Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Sebuah Kepastian: Kita Semua Akan Mati

on December 24, 2012

1600flowers_2001 Jumat lalu bertemu dengan dik Memet, my big brother, karena emang gendut (hahaha, peace Met!) tapi pintarnya luar biasa. bagaimana tidak, baru semester 7 sudah ngajar dimana-mana… bukan guru lho, tapi jadi dosen, di beberapa univ di Solo dan beberapa fakultas di UNS, untuk yang satu ini gue harus bilang wow!!!
Tapi bukan itu yang akan dibahas disini, tapi tentang sesuatu yang pantas kita renungi, silakan pasang backsound perenungan!

Jadi, memet bercerita tentang adik kosnya yang baru dipanggil oleh Allah karena sakit tipes yang berlarut-larut dan jatuh di kamar mandi. Ketika dibawa kerumah sakit kondisinya sudah buruk. Alkisah adiknya ini adalah mahasiswa yang tekun belajar, kreatif, dan tidak mau merepotkan orang lain termasuk tidak mau dibawa ke rumah sakit. Karena keadaan yang sudah parah demikian, dibawalah dia ke rumah sakit dan harus menjalani dua operasi di dua hari yang berbeda: pembersihan virus dan operasi kepala untuk membersihkan darah di otaknya.

Operasi berjalan lancar, tapi tidak dengan hari-hari berikutnya, kondisinya terus menurun dan pada hari Rabu itu (kalau tidak salah) dia dipanggil oleh Allah. Memet, walau tidak menyaksikan langsung, tapi dia seakan bisa merasakannya.

“Mati itu gampang banget ya Mbak.” Kata memet menutup ceritanya
“Iya Met…”

Jadi ingat cerita anak UGM yang jatuh dari kosnya entah lantai berapa, juga anak UNS yang kos ditempat dik Sayekti, juga jatuh dari lantai 3, sampai ketika dirumah mendengar kabar kematian tetangga, santri penghafal qur’an yang sebentar lagi akan merayakan kelulusannya dengan gelar hafizah, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Sakit membawanya kembali kepada Sang Pencipta.

Kematian itu pasti, sangat pasti hanya cara mati saja yang berbeda-beda ada yang sakit, kecelakaan, jatuh, minum racun, ditembak, dan lain-lain yang intinya sama mengantarkan pada kematian. Tapi ada satu hal yang lebih penting dari itu: dalam keadaan apa kita mati.

Kematian bukan untuk ditakuti, tapi yang perlu ditakuti adalah bila kita mati dalam keadaan yang tidak baik, keadaan keimanan kita, keadaan hati kita, keadaan aktivitas kita.

Kata pepatah (sampai sekarang saya belum tau siapa sebenarnya pepatah itu), “Sedia Payung Sebelum Hujan”. Kapan hujannya? Entahlah. Maka bawa saja selalu payungnya. Sama hal dengan kita sedia amal sebelum mati. Kapan matinya? Entahlah. Maka bawa selalu amal bersama kita. Kematian tidak bisa diprediksi, tapi ia bisa dipersiapkan.

Advertisements

One response to “Sebuah Kepastian: Kita Semua Akan Mati

  1. Kok aku ndak di share link ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: