Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Dan ternyata cinta…

on December 12, 2012

1600zw007 Sedang makan siang bersama kak dika, eh ada pengamen yang suaranya dan main gitarnya bagus, ditanggap deh. untuk mengobati kegalauan (berlagak galau deh, sebenarnya sudah tidak lagi) pengen request kasih tak sampainya padi *lagu favorit sejak sma, bukan ke galaunya, tapi soal keikhlasannya dalam mencintai, ciee…

Akhirnya masnya menyanyikan lagu pada yang lain, sepertinya pernah dengar… sampai akhirnya sampai di kata-kata ” dan ternyata cinta yang menguatkan aku.” tiba-tiba jadi dapat inspirasi lagi tentang cinta (yang sering membuat galau tanpa alasan). Itu mungkin karena limitasi kita terhadap cinta yang terlalu sempit sehingga kita sesak di dalamnya.

Dengarlah, ternyata cinta yang menguatkan kita. Di tengah penatnya kehidupan dan sibuknya rutinitas kita, ternyata kita masih bisa bertahan. Kenapa? karena cinta, tanpa kita sadarm tanpa kita tahu diluar diri kita yang sering memikirkan diri sendiri ini, ada banyak cinta selalu menguatkan kita. Bagi kita yang lelah belajar dan penat dengan tugas-tugas, seluruh alam sedang mendoakan kita, itulah cintanya. di saat yang sama, malaikat-malaikat membentangkan sayapnya di atas kita, itulah cintanya. Saat kita sedang lelah dengan kehidupan kita, mungkin kita tidak pernah menyangka bagaimana doa-doa itu selalu terkirim kepada kita usai shalat dan dalam malam-malam yang hening. Dan disaat yang sama pula ada yang selalu mencintai kita, yang selalu menguatkan kita dengan kesehatan, udara segar, kelapangan waktu, harapan akan kehidupan yang lebih baik, dan janji yang tida pernah ingkar. dialah yang seringkali hanya menjadi pelarian kita saat dunia seakan menjadi musuh terbesar, kesanalah kita, Tuhan…aku berlindung padaMu.

Kita benar bukan apa-apa, bila kita masih bertahan hingga sekarang, itu karena ada cinta yang menguatkannya.

Pernah tau rasanya patah hati atau cinta bertepuk sebelah tangan atau apa? ketika kesabaran dan kerelaan kita seakan sia-sia, lalu apakah kita akb terus mencintainya? kalau saya mungkin tidak lagi, bagi saya ketulusan itu berhak mendapatkan balasan yang baik. Ya, karena saya manusia biasa. Tapi cinta yang selalu menguatkan kita setiap harinya itu tidak pernah meninggalkan kita, tetap setia bersama kita walau kita sering menduakannya, walau kita berkali-kali memalingkan muka, menyakiti, dan membuatnya menunggu lama hanya untuk sekedar berdiri 5 menit lamanya. Untuk ketulusan yang begitu besar, masih pantaskah ia berbalasa cinta kita yang sekenanya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: