Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Mendampingi dokter :)

on February 13, 2014

image

Pertama kali saya bilang ke orangtua bahwa saya akan berproses dengan seorang dokter, salah satu pertanyaan yang ditanyakan adalah: ‘kamu siap jadi istri dokter?’
Kalau saya itu saya bercerita ke teman saya, mungkin komentarnya akan ‘wowww…’ yah, profesi dokter masih menjadi salah satu profesi terhormat di masyarakat (dan tentunya di hati saya dari dulu, terlebih sekarang…hehe). Menjadi istri dokter adalah sesuatu yg patut dibanggakan. Tapi, bagi orangtua saya, bukan soal profesinya… tapi soal kehidupan setelah menikah nantinya. Lanjut orangtua saya,
‘Kamu siap ditinggal2? Kan dokter kalo jaga gak kenal hari libur. Jadi dokter itu tanggungjawabnya besar, mungkin sekali waktu kamu jadi nomer dua setelah pasien. Mungkin juga ditinggal lama… belum kalau nanti suami kamu studi lanjut, ngurus anak2 sendiri…’
Entah kenapa saat itu saya begitu mantap menjawab, saya siap.

Dan gerbang pernikahan telah dilewati. Ya, benar… menjadi dokter adalah tanggungjawab besar, tidak kenal hari libur, bahkan kadang tidak kenal istirahat. Dalam tidurnya pun, suami saya sering mengigau ttg pasien hehe. Belum lagi kalau ada konsul dr klinik, maka hape ‘pink’nya selalu dibawa, ke kamar mandi sekalipun.. sampai disini saya makin salut dengan profesi ini 🙂

Sedih karena sering ditinggal2? Iya, tentu, tapi bahagia. Inilah nikmat Allah yang diberikan pada kami. Ketika ada orang2 yang terpisah dr pasangannya sebulan dua bulan, kami hanya semalam dua malam. Ketika para suami lain bekerja hingga keluar pulau, suami saya cukup muter2 di Solo raya bersama si birunya. Kami mencoba selalu bersyukur… ya, mensyukuri apapun yang kami miliki, waktu sesedikit apapun, menjadikan setiap moment kebersamaan berkualitas.

Menjadi dokter adalah pilihan hidup suami saya, dan menjadi istri dokter adalah jalan hidup yang sudah saya pilih. Maka, kami harus siap dengan segala konsekuensinya. Kebahagiaan itu tidak selalu dalam kedekatan fisik, saat jauh hati kamipun selalu terasa dekat.. 🙂

Menjadi dokter adalah ibadahnya, dan mendampingi dokter dengan baik telah menjadi pilihan ibadah saya… insyaAllah.

Semoga Allah menguatkan ikatannya, meluruskan jalannya, hingga terwujud cita-cita tertinggi kami, bersama menemuiNya… aamiin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: