Stories of a Simple Life

Everyday is a story from which we can learn someday

Untitled.

on June 3, 2012

Rasanya baru kemarin aku bermain-main di sawah, berpura-pura menjadi tokoh-tokoh televise kala itu. Bermain sepanjang hari dan pulang bila lapar datang atau diteriaki ibu. Saling menyebut “kamu yang nakal” dengan sinta sampai salah satu diantara kami ada yang menangis lalu dihampiri ibu kami. Sinta dulu sering dihajar ibunya, sekarang masih begitu tidak ya? Yang jelas dia sekarang sudah besar juga, sangat cantik parasnya…dia dan keluarganya pindah ke Kalimantan untuk penghidupan yang lebih layak dan yang sekarang sudah mereka dapatkan, Alhamdulillah….
Baru saja kemarin aku masih malas-malasan sholat dan harus diingatkan ketika waktu sholat tiba. Bacaan sholat pun belum sempurna. Dulu seringkali pas bapak menjadi imam dan membaca alfatihah atau surat pendek aku bernyanyi nyanyi dalam hati, menanti rukuk, sujud, dan salam. Berdoa sebentar dan kabur
Waktu itu aku akan sangat bahagia dan berlari-lari kerumah kalau mendapat rengking 1, dan menangis seharian kalau tidak menjadi juara kelas, mengurung diri di kamar, menanti dihibur banyak orang. Memalukan sekali rasanya…
Aku teringat ibuku yang selalu membawa belajar di dekat mesin jahitnya. Hingga, sampai SMA aku tak bisa lepas dari sampingnya dan mesin jahitnya, sempat kos satu bulan lalu kabur pulang kerumah. Ibuku mengantarku dengan sepeda waktu aku masih malas ke pondok untuk ikut mengaji, diantar lalu dijemputnya. Kadang aku jalan kaki, sendirian lewat pematang, melepas kerudung di tengah jalan karena gerah. Ada juga sebuah keluarga yang memanggilku dik nia, mereka siapapun diantara mereka akan mengantar aku pulang kalau melihatku jalan kaki
Dulu bapak cuma punya satu motor buluk, saya lupa namanya, berwarna hitam dan suaranya kasar. Rumah kami hanya sepetak, belum ada keramik dan tembok, atapnya pun sering bocor, hehe… aku dan kakak tidur sekamar, lebih tepatnya hanya ada satu kamar dengan dua tempat tidur untuk kami sekeluarga dan di tengahnya tempat sholat. Di bagian belakang ada ‘rumah mbah buyut’. Memang tidak bisa disebut rumah, hanya ruangan kecil yang disitu mbah buyut melakukan semuanya. Mbah buyut suka blondo (ampas minyak kelapa) dan aku dulu sering duduk di depannya lama untuk mendapatkan uang jajan…Oiya, mbah buyut punya keris pusaka yang sering diberi sesaji. Setelah mbah buyut meninggal kerisnya sekarang ada di kamar bapak. Dulu sering bergerak gerak berisik di dalam lemari, mungkin karena tidak ada yang member sesaji. Tapi sekarang kerisnya sudah tidak macam-macam, sepertinya sudah benar-benar menjadi benda mati, insyaallah.
Beranjak besar aku mulai serius mengaji walau gak mudeng-mudeng juga. Sekarang berangkat bersama kakak satu-satunya. Tempat kami mengaji adalah pondok NU yang tak jauh dari rumah. Sebuah pendidikan yang terselenggara dengan sederhana tapi taman ilmu selalu Nampak indah dan nyaman dihati. Kami bukan hanya belajar ilmu agama, aku pernah berangkat mengaji dan setibanya di pondok kami semua digiring ke sawah untuk mencabuti rumput (jawa:matun) atau menanam jagung atau kacang (jawa: ulur), dari pondok lah saya tau rasanya turun ke sawah…
Sekarang aku sudah besar, entah kenapa aku ingin menulis masa kecilku yang nakal dan tak tau apa-apa…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: