Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Cara Jojoba Menghibur Dirinya (Sebuah Kebenaran yang Disamarkan)

on December 17, 2012

“Apa? Gandengan? Hahaha, lu mau dapet sisa?”

Wuaa…ini tema yang akan menjadi sensitive sekali sebenarnya. Buat yang sudah punya pacar anggap ini cara pada jojoba (jomblo-jomblo bahagia) menghibur dirinya, hehe.

Itu yang dikatakan seorang teman ketika kami membahas tentang salah satu gaya pacaran (pegang tangan atau gandengan atau apa deh sejenisnya). Tiba-tiba kami jadi geli sendiri, menyembunyikan tangan masing-masing dan tertawa. Ya ampun, bayangin aja tangan ini udah seenaknya dipegang-pegang, digandengan yang bukan mukhrim, belum tentu jadi suami pula, kan akadnya pacaran belum dinikahi, jadi tetep aja (bagi kami) itu ‘tidak baik’ bila tidak bisa disebut dosa, karena dalam hadist juga setau saja tidak dengan tegas mengatakan bahwa itu dosa (silakan dikoreksi bila salah) tapi derajat ‘ketidakbaikkannya’ lebih mengerikan daripada ditusuk besi panas. Sudah, kita akhiri dulu pembahasan ini.

Kembali ke soal gandengan tadi. Cuma gandengan sih, tapi coba dipikirkan lagi. Kalau tangan kita sudah seenaknya saja dipegang, juga bahu misalnya itu ibaratnya kita kayak buah yang jadi tester. Pada akhirnya para pembeli akan memilih buah sejenis tapi yang belum dipegang-pegang kan. Ini dari sudut pandang kami lho ya, kalau ada yang berpendapat lain silakan saja, kita semua diberikan hati dna otak untuk memutuskan mana yang benar, baik, salah, dan buruk.

Wah, bagaimana kalau itu (pegang tangan dan bahu) sebagai tanda kasih sayang atau sebut saja sebagai tanda melindungi (misalnya konteksnya nih lagi nyeberang jalan atau lagi berdesakan, kan takut keserempet atau ilang atau takut ketuker).

Hm…bagaimana ya? Kan niatnya baik ini. Jadi sudah juga kalau begini. Kalau saya memilih menjadi wanita mandiri yang bisa melindungi dirinya sendiri ketika menyeberang, ketika di tengan kerumuman, membela diri dalam antrian dan sebagainya. Beda soal kalau nanti sudah punya suami. Kan suami tugasnya melindungi istri, nah disitu boleh kita pura-pura jadi makhluk yang lemah dan perlu dilindungi (hehehe, bagian ini ngasal).

Jangan jadikan jomblo sekedar nasib, tapi jadikan itu prinsip, jadi jomblo juga harus visioner. Percaya atau tidak, menjadi jomblo itu membuat para wanita lebih tangguh, berani, dan mandiri!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: