Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Aku dan ESA #Singel Fighter

on January 18, 2013

Waktu itu pas acaranya ESA’S Fair, semacam acara tahunan gitu deh yang diadain ESA. Waktu itu pertama kalinya ikut ESA, benar-benar pengalaman pertama karena saya gak ikut magang. Nah,sampailah pada suatu rapat (btw, saya tidak suka sekali dengan suasana rapat di ESA, tegang, dan..aneh deh pokoknya sepaneng banget hawane, bikin pengen cepet keluar, haha, semoga sekarang sudah tidak…adik2 tentunya inovatif dan kreatif dan semakin cling-cling berkat didikan kakak-kakaknya ini dan tentunya kerja keras kakak-kakaknya terdahulu sampai tercipta rapat2 yang sepaneng dan menguras tenaga dan emosi, kok jadi panjang banget deskripsi rapatnya ya, hehe). Kembali lagi ke yang tadi, pada suatu rapat, dicarilah itu seksi perijinan. Konon katanya seksi inilah yang paling mumet soalnya berurusan dengan birokrasi yang kadang menyebalkan dan parahnya seksi ini menentukan keberlangsungan acara untuk seksi-seksi yang lain. Ya ampuun…karena saya dianggap sering main ke fakultas dan punya kenalan teman-teman dari jurusan dan UKM lain (di BEM saya jadi Humas juga jadi banyak alasan untuk jalan2 dan kenal banyak orang, hehe), saya ditunjuk jadi seksi perijinan. Sama siapa? SENDIRIAN! Masyallah begitu kerennya kah saya sampai gak perlu teman? Ngurusin surat-suratan dari prodi sampai ke rector, huwaaa…tapi memang kondisi saat itu kurang orang jadilah seksi ini dikorbankan, lebih tepatnya saya dikorbankan, haha, tapi tenang saya tidak benar-benar sendirian, pak ketua ESA dan senior-senior akan selalu setia membantu saya kalau saya butuh bantuan. Baiklah…saya mengiyakan.

Ternyata seksi perijinan itu penuh cobaan. Cobaan di prodi hampir tidak ada ding, bisa dinegosiasikan dengan baik. Nah, waktu itu kajur saya adalah dosen pragmatic serta semantic dan apapun yang saya katakana bisa jadi bahan guyonan bapaknya itu, haha… jadi setiap mau menghadap saya Cuma perlu menyediakan hati yang lapang dan muka tebal (siap dipermalukan, haha), tapi bapaknya baik, gampang Accnya.

Cobaan ditingkat fakultas, disini saya hampir menangis karena stafnya di fakultas itu galak banget dan saya suka dimarah2in, parahnya lagi suratnya jelas-jelas hilang di TU dan saya yang disalahkan, serta disuruh buat surat yang baru, OMG waktu itu udah mepet, jadilah saya tambah tertekan juga karena teman2 menghendaki cepat-cepat sementara petugasnya krik krik. Nah, waktu di univ juga godaannya apa ya? Waktu itu saya juga hampir menangis menghadapi cobaannya. Yang paling saya ingat adalah pas nego harga SC, dari harga 400rb bisa didiskon sampai 100rb saja, alhasil saya jadi terkenal waktu itu, haha, karena pintar melobi (padahal….direwangi nangis-nangis), tapi saya senang alhasil ESA bisa berjalan lancer! 🙂 pernah juga, karena saya teledor bukan main, tanda terima surat ijin kegiatan hilang padahal itu fatal banget, akhirnya saya harus merelakan diri dimarah2in di TU universitas di depan umum dan lagi-lagi hampir menangis gara-gara itu, tapi akhirnya dikasih ganti juga sih, haha. Sabar..

Tapi saya senang, benar-benar merasa mendapatkan pelajaran, indahnya menjadi seksi perijinan dengan segala lika-likunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: