Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Welcome Reception

Rangkaian acara yang paling tidak membutuhkan pemikiran selama di Chula adalah welcome reception. Ini adalah dinner bagi semua peserta konferensi dan pejabat CESA. Acaranya? Tentunya makan-makan dan kami dimanjakan dengan pentas seni dari mulai anak-anak, mahasiswa, remaja, sampai anak-anak SLB. Faculty of Education Chula mempunyai sekolah percobaan sendiri untuk praktek mahasiswanya, kalau di Indonesia PPL mahasiswa FKIP kebanyakan masih di sekolah-sekolah mitra.
Dengan maksud tidak mau membuang kesempatan, kami duduk tepat di belakang jajaran pejabat CESA dan Faculty of Educationnya Chula, hehe..mumpung kami anak-anak kecil disana jadi sok innocent. Makanan yang disajikan, semuanya enak dan bagi peserta muslim disediakan secara khusus “Halal Food”. Ada satu menu yang membuat saya tersentuh, kepiting. Ibu dan kakak saya suka nyidam kepiting dan belum kesampaian, sedangkan saya disini bisa makan sepuasnya, langsung keinget mereka deh. (Setelah pulang saya akan nraktir kakak dan ibu makan kepiting, niat saya dalam hati, tapi mahaaaaal -.-)
Berbicara tentang performance yang ditampilkan dalam kegiatan ini saya terpukau. Ada penampilan music tradisional, tarian tradisional, paduan suara, tari kreasi, music klasik, sampai seriosa. Yang paling berkesana adalah penampilan adik-adik yang sepertinya dri SLB. Berkesan kenapa? Pokoknya berkesan^^. Dari acara tersebut saya belajar bagaimana Thailand mampu menjaga eksistensi budaya dan terbuka dengan budaya luar. Mereka juga mampu secara apik mengelola universitas yang sekaligus menjadi tempat belajar yang sesungguhnya dengan mempunyai sekolah-sekolah percobaan, sampai anak-anak berkebutuhan khusus juga diurusi dan dikembangkan. Sebuah peran universitas yang bagus dan pantas dincontoh.
Pada kesempatan ini kami berkesempatan foto-foto bersama penggedhe-penggedhe CESA dan Faculty of Education ^^

Leave a comment »

Second Day : Panel Discussion and Paper Presentation

Pembahasan lebih banyak kepada Sustainable development in education. Panelis-panelis yang dihadirkan merupakan profesor dari beberapa negara. Intinya, layaknya sustainable development dalam berbagai bidang seperti ekonomi, sosial, budaya, pendidikan pun harus bisa dikembangkan agar bisa berkelanjutan, dalam hal ini tentunya berkelanjutan dengan grafik naik. Ada juga pemateri yang menyampaikan tentang “Shadow Education” apakah itu? Lembaga bimbingan belajar. Ternyata tidak hanya di Indonesia saja yang menjamur, tapi juga dinegara-negara lain. Lembaga bimbingan belajar menjadi sangat vital bagi siswa dan mereka merasa sangat membutuhkannya. Bahkan di Hongkong, tentor-tentor LBB menjadi sangat terkenal karena dipampang dimana-mana layaknya bintang iklan.

Lalu bagaimana peran sekolah sampai siswa merasa sedemikian perlunya bergabung dengan lembaga bimbingan belajar? Hal lain yang dikahwatirkan adalah mengenai penanaman nilai pada anak. Akankah LBB mampu menanamkan nilai-nilai yang menjadi salah satu fungsi pendidikan dan sekolah bagi siswa. Ini adalah pertanyaan besar bagi insan pendidikan, terutama guru.

Pada sesi presentasi, peserta dipersilakan memasuki ruangan-ruangan yang masing-masing ruangan menampilkan 5-6 presenter. Kami memasuki salah satu ruangan, dan ternyata presenternya berasal dari berbagai negara dan menyoroti berbagai masalah. Menarik, sebelum akhirnya pria Nepal itu berulah. Dia adalah pria lumayan muda yang saya bilang sombong dan angkuh tapi nol besar (emosi tingkat tinggi).

Pada saat ada doctor dari jepang yang tampil (bahasa Inggris beliau kurang lancer, dan sering terpaku pada buku), lalu pria Nepal itu mengangkat tangan, dikira bertanya, ternyata di bilang, “Thank you for your very good way of communication, blab la bla….” yang initnya, penelitian pak jepang dianggap kurang standard an hinaan lainnya. Untung sekali si Ibu dari Chula yang menjadi moderator bersikap sangat baik dan bijak dengan membela pak jepang dengan mengatakan, “This is an ongoing research project, blab la…” jadi lega.

Tidak berhenti sampai disitu, saat ada muslim Thailand yang presentasi tentang pendidikan islam di Thailand selatan, si pria Nepal dengan songongnya menghina lagi paper yang dibuat oleh Ibu dari Thailand selatan itu. Krik..krik… suasana di dalam ruangan memanas. Tidak hanya itu, paper si Ibu tersebut dicoret-coret sekenanya oleh pak Nepal yang sombong. Dan….satu hal lagi yang membuat saya makin gusar, waktu melihat name tag.nya ternyata sama seperti kami, hanya peserta biasa yang tidak presentasi paper dan tidak ngapa-ngapain alias Cuma datang, mendengarkan, mencatat, dan insyallah belajar, tapi nampaknya pak Nepal punya misi lain “Menjatuhkan orang lain”. Astagfirullah, maaf ya pak Nepal, semoga bapak tidak begitu lagi sehingga saya juga tidak menulis begini lagi…

*menurut kami, amatlah tidak sopan dan menyakiti hati dengan menyampaikan masukan dengan cara yang menjatuhkan seperti itu, apalagi di depan umum. . Tapi gak tahu juga ding kalo di forum2 seperti ini sudah biasa bantai2an kayak di kelas, hehe…kami kan orang baru ^^

Leave a comment »

First day: Pre Conference Workshop with Mr. Gerard Fry, Minnesota University

Ini adalah pengalaman yang unik. Untuk bisa masuk ke workshop ini, setiap peserta harus membayar $20, namun kami datang dan langsung dibawa ke tempat ini, tanpa ditanya sudah mbayar atau belum. Alhamdulillah… dan…krik krik semua yang di dalam adalah professor-profesor, mahasiswa S2 dan S3. Kami? Datang dan menyimak, sesekali berbicara supaya terlihat mudeng. Bagaimanapun kami pasti dianggap mahasiswa S1 terpilih dari Sebelas Maret University, hahaha…lebih tepatnya kami adalah mahasiswa yang mengajukan diri, dan karena tidak ada pilihan lain, maka mau tidak mau kamilah yang dikirim (cerdas ya^^).

Workshop kali ini bercerita tentang comparative research yang disampaikan oleh Prof. Gerard Fry, dari Minnesota University (jadi membayangkan seperti apa Minnesota itu….semoga suatu saat bisa kesana, amin…). Ini adalah metode penelitian yang mengkomparasikan keadaan di suatu tempat dengan tempat lain, dalam hal ini antar negara. Yang diteliti bisa sesuatu yang sangat detail, suatu system, nilai, dan lain-lain. Peneliti dapat melakukan penelitian secara langsung, berkalobarasi dengan rekan di negera lain, atau sebatas documentary research.

Comparative research menjadi sesuatu hal yang penting di era global mengingat permasalahan suatu negara bisa jadi dapat ditemukan solusinya di negara lain, atau dengan mengetahui system yang lebih berkembang di negara lain kita bisa mempercepat pertumbuhan pendidikan di negara sendiri, dan poin-poin positif yang lainnya.

Sebenarnya saya masih kurang dong juga, hehe… lha wong yang profesor2 aja masih bingung. Anyway, saya jadi merasa tertantang, dan tunggu saja, sebentar lagi saya akan memahaminya, amin…^^

Oiya, sebelum ke Chula kami sempatkan mampir ke Chatuchak Park, ada taman, danau buatan, dan pasar layaknya Malioboro. Disini harga-harganya murah (tentunya dengan tawar menawar^^)

Leave a comment »

Catatan Kecil

1. Bangkok punya system transportasi yang banyak dan bagus, mulai dari skytrain, MRT, perahu, taksi yang relative murah, bis umum yang murah dan tertib, juga ojek yang (katanya) ugal-ugalan.
2. Banyak hotpants dan rok mini lebih tepatnya super mini di Bangkok, ternyata mereka juga terkena imbas K-Pop atau mungkin J-Pop. Tapi saya akui disini banyak yang cantik-cantik dan cakep-cakep^^
3. Banyak banci dan cowok melambai di Bangkok, bahkan kalo kita melihat cewek cantik, jangan cepat-cepat berspekulasi, karena cowoknya juga cantik-cantik^^
4. Layaknya di Indonesia, kebanyakan masyarakat Thailand tidak bisa berbahasa Inggris, jadi siap2 bawa kalkulator buat tawar menawar dan siapkan pula bahasa tubuh 😀
5. Kenapa masyarakat Thailand tidak bisa berbahasa asing? Karena Thailand tidak pernah dijajah bangsa lain dan selalu bisa berdikari, jadi tidak terlalu perlu menguasai bahasa asing, selain itu juga karena memang tidak berinteraksi. Beda dengan negara-negara ASEAN yang lain yang kebanyakan merasakan penjajahan sehingga budaya termasuk bahasanya terakulturasi dengan bangsa lain
6. Raja dan keluarga raja sangat dihormati di Thailand, bahkan di sekolah-sekolah ada upacara penghormatan khusus untuk raja, bersujud-sujud gitu lah
7. Keluarga kerajaan mempunyai bangunan memorial masing-masing, misalnya Chulalongkorn University adalah (entah milik atau pemenunya) Her Royal Highness Maha Chakri Shiridorn. Siapa dia? Entah permaisuri atau ibu suri, gak tau… Sebagian besar membangun kuil, tapi ada juga yang membangun sekolah (Vajiravuth College), rumah sakit, dan juga convention center. Poto raja (dan kadang bersama permaisurinya) terpampang dimana-mana
8. Thailand mempunyi bentuk tulisan sendiri, mirip huruf jawa tapi beda banget, namun begitu mereka juga menggunakan alphabet
9. Di universitas, mahasiswa masih memakai seragam layaknya anak SD-SMA
10. Babi-babi dipajang dipinggir-pinggir jalan, so… siapkan mental untuk mencari makanan halal yang agak sulit dicari^^
11. Kami bertemu dengan banyak sekali orang Indonesia, hmm….ternyata musim liburan pada plesir ke Thai, bedanya kami megap-megap buat bisa berangkat, sedangkan yang lain sepertinya tinggal gesek aja
12. Waktu di wat Arun, para pedagang bisa berbahasa Indonesia dan ajaibnya mereka menerima rupiah untuk transaksi, memang begitu besarnya pengaruh Indonesia disini^^

Leave a comment »

Kuala Lumpur – Hatyai – Bangkok dan Indahnya Punya Banyak Teman

Impian untuk menginjakkan kaki di negeri yang bukan bermana Indonesia akhirnya terwujud. Dimanakah itu?

Pesawat Airasia yang berangkat dari Semarang membawa kami ke sebuah bandara di kota bernama Kualalumpur, itu berada di Malaysia(agak nyesek kalo bilang ini, hehe…peace!). Saya berangkat bersama adik2 tingkat. Tidak pernah membayangkan sebelumnya akan pergi dengan mereka. Awalnya bermimpi baru bisa menjelajah bersama suami, ternyata Allah berkehendak lain, Alhamdulillah…

Waktu di solo dan KL dan singapore beda 1 jam, katanya sih karena di KL lebih produktif dsb sehingga waktu dicepatkan 1 jam (berarti Indonesia tidak seproduktif mereka? Hmm….mari kita renungkan). Di KL ini kami gak lama-lama lebih tepatnya transit saja, karena tujuan kami bukan KL, tapi Bangkok. Dari Bandara kami ke Puduraya dengan naik bis seharga 8 ringgit (24ribu sekian lah). Oiya, selama perjalanan kami belum pernah menemui bis yang jelek, semuanya bagus, ibarat bis kelas eksekutif kalo di Indonesia ^^.

Dari puduraya kami melanjutnya perjalanan ke Hatyai dengan Tiket 50 ringgit. Hah?kapan ke Bangkoknya? Sabar…perjalanan kami amat berliku,,,hehe. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam kami tiba di Hatyai. Apa yang kami lakukan disana? Istirahat dan mampir ke rumah makan Ibu Asma (teman darmasiswa di UNS). Di Hamid Restaurant, kami makan gratis, hm..lupa menunya, Lohmi yang memilihkan untuk kami. Hey, siapa Lohmi? Dia juga anak darmasiswa yang selama 2 hari kedepan akan menjadi guide kami di Thailand. Jadi kami sangat tertolong, selain dapat makan gratis yang banyak, kami juga punya guide, jadi tidak perlu repot dengan orang-orang Thailand yang Cuma bisa bahasa Thai. Selain itu, Lohmi juga seorang Muslim jadi ditengah negara yang banyak mengkonsumsi babi ini kami tidak perlu khawatir karena Lohmi sudah tau spot-spot makanan halal^^.

Dari hatyai kami melanjutkan perjalanan ke Bangkok, ini yang dinanti-nantikan! Perjalanan dari Hatyai-Bangkok kurang lebih 12 Jam dengan tiket 850 bath (250ribuan). Perjalanan kami selalu di malam hari sehingga bisa tidur sepanjang perjalanan, hehe

Sampai di Bangkok kami menuju rumah kak Emi, siapa pula itu? Dia adalah temannya Lohmi yang kerja di Bangkok, muslim juga. Disana kami mandi-mandi dan crita-criti, ternyata kak emi pernah tinggal di Jember selama 1 tahun.
Dari rumah kak Emi kami siap menjelajah Bagkok bersama Lohmi, tour guide kami. Kami mencoba semua jenis transportasi di Bangkok, mulai dari perahu, tuk-tuk, taksi, skytrain, MRT (kereta bawah tanah), bis umum juga. Satu yang belum kami coba, ojek, karena lohmi melarang kami menggunakan jasa ojek, baiklah…

Kami mengunjugi beberapa tempat antara lain:
1. Wat Arun, setelah sebelumnya menyeberangi Chao Phraya, sungai yang dulu kita pelajari semasa di SD atau SMP. Wat Arun bentuknya seperti candi yang dinding2nya dipenuhi keramik. Waktu itu kami dijelaskan oleh Lohmi asal muasalnya, tapi saya lupa, hehe. Mayoritas penduduk di sini beragama Budha. Masuk ke Wat Arun, kami gratis (lebih tepatnya berhasil menyusup^^)
2. Wat po, ini adalah bangunan yang ada budha tidurnya. Sebenarnya tidak terlalu penting terbukti hanya saya yang tertarik masuk, hehe, krik krik… Masuk ke sini 100 bath.
3. Grand Palace. Karena masuknya 500 bath, saya dan teman2 hanya poto2 di depannya saja, haha
4. MBK, ini adalah mall terkenal di Bangkok, masuknya tentu saja gratis, hehe
5. Madame Tussaud, apa ini? Museum yang ada patung2 orang terkenalnya itu. Masuknya 800 bath, tapi bersama Lohmi kami bisa dapat harga yang membuat kami tersenyum lega. Baiklah, poto-poto bersama artis dan tokoh top dunia^^
6. Chatutjak, ini adalah malioboronya Bangkok, banyak barang-barang mudah dan tentunya harus ditawar dulu…didekanya ada taman dan danau buatan yang bagus. Kami mengunjungi pasar ini di hari selanjutnya sebelum ke Chula, itung2 mengisi waktu luang

Sudah ya, saatnya ke hotel dan mempersiapkan hari esok, maksud utama kami datang ke Thailand, Comparative Education Society of Asia di Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand.

1 Comment »

Earn a Living

Saya bersyukur punya pengalaman melamar pekerjaan. Pengalaman pertama bagi saya merasakan persiangan lapangan kerja. Sesuatu yang dulu seringkali dikritisi mahasiswa dan menjadi kekhawatiran. Lapangan kerja semakin sulit. Tahukah?bukan dengan menggerutu lantas semuanya akan menjadi mudah, tapi mulailah meningkatkan kapasitas diri agar bisa memenangkan persaingan.
Dalam proses itu lagi-lagi saya belajar banyak hal. Saya bertemu dengan orang-orang baru yang kebanyakan kakak tingkat. Mereka umumnya sudah bekerja tapi belum bisa mencukupi kebutuhan hidup sehingga mencari sumber penghasilan yang lebih layak. Tidak jarang, mereka bersaing dengan teman sendiri untuk mendapatkan pekerjaan.
Saya melihat harapan dan kekhawatiran dalam wajah-wajah mereka. Ada yang cemas akan tidak diterima, ada juga yang santai, entah yakin diterima atau sudah pasrah. Yang jelas, hanya beberapa posisi yang tersedia dan diperebutkan banyak orang. Sebenarnya hidup memang selalu begitu, sebuah kompetisi, jadi selalu siapkan diri untuk bisa menjad lebih unggul. Melihat kekhawatiran mereka saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka. Waktu itu saya berpikir, kalaupun saya diterima dan ada yang lebih membutuhkan tapi ditolak. Saya akan bersedia melepasnya untuk yang lebih membutuhkan.
Saya juga jadi tambah saudara dalam proses melamar kerja. Inilah yang tidak bisa dibeli, persaudaraan. Meski kami saling bersaing, kami juga saling memberi semangat. Senang rasanya bisa mengenal banyak saudara seiman yang tidak diketahui sama sekali awalnya dan belajar sesuatu dari mereka. Entah saya berhasil atau gagal, saya sudah mendapatkan sesuatu yang tidak ternilai harganya, sebuah persaudaraan.
Dan, hasilnya…
Rasanya saya pagi ini membuat banyak orang heran. Mereka diterima dan mulai bekerja dan tidak melihat saya di sekolah. Mereka bertanya, “Atin, kamu diterima di Al Abidin gak?”, saya jawab, “Tidak,hehe.”
Memang begitulah, kenyataannya memang saya tidak diterima. Tapi, kata ketua yayasan, “Kami memang belum bisa menerima Saudari, karena Saudari belum bisa berkomitmen terkait status beasiswa di UGM. Tapi kalau saudari ternyata tidak diterima di UGM, saudari bisa langsung menghubungi saya. Saya sedang membutuhkan Kepala Sekolah untuk SMA tahun depan. Biasanya saya mengangkat kepala sekolah dari mereka yang sudah berpengalaman, tapi kali ini saya sedang mencari kepala sekolah yang backgroundnya bahasa Inggris, saya beri kebijakan khusus untuk Anda, karena saya punya keyakinan Anda mampu.”
Lalu?
Mari tunggu apa kata UGM!

Dan jawabannya: SELAMAT, ANDA LOLOS SECARA AKADEMIS

1 Comment »

Cerita Wisuda: Sahabat-sahabat terbaik

Bersama kita mengukir cerita, dalam lembaran kehidupan yang sama
Kesempurnaan takdir mempertemukan kita, entah dari belahan dunia dimana
Awalnya hanya diam dan saling menyapa, hingga membuat kekacauan dan kegilaan bersama
Jauh dari kelurgapun tak jadi masalah selama bersama
Banyak persoalan dan tantangan kala itu, kita hadapi dengan tawa dan hati lapang
Kawan, kalian tak pernah memberiku teori tentang bagaimana menjalani hidup
Tapi kalian mengajarkan banyak hal bagaimana menyikapi hidup ini
Tanpa menggurui
Dan waktu kini telah menyampaikan kita disini, di satu titik ketika kalian bicara, “Simpan kami dalam memorimu…”
Mereka menyebutnya perpisahan, bagiku selama Allah menjadi sumber dan tujuan, kita tidak pernah terpisah sama sekali.
Tak akan ada yang tau bagaimana kehidupan mendatang akan berjalan,
Mungkin kita akan semakin jauh di ujung-ujung dunia, atau bahkan menjadi tetangga sebelah rumah…
Jadi, aku tak perlu risau dengan kata-kata itu
Bahwa Tuhan telah menciptakan takdir dengan sempurna.
Cerita dalam lembar ini tidak akan terhapus, tak juga direvisi, apa lagi diganti
Manis, pahit, asam, dan asinnya adalah gabungan rasa yang paling pas racikan Allah tercinta
Terima kasih kawan telah menerima kurangku dengan sangat sempurna,
Menggenapinya dengan kerelaan dan sabarmu
Terima kasih kawan telah membuat aku kecewa berkali-kali hingga hampir membenci
Meski akhirnya aku tak akan pernah bisa dan menjemput kekecewaan bersamamu (lagi)
Memang tak selalu indah, tapi inilah yang terindah yang aku punya
Memang sering menyakitkan, tapi rasa sakit itu tidak pernah membekas sama sekali

6 Comments »

Cerita Wisuda: Kebahagiaan Semuanya

Adalah suatu kebiasaan dalam keluarga saya kalau ada yang wisuda pasti semua keluarga besar akan ikut, 3-4 keluarga. Bayangkan betapa crowdednya…hmm. Mungkin sekarang ini tradisi semacam itu sudah agak luntur dan disebutnya ndeso.

Haha, awalnya waktu ibu saya bilang akan berangkat bersama simbah dan dua keluarga om saya, waktu itu saya sempat protes. Waduh, betapa ramainya ditambah UNS kan sempit, nanti malah capek nunggu disana. Lebih baik yang kesana Bapak dan Ibuk saja ditambah mbak hening dan mas didik, selesai. Simpel dan nggak ndeso.

Tapi…lantas saya berubah fikiran. Tidak apalah banyak orang dan mungkin kelihatan ndeso bagi orang lain. Saya mulai berpikir, wisuda ini bukanlah kebahagiaan saya dan keluarga saja, namun juga semua keluarga besar, bahkan semua orang berhak bahagia. Kalau keluarga besar ingin merasakan kebahagiaan kenapa kita harus risih. Justru bukan terlihat ndeso lagi, justru memperlihatkan betapa harmonisnya keluarga kita,hehe…so, wisuda membawa rombongan? Ayo aja!

Leave a comment »

Cerita Wisuda: Allah Maha Mendengar Setiap Harapan

Disini saya ingin bercerita tentang betapa Allah maha mendengar semua harapan, doa, angan-angan dan sebagainya entah itu kita ucapkan secara sadar, kita bisikkan dalam hati, atau bahkan sekedar terlintas dalam benak.

Ceritanya diawali ketika wisuda periode maret 2012 lalu. Saya sedang menunggu teman saya Jeng Navita Hani Restuningrum mengikuti prosesi wisuda. Saat itu sedang ada pidato lulusan yang dibacakan oleh seorang wisudawan pria entah dari fakultas apa. Dalam hati saya terlintas, “aku juga pengen pas wisuda nanti maju.” Entah maju sebagai apa, yang penting pas wisuda nanti maju, biar keren, biar bapak ibuk seneng. Lalu, saya lupa begitu saja dengan bisikan hati itu ditambah status saya yang bukan lulusan terbaik,hehe

Waktu berlalu, dan wisuda periode Juni semakin dekat. Saya sudah melengkapi berkas wisuda dan bersiap menanti hari bahagia. Tiba-tiba….waktu itu saya sedang menguras bak air di kamar mandi. Dasar phone holic, menguras bak mandi pun saya bawa hape. Ternyata ada si Ardhyanto Restu Widodo yang menelepon. Agak panjang sih teleponnya, tapi intinya… “Atin, pas wisuda nanti mau gak baca prasetya?” langsung saya jawab, “IYA, MAU.” Padahal saya belum tahu apa itu baca prasetya, yang penting itu maju pas wisuda. Siangnya saya diminta menghadap bagian pendidikan FKIP dan ternyata saya tidak hanya akan membaca prasetya, tapi juga menyampaikan pidato lulusan. Tepatnya membaca prasetya di wisuda Universitas dan menyampaikan pidato lulusan di wisuda fakultas. Lengkap sudah, menutup lembaran cerita mahasiwa S1 dengan indah…

Jadi, bisikkan harapan-harapan yang baik dan bayangkan sesuatu yang indah karena Allah mendengarnya, melihatnya, dan maha mengabulkannya. Dan akhirnya saya bisa menjalankan kedua tugas tersebut dengan INDAH, Alhamdulillah…

Leave a comment »