Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Dilema Pilkadal

on February 6, 2013

Mau cerita tentang kejadian pilkadal di daerah saya dan mungkin juga terjadi di daerah yang lain (Pilkadal=Pemilihan Kepala Daerah Langsung), baik pemilhan kepala desa sampai pemilihan presiden. Satu hal yang pasti terjadi adalah PERMUSUHAN. Percaya tidak? Jadi antar kubu itu saling bersaing, saling menjelekkan, saling menjatuhkan, dan sampai ada saudara yang musuhan gara-gara beda pilihan, dna itu jadi isu panas di desa saya setiap ada pemilihan apapun itu. Padahal ya calon-calon yang menjagokan diri damai-damai aja, eh lha kok malah pendukungnya fanatic banget sampai musuhan begitu apalagi yang sampai musuhan sama saudara, kan sayang banget. Ada apakah ini?

Apa yang terjadi ya, saya juga gak paham, hehe. Cuma seringkali mendengar ibu-ibu yang lagi ngrasani kubu ini dan itu yang saling bermanuver, wuiih…ceritanya bisa seru banget dan berlangsung berhari-hari kalau ibarat sinetron bahan rasan-rasannya bisa dikisahkan dalam banyak episode, hehe.

Itulah bahayanya kekuasaan kalau dijadikan komoditas, diperebutkan, dibumbui dengan janji-janji, diperjuangkan mati-matian sehingga kemenangan menjadi harga mutlak supaya semua yang telah dikorbankan akan berbalas dengan tercapainya kemenangan.
Lalu apa, semua yang menghadang akan disikat, termasuk saudara sendiri. Kalau sudah kehilangan saudara mau cari dimana coba? Persaingan yang begini kalau kata peribahasa itu “Kalah jadi abu menang jadi arang, kalo gak ya menguap jadi asap” jadi initnya sama-sama rugi, yang menang banyak musuh sehingga kepemimpinannya pun bisa jadi tidak disukai, yang kalah juga bisa menimbulkan dendam.

Sayang sekali kalau untuk menjadi pemimpin harus melalui permusuhan begitu, apalagi yang musuhan malah bukan calon yang saling bersaing, tapi para pendukungnya, akibatnya jadi meluas kemana-mana. Masyarakat harus bisa bertindak lebih dewasa, mengendaikan diri dan bertoleransi. Kalau sudah awalannya begini nanti kesana-sananya gak baik juga kan, yang mendapatkan prioritas adalah basis masa pendukungnya saja yang dulu tidak mendukung dinomorsekiankan, padahal menjadi pemimpin itu kan untuk semua warga. Apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: