Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Sisipan Kabahagiaan

on September 21, 2012

Hari ini adalah hari olahraga, tidak ada kuliah atau jadwal apapun, selain mengambil kartu mahasiswa. Jadi, lebih baik ke kampus jalan kaki saja yah.

Baiklah, berangkatlah ke kampus dengan riang gembira menyambut matahari pagi yang cerah, hingga ingatan itu datang, “Karmas sementara dimana ya?” tidak bisa ambil KTM tanpa itu. Berhenti di pinggir jalan dan menggeledah tas. HILANG! Padahal kemarin sudah dimasukkan, lalu dimanaa ya?

Oh, Tuhan….belum genap 2 minggu dan sudah menghilangkan sesuatu yang penting, astagfirullah…

Sebenarnya saya tahu kalau harus ke kantor polisi meminta surat kehilangan, tapi saya piker aka nada kelonggaran hingga saya langkahkan kaki ke kampus dengan harapan bisa diganti dengan bukti yang lain untuk mengambil karmas. Nananana….

“Oh, harus ke kantor polisi dulu mbak, sana ke polsek bulaksumur, nanti diganti sama petugas di loket satu”
“Harus ya Pak?” (mencoba mencari celah)
“Iya mbak, kalo nggak begitu ya ndak bisa.”
“Terima kasih Pak” (miris)

Jalan kaki 30 menit ini berakhir jawaban menyakitkan.

Dari DAA ke Polsek Bulaksumur. Supaya berkah, baiklah saya niati saja untuk olahraga, itung2 pemanasan buat muncak 2 bulan lagi (semoga kali ini berhasil).

Dengan kelapangan hati saya tempuh perjalanan jalan kaki 30 menit ke Polsek Bulaksumur
Dan….disinilah Allah menyisipkan kebahagiaan itu. Apakah itu?

“Lho….Ian kamu disini?”
“eh, Atin…”

Mahabesar Allah yang sudah menciptakan takdir indah ini (indah?), membahagiakan. Bagaimana bisa? Ian (Brilian) adalah teman SMA yang lumayan jarang ketemu, mungkin sudah setahunan tidak bertemu (mungkin kurang dari itu). Dan, kami bertemu di KANTOR POLISI. Pertemuan yang aneh, tapi bagi saya indah. Dimananya? Karena saya bisa bertemu sahabat lama, di waktu dan tempat yang aneh dan samasekali tidak pernah terlintas. Memang kalau sudah rejeki, akan menemukan jalannya (kata citra), alhasil peluh dan kesal pagi ini terbayar lunas. Begitulah, saya belajar untuk sebisa mungkin menunda perasaan mengeluh untuk bersiap dengan sisipan kebahagiaan di tengah kesulitan.

-30 Menit lagi menuju kos karena sang penjemput sedang sibuk dan tidak bisa diganggu-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: