Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Benci!

on March 4, 2013

kanji_a_day_18Satu hal lain yang saya benci, selain buku ilang, buku basah, dan buku ketlisut adalah tulisan ilang. tadi saya sudah menulis ini, tapi kok ilang ya 😦 yasudahlah… sekarang mau cerita tentang rasa benci. sudah pernah membenci seseorang kah? semoga belum dan jangan dan tidak perlu. saya sudah lama tidak membenci orang, tapi baru-baru ini saya rasanya menemukan banyak alasan untuk membenci orang lain. Kenapa? bukan karena benci orangnya sih, tapi benci dengan sikapnya. Menurut saya, dia salah dengan sikapnya yang X padahal seharusnya dia bersikap Y. Dengan dia bersikap X dia sudah merugikan banyak orang termasuk dirinya sendiri, walau sikap X itu kelihatannya menyenangkan. tapi kita sudah sudah sama-sama dewasa atau setidaknya belajar menjadi dewasa maka ada baiknya kita memilih mana yang lebih baik dan bukan semata-mata mana yang lebih menyenangkan. begitulah, karena secara tidak langsung saya juga ikut rugi, hehe *faktor itu sebenarnya kuncinya

Nah, setelah tadi sempat ngomel2 sendiri akhirnya saya menyadari bahwa ngomel-ngomel saya itu gak ada gunanya, malah menambah dosa karena dalam ngomel itu ada mengghibah, muncul rasa benci dan lain-lain, pokoknya gak penting banget deh. tandanya saya belum dewasa juga, hehe. kalau cara orang dewasa menghadapi masalah seperti ini harusnya dengan mengajak bicara empat mata dan mencari solusi yang lebih baik. kalau orang yang diajak bicara tidak mau menggubris ya anggap saja memang wataknya begitu, it means kita bisa mengantisipasi di lain hari dan yang jelas gak perlu pake acara benci segala deh.

Soalnya kalau kita membenci itu, sama halnya dengan kita membukakan pintu dosa lebar-lebar.kalau kia benci kan kita sibuk menggibah orang lain, sibuk mencari kesalahan orang lain, gak bisa memberi senyum terbaik, gak bisa melihat sisi baik dan manfaat orang lain, dan sebagainya. jadi sebenarnya yang dirugikan dari proses membenci itu adalah diri kita sendiri. mau? kalaupun kita ada di pihak yang didholimi kita tidka boleh lantas balas mendholimi orang laiin dengan membencinya, tapi sebaliknya kita perlu membalasnya dengan cinta, bahwa kita peduli, bahwa kita ingin kebaikan bagi sesama.

Daripada membenci, lebih baik kita bicara dan mencari kebaikan bagi sesama. menutup pintu dosa dan membuka pintu pahala… beginilah proses seseorang menjadi dewasa, banyak perasaan yang nano nano, semoga bisa dikendalikan dan diambil hikmahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: