Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Telat (lagi)=Bubar Selamanya

on October 22, 2012

Inilah ancaman yang dilontarkan bapak sosiologi siang ini. Kalau minggu depan kami masih telat, maka kelas sosiologi akan dibubarkan selamanya. Bagaimana ceritanya?

Ya, kalau kata mas Ibay, hari senin puku 13.00-15.00 adalah waktu terlama, ya disitulah letak mata kuliah sosiologi kami. Karena waktunya yang sangat panjang saya lebih sering main sms dan menulis di buku galau saya, dan sesekali pasang muka serius dan menganggukkan kepala tanda sepakat dan mengerti, padahal… ^!%#!#$!^^#&

Entah karena alasan apa, sepanjang sejarah kelas sosiologi yang terjadi adalah professor, dosen kami, menunggu kami dikelas, ya dosen menunggu mahasiswanya, sedangkan kami, ada yang makan, ada yang sholat, ada yang makan dan solat, juga ada yang solat dan makan. Bisa dibayangkan pukul berapa kami akan masuk kelas, dan itu terjadi SETIAP MINGGU. Kalau saya jadi dosennya saya juga akan mengambil tindakan begini, bahkan mungkin lebih tegas, please deh ini mahasiswa pascasarjana UGM telatan dengan santainya…. *tepok jidat+geleng2 sambil melihat diri sendiri

Jadi begini cerita lengkapnya, saya waktu itu sedang selesai solat dan pak ketua menghampiri saya dan kak dika dengan muka panik, “aku dimarahi (bahasanya waktu itu disemprot) bapaknya, belum ada orang, bapaknya sudah nunggu…” baik, saya mengerti apa yang terjadi, lalu buru-buru saya menuju kelas dan meninggalkan kak dika yang masih agak ribet, pas dalam perjalanan bapaknya juga dalam perjalanan berlawanan arah, hey…bapaknya mau pulang??? Saya tetap melangkah ke kelas dan benar kelas KOSONG…tidak lama kemudian datanglah mas adi dengan senyuman, tenang, dan ekspresi innocentnya. Dia juga kaget…

“mas, bapaknya marah…”
“terus sekarang profnya kemana?”
“keluar tadi..”
“ayo kita cari…”

Saya pun mengikuti mas adi mencari bapaknya (+mencari perlindungan takut kalo tiba-tiba bapaknya datang), mencari Honda jazz silver, istilahnya ‘menjemput’ bapaknya sebagai wujud tanggungjawab kami, dan lebih tepatnya menebus kesalahan.

Kami berputar dan tidak menemukannya. Hampir putus asa, sampai sosok tenang berwibawa itu datang dari arah selatan dengan muka serius…
“mas itu profnya”
Lalu, mas adi pun menyapa profnya (walau dibalas dengan muka datar), kami pun disuruh ke kelas segera,
“saya mau bicara” kata profesor.

Baik, kami mempercepat langkah, dalam perjalanan mas adi bilang,
“yang penting kita sudah mencari bapaknya, sudah ada keseriusan dari kita, itu jadi poin plus, setidaknya semoga mengurangi kemarahan bapaknya”


Lalu, terjadilah kejadian itu, “minggu depan datang tepat waktu atau bubar selamanya”
Di tengah ketegangan itu, teman-teman ada yang baru datang, memasuki kelas dengan santainya seperti biasa, tanpa tau baru ada kejadian apa…haha *tertawa getir

Baik, hikmah apa yang bisa kita ambil?
1. Menghargai waktu. Kita hidup di dunia ini tidak sendirian, kita senantiasa beririsan dengan kepentingan orang lain, kalau kita tidak ontime sama halnya dengan kita mendholimi diri sendiri dan orang lain. Okelah kalau mendholimi diri sendiri tidak masalah, kalau mendholimi orang lain bisa gawat urusannya, bisa dosa dunia akhirat, apalagi yang kita dholimi adalah dosen, waaah bisa berlipat-lipat tuh…. *maaf ya bapak…

2. Menghargai guru. Secara umum, dosen adalah guru kita, banyak ilmu yang perlu ditimba. Apalagi sudah bayar mahal-mahal kuliah disini, giliran dapat kuliah malah tidak serius, apa kata bapak saya???? Dengan style apapun guru mengajar, yakin ada sesuatu yang belum kita tau, ada ilmu baru yang akan kita dapatkan, syaratnya kita rendah hati. Tidak merasa sudah bisa, tidak merasa serba tau, lalu serius maka ilmu akan datang…

3. Serius dong belajarnya… (ini khusus untuk saya sendiri yang suka tidak memperhatikan dosen, wwuuuaaa pengakuan dosa), judulnya kita ke kampus untuk kuliah, kita ketemu orang-orang pintar (dosen-dosen), dan segenap rakyat Indonesia mengharapkan kita (insyallah begitu). Seperti apapun style dosen dalam mengajar, kita harus berusaha menyesuaikan diri supaya ilmu itu datang. Kalau dosennya misalnya memberikan penjelasan yang kurang memuaskan maka kita harusnya bertanya. Tapi kejadiannya adalah kita bahkan tidak tau mau tanya apa gara-garanya gak merhatiin penjelasan dosen, paraaahhh…. (…banget sih Atin >.<). kan kita yang butuh, jadi kita yang harus memperjuangkannya. Mata kuliah sosiologi menurut saya bisa jadi hidup kalau kita aktif, sayangnya kita seringan jadi autis, haha. mohon maaf….. 😦 Visa kita di UGM cuma 2 tahun.. (kalau mau lebih monggo), ayo semangat belajar. inikah amanah bangsa dan negara, orang tua, segenap rakyat indonesia, dan juga agama.

4. Tindakan positif. Bila ada hal-hal tidak menyenangkan yang terjadi pada kita, pastikan kita melakukan tindakan positif seperti yang dilakukan mas adi (prok prok prok prok), berusaha mencari bapaknya untuk menunjukkan kami serius dan kami menyesal. Sekecil apapun tindakan positif itu insyallah juga kan mendatangkan reaksi yang positif pula. Jangan lantas pasrah… *terima kasih prof.adi

Sudah ya, semoga senin depan semua bisa tepat waktu, supaya kita dapat banyak ilmu dan pahala^^

Advertisements

2 responses to “Telat (lagi)=Bubar Selamanya

  1. silasadho says:

    Atin… xm nyari Jazz Silver ya… jelas aja gag ketemu Profnya. wong mobilnya Nissan March Silver kog. hahaha
    makanya Yang Rajin ya kalo kuliah di kelas jangan ngantuk (ngaca dunkz Ler sblm ngomong) hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: