Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Hujan

on November 24, 2012

Kedamaian itu datang bersama hujan. Saat aku hanya perlu mensyukurinya. Tanpa perlu menghitung berapa juta air menetes, aku hanya perlu melihat bagaimana air mulai menggenang, lalu mengalir menepati takdirnya, berjalan dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Hujan selalu memberikan airnya, pada mereka yang mungkin sering mengeluhkannya, layaknya matahari yang terus membagi teriknya, meski orang-orang kadang mengutukinya. Bintang pun menepati takdirnya dengan tulus. Indah, meski seringkali harus tertutup awan kelam dan mendung, tapi dia tetap bersinar, terlihat oleh mata-mata manusia atau tidak. Bulan juga tidak meminta selalu menjadi purnama, kadang hanya berbentuk sabit, kadang tak terlihat sama sekali. Bulan apapun bentuknya selalu mempunyai keindahan tersendiri, begitupun hujan, awan, bintang, matahari.

Hujan, bintang, matahari, awan tidak pernah mengeluh dengan perannya. Tidak mengharapkan sesaji atau puisi-puisi bagi diri mereka, mereka hanya tau bagaimana menjalani takdir dengan sebaik-baiknya, apapun kata mereka yang banyak menerima kebaikan darinya.

Di ujung lelahku, menit-menit yang berlalu dengan keras, hari-hari bertemankan prasangka, juga hati yang sebentar lagi menjadi gila. Menyiksa diri tanpa kau pernah tau betapa beratnya mencintaimu. Membawaku berjalan mundur dan rapuh. Tak mengerti kenapa takdir membawa kita pada hari ini.

Kemarin malam bintang tampak sejenak, lalu tersembunyi oleh pekat. Juga bulan yang dengan tulus tidak menampakkan keindahannya, terlindungi awan kemarin siang. Hari ini hujan turun dengan ramah, pagi tadi matahari bersinar lalu ikhlas tertutup mendung. Saat ini aku paham, bila aku memutuskan untuk mencintaimu, maka aku harus belajar ikhlas seperti mereka. Bila ini sudah ditakdirkan, maka aku hanya perlu menjalaninya dengan sebaik-baiknya, dengan tulus, apapun dan bagaimana pun kejadian-kejadian yang akan terjadi, juga kecamuk dalam hati. Aku hanya perlu menjadi matahari, hujan, bintang, awan, dan bulan. Mencintaimu ibarat cabang yang terus tumbuh seiring aku menjadi dewasa…aku memilih berpijak pada akar, yang akan menentukan bagaiamana kelanjutan hidupmu dalam pohon kehidupan ini. Akar, yang mengijinkanku tetap hidup hingga sekarang sampai akhirnya menumbuhkanmu dalam salah satu cabangnya. Akar. Akar. Akar.

….saat hujan mulai reda, aku bahagia, aku juga mereda….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: