Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Restu Ibu

on September 17, 2013

Karena terbiasa menjadi anak penurut (hehe), sampai sekarang jadi tidak punya cukup keberanian untuk berbuat nekat.. (soalnya udah sering kena batunya, kalo nekat pasti ada apa2).. astagfirullah..

Mencoret

Kisah tentang daftar mimpi-mimpi yang telah di depan mata, menunggu selangkah lagi untuk dijadikan nyata. Tapi, ketika restu ibu tidak dipunya, maka apalah artinya.. sebal? Alhamdulillah tidak pernah sesebal itu. Apalah artinya mimpi-mimpi itu dibanding restu ibu. Ibu (juga ayahku), dua orang yang bisa membuatku dengan mudahnya melepas mimpi-mimpiku. Menganggapnya tidak berarti, sekeras apapun aku memperjuangkannya..

Maka, beginilah cara ibuku mengatakannya ketika aku bercerita tentang jakarta, tentang osaka, tentang seoul, tentang taipei, tentang eropa..

“Hanya ada dua kota penting yang harus sangat kamu pikirkan untuk bisa mengunjunginya, mekah dan madinah. Itu sudah lebih dari cukup. Mimpikan, rindukan, dan berusahalah untuk kesana. Itu saja.”

Aku bermimpi, dan orangtuaku pun mempunyai mimpi tentang anak-anaknya, tentang aku. Bagi mereka, cukup aku menjadi anak penurut, rajin, berakhlak, dan taat beragama. Mimpi mereka bukan tentang menjelajah dunia yang sering aku ceritakan dengan bangganya. Mimpi mereka yang sederhana itu sungguh sempurna. Lebih sempurna dari semua kota2 yang aku ceritakan pada ibu dan bapakku..

Ibu dan bapakku adalah surgaku. Mimpi terbesarku adalah mewujudkan mimpi mereka yang sederhana namun sempurna…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: