Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Tentang Komitmen dan Hujan

on February 20, 2013

Pernah mendengar tentang Mestakung? Yap, semesta mendukung. Mungkin itulah yang terjadi pada kami. Ketika setiap orang memegang komitmen dan terus maju demi komitmen itu maka alam akan menunjukkan kekuatannya, membantu mewujudkan komitmen tersebut. Teringat pengalaman di Bromo dimana kami mengingkari komitmen yang berakibat kami tidak jadi backpacker tapi jadi wisatawan biasa yang cukup boros, hehe. Baru-baru ini kami memperbarui komitmen dengan mengagendakan main ke Tawangmangu.

Sore itu hujan dan kami sudah merencanakan untuk berangkat ke Solo. Beberapa orang mulai mengundurkan diri karena berbagai alasan. Dari jauh terkirim juga sms dari mas andri, “ini ujan lo. tawangmangu pasti ujan lebih deres”.

Tinggal kami bertiga yang tetap maju, “komitmen tetap komitmen” kata mas Athan. kalau saya sih mau berangkat atau tidak saya akan tetap pulang ke Solo, hehe. Setelah saling menggalau akhirnya mas Rahmad dan uda Nico pun memutuskan untuk tetap ikut. Kami pun menembus hujan rintik-rintik menuju Solo. Tepat adzan maghrib kami sampai di Solo. Dan hai….Solo terang benderang malam harinya, tidak hujan sehingga planning kami bisa terlaksana, main lampion, galabo, dan makan nasi liwet malam-malam. Hujan di jogja dan sepanjang perjalanan tidak membuat Solo ikutan hujan di malam harinya.

Hari berikutnya kami main ke Astana Giribangun, mau ziarah kakek Soeharto: Bapak Pembangunan Nasional. Dari sana kami menembus hujan menuju Tawangmangu (di Tawangmangu setiap siang habis dhuhur pasti hujan), tujuan kami pertama adalah Grojogan Sewu. Nah, pada waktu hujan mencapai puncak kederasannya kami memutuskan untuk beristirahat dan makan di salah satu rumah makan. Tepat waktu kami selesai makan, hujan reda dan matahari kembali merajai siang, menyengkan bukan? Lalu kami menuju penginapan dan melanjutkan petualangan ke Grojogan Sewu. Sampai disana sudah pukul 15.30.
“Wah, sudah mau tutup mbak, 30 menit apa bisa naik turun?”
Kami pun bingung dan krik-krik, kan jauh turun naik ke Grojogan sewu. Tapi dasarnya saya keras kepala sih ya, jadi langsung bilang, “Bisa Pak, 8 tiket!”
Dan teman-teman yang lain pun pasrah, haha *sambil membayangkan menuruni dan menaiki 1250 anak tangga, baiklah… kamipun semangat 45 menuruni tangga, bahkan ada yang lari-larian. Akhirnya samapi Grojogan juga, poto-poto sebentar lalu disempritlah kami oleh petugas tanda kami harus segera naik. Kamipun menaiki anak tangga sambil ngos-ngosan (tapi tetap diselingi poto-poto juga sih hehe) dan sampailah kami ke finish tanpa ada yang tepar dan semuanya tetap sehat!

Pagi harinya waktu kami merencakan ke Sukuh dan Cetho serta mampir ke kebun the, cuaca cerah sekali dan tahukah? Hujan baru turun waktu kami sudah turun dari Cetho dan sudah foto-foto di Kebun teh! Pas banget, waktu kami makan hujan turun dan selesai makan hujan mulai reda. Kamipun pulang dengan senang 🙂 tidak lupa makan durian dulu bareng-bareng, Alhamdulillah..

Itulah cerita kami tentang komitmen dan hujan. Kami berusaha memenuhi komitmen dan jadwal yang sudah direncanakan dan alam seakan menyetujui rencana dan komitmen kami.

Konklusinya, (agak maksa sih sebenernya, hehe), bahwa kalau kita sudah berkomitmen dan bertahan dalam kondisi sulit maka alam akan mengerahkan kekutannya untuk mendukung kita, insyallah. Sebenarnya bukan alam, tapi diri kita sendirilah ‘kekuatan yang mendukung itu.’

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: