Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

2009.2010.2011.2012.2013 dan seterusnya

on October 16, 2012

2009
Aku menyebutmu kawan baru, ingat pertama kita bertemu? Waktu itu aku mengadakan sayembara dan kamu jadi salah satu pesertanya. Ingat waktu aku ‘menyeleksi’ kamu. Waktu itu kamu aneh, sikapnya aneh, baik tapi kaku tapi menyenangkan. Tahukah kamu, waktu itu aku meremehkanmu lhooo, dan memang kamu tidak menang,hahaha, satu saja yang aku tau dari kamu, kamu pintar, sibuk, baik, banyak prestasi, dan suka terlihat. Heran, tapi lalu aku tahu kenapa kamu begitu, di waktu-waktu kita selanjutnya.

2010
Kita mulai lebih sering bertemu, ya kantor kita kan sangat dekat. Waktu itu aku baru sekedar tau dan masih terbayang pemikiranku tentang kamu yang dulu. Ingat tidak, waktu itu aku sering ‘menggoda’ kamu, menanyakan IPK, menanyakan apapun yang sebenarnya tidak penting. Aku paham kamu merasakan aku ‘aneh’, tapi ini menyenangkan, mengorek semua tentang kamu, mengintip sisi-sisi kehidupanmu yang padat, dan sebenarnya aku terkagum-kagum, kamu hebat, sejak saat itu aku memasukkanmu dalam daftar ‘wanna be’ ku. Aku lupa menuliskannya dimana, tapi aku disitu aku menuliskan bahwa ‘aku ingin menjadi (seperti) kamu’.
Kegilaanku yang lain adalah menjadikan kamu sebagai obyek penelitian. Mungkin lucu dan terlalu memaksakan, tapi hidupmu itu menarik, ada banyak orang yang perlu belajar dari kehidupanmu, maka aku ingin menuliskannya…dan terima kasih ya aku dapat nilai A 😀

Hidupmu itu produktif bermanfaat, kesimpulanku.

Akhir tahun itu, aku beranikan diri mengetuk ‘rumahmu’ dan meminta ijin untuk membuat ‘keonaran’, sebuah ambisi untuk bisa mengembangkan diri, dan terima kasih kamu memberiku kesempatan. Aku sangat bahagia waktu itu, aku bisa menjadi diriku sendiri, setelah setahun lamanya aku ditempa dan menahan kecewa ditempat yang tidak aku suka (meskipun baik). Baiklah, sejak saat itu ijinkan aku memanggilmu kakak ya, kakak senior yang baik, yang memberiku kesempatan belajar, dan mengajari aku untuk menjadi (seperti) kamu.

2011
Misiku minta ijin memasuki ‘rumahmu’ adalah awal ‘malapetaka’ dalam kisah hidupku tahun 2011. Ya, kamu memberiku kesempatan dan aku bahagia, hingga selembar kertas itu datang, isinya membuat aku galau dan bertanya-tanya setengah mati. Bagaimana bisa? Ingat tidak, waktu itu aku mempertanyakan ini pada banyak orang, juga pada kakak, dan aku masih ingat sekali jawaban kakak, “LHO, SAYA JUGA TIDAK TAHU KALAU ATIN DAPAT ITU…DIJALANI SAJA, KITA KERJAKAN BERSAMA-SAMA”. Tidak ada pilihan lain…
Dan sejak saat itu pula, banyak kejadian aneh yang harus aku terima, aku jadi banyak tanggungjawab dan bertambah sibuk, bukan tapi kita (aku, kamu, dan mereka semua). Lelah dan menyebalkan kadang, tapi aku ingat bahwa aku tidak sendiri, ada orang-orang macam kakak yang lebih lebih lebih lelah karena semua ini. Aku malu kalau ingin mengeluh. Aku malu kalau melihat kakak yang ‘berlari-lari’ sementara aku hanya perlu memberikan semangat dan doa.
Tahun 2011 ini aku belajar lebih banyak lagi. Aku baru menyadari bahwa tidak banyak ternyata orang seperti aku yang terkagum-kagum pada kakak, diluar sana ternyata ada banyak juga tidak suka, menghina, menyalahkan, dan heran bagaimana bisa aku bertahan mengikuti kemana kakak pergi. Tahu tidak, mereka yang mengatakan itu sebagiannya adalah sahabatku, kawan-kawan kakak juga. Aku hidup bersama mereka dan kakak pun ada diantara mereka. Berat sekali, di satu sisi aku seakan harus menyetujui mereka bahwa mereka benar dan kakak pantas disalahkan, tapi disisi lain aku yakin kakak melakukan sesuatu yang baik meski memang terkadang terlalu memaksakan dan teoritis. Ingat tidak, waktu itu aku seperti patung, hanya diam, waktu aku berada diantara kalian, aku tidak bisa lagi bermuka dua, aku tidak bisa lagi membela salah satu diantara kalian dan aku memutuskan diam. Tahu tidak, setelah saat itu, aku pun selalu jadi sasaran kecurigaan, aku selalu disalahkan, dan aku selalu dianggap penghianat, semoga sekarang tidak lagi. Kakak, sungguh aku ingin membelamu, tapi aku juga menemukan kebenaran pada mereka. Maaf ya… Aku yakin kamu baik, dan aku yakin mereka baik, sayangnya jembatan ini tidak cukup kuat untuk menghubungkan kakak dengan mereka. Entah siapa yang sebenarnya egois, mungkin aku yang terlalu takut salah dan takut dihina. Maaf ya…
Sering aku melihatmu berlarian, dan aku hanya bisa memberi semangat dan mendoakan. Tidak banyak yang kita lakukan sejak kertas itu datang, dan sangat sedikit sekali yang bisa aku berikan untuk hal-hal kecil yang telah kita catatkan, maaf ya…
Waktu pun berganti, dan kita pun berganti, sejak saat itu kamu bukan lagi kakakku, sejak saat itu kamu jadi bapakku.

2012
Keadaan sudah berubah. Kamu masih fokus dengan kerja-kerja peradaban itu dan aku fokus pada kerja-kerja pribadiku. Saat kamu dan yang lain memikirkan bagaimana bisa melakukan ini dan itu, aku sendirian memikirkan bagaimana aku bisa begini dan begitu. Memang tidak sopan anakmu ini. Hingga akhirnya aku benar-benar pergi, meninggalkan rumah kita dan merantau ketempat baru. Ya, meninggalkan rumah kita masih berantakan dan sedikit tak terurus, maafkan anakmu yang tidak berbakti ini. Kamu yang dulu mengajari aku bermimpi, dan kini aku sedang menapakinya, meski untuk itu aku harus meninggalkan rumah kita. Tenang bapak, masih ada ibu dan anak-anakmu yang lain. Mungkin mereka jarang dirumah, tapi bukan karena mereka tidak peduli, mungkin mereka sedang menolong orang lain atau menunaikan kewajiban yang lebih penting diluar sana, mereka akan segera pulang malam nanti dan bapak bisa mengajak mereka bicara dari hati ke hati. Aku tidak akan pergi begitu saja, aku sering mengunjungimu, ibu, dan saudara-saudaraku yang lain. Aku akan kembali, mungkin 1 atau 2 tahun lagi, lalu aku akan meneruskan mimpi kita. Semoga. Bapak, jaga kesehatan ya! Semoga Allah memudahkan terwujudnya mimpi-mimpimu yang tinggi, mengabulkan pinta kita, dan memudahkan jalannya.
Bapak, anakmu yang lain sudah bertambah pintar sekarang, mungkin mereka akan sering membangkang dan menempuh jalannya sendiri. Jangan marah ya, bapak yang harus lebih sabar dan mengajaknya bicara dengan hati. Jangan cari jalan pintas lagi, anak-anakmu sudah semakin cerdas.

Bapak, maaf selebihnya aku hanya bisa berdoa. Biar aku dan Allah saja yang tahu ya… Baik-baik dengan ibu, anak-anak yang lain dan tetangga-tetangga kita.

2013 dan seterusnya…
Aku ingin keluarga kita tetap utuh. Utuh dalam arti kita selalu ada dalam rumah ini, meski di ruang-ruang yang berbeda.

Kakak, aku jadi saksi lelah dan perjuanganmu.

Advertisements

2 responses to “2009.2010.2011.2012.2013 dan seterusnya

  1. kristal says:

    hahaha..

    “piyee iki anak-anak”
    komentar sang bapak melihat anaknya baru datang cengar cengir saat yang lain udah siap dengan kelompoknya maisng-masing. XD

    bersa bocah banget dah gw..

    semnagat kakak.. 😀

  2. Atin says:

    Citrah… iya malu banget….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: