Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Cinta

on September 17, 2012

Waktu itu bulan puasa, pagi-pagi saya berdebat kecil dengan Ibu tentang menu buka puasa. Saya ingin makan kolak ‘waluh’ (bahasa Indonesianya apa ya?). Lalu ibu menyuruh saya membeli tape,

“Ibu, saya tidak suka tape.”
“Memang yang makan cuma kamu. Jadi orang kok mikirin diri sendiri”

Saya lalu diam dan tidak berkata apa-apa lagi juga tidak berangkat pergi membeli tape.
Sejenak kami hening, hanya suara mesin jahit yang sesekali mendengung. Seharusnya dalam keadaan seperti ini saya segera minta maaf, bagaimana hal sekecil ini bisa membuat saya marah kala itu.

Tau apa yang dilakukan Ibu saya?

“Ya sudah, nanti kolak ‘waluh’ saja, nanti Ibuk buatkan yang banyak.”
saya diam.
Ibu saya masih mencoba memancing saya bicara dengan banyak pertanyaan.
saya tetap diam
Tidak menyerah, dia mecoba melucu, walau tidak lucu
dan saya hanya diam, hingga akhirnya berlalu.

Sore hari.
Kami memasak bersama di dapur, tapi tidak ada obrolan. Hanya ibu saya yang terus berbicara dan saya tetap diam, mungkin sesekali menjawab dengan jawaban yang sangat singkat. Masih dongkol dengan kejadian tadi pagi.

menjelang berbuka, saya mulai mau bicara dan ibu saya senangnya bukan main, padahal kalau dipikir-pikir saya yang salah dengan mudahnya tersinggung dengan perkataan ibu saya yang memang benar adanya. Hingga saya menyakiti ibu saya dengan membuatnya merasa bersalah sepanjang hari…dan Ibu saya yang kebingungan bagaimana membuat saya mau bicara dengan mengajak bicara sampai melucu, perjuangan yang hebat yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Padalah seharusnya saya yang minta maaf…
________

Seringkali kita dimainkan perasaan, tersinggung dengan hal-hal kecil dan remeh hingga tanggapan kita berlebihan, reaktif yang keterlaluan. terlebih lagi, sikap kita sangat mempengaruhi hubungan dengan orang lain, perubahan sikap kita akan dirasakan dengan mudah oleh lingkungan, bisa jadi kita membatalkan kebahagiaan-kebahagiaan yang seharusnya tercipta, hanya karena kita begitu mudahnya tersinggung. Bahkan, lebih parah bila sikap kita itu mengenai orang-orang yang kita sayang,

______

Ibu, betapa tidak bisa melihat anaknya sedih dan marah. Semua usaha akan dijalankannya untuk membuat anaknya kembali ceria. Sampai mungkin menempatkan diri ‘dibawah’ anaknya. Sementara si Anak belum tentu mau berbuat demikian,
Itulah cinta, dia hanya tau memberi tanpa berharap kembali. Ia adalah kebahagiaan meski harus ditempuh dengan pengorbanan…

______

Ibu, aku tahu pintu maafmu selalu terbuka tanpa aku harus mengetuknya 🙂
Tapi itu bukan alasan untukku selalu membuat kesalahan dan kegelisahan, semoga selanjutnya aku hanya memberikan kebahagiaan, amin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: