Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Malming bersama Cak Nun

on December 17, 2012

“Jowo digowo
Arab digarap
Barat diruwat”

Itu penggalan kata-kata yang disampaikan oleh Cak Nun dalam acara (gak tau acaranya) di UGM malam minggu kemarin. Hehe, jadi gimana gitu, malam mingg sebelumnya ke Korean day menikmati sajian k-pop dan music serta tarian korea yang galau-galau, dan malam minggu selanjutnya duduk manis di pengajian bersama para santri, wuaa…memang hidup itu harus seimbang.

Kata Cak Nun, mereka yang mempertahankan identitas kesantriannya adalah kaum-kaum pemberontak yang pantas diacungi jempol. Apa maksudnya? Katanya kampus adalah kumpulan orang-orang atheis yang tidak memasukkan Tuhan dalam bidang-bidang kajiannya. Apakah sudah ada kajian tentang Tuhan? Skripsi thesis atau bahkan desertasi? Sejauh yang saya tahu dari pelajaran filsafat ilmu memang Tuhan tidak masuk dalam bidang kajian ilmu karena tidak dapat dipancainderai oleh manusia. Siapa setuju dengan pendapat Cak Nun? Silakan saja…

Kembali ke tiga kata tadi, Jowo digowo maksudnya kemanapun kita berada, maka kita harus selalu membawa identitas darimana kita berasal (jadi ingat cerita wali songo). Arab digarap maksudnya agama jangan hanya diterjemahkan secara mentah, tapi harus digarap, diterjemahkan, kecuali hal-hal yang sudah sangat jelas diatur. Barat diruwat, maksudnya barat harus tidak dihindari atau diboikot, tapi harus bisa diruwat supaya bisa jadi baik, nah, tugas para santrilah untuk melakukan itu semua. Bukan cuma santri ding tapi semua muslim. Santri sekarang harus bisa bersaing juga, pondok-pondok harus mensejajarka diri dengans ekolah-sekolah umum yang lebih ngetren. Nah, disini kan konteksnya santri yang dari pondok-pondok, tapi bagi saya setiap muslim yang menuntut ilmu adalah santri.

Selanjutnya, jangan malu dengan identitas sebagai santri. Justru harus berbangga dan membuktikan diri. Semua orang itu sebenarnya adalah santri. Contohnya, banyak para koruptor yang pada akhirnya kembali ke fitrahnya (pake kopyah dan kerudung bahkan pegang tasbih ketika di persidangan, maka mereka pada akhirnya kembali ke fitrahnya pula, hehehe). Kalau berani para santri itu datang ke kampus dengan pakai sarung dan kopiah!!! Tapi menurut saya tidak harus segitunya juga, tapi menjaga identitas tersebut dimanapun, dalam bergaul, dalam belajar, melaksanakan perintah dan mengerjakan tugas misalnya.

Satu lagi, sebelum bermimpi untuk menggarap dan memperbaiki Indonesia, maka hal penting yang harus dilakukan adalah mengenal diri sendiri dan menggarap serta memperbaiki diri sendiri, dan mengenal apa yang sebenarnya akan kita perjuangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: