Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Surat Kecil Untuk Sahabatku

on September 25, 2012

Entah kenapa tiba-tiba ingin menulis ini, pukul 11.02 saat seharusnya aku beranjak tidur. Sudah kumatikan laptop dan lampu, tapi rasanya ada yang ingin aku ceritakan bersamamu. Kupaksa laptop kembali menyala setelah berjam-jam bekerja dan mata terbuka lebar oleh sinar lampu kamar yang terpantul sempurna oleh tembok bersih (baru aja dicat sama ibu kos). Aku ingin merenungi apa yang telah kita jalani…

Aku ingin mengawalinya dengan…entah harus mulai darimana. Aku berpikir tentang kamu sekarang yang ada dibelahan bumi yang lain, yang jauh dari tempat-tempat kita biasa bercerita dan berangan-angan, menggosipkan orang-orang dan membuat rencana-rencana yang akan kita jalankan kapan-kapan. Yah, kapan-kapan, biar takdir, waktu dan usaha kita yang menentukan kapan rencana-rencana itu akan terwujud.

Aku tidak menyangka bahwa apa yang lukis dalam cerita-cerita kita dulu kini menjadi nyata, sebuah keinginan kecil untuk menginjakkan kaki di tanah yang bukan bernama Indonesia, tahun ini, 2012. Betapa Allah mendengar ocehan-ocehan kita dan rengek harapan yang kita panjatkan dengan ragu bahkan usaha yang coba-coba dan spekulatif. Ya, Allah telah menjawabnya, Alhamdulillah. Meski kita tak mewujudkannya bersama tapi kita telah bersama-sama mewujudkannya.

Geli, kenapa hal sekecil ini bisa membuat aku begitu bangga dan bahagia, luar negeri yang kita jejaki kan hanya tetangga samping rumah kita. Banyak orang yang mungkin mencibir kebahagiaan kita yang kekanak-anakan, terlalu bahagia dengan keberhasilan kecil saat yang lain sudah terbang jauh.

Biarlah, memang baru ini yang bisa kita wujudkan dan memang baru pencapaian ini yang bisa kita banggakan. Dengan perjuangan berdarah-darah, muka rata, dan pengorbanan celengan besar-besaran. Tapi tetap saja itu semua tidak cukup menyakitkan untuk manisnya ‘keberhasilan kecil’ yang kita rasakan.

Apakah kita masih akan meminta untuk diberi yang lebih? Menjelajah dunia, seperti yang dikatakan coretan-coretan dia peta yang menempel di kamarku… Aku malu, betapa Allah benar-benar memperhatikan kita dan semua orang yang punya keinginan sama. Tiba-tiba kau takut tak bisa mempertanggungjawabkan nikmat ini dengan sejujur-jujurnya. Maka, malam ini aku putuskan untuk mengubah redaksional doaku, “Bila terwujudnya mimpiku bisa membuat aku lebih bertaqwa dan bermanfaat, maka kabulkanlah, namun bila mimpi-mimpi itu membuat aku lalai dan berbuat banyak salah, cukuplah bagiku merangkai kebahagiaan sederhana bersama sahabat-sahabatku yang luar biasa. Namun, tetap kobarkan semangatku dan berkahi langkahku untuk berusaha mewujudkannya.”

Dalam setiap keberhasilan yang kita dapatkan, ada bagian orang lain di dalamnya, semoga kita tidak lupa memberikan hak-hak yang lain, agar keberhasilan kita layaknya bibit yang sedang ditanam di dunia dan akan kita panen kelak kehidupan berganti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: