Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Lembutkanlah…

on January 20, 2013

Hati ini sedang gemrudug tiada tara. Ada apa? Di depan mataku sendiri, dia menatapku dengan pandangan yang sungguh meremehkan, merendahkan, aku tidak mampu dan tidak mau berbuat apa-apa untuk yang dia hadapi sekarang. Aku sudah bicara cukup panjang, memberikan saran dan masukan. Tapi itu ternyata tidak cukup. Mbak, mana tanggung jawabmu? Pandangan mata itu, dan nada bicara itu membuat aku ingin mengumumkan putus dari semua ini. Bukan masalah ‘ini’ tapi masalahnya adalaha seseorang yang bicara itu tadi.

Senior tidak berguna! Senior tidak bertanggung jawab! Tidak loyal! Baiklah… teruskan saja, setelah ini kita putus!
Selalu begini, orang yang ikut organisasi, meskipun dia sudah lulus sudah tamat akan terus menerus dihantui tanggungjawab sebagai senior, sebagai alumni, gak ada habisnya. Sudah macam orang tua saja mikirin anak sampai mati. Haduh…. Slow…
Waktu itu saya pengen banget menjawab dengan segala kesombongan yang tiba-tiba muncul:
1. Emang senior cuma aku ya? Masih mending aku mau diajak ngobrol begini, ikut mikir walo gak signifikan juga, yang lain? Gak dicariin juga? Gak dimarahin juga?
2. Cara kamu ngomong ikut sakit banget ya!
3. Kamu berapa lama sih di organisasi ini? Tahu gak perjuangan saya dan teman2 dulu waktu ikut merintis ini? tahu bagaimana kerja keras kami dan rasaya jadi orang aneh waktu itu? Kalau kamu sekarang pusing dan mumet, aku pun dulu juga begini. Tapi aku gak pernah mendakwa senior separah ini
4. Oke, kamu loyal banget deh 1000000000% top buat kamu. Kalo kamu gak suka sama loyalitas caraku, baiklah, anggap aku tidak berguna, dan sekarang kita putus (hehe, abege banget).

Okeh, sudah agak lega, sayang kemarin gak bisa ngomong begitu. Bagaimana mungkin? Kalau saya ngomong begitu namanya sama-sama gak dewasa, bisa terjadi pertengkarang hebat yang berujung penyesalan. Oke aku diam saja. Kalau cara junior memperlakukan senior seperti ini, yakin bakalan banyak orang yang menyesal ikut organisasi (eh, mungkin ding).

Adikku, kehidupan kami sudah berganti. Bolehkan kami minta dipahami sekarang?masa kami jatuh bangun sudah berlalu.

Organisasi itu bukan tujuan utama, ia adalah sarana. Kalau sudah tidak ada lagi yang mau bergerak. Istirahatlah bersama mereka sebentar. Kalau kamu terus memaksa mereka bergerak, maka kamu akan bergerak sendirian, berat, lalu memaki kami semua yang tidak bisa lagi membersamai. Kalau sebagai pemimpin, begini caramu berbicara pada orang lain, maka sebenarnya mereka mengikutimu karena tidak ingin sakit hati, lebih baik mereka sakit badan dan pikiran. Bicaralah sedikit nyaman, pandangan matamu lembutkanlah sedikit. Aku kehabisan kata, masih ingin merawat hatiku dulu, astagfirullah…

Jangan berpikir terlalu keras dan memaksakan diri, kamu bisa pecah lalu menyalahkan semua.

Adikku, cara pikir kita beda, cara kita memandang loyalitas juga beda. Jatah kita dan bagaimana kita berkontribusi kepada organisasi yang sudah kita bangun bersama sudah berbeda. Kenapa tidak kau tanyakan dulu, bagaimana aku akan mempersembahkan loyalitasku. Lalu memberondongku dengan loyalitas versimu.

Maaf, bila ini hanya sebuah egoitas senior dan kesombongan untuk selalu ingin dimengerti. Astagfirullah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: