Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Mas, namanya siapa? *Abdullah

on May 6, 2013

Tiba di bandara Taoyoan, kami segera mencari bis jurusan Taichung karena acara kami berlangsung di Taichung. Tempat busnya ada di lantai bawah dari kedatangan. Ada banyak banget banget nama-nama bisnya, tinggal pilih saja. Kami memakai Ubus sepert yang disarankan oleh panitia seharga 240 NTD. Perjalanan menuju Taichung membutuhkan waktu sekitar tiga jam. Karena kami tidak mau nyasar maka kami memutuskan untuk tidak tidur sekaligus menikmati pemandangan Taiwan. Tapi namanya orang capek kami tetap saja tidur hehe.

100_4458

Nah, pas bangun kami bingung sudah sampai mana. Ehm..tanya orang gak ya, takut gak ngerti bahasanya. Lalu, kami memutuskan untuk bertanya pada mas-mas yang duduh di depan kami. Orangnya masih muda (penting ya info ini?hehe) penting lah, kalau masih muda asumsi kami dia bisa bahasa Inggris so kami bisa berkomunikasi.

“Have we passed Taichung station?”
(agak nervous) “no…in front.” Jawab masnya. Kamipun lega karena belum kelewatan. Akhirnya kami benar-benar tidak tidur dan memastikan kami belum melewati Taichung station. Karena semua tulsian memakai huruf mandarin maka kami harus cermat.

Akhirnya kami sampailah pada sebuah pemberhentian. Mesin dalam bis menyebutkan ini Taichung station. Kami pun memastikan pada masnya tadi,

“Taichung Station is here?”
“Ya..” (sambil manggut-manggut dan tersenyum). Tanpa sadar kami berteriak kompak,
“Yeeeee……!!!!” haha, masnya pun ikut tertawa melihat kami yang heri ‘heboh sendiri’

Turun dari bis, tantangan bermula lagi. Apa lagi? Mencari hotel. Kami hanya diberi alamat dalam tulisan alphabet dan gak bisa bahasa mandarin pula. Kami sudah bertanya pada beberapa orang tapi gak tau karena hotel kami tidak terlalu terkenal.
Sebelumnya di dalam bus saya berharap, “semoga nanti ketemu mas-mas orang Indonesia yang cakep, pinter, dan sholeh yang akan bantuin kita mbak! Terus nanti masnya langsung pergi. Terus nanti aku teriak ‘mas namanya siapa?’ lalu masnya menjawab sambil pergi, ‘Abdullah!’ haha kayak di film Ketika Cinta Bertasbih itu mbak”. Lalu apakah yang terjadi….. waktu kami lagi kebingungan, dari belakang terdengar suara mas-mas,

“Asia University ya?”
“Iya.” Kami menjawab singkat sambil berbalik
“Saya panitia, ayo ikut saya saja.”
“Kami sudah buking hotel mas. Ini alamatnya” (sambil menunjukkan alamat)
“Oh, mari saya antar.”

Haha, harapan saya langsung dibayar kontan oleh Allah :). Masnya mengantarkan kami sampai ke hotel, ke depan resepsionis dan kami mendapat kejutan lagi. Si resepsionis menyapa kami,

“Ini yang pesan kamar dari indo itu ya?”

Wahaaa….masnya ternyata orang Indonesia yang sudah 4 tahun di Taiwan, kuliah kayaknya, tapi gak kelihatan kayak orang indo karena memang keturunan cina. Jadilah kami nyaman benar di hotel itu, mau Tanya apa-apa enak dan gak perlu susah-sudah menyiapkan bahasa tubuh, hehe, Alhamdulillah ya 🙂

Jadi kesimpulannya, jangan malu bertanya kalau memang bingung. Lalu, sama-sama berharap maka berharaplah yang baik karena Allah itu maha baik. Siapa tahu langsung dibayar kontan seperti yang kami alami 🙂

Oiya, sayangnya nama si ma situ bukan Abdullah, tapi mas Yanto dari…. Kalimantan gitu deh pokoknya. Terima kasih mas Yanto… 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: