Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Semangat Tiada Henti

on February 9, 2013

Hari ini ceritanya kelompok liqo ibu-ibu bertempat dirumah saya. Wah, sudah lama saya tidak ikut pengajian ini, dulunya iseng-iseng ngajakin remaja-remaja sekitar rumah buat ngaji, dulu banget pas masih SMA, nah seiring dengan berjalannya waktu formasi ngaji jadi berubah drastis, sekarang anggotanya bukan lagi remaja-remaja tapi ibu-ibu, hehe…bukan remajanya yang berubah jadi ibu-ibu tapi sudah ganti personil. Maklum tuntutan karir, eh sekolah, membuat kami para remaja merantau, ngajinya pun juga sudah berpindah ke domisili masing-masing.

Ceritanya sekarang anggota geng ngaji ibu-ibu ada 10 orang, ga usah disebutin ya nama-namanya, hehe. Nah, masing-masing personil punya cerita masing-masing tapi punya satu kesamaan, semangat menuntut ilmu. Ibu-ibu datang ke pengajian dengan anak-anaknya lho jadi rame ngajinya (ramai dalam arti sebenarnya), mereka juga antusias bertanya ini itu. Waktu mengaji satu per satu ada beberapa yang belum lancar, tapi entah kenapa mendengarkan bacaan yang patah-patah itu rasanya tetap merdu. Lalu setelah tilawah satu per satu setoran hafalan, bayangkan saja ibu-ibu masih menyempatkan diri untuk hafalan, hehe. Jangan dikiran sudah surat-surat panjang, tapi juz 30 bagian akhir…bahkan mungkin diantara kita ada banyak yang belum hafal juz 30 bagian akhir itu, ayo coba diingat-ingat, al bayyinah, asy syams, al lail, al a’la? Ayo semangat jangan mau kalah sama ibu-ibu 🙂 agak gimana gitu mendengar ibu-ibu yang sudah dewasa menghafalkan, al insyiroh, at tiin, yang konon sudah dihafal anak-anaknya sejak kelas 1 SD, tapi bukan itu masalahnya, masalahnya adalah kesadaran untuk terus belajar yang dicontohkan ibu-ibu itu luar biasa! mereka tidak malu dan tidak takut salah, hal yang seringkali kita khawatirkan dalam belajar (saya saja ding mungkin, hehe). Bahwasanya tidak ada kata terlambat untuk berbenah.
Ada juga ibu-ibu yang berprofesi sebagai pedagang, datang kerumah naik motor RX King yang masih ada ‘bronjong’nya (bronjong: tempat muatan yang ditaruh di bagian belakang sepeda motor mempunyai dua sisi kanan dan kiri terbuat dari bambu). Si ibu dari pulang dagang langsung cus kerumah, lalu habis dai pengajian si ibu konon akan melanjutkan aktivitasnya jadi biar ga usah bolak-balik kerumah katanya, wow banget kan, ibu-ibu yang mempunyai tanggungan keluarga (si ibu ini janda dan menghidupi dua anak serta ibunya yang sudah renta) tapi masih menyempatkan diri datang ke pengajian, kita?? Cerita tentang generasi tua bahkan yang sudah renta tapi masih suka mengaji itu ada banyaaaaak sekali dan mungkin kita sudah seringkali mengetahuinya, tapi apakah sudah menimbulkan efek dalam diri kita??

Hyuuh, akhirnya saya mendapatkan pelajaran bahwa menuntut ilmu itu benar-benar gak ada matinya, dan gak ada habisnya. Terlebih bagi seorang ibu yang menjadi guru pertama bagi anak-anaknya, aktivitasnya akan ditiru anaknya, tingkah lakunya akan menjadi contoh bagi anak-anaknya. Ayo remaja-remaja putrid dan calon ibu, mari memperbaiki diri untuk anak-anak kita. Eh, bukan ding mari memperbaiki diri untuk meraih ridhoNya… *jadi contoh buat anak-anak itu otomatis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: