Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Hijabmu, Penjagamu

on August 28, 2012

Saya tercengang dengan kalimat teman saya: wanita yang berkerudung lebar dan bercadar pun tidak menjamin baik iman dan akhlaknya. Mungkin imannya baik, tapi bisa jadi tidak dengan akhlaknya, karena dia tidak paham hakekat iman dan ilmu yang dipelajarinya. Kalau ada yang akhlaknya bagus, maka ada dua kemungkinan, dia munafik atau benar-benar beriman. Karena iman dan akhlak adalah dua hal yang satu.
Perkataan yang bagi saya sangat penting untuk direnungkan. Hijab atau jilbab memang tidak menjamin seseorang berakhlak atau beriman baik. Tapi bagi saya memakai hijab siapapun itu seperti apapun bentuk hijabnya adalah sebuah kesediaan untuk tunduk pada aturan Rabbani, lepas dari motivasi duniawinya. Bisa juga wanita yang belum berhijab namun berakhlak baik dipandang jauh lebih terhormat. Apa yang ingin saya garis bawahi disini?
Saya pribadi berpikir bahwa wanita khususnya yang telah berhijab dan umumnya bagi semua sama-sama mempunyai kewajiban untuk meningkatkan kualitas iman dan akhlaknya. Wanita adalah perhiasan dunia, madrasah bagi anak-anaknya dan masyarakat, bahkan bisa menjadi tiang negara dan agama. Maka dari itu dua hal itu sangat penting.
Kita perlu untuk kembali bermuhasabah, apakah hijab kita dan akhlak kita selama ini adalah buah dari iman yang mekar bersemi ataukah suatu bentuk kemunafikan atas nama pujian atau anggapan sebagai wanita yang salehah, astagfirullah.
Seharusnya hijab menjadi sebuah penjaga ketika iman kita tidak mampu menjaga kita dengan sempurna. Ia adalah kebanggaan dan tanggungjawab. Dengan hijab kita menyemerbakkan Islam di dunia. Maka sudah sepantasnya hijab dibarengi dengan kualitas diri mukmin yang baik. Shalat kita, tilawah kita, puasa kita, akhlak kita sudahkah selaras dengan cara hidup seorang mukmim?
Hijab yang kita kenakan adalah angin positif bagi lingkungan, kita lebih mudah mendapatkan kuznudhan dari banyak orang, tapi apakah benar kita sebaik itu? Semua berawal dari iman yang berakar kokoh dan tumbuh dengan akhlak yang kokoh pula.
“ihdinashiratalmustaqiim” setiap hari kita memohon agar ditunjukkan jalan yang lurus. Tapi kebanyakan kita memilih berbelok-belok. Karena jalan lurus itu dipenuhi hal-hal yang tidak menyenangkan. Setidakmenyenangkan apapun, jalan lurus itu menyelamatkan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: