Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Soal Nama Panggilan

on February 9, 2013

Pesan Rasulullah kita sebaiknya memanggil seseorang dengan nama yang disukainya. Emang bener banget deh itu, walau kayaknya cuma sekedar panggilan, tapi bisa berdampak sistemik terhadap keberlangsungan kehidupan bersaudara kita, atau juga hubungan keluarga dan hubungan cinta, eaaa… bayangkan saja kalo ada suami yang manggil istrinya ‘eh, item’ atau ‘eh,cungkring’ gak enak banget dan didengarnya, salah salah malah bisa berujung cemberut sepanjang hari, minggu, bulan dst. Sama-sama manggil dan mengeluarkan energy kan enakan sekalian ‘eh, honey’ atau ‘eh, sayang’ kan enak didengarnya bisa nambah pahala juga, insyallah, hehe.

Ada lagi nih misal ada teman yang dipanggil, ‘eh, jelek’ atau ‘ayam, sini dong,’ kira-kira apakah kita aka terima? Hehe… tapi emang kadang ada sih yang nyaman-nyaman aja dipanggil dengan nama panggilan yang aneh dan ajaib itu, dan katanya lebih down to earth dan bisa menambah popularitas. Dulu jaman SMA ada teman saya yang namanya Raditya panggilannya ‘pitek (ayam)’ terus Septian jadi ‘pecing’, yogi jadi ‘mendem’, mahendra jadi ‘sendrong’, nanda jadi ‘gandil’, aviandri jadi ‘semprong’, dan masih banyak lagi, kebayang kan nama yang bagus-bagus jadi aneh begitu, haha. Yah walau mereka fine-fine saja dengan panggilan itu tapi menurut saya pribadi tetap kurang baik juga (tapi kalo emang udah terlanjur ya monggolah). Saya memilih memanggil dengan nama yang sewajarnya, atau buat panggilan sayang tersendiri yang bisa mempererat persaudaraan tapi jangan aneh-aneh juga dan harus dapat persetujuan dari yang bersangkutan lho ya! Misalnya nih saya punya panggilan cuncun untuk teman saya candra, dindun untuk dinda, niun untuk nian, niul untuk nia, watsay untuk wati, dendung untuk deni, azung untuk aziz, dimdim untuk dimas, krisnandung untuk krisna, dee untuk dyah, dindin untuk dino, bristin untuk bristan, dan lain-lain (kok kebanyakan pake u ya, hehe). Walau agak aneh juga tapi sepertinya lebih enak didengar kan, dan lebih imut jadinya, hoho…

Wahaa jadi ingin mendaftar nama panggilan saya sejak kecil sampai sekarang, mari di list ya: 1) ‘jeng kur’ panggilan khusus dari ibu ke saya yang secara tidak sengaja diketahui oleh Moya (aslinya Ayom namanya) yang akhirnya meluas ke kalangan teman-teman pas SMA, jadilah saya dipanggil Jeng. 2) ‘dat’ kalo ini panggilan khusus dari kakak saya dan teman-temannya kakak saya. 3)’tintin’ ini panggilan pas SMA yang diberikan oleh teman sekamar waktu kos dulu yang akhirnya sempat popular juga dikalangan teman-teman pramuka. 4) ‘dora’ panggilan waktu SMP gara-gara saya potong rambut dan poni kayak dora. 5)’tintun’ panggilan sayang dari dindun, haha. 6) ‘tina’ panggilan dari Vika dan beberapa teman pas SMA. 7) ‘beton’ panggian waktu masih kecil banget. 8)’tinok’ ini panggilan paling saya benci karena dulu waktu saya kecil ada orang stress di kampong saya yang panggilannya tinok, haha.

Panggilan kita kepada orang lain bisa juga menjadi doa. Berdoa itu kan pada dasarnya ibadah jadi berpahala juga. So, daripada memanggil ‘jelek, gendut, pesek, gembul’ dan lain-lain kan lebih asik manggilnya ‘ustadz, pak guru, bu guru, pak bos’ dan lain-lain, hehe…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: