lama sih di organisasi ini? Tahu gak perjuangan saya dan teman2 dulu waktu ikut merintis ini? tahu bagaimana kerja keras kami dan rasaya jadi orang aneh waktu itu? Kalau kamu sekarang pusing dan mumet, aku pun dulu juga begini. Tapi aku gak pernah mendakwa senior separah ini
4. Oke, kamu loyal banget deh 1000000000% top buat kamu. Kalo kamu gak suka sama loyalitas caraku, baiklah, anggap aku tidak berguna, dan sekarang kita putus (hehe, abege banget).

Okeh, sudah agak lega, sayang kemarin gak bisa ngomong begitu. Bagaimana mungkin? Kalau saya ngomong begitu namanya sama-sama gak dewasa, bisa terjadi pertengkarang hebat yang berujung penyesalan. Oke aku diam saja. Kalau cara junior memperlakukan senior seperti ini, yakin bakalan banyak orang yang menyesal ikut organisasi (eh, mungkin ding).

Adikku, kehidupan kami sudah berganti. Bolehkan kami minta dipahami sekarang?masa kami jatuh bangun sudah berlalu.

Organisasi itu bukan tujuan utama, ia adalah sarana. Kalau sudah tidak ada lagi yang mau bergerak. Istirahatlah bersama mereka sebentar. Kalau kamu terus memaksa mereka bergerak, maka kamu akan bergerak sendirian, berat, lalu memaki kami semua yang tidak bisa lagi membersamai. Kalau sebagai pemimpin, begini caramu berbicara pada orang lain, maka sebenarnya mereka mengikutimu karena tidak ingin sakit hati, lebih baik mereka sakit badan dan pikiran. Bicaralah sedikit nyaman, pandangan matamu lembutkanlah sedikit. Aku kehabisan kata, masih ingin merawat hatiku dulu, astagfirullah…

Jangan berpikir terlalu keras dan memaksakan diri, kamu bisa pecah lalu menyalahkan semua.

Adikku, cara pikir kita beda, cara kita memandang loyalitas juga beda. Jatah kita dan bagaimana kita berkontribusi kepada organisasi yang sudah kita bangun bersama sudah berbeda. Kenapa tidak kau tanyakan dulu, bagaimana aku akan mempersembahkan loyalitasku. Lalu memberondongku dengan loyalitas versimu.

Maaf, bila ini hanya sebuah egoitas senior dan kesombongan untuk selalu ingin dimengerti. Astagfirullah…

Leave a comment »

Sekali Lagi, Bahagia itu Sederhana

Bahagia itu benar-benar sederhana ternyata. Seperi sore ini, bertemu dengan teman-teman lama, mengobrol sedikit, membicarakan masa depan, juga waktu-waktu yang tidak kami lalui bersama. Jalan berbeda yang kami tempuh sungguh menyajikan cerita-cerita menarik yang semuanya indah. Kadang kita tercengang, tertawa, dan ikut pula bersedih hati…bertemu dan bercerita dengan kalian, itu kebahagiaan.

Juga ketika kau melihatmu begitu bahagia ketika melihat orang itu. Aku sungguh tidak menyangka kamu bisa sebahagia itu hanya dengan melihatnya, kamu bilang, “Atin, aku jatuh cinta.” ternyata peraturan bagi orang yang sedang jatuh cinta untuk berbahagia itu sederhana: melihat orang yang dicintia (hadeeeh…. -_- , apakah ini berlalu universal??)

Bahagia itu juga tidak bisa direncanakan. Biarkan hidup mengalir dan menemukan kebahagiaannya sendiri, membuka hati untuk bisa menemukan kejutan-kejutan yang menyegarkan hati. Bukankah kita sudah bersepakat bahwa hidup itu ramah 🙂

Seperti petang ini ketika menunggu kakak menjemput. Tiba-tiba lewatlah dua orang itu, yang sudah lama sekali tidak bertemu, begitu girangnya kami waktu itu, sebuah pertemuan yang tidak terencana, terjadi begitu saja…terima kasih Tuhan. Lalu Tuhan masih berbaik hati, datanglah satu orang lagi yang melengkapi ketakjuban kita, lengkaplah sudah kebahagiaan sederhana hari ini, sore dan petang yang syahdu. Kebahagiaan itu seperti rejeki, datang dari arah yang tidak terduga-duga, siapkan hati untuk selalu menyambutnya.

Leave a comment »

Siap untuk Gagal

Stress banget ujian pertama di kampus tertua di Indonesia ini. Rasanya usaha selalu kurang maksimal walau tipa hari sudah lembur. Rasanya jawaban-jawaban yang ditulis selalu tidak sempurna. Takut dapat nilai buruk di akhir semester nanti. Kangen rumah, capek, dan maunya mengeluh…lebay banget deh pokoknya.
Sampai dapat kiriman kata-kata dari senior: “Kamu itu selalu siap untuk sukses tapi tidak siap untuk gagal.”

Glek! Itulah masalahnya, itulah yang selalu menghantui pikiran akhir-akhir ini. Ternyata aku tidak siap sepenuhnya untuk gagal. Terlalu terpancang pada hasil membuat kita justru tidak maksimal. Justru dengan menggantungkan entah apapun nanti hasilnya, kita akan termotivasi untuk bekerja lebih keras memberikan yang terbaik. Ini pelajaran lama, hasil bukan urusan kita, urusan kita adalah berusaha. Sederhana.

Leave a comment »

Zona Nyaman

Nonton 5 cm dan tertohok sama scene tentang zona nyaman. Ketika kita meninggalkan zona nyaman kita, kita akan bisa menjalankan lebih banyak hal dari yang biasa dan selalu kita jalani. Karena yang biasa dan selalu kita jalani itulah zona nyaman kita.

Benar, hidup dalam zona nyaman mungkin menyenangkan tapi kita tidak akan lebih bisa berkembang. Perlu tantangan unutk memacu kita bekerja lebih, berpikir lebih keras, dan mengembangkan diri. Kalau hingga saat ini belum banyak mimpi yang terwujud dan ingin yang belum tercapai mungkin karena kita malas meninggalkan zona nyaman kita selama ini. Kita malas melakukan lebih, seidikit keluar dari zona nyaman, melakukan usaha sedikit lebih keras ditambah sedikit bersabar. Hidup perlu perubahan, dan perubahan itu perlu sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak hanya memanjakan kita dalam rasa aman dan kenyamanan.

Leave a comment »

Aku dan ESA #Kata Mereka tentang si Pembuat Onar

Pas lagi bersih-bersih lemari buku, menemukan coretan lusuh, ternyata tulisan tangan teman-teman di ESA waktu perpisahan, pesan dan kesan untuk Atin si pembuat onar, ternyata not bad lah…

• Semangat, inisiatif, kritis
• Kreatif, pelupa, dan sering bolos rapat
• Banyak koneksi sehingga sangat membantu
• Sip deh pokoknya
• Cerdas, kritis, cuma kadang kurang berhati-hati (terutama menjaga propesti pribadi). Lebih ‘careful’ aja ya 🙂
• Ceria, semoga gak cepat berubah
• Kreatif
• Mantap jaya! Lucune polos
• Adik-adik diajari ben ketut penter mbak
• Kaya galak dan jutek, tapi ternyata engga
• Teledor, wagu sithik
• Judes, jutek, tapi smart!!
• Keren, tanggung jawab sepenuh hati
• Nek lagi badmood ngeriii
• Baik banget
• Pokoknya kita Juli ke Makasar!!! Chayo 🙂
• Mbak atin itu cantik dan dewasa
• Mba atin…
• Banyak membantu adik-adiknya
• Easy going, baik kok!
• Ajari adik-adiknya supaya lebih baik ya mbak
• Sip banget!
• Teladan yang lumayan
• Pelupa
• Suka teledor taruh barang
• Mbak cantik yang sabar, semangatnya bagi-bagi 🙂
• Yang sabar, jangan emosian, jangan ngelakuin semuanya sendiri, kita kan satu tim
• Mba, jane kamu ni jutek g sih? Jane si enggak tapi mukanya kadang jutek ya?hehe overall kamu apikan banget!!
• SIPH
• Solutif, tapi jangan ngasih terlalu banyak solusi
• You make me smile ^_^
• Joss dewe tin! Pelupa gak ketulungan, hobinya jelek=suka menganiaya teman, ngeri deh!
• Sipp! Tapi jarang di ESA. Jarang membersamai. Apdahal aku iya juga hhe… thanks for all. Thanks dan bantu di raesa juga.

Ya Allah, Alhamdulillah ada yang bilang saya cantik, hehe (ehem, cari jarum biar gak besar kepala), mereka belum ketemu kakak saya sih, biasanya tiap orang yang ketemu kakak saya akan berkomentar, “Atin, itu kakak kamu? Kok cantikan kakak kamu sih?”. Ya, kebersamaan selama 1 tahun cukup membuat kami saling mengenal, keteledoran, jutek, emosian, sampai kebiasaan menganiaya orang lain 🙂 *tapi saya menganiaya untuk kebaikan lho ya…hahaha

3 Comments »

Aku dan ESA # Kegilaan Seksi Acara

Pertama kali diberi kepercayaan untuk jadi seksi acara itu rasanya…..waaaahh banget, apalagi jadi senior yang harus ngemong adik-adik disitu, hehe. Waktu itu acaranya outbond dan saya berpartner dengan Chandri, Habibi, Andita, dan..satunya lupa Suci kayaknya. Awalnya agak krik krik karena mereka mengira saya galak, judes, dan serius.
Mungkin juga mereka meragukan saya karena jarang muncul di ESA dan tiba-tiba jadi sie acara bersama mereka, untuk acara outbond tentunya tanggung jawab sie acara sangat besar dan mereka harus menerima kenyataan tidak didampingi kakak-kakak yang selama ini setia, malah terdampar bersama alien macam saya, hahaha…

Tapi setelah mengobrol dan cas cis cus akhirnya mereka menyadari ternyata kami punya frekuensi kegilaan yang sama, hehe. Akhirnya seksi acar saat itu jaid kompak dan rasanya bebas berkreasi. Ide-ide outbond tahun sebelumnya boleh dikatakan tidak dipakai sama sekali. Kami membuat games-games yang baru dan aneh. Bahkan saking kebanyakan ide kami sampai membuat dua games per posnya, games inti dan tikel melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya, jadi permainannya jadi banyak banget.

Waktu itu saya senang sekali melihat adik-adik bisa berpikir mandiri, lepas dari bayang-bayang outbond sebelumnya dan menciptakan hal-hak yang baru. Momen-moment yang tidak kalah heboh adalah waktu kami mencoba games-games aneh yang kami buat, seru sekali….dan video percobaan kami yang amburadul diaksih lihat ke adik-adik, malu-maluin ketahuan ternyata kakak-kakaknya juga gak bisa main games yang dibuat sendiri, hehe

Begitulah kalau kita terpancang pada masa lalu dan mematok target seperti masa lalu kita hanya akan melakukan sedikti perubahan. Ada baiknya kita selalu memperbarui target dan membebaskan kreasi kita menemukan hal-hal baru yang membawa kita menemukan keajaiban-keajaiban dan menyadari bahwa kita bisa melakukan lebih.

Haduh, malah ngelantur… waktu itu ada satu yang gagal, project film kami jadinya krik krik banget, saya lupa akhirnya jadi diputer apa gak, hehe…

Ini adalah salah satu moment terbaik saya di ESA, bagaimana anak-anak???

Leave a comment »

Aku dan ESA # Sering (selalu) Kabur

Saatnya pengakuan dosa. Saya sering banget mengusulkan sesuatu tapi kabur pas eksekusinya, parah banget kan, tapi itu bukan unsur kesengajaan tentunya.

Waktu itu upgrading ESA dan saya jadi seksi acaranya, baiklah acara sudah tersusun rapi, pembicara, jadwal imam solah dan tausiyah pun sudah, tinggal berangkat. Tapi saya malah harus mengurus beasisawa ke Amerika (yang pada akhirnya gagal berangkat, huhu) sehingga saya skip dari up grading, banyangkan seksi acara tidak ada waktu pelaksanaan acara, haha, tapi syukur saya punya TM yang tabah, sabar, dan cekatan menghadapi saya.

Masih ingat tentang cerita seminar ESA 2011 dimana saya mengusulkan tema seminar itu. Dan pada saat pelaksanaan saya kabur, haha, saya pulang karena capek dan hampir sakit. Bayangkan si pengusul tema seminar tidak bertanggungjawab ketika seminarnya terlaksana. Bagaimana kalo yang datang sedikit?bagaimana kalau temanya tidak menarik? Bagaimana kalau acaranya tidak lancar? Huaaa…waktu itu saya malah tidur nyenyak dirumah karena pusing,huwaaa…jangan ditiru ya…ampun teman2 ESA.. 😦 tapi info pun datang, “Mbak, pesertanya membludak, acara lancar dan menarik” syukurlah…mendengar itu saya bisa melanjutkan tidur dengan tenang *plak!!!!
Skip teraneh adalah waktu saya mengusulkan perpisahan COMFI. Tempat sudah dibuking, makanan siap dibayari pak bos, dan saya malah pulang! Jadilah mereka diner ber5 tanpa saya yang merupakan pengusul acara…hehehe…

Astagfirullah, ternyata saya krik krik banget dulu waktu di ESA, emang pantes dapat sebuan pembuat onar 🙂 semoga saya diampuni oleh Tuhan dan dimaafkan oleh teman-teman! Sudah ya tugas sebagai pesuruhnya pak bos sudah saatnya ditinggalkan.

Leave a comment »

Aku dan ESA #Pembuat Onar

Di ESA saya terkenal sebagai pembuat onar, ahha, dengan ide-ide saya yang aneh dan suka bertentangan dengan teman-teman yang lain. Saya waktu itu sudah bertekad di ESA saya harus berani membuat terobosan, walau nanti dibenci sama teman-teman tidak apa-apa, yang penting ESA tambah keren, ahha…tapi nggaklah, terobosan tidak akan lancar tanpa teman-teman.

Waktu itu sedang rapat menentukan tema seminar ESA’S Fair 2011. Saya tidak setuju sekali dengan temanya dan saya rasa saya punya tema yang lebih keren. Maka dari itu waktu hampir mau diketok temanya, saya beranikan diri menolak. Langsung wajah teman-teman dan panitia yang lain sayu (antara capek, sebel, atau marah *ngapain sih ni orang ngacoin aja deh!). lalu saya dengan yakin mulai merangkai kata dan berargumen bahwa seminar akan lebih keren dengan tema yang saya ajukan, satu per satu mulai mengangguk-anggukkan kepala, saya tambah pede. Waktu itu banyak juga yang tambah bête, termasuk ketua ESA (sampai sekarang dia masih ingat betul kejadian itu, dan menganggap saya biang onar, haha, apa kabar cycas?). akhirnya…banyak tangan menyetujui pendapat saya, haha, dan usulan saya diterima, waktu itu….rasanya….hmmm sudah dijelakan. Bukan bahagia? Tapi antara bahagia dan sedih. Kalau begitu kan jadinya saya harus bertanggung jawab nyarikan link pembicara, nyarikan materi-materi dan sebagainya, baiklah…resiko pembuat onar, harus mau bertanggung jawab.

Pembuat onar selanjutnya adalah ketika saya menatang semua panitia untuk mau bergerak lebih. Dari dulu ESA Cuma bisa tingkat karesidenan Solo, lalu saya tantang untuk mengadakan tingkat Jawa Tengah. Banyak yang tidak sepakat, maklum biasa dimanjakan dengan yang sudah ada. Tapi akhirnya disetujui pulalah usul asal saya ini (saya kan gak mau tanggung jawab juga sebenarnya, haha). Eh….ternyata dilaur dugaan panitia inti memutuskan ESA tahun ini mencakup 3 propinsi, Jateng-Jatim-DIY. Ya…saya mengiyakan saja, kalau jadi tingkat jateng kan saya ikutan tanggungjawab penuh untuk mensukseskan, kalau tiga propinsikan kan bukan usul saya, jadi ya…haha, saya bantu bertanggung jawablah nanti 🙂

Onar terfatal yang pernah saya buat adalah ketika berskenario marah-marah, tapi ternyata skenarionya gagal, dan saya benar-benar merasa bersalah karena semua jadi benar-benar marah, adik-adik yang tadinya senang jadi bête, dan begitulah, tidak mau saya ceritakan…terlalu menyakitkan, huhuhu

Kalau kita selalu berada di Zona nyaman, kita tidak akan pernah tau sebesar kita kita bisa berkembang dan seluas apa dunia yang bisa kita jelajahi, mencoba hal-hal baru, memperbaharui target, dan menantang diri sendiri… ada baiknya kita selalu meninggalkan jejak disetiap tempat yang kita hidupi. Tidak harus itu berupa jejak yang bisa dilihat dan dikagumi orang lain, tapi jejak dalam diri kita sendiri, bahwa di tempat itu kita pernah mendapatkan ini dan itu yang membuat kita berkembang lebi h baik dan lebih besar.

Leave a comment »

Aku dan ESA #COMFI Terlihat

Bisa dibilang saya tidak puas sekali dengan apa-apa yang saya lakukan di ESA dan rasanya tidak terlalu signifikan bagi perkembangan karir (halah..) sampai saya memutuskan untuk meninggalkan ESA. Ta[I ternyata takdir berkata lain. Tanpa mendaftar dan tanpa wawancara saya masuk dalam squad ESA, masih di COMFI. Usut punya usut pak bos ambon lah yang memasukkan saya, sebagai asisten ahlinya. Jadi pak bos ini jadi bos geng COMFI ceritanya dan dia sangat membutuhkan saya untuk selalu mendampinginya (peace mbos!!) maksudnya buat disuruh-suruh, disuruh mikir, disuruh ini itu, jadi gelarnya apa dong? Pesuruh.. -_-

Yah…karena sudah jatuh ke laut menyelamlah sekalian. Saya tidak suka dengan gaya rapat ESA, maka saya mulai dari COMFI. Di COMFI kamu rapat di pinggir jalan sambil makan es kelapa muda, rapat dilanjutkan foto-foto, makan-makan, dan pernah sekali waktu buka bersama dirumah Lita. Oiya squad kami kali ini cukup oye, ada pak bos, saya, aul, dik lita, dik fafa, dan dik jona, mantap deh pokoknya :). Dimulai dari COMFI, menciptakan ESA lebih natural, lebih kekeluargaan, dan lebih gila dari sebelumnya. Sebuah terobosan dan inspirasi bagi bidang-bidang yang lain, hehe.

Kedua, saya tidak suka dengan acranya COMFI yang itu-itu aja, normatif, dan banyak yang tidak terlaksana dengan baik. Akhirnya di saat itulah, waktu saya jadi pesuruh itu, kami ber6 merancang kegiatan-kegiatan yang oke punya, waktu itu agak nekad juga sih, tapi ini harus diawali. Pertama, dialog dosen mahasiswa. Di tahun sebelumya hanya jadi rencana, di tahun kami bisa terlaksana walau belum sempurna, banyak dosen yang datang dan banyak mahasiswa yang berterima kasih pada ESA, ehem…besar kepala edisi pertama.

Terus juga pada masa kepemimpinan pak bos inilah kami berhasil menerbitkan bulletin, uyee…walau sering masuk angin juga sih, haha. Waktu itu juga kami menerima banyak sekali kunjungan (disbanding tahun sebelumnya, ehhe) jadi teman2 ESA tambah banyak…besar kepala edisi kedua. Puncaknya..kami berhasil studi banding ke UNY, gak jauh sih tapi ini benar-benar terobosan, uyee…dengan bermodal nekat dan uang tombok, mimpi jalan-jalan bersama itu terwujudlah sudah…besar kepala edisi ketiga.

Oh, Cuma tiga ya prestasinya, cari jarum… duss gak jadi besar kepala deh, haha.
Akhirnya waktu perpisahan ESA, divisi kami mendapatkan gelar divisi terlihat, iyalah..terlihat paling nekad 🙂

Leave a comment »