Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Air dan Batu

on November 24, 2012

“Sabar bukan segala, tapi segalanya butuh sabar”, kata teman saya ketika saya bertanya kata-kata yang berpengaruh dalam hidupnya.

Lalu,apa hubungannya dengan air dan batu?

Pernah dengan kisah ini? Dulu waktu saya nyantri (hah, pernah nyantri juga???hahaha, santri kalong ding, suka bolos (bolos terus malah, kalo pelajarannya susah…) pernah mendengar cerita ini: ada seorang murid yang sudah lama sekali belajar pada seorang guru, tapi tidak kunjung bertambah ilmunya. Bodohnya setengah dewa. Lalu dia putus asa dan memutuskan untuk pulang. Ketika diperjalanan dia berhenti untuk mengambil air wudhu, lalu ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Batu yang berlubang di disitu, lubang yang diakibatkan tetesan air yang terus menerus. Seketika dia menyadari kesalahannya. Batu yang sekeras itupun bisa berlubang hanya karena tetesan air yang tidak seberapa, akhirnya bisa berlubang juga. Maka dia kembali ke gurunya dan bertekad untuk belajar lagi sampai dia berhasil. Ya, kesabaran air telah menginspirasinya. Sekeras apapun itu bila terus berusaha dan besabar pasti akan berhasil. Singkat cerita, dia kemudian menjadi ulama besar yang pintar dan masyhur.
*diceritakan untuk memotivasi santri agar bersabar dalam belajar dan tidak menyerah dengan materi yang susah.

Sama hal dengan ketika kita menghadapi orang lain misalnya. Dosen lah sebagai contohnya, sekeras apapun dan semenjengkelkan apapun dosen kita (menurut kita) beliau juga manusia biasa yang suatu saat bisa luluh, dengan apa? Kesabaran kita dalam menghadapinya dan usaha keras kita dengan memberikan bukti-bukti nyata, misalnya rajin mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya, datang tepat waktu, rajin konsultasi, dan rajin mendoakan!!!! ^___________^

Sama halnya juga yang mempunyai orang tua, yang saking sayangnya pada kita, membatasi keinginan-keinginan kita dan mengarahkan hidup kita begini dan begini padahal kita maunya begitu dan begitu dan kita yakin dengan pilihan kita.

Hmmm…begini nih kalau cinta ketemu cinta. Cinta orang tua pada kita dan cinta kita pada hidup kita juga orang tua kita. Maka mungkin kuncinya adalah bersabar, cinta kalau ketemu cinta pasti jadinya baik, hanya perlu menyamakan frekuensi cinta itu. Sabar menghadapi orang tua dengan tetap mencintainya.

Memberikan bukti-bukti dan menunjukkan usaha terbaik agar orang tua tahu kesungguhan kita, yakin deh pasti suatu saat akan luluh…tidak ada orang tua yang tega melihat anaknya tidak bahagia, maka dipilhkanlah amsa depan terbaik. Kalau kita punya kemauan yang beda, tunjukkan saja buktinya bahwa kita yakin dengan pilihan kita dan bahwa yang kita pilih itu baik, jangan lupa, tunjukkan kesungguhan itu. Orang tua kita tidak sekeras batu, percayalah, buktinya orangtua sudah merawat kita sampai sekarang ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: