Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Kesasar

on November 10, 2012


Perjalanan ke Purworejo, menghadiri pernikahan kakak guru. Dengan semangat45 bersiap rapid an wangi, rapi seperti biasa datanglah sms dari kawan di seberang sana, “Atin…ini teman2 baru pada mandi”. Baiklah, seperti biasa, membuang waktu untuk menunggu. Kalau itu reni,teman baik saya, sudah saya tinggal (seperti biasa)! mari berusaha menghargai usaha orang lain untuk tepat waktu dengan menjadikan diri kita tepat waktu.

Karena saya tidak tau jalan (arah ke TKP), jadi ya harus menunggu dan motoran di belakang teman-teman yang santai, padahal saya sorenya harus ke kampus bertemu teman-teman. Baiklah, ternyata motoran dengan kecepatan sedang bisa menimbulkan pegal-pegal *lhoh!
“Kemana arahnya?” tanya pada kakak guru yang saya bonceng.
“Lurus dik”
“Siap kakak!”

Lama….bla…bla…bla kami melewati jalan yang cukup parah sampai teman saya di motor yang lain basah karena ngobrol sambil motoran sampai akhirnya menerobos jalan berlubang yang panjang dan penuh air, hahaha
“bentar dik, kayaknya bukan ini deh jalannya…”
“hah, apa??? Mbaaaaak jangan bilang kita nyasar, jalannya jelek banget… hm, ada yang bawa peta gak teman-teman?”
“gak ada…berhenti dulu, kita tanya…”
Aaaaaa….dalam hati gemrudug, bagaimana bisa dengan pedenya pergi ketempat asing tanpa peta dan hanya bermodal ancer-ancer sekenanya.

Dan benar, kami nyasar cukup jauh dan harus kembali lagi melewati jalan berlubang yang alhamdulillah menguji kelincahan berkendara (tidak sia-sia mahal-mahal membuat SIM, haha). Awalnya malas sangat dan berpikir adakah jalan memutar yang bagus aspalnya, jauhan dikit gak apa-apa deh…

Akhirnya diputuskanlah kami melewati jalan yang tadi, cukup mengenaskan tapi ya harus ditempuh agar sampai tujuan dan akhirnya sampailah kami di tempat resepsi, disebuah desa yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kemacetan, damai…apalagi setelah melihat kedua mempelai, whaa…wajahnya bercahaya, gitu deh kalo orang soleh ketemu kakak guru yang solehah, insyallah. (cukup sampai disini pembahasannya)

Mari berkonklusi dengan memasukkannya dalam kehidupan. Dalam menjalani kehidupan yang asing kita perlu pegangan agar tidak kesasar, dan pegangan itu harus terus dijaga sampai kita mencapai tujuan. Apa pegangan itu? Monggo tergantung kepercayaan masing-masing. Kalau suatu saat kita nyasar: segera kembali ke jalan yang benar walau menyakitkan (rasa malu, harus memaksa diri, merasa aneh dan asing, dll), waktu kita tidak panjang, setidaknya harus segera sampai sebelum hajatan selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: