Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

8 November 2013

on November 7, 2013

Ini mengambil dari status facebooknya dr.Tonang yang panjaaang banget! Dan pagi2 saya dibuat menangis membaca ini 😥

Uji “Cocok Serasi”

Untuk memastikan bahwa proses
transfusi aman, dilakukan
serangkaian proses pemeriksaan
pra-transfusi. Inti dari proses itu
adalah menguji apakah antara
darah pasien dan donor yang akan
ditransfusikan benar-benar cocok
dan serasi. Bila terjadi ketidak
cocokan dan ketidak serasian, maka
timbul risiko bila ditransfusikan.
Bisa berupa reaksi yang ringan,
semacam gatal-gatal dan demam.
Bisa juga sampai menimbulkan sesak
nafas bahkan kematian.

Uji pertama kecocokan dimulai dari
memeriksa apakah keduanya
se”golongan”. Tentu harapannya
adalah menemukan yang
segolongan. Hanya pada kondisi
ekstrem tertentu saja, ada klausul
yang memaksa untuk justru
menggunakan darah lain golongan.
Bila sudah “cocok” golongannya,
masih harus diteruskan dengan uji
ke”serasi”an. Proses uji keserasian
ini dilakukan secara bertahap.
Pertama, dilakukan pencampuran
secara langsung apa adanya, dan
dilihat reaksinya. Tujuannya
mendeteksi adanya interaksi
antigen-antibodi yang secara alami
memang menimbulkan ketidak
serasian.

Bila lolos, diteruskan fase kedua
dengan menambahkan bovine albumin
dan diberi penghangatan (inkubasi
sesuai suhu tubuh). Tujuannya
mendeteksi adanya ikatan antigen
dengan antibodi-antibodi yang
awalnya masih tersembunyi. Setelah
tersensitisasi, antibodi itu muncul
dan aktif, sehingga berisika
menimbulkan ketidak serasian. Bila
lolos lagi, masih harus menjalani uji
ketiga dengan melakukan inkubasi
dan menambahkan Serum Coombs
yang berisi anti-human-globulin.
Tujuannya mendeteksi antibodi
tersembunyi yang sebenarnya dalam
kondisi normal bersifat tidak aktif
dan tidak berpotensi fatal. Karena
inkubasi dan sensitisasi, antibodi
itu bisa menjadi aktif, namun tetap
belum menimbulkan ketidak
serasian. Penambahan Serum
Coombs yang kemudian
“menjembatani” sehingga timbul
ketidak serasian.

Masih ada lagi catatan bahwa pada
ketiga tahapan itu, diberi
perlakuan “goncangan berputar”
berupa sentrifugasi. Langkah ini
untuk menguji seberapa besar
“daya tahan” keserasian. Semua itu
merupakan upaya untuk
mensimulasikan berbagai kondisi
yang mungkin terjadi bila darah
donor benar-benar ditransfusikan.
Hanya yang lolos ketiga tahap itu
yang dinyatakan aman. Begitupun,
ketika darah donor benar-benar
ditransfusikan, tetap masih ada
risiko, sehingga tetap diperlukan
kehati-hatian dan kewaspadaan.
Risiko reaksi transfusi pun tidak
hanya yang timbul segera atau
sesaat setelah ditransfusikan.
Bahkan ada risiko yang baru timbul
beberapa lama kemudian.

Dalam hidup sehari-hari, untuk
berteman, bersahabat dan
terutama membentuk keluarga,
seringkali kita sudah berhenti hati-
hati saat merasa “cocok”. Kita
sering terhenti untuk tidak lagi
waspada pada saat merasa “sudah
segolongan, sudah setara, sudah
sederajat, sama-sama sekolah
tinggi, sama-sama bekerja yang
mapan” dan banyak hal yang
“setara” lainnya. Untuk kemudian
bisa diharapkan kebersamaan itu
bertahan lama, ternyata kita perlu
menguji ke”serasi”annya. Ujian
itupun bertahap, berjenjang,
bervariasi dan berulang bahkan
ketika kemudian membaur dalam
hidup bermasyarakat.

Pada setiap jenjang dan tahapan,
akan ada ujian. Ada darah yang
sudah cocok golongan darahnya,
ternyata harus gugur baru pada uji
keserasian fase pertama.
Akibatnya hanya bertahan singkat,
tanpa kelanjutan.

Di masa selanjutnya, ada ujian yang
bentuknya menyenangkan. Mirip
dengan penambahan bovine albumin
dan penghangatan darah.
Bentuknya bisa harta bertambah,
jabatan meninggi, anak-anak
menyenangkan atau kemesraan
yang seolah tak pernah hilang.
Tanpa sadar, kondisi menyenangkan
ini bisa membuat kita terlena. Saat
mengalami goncangan, muncullah
“antibodi tersembunyi” yang
berisiko mengoyak keserasian.
Kadang pula muncul godaan “dari
pihak luar” sebagaimana
penambahan Serum Coombs.

Sebenarnya wajar bila ada
perbedaan, karena tentu saja tidak
pernah ada yang benar-benar sama.
Namun perbedaan itu sebenarnya
telah dapat diterima dan tidak
menimbulkan masalah. Baru setelah
ada “dari luar”, perbedaan itu
menjadi masalah dan mengancam
keserasian.

Bahkan setelah kemudian membaur
dalam hidup yang sebenarnya di
masyarakat, risiko yag mengancam
keserasian itu masih ada. Kita
harus tetap hati-hati dan waspada.
Namun minimal, bila fase-fase
ujian “internal” itu sudah kita
lalui, risiko yang tersisa makin kecil
dan kita makin percaya diri
menghadapinya.

Mari hadapi ujian dan pelihara
keserasian kita.

Renungan 8 November 2013 untuk
istriku Asri Handayani.

Bagus, dan saya merasa bahwa saya pun sedang dinasehati 😥

Semesta, begitu banyak kasih sayang tercurah untuk kita. Semoga kita senantiasa menjadi orang2 memberikan kasih sayang bagi banyak orang… aamiin…

Advertisements

One response to “8 November 2013

  1. sifaconcetta says:

    bagus banget 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: