Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Tujuh Belas

Biarlah yang jauh itu hanya dimata, tapi hati kita tetap menatap pada arah yang sama. Sulit dipercaya bahwa kita begitu saling percaya, meski tak pernah aku mendengarmu berdoa, dan tak pernah kamu melihatku berdoa. Bagiku, tak penting apakah aku ada dalam doamu atau tidak, sepanjang aku bisa terus menjagamu dalam doaku. Itulah yang selalu bisa aku beri, sebuah doa.. mungkin hanya itu.

Dialah Allah, kepadanya aku pernah berkata untuk selalu mendoakanmu. Sebuah janji. Janjiku akan keinginanku untuk bersamamu kelak di mimbar-mimbar cahaya yang dijanjikanNya.

“Kita saling mengenal di usia 17 dan semoga akan terus baik bahkan lebih baik hingga kita berusia 71 bahkan lebih” -my friend, rp-

Terima kasih untuk tahun2 penuh petualangan bersamamu, penuh cita dan cinta.

2 purnama lagi, kawan.. 🙂
Meski keadaan berubah, kamu akan tetap mengisi lantunan doaku..
—–

Leave a comment »

31

Hari terakhir dibulan kesepuluh..
Semoga aku dipertemukan dengan magribnya hari ini, dan esok aku sambut tanggal 1 yang keenam..
Apakah aku sudah cukup baik?
Sudah cukup pantas?
Sudah cukup siap?
Semoga aku selalu belajar untuk menjadi pantas dan baik..
Lalu,
Akan aku sambut tanggal 1 yang ketujuh dengan lebih baik, lebih siap, dan lebih pantas dari sebelumnya..

Ditanggal 1 yang kedelapan, aku masih akan terus belajar, dalam kehidupan yang sebenarnya yang akan baru saja aku masuki, dengan guru kehidupan yang baru, dengan pelajaran yang berbeda, dengan metode dan teknik yang harus dikompromikan bersama.

Semoga Allah menyampaikan aku pada tanggal 1 yang ketujuh juga tanggal 1 selanjutnya sampai aku lupa entah sudah tanggal 1 yang keberapa. Ya, sampai aku tak sanggup lagi menghitungnya..selama itulah aku masih akan terus belajar menjadi pantas dan baik 🙂

image

Leave a comment »

Make up

Hmm…mulai dari mana ya…begini, soal make up bagi muslimah. Allah menyukai keindahan dan Allah menyukai apabila hambaNya menunjukkan nikmatNya. Termasuk dalam hal berpenampilan. Well, pertama soal pakaian. Pernah suatu hari saya diajak ngobrol oleh teman saya yang notabene baru-baru ini berteman dengan orang yang berpenampilan seperti saya (pake rok terus, kerudung menutup dada dan bahu, dan pake kaos kaki)… dia bilang:

“Dik kamu ganti baju tiap hari kan? Kos kaki itu juga ganti tiap hari kan? Kamu tu nek pake baju mbok yang berwarna gitu lhoo kayak temen2 yang lain…”

(*padahal menurut saya baju saya sdh cukup warna-warni, pink, oranye, hijau, biru, tapi emang warna2 kalem gitu sih hehe)

Lalu saya jawab:
“He lah…ya ganti tiap hari lah, kalo perlu 2x sehari kalo banyak aktivitas…nek soal warna emang aku gak suka warna2 ngejreng. Emang kenapa to?”

Lalu dia pun bilang lagi:
“Di kampusku dulu banyak mbak2 berpenampilan kayak kamu gini, tapi kesannya gak bersih gitu lho…aku jadi risih”

Saya pun bertanya:
“Lha nek aku kayak gitu juga gak selama ini?”

Jawabnya:
“Gak sih, tapi ya siapa tau…pokoknya kamu jangan kayak mbak2 itu ya…gapapa penampilan aneh gitu tapi yang bersih, rapi, sing nyawang juga kepenak.”

Saya:
(Legaaaa… amaaaan… tapi miris juga *emang situ dari kampus mana?)

—–

Well, tampil sederhana memang baik, tapi sederhananya jgn disederhanakan lagi dong. Tetap dijaga kebersihannya, kerapihannya. Masak yo muslimah pakaiannya bau, gak disetrika pula. Kalaupun banyak aktivitas dikampus, bukan alasan untuk menomorsekiankan penampilan. Karena…orang2 pertama melihat appearance kita. Gimana mau simpati pada kegiatan2 islami (baca:dakwah) kalo dilihat dari jauh saja sudah gak banget (penampilannya).

Tapi…tapi…Allah juga tidak suka yang berlebihan. Nah…untuk itu gak perlu juga jor2an untuk ganti penampilan atau make up. Cukup sering bersihin muka (minimal). Gak perlu pake bedak tebel (sekedarnya saja biar gak kelihatan kucel), eyeliner, eyeshadow, dan teman2nya (boleh ding, kalo didepan suami tpi ya.. 🙂 )… Sederhana saja, yang penting bersih dan pantas. Pantasnya ke kampus itu ya pake baju resmi, pakai sepatu, muka udah dicuci. Jangan pakai kaos oblong, sandal, muka polosan dan warna bajunya tabrak lari :). Pantasnya ke pengajian pagi itu ya sudah mandi dan berpakaian rapi… (pengalaman, saking paginya kadang ketahuan belum pada mandi hihi).

Cantiknya muslimah itu dari dalam (yang ini pasti sepakat). Kalau diluar…cukuplah muslimah berpenampilan pantas (pantasnya ke kampus, sama pantasnya ke walimahan beda lho yaaa hihi). Tapi nanti kalau sudah bersuami, boleh deh centil2 dan dandan2 sesuka hati, secantik mungkin :). Karena sejatinya kecantikan fisik bukan untuk ditunjuk2kan dan dibangga2kan apalagi di depan yang bukan mahram. Cukuplah kecantikan hati yang hakiki. Tapi tampilan fisik juga harus tetap diperhatikan ya… 🙂 jangan sampai orang2 jadi ilfeel duluan pas ngelihat kita 🙂

Leave a comment »

Bertahan :)

Bahwa hidup kita kelak bukan hanya diisi oleh kita sendiri. Karena kita manusia yang diutus untuk menjadi pemimpin di bumi, kita berinteraksi dengan yang lain. Kita berjamaah..
Dalam interaksi itu, mungkin akan ada kecocokan, saling mendukung, saling mengingatkan namun jug ada gesekan, keengganan, saling curiga, cemburu..bahkan mungkin diantara dua orang yang sangat dekat sekalipun.

Tak apa, itu proses yang dengannya kita akan belajar menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Asal… kita tetap saling percaya, tetap menggenggam erat meski masih enggan bertatap. Asal… kita tetap menempatkan diri kita pada kodratnya. Saling mengerti dan menetapkan janji awal kita berada di sini. Seberat apapun nanti, kita harus tetap bersama sampai disana, mimbar-mimbar cahaya di surgaNya 🙂

Semoga kehidupan kedepan lebih hebat, kita lebih taat, lebih jauh dari kesia-siaan. Semoga yang tersisa dari hidup kita adalah manfaat… biarlah kita berlelah-lelah di dunia. Sesungguhnya tiada waktu istirahat yang sebenarnya sebelum kaki kita melangkah di surga. Kaki kita..

Leave a comment »

Hidup Mandiri!

Sudah berapa tahun kita merepotkan orangtua? *lagi pada ngitung dalam hati* well selama itulah kita sudah “membebani” orangtua kita. Tentu, setiap orangtua ikhlas dibebani anaknya, tapi… apa kita setega itu ikhlas membenani orangtua? *yah, walaupun begitu, selamanya orangtua akan terus memikirkan anaknya.

Semuanya pasti sudah tidak ragu dan setuju tentang perjuangan dan cinta ortu ke kita kan ya.. sip.. Tapi…tapi…mau sampai kapan mereka berjuang untuk kita? Apa gak malu (atau setidaknya pekewuh) kalau sampai segedhe ini masih ngrepotin ortu…

Kalau kita cinta, maka sudah selayaknya kita berupaya sekuat tenaga untuk tidak lagi menyusahkan orangtua. Caranya? Kalau sudah menikah ya segera (berusaha) misah, hidup mandiri bersama suami/istri yg sudah dipilih sendiri, yg sudah berjanji untuk sehidup semati dalam susah dan senang #tsaaah. Berupaya hidup apa adanya sampai nanti ada apa-apanya (misalnya punya ini itu, hihi). Kan dulu ortu kita jg mulai dari nol. Kenapa kita tidak? InsyaAllah akan dimudahkan kalau memang niatnya baik dan keduanya benar2 ikhtiar. Belum lagi misal udah punya anak dan masih ngrepotin orang tua… 😦

Nah, bagi yg masih lajang (termasuk saya) cobalah mengurangi beban orangtua dengan sering2 mengerjakan pekerjaan rumah tangga menggantikan ibu. Terus, studi yang serius. Konon katanya orangtua akan senang kalau anaknya serius belajar dan bertanggungjawab. Sederhana bukan yg mereka inginkan? Dibanding keinginan kita: laptop, smartphone, motor, hardisk, dll.. jangan sebaliknya, sudah sebesar ini tapi masih suka bangun kesiangan… hello????

Mandiri tidak harus kita punya rumah sendiri, penghasilan yang cukup, mobil, dll. Mandiri itu (menurut saya) kondisi mental untuk tidak bergantung pada orang lain. Kalau kita bisa mengerjakan sendiri kenapa harus merepotkan orang lain? Apalagi yg kita repotkan itu orangtua kita. Mandiri bisa dimulai dari hal2 kecil da sederhana..

Ayo hidup mandiri!!! Mari membahagiakan orangtua!!!

image

Leave a comment »

Alhamdulillah, semuanya dipermudah..

“Jangan bangga dengan kemudahan, jangan menyerah dengan ujian” kira-kira begitulah kesimpulan yang saya ambil dari obrolan kami (saya dan seorang dosen UGM) siang ini. Ceritanya kami lagi cerita-cerita (ya iyalah..) dan sampailah saya bercerita tentang project saya.

“Alhamdulillah Bu, sejauh ini project saya lancar2 saja, tidak ada hambatan berarti. Rasanya mengalir lancar saja begitu..”

Setelah beliau mengucapkan selamat. Dimulailah tausiyah dari beliau… intinya begini:

“Tapi jangan karena mudah2 saja menjadikan kamu santai2 ya. Banyak yang awal2nya mudah tapi belum tentu proses2 selanjutnya. Kan baru awal2 kan project kamu? Artinya, tetap bersiap siaga dan serius mengerjakan project kamu..jangan sampai menjadikan kamu terlena apalagi ‘gampangke’ ya. Ingat, ini belum selesai. Perjalanan kamu masih panjang.. tetap fokus, tetap serius, lakukan yg terbaik dgn kualitas terbaik. Jangan sampai, kalau nanti ada hambatan sedikit saja bisa menggagalkan kamu..”

Ya… dan kembali diingatkan hari ini, bahwa hidup itu tidak pernah lepas dari ujian. Semua kemudahan yang saya dapatkan bisa jadi juga adalah ujian. Apakah saya tetap serius dan memberikan kualitas terbaik dalam hal ini? Ataukah saya memberikan ‘sekenanya saja’? Bisa jadi, kenapa harus bekerja terlalu keras kalau dengan santai2 saja bisa mendapatkan apa yang kita harapkan.. astagfirullah.. tidaklah pantas menjadi umat terbaik melakukan pekerjaan sekenanya saja, astagfirulah..

Maka, segala kemudahan adalah juga ujian. Akankah kita tetap dengan kualitas terbaik dalam keadaan mudah? Apakah kita akan tetap menjadi hamba yang bersyukur? Apakah keimanan dan takwa kita akan terus bertembah? Dan sejatinya, segalau ujian itu adalah bahasa cintaNya. Agar kita menjadi hamba yang lebih berkualitas. Agar kita makin dekat dan mengenalNya. Agar kita makin bertakwa.

Ya Allah, jangan jadikan kami hamba yang lalai dan melemah kualitasnya karena segala kemudahan yang Engkau berikan, melainkan jadikanlah segala kemudahan itu sebagai motor peningkatan kualitas hidup, ketakwaan, dan tanggungjawab kami.

Ya Allah, jangan jadikan kami menyerah dan futur karena ujian. Kuatkanlah kami dalam melewatinya, hingga kami menjadi hambaMu yang lulus dan terus meningkat kualitasnya.

Aamiin..

Semoga kita bersyukur atas segala kemudahan yang diberikan oleh-Nya. Menjadikannya alasan untuk lebih mencintaiNya…lebih dari sebelumnya…jangan kemudahan ini menjadikan kita sombong, melainkan kita makin tawadhu: betapa kecil kita dihadapanNya, apalah kita tanpa pertolonganNya.. apalah kita tanpa keataatan kepadaNya..

Semoga kita selalu dikuatkan, dengan apapun yang akan kita hadapi kedepan, senantiasa menjadikan kesabaran dan khuznudan sebagai kawan kita. Luruskan niatnya, kuatkan takwanya 🙂

Semoga Allah memberi banyak kemudahan yang membangun kita dan makin menguatkan kita dalam ujian 🙂

image

Leave a comment »

Bertambah

Well, tanpa bermaksud aneh-aneh dan mengarah ke ‘itu’ (yah walo sebenarnya iya juga sih hehe). Kemarin malam tiba2 mengalami suatu kerjadian yang menyadarkan saya tentang janji Allah, bahwa Allah akan mengkayakan pemudapemudi yang menikah, bila mereka belum kaya.

Sebelumnya saya definisikan kaya disini secara universal ya, kaya secara lahiriyah maupun batiniah.Nalarnya begini, ibarat sebuah pekerjaan yang dilakukan oleh 2 orang dengan kemampuan sama maka pekerjaan itu cepat selesai. Kalau menikah, hal2 yang sebelumnya dikerjakan sendiri harusnya lebih meningkatkan kualitasnya setelah menikah. Itulah kenapa, ada seorang ustad yang berpesan: para macan kampus (aktivis) setelah jangan sampai jadi kucing! *nangkep?
Begitulah.. menikah adalah syariat Allah yang mulia, dan syariat itu dibuat dalam rangka memuliakan manusia (membuat manusia lebih baik). Betul?

Setelah menikah, akan ada yang secara legal sering mengingatkan kita untuk menggiatkan ibadah. Lalu, dari segi silaturahim (jaringan), akan jadi lebih luas karena sekarang si perempuan tambah kenal sama teman2 si laki-laki dan sebaliknya. Dan… silaturahim itu menambah rejeki bukan? Yap, selanjutnya.. tentang doa. Doa dua orang yang sejalan insyaAllah akan lebih didengar oleh Allah apalagi kalau keduanya sudah melaksanakan yang pertama: saling mengingatkan dalam ibadah. Pekerjaan-pekerjaan rumah yang lama kalau dikerjakan sendiri, akan lebih cepat selesai karena sekarang dikerjakan oleh dua orang, sehingga lebih banyak waktu produktif. Soal pahala.. solat berjamaah itu pahalanya berlipat2 dibanding solat sendirian. Nah, kalau sudah nikah bisa sering2 solat jamaah tuh. Bagi istri, ladang amal tergelar di dalam rumahnya dengan melayani segala kebutuhan keluarga dan bagi suami keluarnya dia dari rumah dalam rangka mencari nafkah akan menjadi jihad..pekerjaan dan mimpi yang kiranya sulit akan jadi lebih mudah karena dipikirkan oleh dua kepala, dilaksanakan oleh dua manusia.

Lalu, apakah berarti setelah menikah semuanya akan indah? Well, ndak bisa jawab juga sih, kan belum menikah hehe.. tapi menurut saya, bahagia atau indah tidaknya pernikahan tergantung kepada individu masing2, bagaimana mereka memaknai kebersamaan, janji, dan cita2 pernikahan mereka. Tapi…yang jelas Allah tidak mengatakan sama sekali dalam alquran bahwa menikah akan menimbulkan masalah. Malah yang ada itu lebih menjaga diri, menentramkan hati, mengayakan, dan menimbulkan kasih sayang. Kalaupun di dalam alquran ada kisah2 yang menceritakan tidak berkahnya pernikahan, itu karena salah satu atau keduanya kufur, tidak beriman kepada Allah.. seperti kisah istri Nuh as. Jadi, sebelum dan sesudah menikah.. tetapkan selalu keimanan dalam diri. Itu adalah kuncinya.

Bila Allah menyuruh dan mensyariatkan, maka Dia akan memampukan dan memenuhi janjiNya, bagi mereka yang yakin dan berikhtiar 🙂

Leave a comment »

Menahan!

Sebagaimana puasa, hidup itu tentang menahan.. kalau puasa kita menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan badan. Tapi, bisa dibilang semua urusan dalam hidup kita berhubungan dengan kata ini, menahan..

Menahan untuk tidak berkata2, melainkan yang baik..
Menahan untuk tidak berbuat maksiat (karena seringnya perbuatan maksiat itu enak dilakukan)..
Menahan untuk tidak mementingkan diri sendiri, dimana semua manusia pasti puya ego thd dirinya sendiri..
Menahan untuk tidak mengumbar pandangan, cinta, bahkan kegalauan.
Kata teman saya, galau itu menunjukkan sebesar apa keyakinan kita pada Allah..
Juga rasa cinta, tidak perlu diumbar2. Seperti air, cinta yang dalam itu tenang dan tidak beriak-riak..
Menahan diri untuk tidak pelit, karena Islam mengajarkan kita banyak sedekah..
Menahan diri untuk tidak bermalas2an, karena waktu yg kita punya sangat terbatas dan tugas kita amatlah banyak..

Menahan diri untuk bisa istiqomah di jalanNya. Karena dunia itu penjara bagi orang2 beriman dan surga bagi orang2 kafir.. maka bagi mereka yang beriman, cukuplah surga setelah kehidupan, surga yang sebenarnya.

Leave a comment »

Renggang

Renggang itu istilah kami untuk rapat (pertemuan).. mas Hadi nih yang nyiptain hehe.. tapi rapat kami tidak pernah bertemu secara fisik. Hanya bertemu nama saja di facebook atau wasap hehe..

Merekalah keluarga besar saya, tim Hubungan Luar Negeri MITI Kluster Mahasiswa. Kabid saya adalah mbak Riska Ayu Purnamasari. Sekarang ibu peri (panggilan utk mbak riska) sedang S2 di Tsukuba Jepang. Ada juga mas Hadi Teguh Yudistira (agen 001) yang sekarang sdg studi di Korea. Selanjutnya mbak Chiku di Taiwan (Agen 006). Ada juga mbak Evi di Ankara, Turki. Dan… tidak ketinggalan anak-anak manis nan imut yang masih stay di Indonesia tercinta orangnya ramah2, macam2 budayanya 🙂 ada saya, arief, dan mbak uus (ugm) dan teesya (unand)..

Alhamdulillah jadi merasakan indah dan lucunya komunikasi lintas pulau, negara, dan benua.

Terima kasih facebook, laptop, sambungan internet 🙂

Leave a comment »

Kampus Indonesia

image

Terdampar di kampus Gadjah Mada, saya belajar tentang Indonesia. Dari teman2 saya yang sebagian besar berasal dari luar Jawa. Dulu saya heran, bisa2nya orang Jawa jadi minoritas disini haha.. mahasiswa disini berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan dari mereka saya bisa mengenal lebih dekat wilayah-wilayah jauh..

Inilah kampus Indonesia, kata seorang guru besar di FIB. Universitas Indonesia boleh saja ada di Jakarta, tapi universitas INDONESIA itu ada disini, Jogja. Bukan bermaksud pula membangga2kan kampus ini. Saya bangga, iya, tapi saya tetap lebih mencintai UNS 🙂 tapi ketika berbicara soal Indonesia, UGM memang tempat yang tepat.

Saya lebih percaya bahwa di Indonesia ini ada ratusan bahasa, ada banyak pulau, ada banyak suku, banyak budaya, ada banyak karakter pemuda didalamnya.. kami bercerita tantang kebiasaan disini dan disana, tentang tempat2 menarik, tentang pulau-pulau yang indah.

image

Saya jadi tau karakter dan gaya2 orang Indonesia, baik yang dari wilayah barat, tengah, dan timur. Belum lagi, setelah liburan kelas kami akan banjir makanan khas daerah masing-masing :). Kalau ada acara2 di UGM kemasannya selalu menarik dan saya bilang: totalitas, mungkin berkat pemikiran banyak kepala dari wilayah berbeda2 sehingga hasilnya oke punya.

Semuanya datang ke kampus ini dengan satu tujuan. Belajar… untuk memajukan bangsa, insyaAllah..

Tapi, bukan berarti di kampus ini hanya ada kelebihan. Tentu, pasti ada kekurangannya. Saya sering mempunyai ekspektasi yg terlalu tinggi thd kampus ini, padahal biasa saja…

Dimanapun kita belajar, tetap kitalah yang memegang kendali atas pilihan kita. Belajar di Oxford sekalipun kalau kita hanya tidur, namaya buang2 uang!! Tetap, kitalah yang belajar, kitalah yang kelak mempertanggungjawabkan apa yang kita dapat. Kitalah yang kelak bekerja di masyarakat.. kita, dengan otak kita, dengan hati kita.

Leave a comment »