Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Biasakan Jujur Yuk…

on October 30, 2012

Agaknya sekarang kegiatan mencontek, bertukar jawaban dan sebagainya sudah mengalami pergeseran makna. Dulu waktu saya kecil saya dibilangi kalau nyontek itu berdosa, wuiih…mendengar kata berdosa rasanya ngeri, langsung ingat neraka. Tapi kemudian rasa itu sudah berganti…karena asas kebutuhan (baca: nilai bagus) akhirnya sudah tidak takut lagi untuk menyontek (tanya teman) -kalo buka buku itu sudah KETERLALUAN- apa daya, sudah terbiasa dapat nilai bagus *hahahaha* jadinya kalo gak bisa ngerjain malu, akhirnya tanya-tanya deh biar bisa dapat nilai bagus. Dan…. pucuk dicinta ulam pun tiba. Nampaknya memang semua siswa punya kepentingan yang sama, nilai bagus, jadi ya pada akhirnya tidak ada yang terdholimi…contek menyontek jadi simbiosis mutualisme yang sangat bermanfaat, menghemat waktu dan tenaga untuk belajar, yah…materi bisa dibagi-bagi, kamu belajar ini aku belajar itu, besok saling bantu ya….setia kawan sekali rasanya… *APA?????? ini namanya setia kawan dalam kesesatan, haha. Parahnya lagi guru-guru juga biasa aja dengan aktivitas ini, haaaaiiiii…..ada apa ini? bahkan saya pernah disuruh contek-contekan (oleh guru), hadeeehh….Indonesia maafkan kami ya!

Waktu itu dalam sebuah training, pembicara menawarkan buku bagus sebagai doorprize, saya sudah sangat bersemangat untuk menjawab pertanyaan atau melakukan aksi-aksi yang lain. Ternyata pembicara menanyakan, “Siapa di ruangan ini yang seumur hidup belum pernah menyontek?” semuanya tertawa…. eh,eh,eh tiba-tiba ada satu orang dari belakang yang maju dan mengambil buku itu. Semuanya heran…geleng-geleng…termasuk saya, “ternyata ada ya yang belum pernah nyontek”….haha, sejak kapan tidak menyontek jadi hal yang mengherankan??? Rsanya itu jleb-jleb T.T walau sudah belajar mati-matian dan ngerjakan dnegan serius (kalau masih tanya-tanya juga) itu artinya tetap berbohong, tidak jujur, nilai kita palsu (meski cuma tanya 1 soal). Wuuaaaaa….. jadi merasa bersalah, rasanya sudah menodai usaha keras yang dilakukan selama ini dengan sungguh-sungguh. Mendustai nikmat Allah berupa pikiran dan kesehatan, membohongi orang tua (walau hanya satu soal)

Lepas dari menyontek (tanya-tanya waktu ujian) itu benar atau salah dosa atau tidak. Nyatanya itu suatu kebutuhan dan kerjasama yang menguntungkan, bagi saya menyontek itu mengenaskan, sekalipun hanya satu atau dua soal. Hingga saat itu lepas dari semester 3 saya mendeklarasikan diri dan berjanji pada orangtua saya bahwa saya tidak akan tanya-tanya lagi kalau ujian. Dan, ternyata ini lebih menyenangkan. Ternyata saya tetap bisa mendapat nilai yang memuaskan (lebih memuaskan) hingga lulus. Ternyata kepercayaan diri dan usaha keras itu agaknya benar-benar mendatangkan ridho Allah, insyallah…

So, mari pikirkan kembali,

1. Kita sebagai calon guru (terutama guru untuk anak-anak kita) wajib mengajarkan kebaikan pada anak-anak kita, termasuk untuk berbuat jujur, termasuk untuk tidak menyontek, tapi kalau ternyata ayah bundanya juga jago nyontek, jangan salahkan anak kita nanti kalau jadi tukang contek yah! Jangan protes kalau nanti murid-murid atau mahasiswa kita juga rajin contekan, lha wong guru/ dosennya juga hobi nyontek pas ujian. Wah, bayangkan kita akan diseperti-itukan oleh anak-anak, murid-murid atau mahasiswa kita…

2. Mari menghargai kerja keras kita sendiri, ingat bagaimana perjuangan kita belajar setengah mati untuk ujian ini. Lha kok pas ujian malah nyontek, ngapain belajar???

3. Nilai itu bukan tujuan, tapi sebuah angka atau huruf yang pasti akan mengikuti pemahaman dan kapasitas kita! percayalah… ayo yang kesatria dong *dasa dharma 3: Patriot yang Sopan dan Kesatria

4. Hargailah orang lain. Tahukah kita saat kita menyontek, ada orang lain yang bekerja dengan jujur. Ini tidak adil bagi mereka dan juga diri kita sendiri (karena kita dengan sadar dan sengaja telah melakukan perbuatan yang kurang baik). Sebenarnya sih mereka yang mengerjakan sendiri gak masalah juga dengan mereka yang menyontek, justru mereka prihatin.

5. Keseringan juga ingat orang tua. Hmm dirumah bapak dan ibuk bekerja dan berdoa agar anaknya jadi anak pintar dan membanggakan, lha kok malah senengane tirunan pas ujian… T.T

Masih ingat kata-kata dosen saya, yang membuat saya menjadi egois ketika ujian. “DI KHS saya ada banya nilai C tapi saya tidak mengulang. Kenapa? karena saya sudah merasa memahami mata kuliah tersebut. Kalau saya mengulang berarti saya mengamini bahwa saya bodoh.” Waaaah…kata-kata yang bagi saya cool banget!

Tapi akan jadi beda kalau kita termasuk orang-orang yang menganggap menyontek hal yang biasa dan wajar. Maka jangan protes kalau banyak koruptor. Jangan protes kalau Indonesia akan jadi negara yang mendelep dan dipenuhi orang-orang yang kurang jujur. Mari berbenah…

Mari kembali memaknai belajar kita dengan penuh tanggungjawab dan kesadaran. Ini perintah Tuhan lho. Dalam aktivitas belajar kita juga ada harapan banyak orang, orang tua, masyarakat, masa depan indonesia, anak cucu kita.

*kalau PR dan kegiatan yang ‘melegalkan saling membantu’ it’s fine. tapi kalau sudah ada aturan closed book dan kerja masing-masing harusnya kita taat aturan, kan sudah sangat jelas perintahnya, jangan tiba-tiba jadi amnesia deh!

Tetap semangat selalu!

*Terinspirasi dari Bu Endang dan Pak Kristiandi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: