Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Warna

on September 8, 2013

Alhamdulillah, sekarang paham pesan-pesan murabbi dulu, bahwa “kita baiknya bisa mewarnai tanpa terwarnai, berbaur tapi tidak melebur”

Ternyata, ada harga yg harus dibayar untuk sebuah pemahaman itu. Bukan hanya berhenti sebatas teori, namun mengertinya setelah melalui proses berliku.. yang menguji keteguhan kita, menguji kecintaan kita, menguji seberapa jauh kita bisa berpengaruh tanpa sedikitpun tersentuh..

Betul, dapat membaur dengan banyak orang yang heterogen itu baik tapi bisa menjadi tidak baik kalau kita ikut tercampuri dengan “ala-ala” mereka, yang dengan alasan agar dapat membaur, membuat kita melonggarkan prinsip. Bukan melepasnya, tapi melonggarkannya sedikit apapun itu. Karena disaat yang sama kita telah melepas satu ikatan yang telah kita lekatkan erat dan menjaga kita.. ketika satu ikatan itu lepas, meski yg lain masih kuat, tentulah akan berbeda..

Sebenarnya, untuk berdakwah, kita hanya perlu menjadi diri sendiri, menjadi muslim yang kaffah. Muslim yang kaffah itu pas rasa toleransinya, pas cara bergaulnya, pas cara menasehatinya, pas cara berpenampilannya. Kalau kita masih merasa ‘tidak pede’ dengan diri kita (yang mungkin sering dipandang sebelah mata bahkan tidak dipandang), mungkin memang ada yang belum pas dalam diri kita sebagai muslim..

Tidak perlu mengendurkan seuntai prinsip pun untuk bisa diterima oleh mereka, karena prinsip yang benar itu telah sangat pas takarannya, maka periksa dulu seberapa pas prinsipmu. Tidak perlu mengikuti gaya hidup mereka untuk bisa mendakwahi mereka, berdakwahlah dengan benar. Kalau kita masih ‘memaksakan’ diri untuk sama dengan mereka, barangkali cara dakwah kita yang belum pas. Tidak perlu menjadi orang lain, karena pada akhirnya ketulusan lah yang akan bertemu dengan ketulusan…selalu seperti itu.

Ketika Allah memberikan hidayah dan mengikatnya kuat, tidak pantas bagi kita mengendurkannya dengan alasan untuk membagi hidayah yang sama, bukankah hidayah hanya milikNya? Ketika Allah menunjukkan jalan mulai bernama dakwah, maka Dia juga telah menunjukkan jalan mulia dalam mengembannya.. bukan dengan mendurhakai, sesedikit apapun itu, semulia apapun alasannya..

Biarkan dakwah tetap menjadi suci, alasan-jalan-dan tujuan akhirnya. Kitalah yang harus mengikatkan diri kuat-kuat kedalamnya.. karena sejatinya bukan dakwah yg membutuhkan kita, namun kitalah yg membutuhkan dakwah…

Wallahualam..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: