Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Solo, Ketika Cinta Bercahaya

on December 17, 2012

kindergarten Pulang ke Solo itu rasanya selalu ‘sesuatu’. Jogja yang dipenuhi kepenatan belajar dan sedikit kegalauan seakan menyingkir dan musnah ketika sampai di sebuah kota tenang yang dilintasi bengawan, Solo. Rasanya itu nyeeees. Rasanya ada miliaran cinta yang mendekap, rasanya itu menenangkan dan damai. Selalu akan ada senyum sapa dan salam hangat. Mereka masih sama, cintaku yang dulu, sekarang aku juga masih mencintainya, semoga mereka juga, walau aku sudah sedikit tak setia. Semoga cinta selalu bisa memberikan maafnya…

Cinta mereka itu selalu memberikan pengertian, tidak menyalahkan aku yang seringkali melirik kesana kemari, mereka tetap setia merangkul dan mulai membisikkan kata-kata yang menentramkan, tidak menggurui sama sekali tapi rasanya menusuk sampai ke ulu hati. Mereka tidak pernah meninggalkan aku sekalipun aku sudah melangkah jauh, lalu, bagaimana bisa aku berkhianat dengan kesetiaan ini?

Siang ini kami berbicara banyak, masih dengan senyum itu, dekapan itu, doa itu… (yang selalu aku rindukan), dan aku masih bisa merasakannya, cinta yang bercahaya menyala-nyala. Cinta ini tidak pernah menyakitkan walau berkali-kali aku harus berkorban (sedikit sekali dibandingkan yang lain sebenarnya), cinta ini tidak pernah membuatku bersabar terlalu lama meski yang kami tunggu tidak kunjung terjadi, cinta ini benar-benar membuat kesabaran menjadi makanan yang lezat.

Aku mendengar nasihat dan kata cintanya siang ini. Dengan lembut dan tidak menggurui, dia mulai menuntunku berkaca, melihat mukaku yang semakin kotor oleh debu-debu jalanan, Bila tidak dibersihkan sekarang maka sebentar lagi akan tumbuh jerawat yang semakin lama sembuhnya. Juga otakku yang tiba-tiba menjadi norak sangat penuh dengan ‘ilmu’ dan mengesampingkan yang lain hingga ke sudutnya, bila tidak segera ditata maka sel-sel yang tersudut akan matilah pula.

Aku selalu mencitainya, sebentuk cinta yang selalu bercahaya di sebuah kota kecil dimana semua cerita bermula. Cinta yang cahayanya selalu mendekap aku lembut, menuntun kepada cahaya. Sebentuk cinta yang bercahaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: