Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Mantra di 2013??

on March 15, 2013

Kemarin habis ngobrol dengan teman saya. Katanya kemarinnya dia habis diruqyah karena ternyata selama ini dia disantet (dimantra) oleh seseorang. Selama ini dia diikuti oleh 14 jin yang membuat dia malas-malasan, banyak makan, sering mengantuk, dan badannya sakit semua. Usut punya usut memang ada masalah dengan seseorang yang melakukan itu…kemudian dia berkomentar,

“Ini sudah 2013 lho, jamannya kompetensi masak masih main mantra-mantra, apalagi pelaku insan akademis.”

Waktu itu saya hanya bisa tersenyum (kalau tidak boleh disebut ngakak). Jadi telah terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat antara kedua orang ini yang berlarut-larut dan kedua tetep kekeuh dengan pendapat masing-masing sampai pada akhirnya terjadilah peristiwa mantra-mantra yang mengirimkan 14 jin untuk mengikuti teman saya itu, hmm..

Sebagai muslim saya percaya dengan adanya makhluk gaib, tapi saya tercengang mengenai adanya mantra-mantra atau jampi-jampi yang sengaja dibuat untuk mencelakakan orang lain atau membuat susah hidup orang lain, dan lebih tersengang lagi bahwa ada orang yang tega melakukan itu, dan lebih tercengang lagi bahwa itu dilakukan oleh penghuni kampus yang katanya intelektual, hehe… saya hanya bisa berkomentar,

“Kenapa begitu ya, sekarang kan jamannya kompetensi, harusnya kalau memang merasa benar bisa dibuktikan dengan kinerja yang lebih baik, prestasi yang lebih baik, kenapa harus menjatuhkan orang lain dengan cara seperti itu, itu namanya pembodohan diri sendiri…”

Ya, menurut saya orang yang melakukan jalan pintas atau menghalalkan segala cara untuk mengegolkan dirinya sendiri adalah orang yang rugi karena dia sedang membohongi diri sendiri. Seharusnya dia meningkatkan kompetensi supaya bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Ibaratnya dia sedang berada di zona tidak nyaman dengan adanya persaingan, kalau dia melakukan jalan pintas artinya dia malah kembali berlindung di zona nyamannya sementara orang lain bertarung dengan meningkatkan kapasitasnya, maka pada akhirnya pun kebenaran atau kompetensi akan menang, karena orang lain berhasil melewati zona tidak nyaman dan naik ke kelas dengan mendapatkan zona nyaman yang setingkat lebih tinggi sedangkan dia yang malas berusaha itu tetap berada pada tingkatnya, gak naik-naik.

Sekian, bila ada salahnya mohon dimaafkan 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: