Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Mendekatlah!

on November 8, 2012

Jadi ingat sebuah riwayat, hadist, yang mengatakan bahwasanya Rosulullah bila bicara pada seseorang akan mengarahkan badannya ke orang tersebut, bukan hanya menoleh, tapi seluruh badannya dihadapkan pada orang yang diajak bicara, tanda menghormati.

Nah, kali ini cerita saya juga sedikit banyak berkaitan dengan hal itu. Senin yang lalu, ada seorang teman yang jauh-jauh menghampiri saya (bukan ding cuma selisih beberapa kursi saja). Dia berpindah duduk tepat di depan saya hanya untuk bertanya, “Atin kamu kelompok satu kan? Berarti kita satu kelompok ya?” lalu saya jawab dengan sedikit keheranan, “Iyaa..”. Kemudian dia kembali ke tempat duduknya yang hanya berjarak beberapa kursi. Yang membuat saya heran adalah kenapa harus repot-repot buang tenaga untuk datang dan duduk tepat didepan saya padahal kan tinggal tanya saja, toh kami cuma selisih beberapa kursi, langsung bertanya dari tempat semula sah-sah saja menurut saya. Tapi, dia tidak, memilih mengurangi jarak 2 meteran menjadi kurang dari 1 meter. Agak kurang kerjaan teman saya ini agaknya, hahaha…. Tunggu dulu!

Setelah memikirkannya lagi (mikirin sikapnya) ooh…akhirnya saya menemukan jawabannya. Dia sedang melakukan apa yang disebut kesopanan. Dia sedang mencontohi saya bagaimana bersikap baik dan menghargai orang lain. Ya, benar sekali kalau kita mau bicara atau bertanya baiknya kita menghampiri orang yang mau kita tanyai atau ajak bicara, tidak hanya sekedar bicara (sambil lalu) tapi benar-benar bertanya dan benar-benar mengajak bicara. Menghormati yang kita ajak bicara. Termasuk didalamnya menghadirkan diri kita (baca: mendekat)

Sedikit banyak seperti yang dicontohkan Rasulullah tercinta. Jadi, kalau ada hal-hal yang sekiranya aneh (sebenarnya gak aneh juga sih) jangan dulu berpikir itu aneh (atau kurang kerjaan) karena setiap orang itu tentunya sudah mempertimbangkan apa yang dilakukannya. Kesopanan itu tidak bisa dilihat mungkin tapi sungguh kesopanan itu bisa dirasakan, dan rasanya itu menghujam ke dalam hati, menenangkan. Baik, saya berhasil merumuskan teori kesopanan berdasarkan hasil pengamatan dan perenungan, semoga bisa menjalankannya ^____^ terima kasih ya selalu menyelipkan pelajaran hidup!

*haha, tapi kalau lagi kuliah atau di seminar seperti beda konteks

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: