Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Romansa Pekan Ketiga

on September 25, 2012

Mulai dari mana ya, setelah pekan kemarin saya berurusan dengan polisi karena urusan karmas hilang, pekan ini agaknya jodoh saya dengan polisi nyambung lagi. Ada apa? Bukan saya yang kehilangan sesuatu, tapi teman saya kehilangan dua suatu. Apa itu? Tahu Blackberry? Dan nexian touchscreen? Itulah…

Ceritanya saya dan dua orang teman adalah orang-orang yang meninggalkan kelas terakhir, dan dengan sengaja meninggalkan sebuah tas di dalam kelas. Alasannya bermacam-macam, saya karena memang tidak dititipi, teman saya karena aspek maskulinitas, jadi gak mau berurusan dengan barang-barang wanita. Kami tinggalkanlah tas itu sendirian di kelas yang kosong.

Waktupun berselang, kami kembali ke kelas,

RAMAI. Ada apa? Hapenya kak Lili (nama disamarkan) hilang. APA??? Sebagai penghuni kelas terakhir saya otomatis merasa tertuduh, dan menuduhkan diri. Bui I did nothing. Galau sepanjang kelas jam 13.00-14.40, dosen bercerita angan berlalu. Jadi jangan tanyakan apa yang saya dapat dari Pak Suhandano hari ini. Kelas pun mulai ribut membicarakan dan menduga-duga hingga digeledahlah itu tas semua orang dikelas, semua ikut panic, sedih, berempati, bingung, apalah namanya yang jelas kelas ikut larut dalam suasana ini. Tidak ada titik temu. Hingga tiga orang digiring di meja kesaksian di lantai dua, disaksikan korban, suami korban, dan rekan korban. Anehnya, ketiga saksi menyampaikan fakta yang tidak sama persis, audience pun mulai bimbang, meski mereka sudah bisa meraba siapa pelakunya.

Buntu, kantor polisi pun jadi tujuan. Kami digiring ke kantor polisi sebagai saksi. Karena saya tidak tahu apa-apa baiklah ayo ke kantor polisi (tempat yang tidak asing sejak hidup di solo, hehe). Selalu begini, kantor polisi urusannya akan jadi lama, laporan dan penyidikan, semua bersaksi. Satu per satu. Hingga panggilan sholat magrib datang, kami menghadap Tuhan dan memohon petunjuk atas cobaan ini. Cling…petunjuk itu langsung datang. Salah satu diantara kami mengaku telah mengambil kedua barang tersebut. Wuaaaaaaaaa…..plak!!! Akhirnya pecah juga telur kekesalan, prasangka, dan kelelahan kami. Tapi disinilah cerita yang sebenarnya dimulai.

Bagaimana bisa? Sebagai sesama mahasiswa, kami tahu konsekuensi dari menjadi tersangka dan terdakwa, yaitu dikeluarkan dari UGM. Drop out secara tidak terhormat. Dalam titik itu kami semua jadi bingung, berkas perkara sudah masuk ke penyidik, dan pelakunya sudah mengaku. Apakah bisa dicabut langsung laporannya? Enak saja. Lalu, haruskah kami memberi kesaksian palsu untuk teman kami? Jangan, saya bisa kena pasal dan masuk penjara nantinya. Lalu? Biarkan semua berjalan, berkata sejujur-jujurnya, dan biarkan bagaimana kebaikan waktu akan menolong kita atau memberi kita pelajaran nantinya. Lama kami berdiskusi untuk mencari jalan terbaik, tapi tidak ada juga jalan terbaik itu yang terlihat, selain berkata apa adanya dan berharap teman kami mendapat hidayah saat diinterogasi.

Bagaimanapun yang kami hadapi adalah penyidik yang sudah berpengalaman, pasti dengan sangat mudah bisa tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Kami pasrah.

Hingga, karena tidak ada pengakuan terlontar, perkarapun digantung dan kami larut dalam diskusi panjang hingga larut di masjid polsek bulaksumur.

Mau kita apakan pelakunya? Kita sadarkan? Ah, kita bukan tuhan, kami hanya meminta sebagai sesama manusia untuk tidak mengulangi perbuatan itu, standar. Tapi tetap, kami tidak semudah itu percaya dengan tangisan dan pengakuan bersalah dari pelaku, sebagai teman kami tetap akan merangkul, tapi sebagai teman pula kami akan tetap waspada.

Yang kami lakukan bukan karena kami kasihan pelaku akan di DO dari UGM atau sanksi lainnya, yang kami lakukan semata karena kami mengingat orangtua pelaku yang pasti akan sangat sakit mendengar anaknya melakukan perbuatan memalukan. Sampai sekarang saya masih berpikir, apakah yang kami lakukan ini benar dan membawa banyak manfaat di masa depan? Wallahu a’lam.

#tapi saya senang, setidaknya saya jadi mengenal beberapa orang baru karena kasus ini, begitu pula saya bahagia melihat kelas saya mulai saling memperhatikan dan satu rasa. Alhamdulillah, Allah selalu tidak lupa menyelipkan kebahagiaan dalam setiap ujian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: